NovelToon NovelToon
SIMFONI TAK BERATURAN

SIMFONI TAK BERATURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.

Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.

Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.

Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Tok, tok, tok! Sandi mengetuk pintu kayu jati rumah mahoni milik keluarga Vino dengan ritme yang sedikit tidak sabar. Di belakangnya, beberapa meter dekat gerbang besi, Saskia masih mematung. Gadis itu berdiri dengan bahu yang sedikit merosot dan bibir yang mengerucut sempurna, memerankan sosok yang sedang merajuk dengan sangat totalitas. Sandi hanya bisa membuang napas kasar, memutar bola matanya melihat pemandangan "drama pagi" tersebut.

"Bener-bener ya si Oneng, manjanya nggak ketulungan," gumam Sandi pelan.

Tak lama, pintu terbuka dengan sentakan pelan. Alih-alih Vino, wajah Anggita-lah yang muncul dari balik pintu. Ketua kelas itu tampak sudah rapi dengan kaos kasual dan kacamata yang bertengger di hidungnya.

"Yeskon! Jam berapa ini, San? Jam karet lo makin melar aja!" seru Anggita sambil berkacak pinggang, mencoba berakting galak.

Sandi mendengus sambil menunjuk ke arah gerbang dengan jempolnya. "Gue udah dari tadi sampai, Nggi. Noh, si Oneng ngajak debat dulu di luar. Bahasannya muter-muter kayak komidi putar. Lo yang urus dah, capek gue berdebat sama 'logika' perasaan wanita. Nggak pernah ada ujungnya, yang ada malah gue yang kena mental."

Anggita meledak dalam tawa geli. Ia melirik Saskia yang masih memasang wajah mendung di kejauhan. "Hahaha! Ya udah, sono masuk. Biar Saskia gue yang tanganin pakai jurus psikologi cewek. Lo aman sekarang."

Sandi melangkah masuk ke dalam rumah Vino yang sejuk dan luas. Di ruang tengah, pemandangan kontras tersaji. Andra sedang berbaring tengkurap dengan santainya di atas karpet bulu, bantal sofa ia sumpalkan di bawah dada seolah-olah rumah mewah itu adalah markas pribadinya.

Melihat posisi Andra yang sangat "mengundang", jiwa jahil Sandi mendadak bergejolak. Tanpa aba-aba, Sandi berlari kecil dan melompat tinggi ke arah punggung Andra. BRUK!

Sandi mendarat telak, memeragakan gerakan gulat SmackDown ala Randy Orton. Andra yang sedang asyik melamun langsung tersedak udara, wajahnya terbenam ke karpet. "Aakh! Gila lo, San! Patah tulang gue!" ringis Andra kesakitan.

Sandi tidak berhenti di situ. Ia memutar tubuh Andra yang bongsor, lalu menarik satu kaki Andra ke atas dalam kuncian maut. Seolah sudah berada di frekuensi kegilaan yang sama, Vino yang baru muncul dari arah dapur langsung berlari mendekat. Ia berlutut di samping mereka, berperan menjadi wasit gulat yang sangat serius. Vino menepuk-nepuk karpet dengan semangat.

"Satu... dua... tiga! And the winner is... SANDI ORTON!" teriak Vino sambil mengangkat tangan Sandi ke udara.

Seketika tawa Sandi dan Vino pecah memenuhi ruangan. Sementara itu, Andra masih meringis sambil berusaha duduk tegak. Ia meraih segenggam kulit kacang dari meja dan melemparkannya ke arah Sandi. "Setan lo! Pinggang gue main ditiban aja. Kalau encok gimana? Mau lo tanggung jawab jagain gue di sekolah?"

Sandi cengengesan, duduk bersila di sampingnya tanpa rasa bersalah. "Lagian posisi lo enak banget buat di-smack, Ndra. Mata gue langsung gatel liat punggung lo melengkung gitu."

Vino menyeka air mata akibat tertawa terlalu keras. "Terus Anggita mana?"

"Noh di luar, lagi sesi konseling sama Saskia," jawab Sandi santai.

Vino mengangguk paham. "Oh, pantesan lama. Eh San, di meja makan ada nasi goreng buat lo sama Saskia. Nyokap gue yang buat tadi pagi. Karena lo berdua belum nyampai, gue, Anggita sama Andra udah sikat duluan. Masih hangat kok di bawah tudung saji."

Sandi mengangguk berterima kasih. "Makasih, Vin. Terus nyokap lo ke mana? Kok sepi?"

"Nyokap keluar sama Bokap, belanja bulanan ke swalayan. Paling nanti siang balik bawa amunisi cemilan buat kita. Aman, rumah milik kita sekarang," jawab Vino dengan gaya bos besar.

"Oke, kalau gitu gue makan dulu ya. Perut gue udah konser metal nih. Belum dimulai kan ngerjain tugasnya?" tanya Sandi sambil bangkit berdiri.

Andra menyahut dengan mulut yang masih sedikit manyun, "Belum lah, Pe'a! Kan nungguin personel lengkap. Masa gue sama Vino doang yang mikir sejarah kerajaan Majapahit."

Sandi terkekeh. "Sip, lima menit lagi kita mulai tempur."

Sandi berjalan menuju meja makan yang bersih dan rapi. Saat ia membuka tudung saji, aroma nasi goreng mentega yang gurih menyeruak. Di saat yang bersamaan, Saskia dan Anggita masuk dari pintu depan. Wajah Saskia sudah sedikit lebih cerah, meski sisa-sisa "oneng"-nya masih terlihat.

"Sas? Lo udah sarapan belum?" tanya Sandi sambil menyendok nasi.

Saskia yang masih berdiri agak jauh, hanya menunduk dan mengangguk kecil.

"Yah, berarti gue makan sendirian dong," gumam Sandi, pura-pura kecewa.

Mendengar itu, Saskia langsung bereaksi cepat. Matanya membulat. "Aku... aku belum... maksudku aku belum sarapan beneran, San! Aku temenin kamu makan, ya?"

Sandi menoleh dengan tatapan menyelidik. "Yang mana yang bener nih? Tadi ngangguk udah, sekarang bilang belum. Perkara makan aja ampe lupa lo udah apa belum."

Anggita tertawa renyah sambil menarik kursi di ruang tengah. "Udah, cepetan makannya. Habis ini kita mulai ngerjain tugas, keburu siang nanti malah jadi main PS doang."

Sandi mengangguk mantap. "Tenang, lima menit selesai!"

"Awas lo ya, kalau nggak selesai dalam lima menit cuma gara-gara lo suap-suapan sama Saskia," goda Anggita yang membuat wajah Saskia memerah seketika.

Sandi mencibir. "Dih, Saskia kan udah gede, Nggi. Masa masih harus gue suapin? Emang gue siapanya? Kalau gue pacarnya sih nggak apa-apa gue suapin sampai kenyang."

Langkah Saskia terhenti tepat di depan kursi meja makan. Ia menatap Sandi dalam-dalam dengan pandangan yang sulit diartikan. "San... emang kalau kamu jadi pacarku, kamu mau beneran nyuapin aku makan?"

Sandi yang sedang mengunyah hampir saja tersedak. "Dih, jangan ngayal siang bolong deh, Sas! Ingat pesan sponsor: lo itu masih punya pacar! Jangan ngayal kemana-mana, bahaya buat kesehatan jantung lo dan keamanan gue."

Anggita menimpali dari kejauhan sambil membuka buku sejarahnya, "Betul itu, Sas. Kasihan Nanda nanti kalau tahu lo lagi minta disuapin Sandi."

Sandi mengangguk setuju. "Ayo cepat makan, Sas. Nyokapnya Vino udah buatin spesial, nggak enak kalau mubazir."

Saskia duduk, tapi bukannya menyendok nasi, dia malah menopang dagu. "Aku udah makan, San..."

Sandi meletakkan sendoknya, menatap Saskia dengan frustrasi yang jenaka. "Kan! Baru berapa menit berlalu? Lo bilang udah, terus bilang belum, sekarang balik lagi bilang udah. Lo sehat, Sas?"

Saskia mengerling manja ke arah Sandi. "Kalau kamu mau nyuapin aku, aku mau makan lagi meskipun udah kenyang."

Sandi menghela napas panjang, menatap langit-langit ruang makan seolah meminta pertolongan Ilahi. "Anggita! Boleh gue 'tenggelamin' nggak sih nih si Oneng ke kolam renang Vino?"

Seketika tawa Vino, Andra, dan Anggita pecah meledak.

"Jangan San! Maksud gue, jangan di rumah gue, nanti gue yang repot bersihin kolamnya!" canda Vino.

Anggita menyela sambil tersenyum geli, "Jangan, San. Dia itu cuma pengen dimanja sama lo. Dari kemarin lo nggak ada waktu ngobrol banyak sama kita. Jangan cuma sama Saskia, sama kita aja lo belakangan ini agak tertutup dan sering menghilang."

Andra menyahut dengan nada serius yang jarang ia tunjukkan, "Iya San, dari hari Rabu sampai kemarin Jumat, lo selalu pulang buru-buru kayak dikejar penagih utang. Emang ada urusan apa sih? Kayaknya penting banget sampai mengabaikan persahabatan kita."

Sandi terdiam sejenak, lalu meletakkan sendoknya dengan pelan. Ia menatap teman-temannya satu per satu. "Gue dari hari Rabu itu lagi sibuk melamar kerja. Dan hari Jumat kemarin, gue habis ikut sesi wawancara."

Keheningan mendadak menyelimuti ruangan. Vino, Anggita, dan Andra tampak sangat terkejut.

Anggita spontan berdiri dan menghampiri meja makan. Ia meraih kedua pipi Sandi dengan tangannya, memaksa Sandi menatapnya. "Lo? Kerja? Serius?!"

Sandi mengangguk pelan dalam dekapan tangan Anggita. "Bukan gue kerja sekarang, tapi baru mau kerja."

"Iya, maksud gue, lo benar-benar mau kerja di usia sekarang? Sekolah lo gimana, San? Kita kan bentar lagi mau ujian!" cecar Anggita penuh kekhawatiran.

Sandi perlahan melepaskan tangan Anggita dari pipinya. "Gue melamar di radio, Nggi. Sebagai penyiar. Jadwalnya fleksibel, jadi nggak bakal ganggu sekolah gue. Tapi ya gue juga belum tahu pasti nasib gue gimana, soalnya belum ada pengumuman resmi apakah gue diterima atau enggak."

Anggita mengembuskan napas lega, raut wajahnya kembali tenang. "Oh... gue kira lo mau putus sekolah terus langsung kerja jadi buruh kasar. Kaget gue."

"Ya nggak lah, ngaco lo," sahut Sandi. Ia bangkit berdiri, membawa piring kotornya ke wastafel dengan gerakan yang sudah terbiasa mandiri. Sambil mencuci piring, ia melanjutkan, "Gue berani melamar karena syaratnya masih masuk akal sama jadwal sekolah. Ya gue coba-coba saja, siapa tahu rezeki anak saleh."

Anggita tersenyum bangga. "Ya udah, kalau itu memang jalan yang lo pilih, gue sebagai ketua kelas dan sahabat lo cuma bisa doain semoga lancar jaya."

Sandi mengangguk, lalu menoleh ke arah Saskia yang masih duduk menatap piring nasi gorengnya dengan tatapan kosong. Tanpa aba-aba... TUK! Sebuah jitakan kecil mendarat di kepala Saskia.

"Lo jadi makan apa nggak? Masa nasi dipelototin doang? Mau lo hipnotis itu nasi?" tanya Sandi.

Saskia mengusap kepalanya, menatap Sandi dengan wajah memelas. "Aku udah makan tadi pagi di rumah, tapi aku juga mau nemenin kamu makan di sini."

Sandi mengernyit. "Maksudnya gimana sih?"

"Aku mau nemenin makan, tapi kamu udah selesai makannya. Jadi aku telat," keluh Saskia.

Anggita yang melihat drama itu mulai tidak sabar. "San, suapin satu suap aja dah biar dia senang terus mau makan sendiri. Biar kita cepat mulai tugas kelompoknya. Kalau nggak diginiin, drama ini bakal lanjut sampai sore, dan tugas sejarah kita cuma jadi wacana!"

Sandi menghela napas panjang untuk kesekian kalinya. Ia menatap Saskia yang sedang memasang wajah penuh harap. "Kalau gue suapin, lo mau makan dan nggak rewel lagi?"

Saskia langsung tersenyum lebar, mengangguk-angguk dengan semangat seperti boneka pajangan mobil.

Sandi mengusap wajahnya kasar. "Ya Tuhan... berikan hamba kesabaran ekstra menghadapi ujian 'Oneng' tingkat dewa ini."

Detik itu juga, tawa Vino, Andra, dan Anggita kembali menggema, diikuti oleh tawa Saskia yang terdengar sangat puas. Suara keceriaan mereka memantul di dinding-dinding rumah, menandakan bahwa meski penuh drama, persahabatan mereka justru semakin erat di hari Sabtu yang cerah itu.

Sandi akhirnya menyerah pada rengekan Saskia, ia menarik kursi plastik di samping gadis itu dan mengambil alih piring nasi goreng yang masih mengepul tipis. Dengan gerakan yang sengaja dibuat dramatis, Sandi mengangkat sendok tinggi-tinggi, memutarnya di udara seolah-olah itu adalah baling-baling, lalu mengeluarkan suara bariton yang berat dan berwibawa—suara "penyiar radio" yang sedang ia asah belakangan ini.

"Perhatian, perhatian! Pesawat Oneng Air dengan nomor penerbangan 007 tujuan perut Saskia akan segera landing. Diharapkan seluruh penumpang menggunakan masker darurat karena landasan pacu terdeteksi agak sedikit licin dan tercium aroma bau jigong yang tak sedap dari arah kokpit!" seru Sandi dengan intonasi yang sempurna.

Anggita yang masih berdiri menyandarkan punggung di tepi meja makan meledak dalam tawa geli sampai memegangi perutnya. Saskia, yang tadinya sudah membuka mulut lebar-lebar siap menyambut suapan, seketika menutupnya rapat-rapat. Bibirnya langsung mengerucut tajam, matanya mendelik kesal ke arah Sandi.

"Iiiih, Sandi mah! Aku sudah mandi dua kali dan sikat gigi sampai bersih, tahu! Masa dibilang bau jigong sih!" protes Saskia sambil menghentakkan kakinya ke lantai, membuat Andra dan Vino yang sedang menyiapkan buku di ruang tengah ikut terpingkal-pingkal.

Sandi terkekeh-kekeh melihat wajah cemberut sahabatnya itu. "Iya, iya, maaf. Galak amat sih tuan putri. Ayo, kita take dua. Ulang lagi ya," goda Sandi sambil menahan tawa.

Saskia kembali membuka mulutnya dengan ragu. Sandi kembali beraksi, "Perhatian, perhatian! Pesawat Oneng Air akan segera mendarat di landasan kasih sayang. Diharapkan seluruh penumpang menutup mulutnya karena—"

Belum sempat Sandi menyelesaikan kalimat absurdnya, Saskia sudah menghujani lengan Sandi dengan pukulan-pukulan kecil yang gemas. "Sandi mah, ih! Resek banget!" teriaknya manja, yang justru membuat suasana rumah Vino makin riuh oleh tawa renyah ketiga sahabat mereka yang lain.

"Lah, terus gimana dong? Katanya mau disuapin, tapi dikasih simulasi pesawat malah marah-marah," ujar Sandi sambil nyengir lebar.

Saskia membuang muka, melipat tangan di dada dengan gaya merajuk yang paling maksimal. "Au'ah, malas sama Sandi! Cari pilot lain saja!"

Sandi tidak kehilangan akal, ia tahu betul cara melunakkan hati Saskia. "Ayo dong, sekali lagi. Janji deh, ini pendaratannya mulus tanpa gangguan teknis," rayunya. Namun Saskia tetap bergeming. "Gak! Aku nggak mau makan!"

"Wah, sayang banget nih nasinya. Masakan Nyokapnya Vino itu tiada duanya lho, Sas. Masa mau dibiarin dingin gitu aja? Nanti nasinya nangis," bujuk Sandi lagi. Tetap tidak ada respon, Saskia masih konsisten membuang muka ke arah jendela.

Sandi akhirnya mengangkat bahu santai. "Yaudah kalau nggak mau makan, biar gue yang habiskan. Lumayan, perut gue masih ada ruang buat ronde kedua." Saat Sandi dengan sengaja mengarahkan sendok penuh nasi itu ke mulutnya sendiri, secepat kilat tangan Saskia menarik lengan Sandi dan menyodorkan sendok itu tepat ke arah mulutnya sendiri. Hap! Saskia melahapnya dengan rakus.

Sandi tersenyum penuh kemenangan. "Nah, gitu dong. Dimakan nasinya, jangan cuma drama doang yang digedein."

Saskia mengunyah dengan pipi yang menggembung lucu, suaranya terdengar tidak jelas. "Tal uapin agi ape abit ke!"

"Telen dulu napa, Sas, baru ngoceh. Entar keselek baru tahu rasa lo," kata Sandi sambil menyiapkan suapan berikutnya.

Setelah menelan dengan susah payah, Saskia meneguk air putih sedikit lalu berkata dengan nada memerintah, "Suapin lagi sampai habis, oke! Pokoknya harus bersih piringnya!"

Sandi hanya bisa tersenyum pasrah dan mengangguk. Anggita yang menyaksikan pemandangan itu dari kejauhan hanya bisa menggelengkan kepala sembari menghela napas panjang. Ia kagum sekaligus heran melihat betapa telatennya Sandi menghadapi Saskia—sahabat masa kecilnya yang penuh drama, manja, dan logika yang seringkali tidak beraturan itu.

Setelah ritual suap-suapan itu berakhir dan piring benar-benar bersih, akhirnya sesi serius tugas kelompok benar-benar dimulai. Mereka berlima segera berkumpul di ruang tengah, mengelilingi meja jati besar yang sudah dipenuhi buku paket sejarah, kertas karton, dan alat tulis.

Ketegangan akademis mulai terasa. Mereka berbagi tugas; Anggita sebagai ketua kelas membagi bab tentang Kerajaan Majapahit secara adil. Sandi yang memiliki tulisan tangan paling rapi bertugas mencatat poin-poin penting, sementara Vino dan Andra mencari referensi tambahan dari buku-buku koleksi ayah Vino yang cukup lengkap. Saskia kebagian tugas menghias karton dengan gambar-gambar ilustrasi candi karena ia memang cukup mahir dalam seni visual.

Waktu berlalu dengan ritme yang cepat di tengah diskusi dan perdebatan kecil tentang tahun-tahun bersejarah. Hingga tak terasa, jarum jam sudah menunjukkan pukul 12.37 WIB. Tugas kelompok sejarah mereka akhirnya selesai dengan hasil yang sangat memuaskan—sebuah makalah tebal dan karton presentasi yang estetik.

"Selesai! Gila, otak gue berasa abis dikuras sama Gajah Mada," seru Andra sambil merenggangkan otot-ototnya yang kaku.

Vino langsung beranjak dengan semangat. "Waktunya hiburan! PlayStation mana PlayStation!" Ia dan Andra segera bergegas menghidupkan konsol game, berebut stik dan mencari kaset game bola terbaru.

Sandi yang merasa energinya terkuras lebih banyak karena harus mengurusi tugas sekaligus "bayi besar" bernama Saskia, memilih merebahkan tubuhnya di atas karpet bulu yang empuk, menatap langit-langit rumah dengan perasaan lega. Anggita memilih duduk santai di sofa, mulai membuka toples cemilan kripik singkong dan mengunyahnya dengan tenang.

Sementara itu, di sudut sofa yang lain, suasana hati Saskia tampak kembali berubah. Ia tidak ikut bersorak merayakan selesainya tugas. Matanya terpaku pada layar ponselnya yang terus menyala. Jari-jarinya sibuk menari di atas keypad, membalas pesan-pesan singkat dari Nanda, pacarnya, yang mungkin sedang menagih janji untuk pergi siang ini. Raut wajahnya tampak bimbang antara ingin terus bersama teman-temannya atau harus segera pergi memenuhi janji kencannya.

1
Shintara
Yuk di baca yuk
Shin Nara
Next thor
Shintara: update setiap jam 9 pagi ya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!