"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Kilau
Lampu-lampu kristal di ballroom hotel bintang lima ini membiaskan cahaya yang begitu menyilaukan, namun bagiku, semuanya terasa seperti panggung sandiwara yang melelahkan. Aku berdiri di sudut ruangan, menggenggam segelas sampanye yang sudah kehilangan dinginnya. Gaun emerald yang kupakai terasa seperti zirah; cantik, namun berat oleh ekspektasi yang kini kupikul sendirian.
Pesta perayaan kerja sama antara Adhitama Group dan divisi kami seharusnya menjadi malam kemenanganku. Namun, mataku tak bisa berhenti mencuri pandang ke arah pintu masuk.
Di sana, di bawah bayangan pilar megah, Kaivan berdiri. Ia mengenakan tuksedo hitam yang pernah kupilihkan untuknya dua tahun lalu. Di sampingnya, Nadine tampak begitu bersinar dengan gaun putih yang senada, tangannya melingkar erat di lengan Kaivan seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya. Kaivan tidak melihatku. Ia sedang sibuk tertawa pada sesuatu yang Nadine bisikkan di telinganya.
Pemandangan itu persis seperti bayangan di balik kaca pada sampul hidupku: aku yang menatap mereka dari kejauhan, terasing dalam kegelapan, sementara mereka berdua menjadi pusat gravitasi di tengah cahaya.
"Sampanye itu tidak akan meminum dirinya sendiri, Arelia."
Suara bariton yang tenang itu memecah lamunanku. Aku menoleh dan menemukan Bastian Adhitama sudah berdiri di sampingku. Ia terlihat sangat berwibawa dengan setelan jas charcoal yang dipotong sempurna. Tatapannya tidak tertuju pada kerumunan, melainkan tertuju padaku dengan intensitas yang membuatku sedikit kikuk.
"Hanya sedang memikirkan beberapa data audit yang belum sempat saya rapihkan, Pak," bohongku.
Bastian terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat jantan dan tulus. "Di malam seperti ini, data adalah hal terakhir yang harus kamu pikirkan. Kamu adalah bintang malam ini, Arelia. Tanpa analisismu, dewan direksi saya tidak akan pernah setuju dengan angka-angka ini."
"Terima kasih, Pak Bastian."
"Bastian. Kita sudah sepakat di luar kantor, bukan?" Ia mencondongkan tubuh sedikit, suaranya merendah. "Dan berhentilah menatap ke arah pintu itu. Seseorang yang hanya menjadikanmu 'tempat pulang' tidak layak mendapatkan perhatianmu di saat kamu sedang bersinar."
Aku tertegun. Bastian begitu tajam membaca situasi. Ia seolah tahu bahwa hatiku sedang teriris melihat Kaivan membawa Nadine ke acara yang seharusnya menjadi momen 'kita'—jika saja 'kita' itu memang ada.
"Saya hanya... terbiasa memastikan dia baik-baik saja," bisikku jujur.
"Itu masalahnya. Kamu terlalu terbiasa menjadi payung, sampai kamu lupa kalau kamu sendiri sedang kedinginan," Bastian mengulurkan tangannya. "Berdansalah denganku. Biarkan seluruh ruangan ini tahu siapa yang sebenarnya memegang kendali atas kesuksesan malam ini."
Aku ragu sejenak, namun saat aku melihat Kaivan akhirnya menoleh ke arah kami dengan ekspresi terkejut yang tak bisa ia sembunyikan, aku meletakkan gelasku. Aku menyambut tangan Bastian.
Saat kami melangkah ke tengah lantai dansa, musik berubah menjadi ballad yang melankolis namun kuat. Bastian memegang pinggangku dengan mantap, memberikan jarak yang sopan namun cukup dekat untuk membuatku merasakan kehangatan tubuhnya. Di bawah lampu sorot, aku merasa seolah-olah sekat transparan yang selama ini mengurungku mulai retak.
"Lihat mataku, Arelia. Jangan lihat ke arah lain," perintah Bastian lembut.
Aku mendongak, menatap mata hitamnya yang dalam. Di sana, aku tidak menemukan pantulan kegunaanku sebagai analis. Aku menemukan pantulan diriku sebagai seorang wanita. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, aku tidak merasa perlu menjadi 'asisten' atau 'penyelamat'. Aku hanya perlu menjadi Arelia.
Dari sudut mataku, aku melihat Kaivan melepaskan pegangan Nadine. Ia melangkah maju, wajahnya tampak gelap oleh emosi yang tidak bisa kudefinisikan—mungkin cemburu, mungkin ego yang terluka karena melihat 'asisten setianya' kini berada dalam dekapan pria yang lebih berkuasa darinya.
"Rel!" suara Kaivan memotong musik saat kami berputar di dekat tepi lantai dansa.
Bastian tidak menghentikan gerakannya, namun ia memberikan tatapan dingin yang sanggup membekukan langkah Kaivan.
"Maaf, Kaivan. Kami sedang berdansa. Jika ada urusan pekerjaan, silakan hubungi asisten saya besok pagi," ucap Bastian dengan nada yang sangat tenang namun penuh otoritas.
"Arelia, aku perlu bicara," Kaivan mengabaikan Bastian, matanya tertuju padaku dengan kilatan putus asa. "Nadine... dia merasa tidak nyaman di sini. Kita pulang sekarang, ya?"
Kita.
Kata itu biasanya menjadi mantra yang sanggup membuatku meninggalkan apa pun demi dia. Tapi malam ini, kata itu terdengar seperti racun. Ia ingin aku pulang, bukan karena ia peduli padaku, tapi karena ia butuh aku untuk mengurus ketidaknyamanan wanitanya. Ia ingin aku kembali ke pojokan, menjadi bayang-bayang, agar Nadine bisa kembali merasa menjadi pusat dunianya.
Aku berhenti berdansa. Aku menatap Kaivan lekat-lekat. Di belakangnya, Nadine berdiri dengan wajah cemas yang dibuat-buat, memegang tas tangan mahalnya seolah-olah itu adalah satu-satunya pelindungnya.
"Dia tidak nyaman karena ini bukan dunianya, Kaivan," kataku, suaraku terdengar sangat stabil di telingaku sendiri. "Dan ini adalah duniaku sekarang. Panggungku. Jika kamu ingin pulang, silakan. Tapi aku tetap di sini."
"Rel, kamu jangan egois! Kamu tahu aku nggak bisa bawa mobil dalam kondisi pusing begini—"
"Taksi online tersedia dua puluh empat jam, Van," aku memotongnya. Aku melepaskan diri dari Bastian sebentar, melangkah selangkah ke arah Kaivan. "Selama tujuh tahun, aku adalah kompasmu. Tapi malam ini, aku menyadari bahwa kompas tidak akan pernah sampai ke tujuan jika ia terus-menerus digenggam oleh orang yang tidak tahu arah jalan pulang."
Kaivan terdiam, rahangnya mengeras. "Kamu beneran pilih dia? Pria yang baru kamu kenal seminggu?"
"Aku tidak memilih dia, Kaivan. Aku memilih diriku sendiri," jawabku tegas.
Aku berbalik, kembali ke arah Bastian yang menungguku dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. Kami kembali berdansa, meninggalkan Kaivan yang mematung di tengah keramaian, tampak kecil dan tersesat tanpa arah.
Malam itu, di bawah kilau lampu kristal dan tatapan kagum orang-orang, aku menyadari bahwa hidupku baru saja dimulai. Di atas panggung ini, aku bukan lagi bayangan. Aku adalah cahayanya.
Saat pesta berakhir, Bastian mengantarku ke lobi. Udara malam Jakarta yang lembap menerpa wajahku, namun aku merasa segar.
"Kamu melakukannya dengan baik, Arelia," ucap Bastian sebelum aku masuk ke dalam taksi. "Besok, aku ingin kamu memimpin rapat pleno dewan direksi. Siapkan dirimu."
Aku mengangguk. "Saya siap, Bastian."
Aku masuk ke dalam taksi, menatap gedung hotel yang menjulang tinggi itu. Di salah satu jendelanya, aku melihat refleksi diriku—wanita yang akhirnya berani keluar dari sekat transparan yang selama ini membungkusnya.
Nyaris jadi kita? Tidak. Kali ini, ceritanya adalah tentang aku yang menemukan jalanku sendiri. Dan jalan itu, entah mengapa, terasa jauh lebih indah daripada apa pun yang pernah kutawarkan pada Kaivan.
Aku memejamkan mata, membiarkan kilau malam Jakarta menemaniku pulang ke tempat yang kini benar-benar terasa seperti rumah: hatiku sendiri yang sudah merdeka.
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain