NovelToon NovelToon
Ramadan'S Promise

Ramadan'S Promise

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

Dilarang memplagiat karya!


"Dia memilih kakakku..." --Hawa--

"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--

Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.

Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 12 Beliau

Happy reading

Malam hadir membawa badai.

Di luar sana, air langit turun kian deras. Sesekali kilat menyambar, diikuti guntur yang berdentum hebat hingga menggetarkan jagat.

Namun, gemuruh di luar sana tak sebanding dengan kegaduhan yang menyesaki dada Hawa.

Seusai makan malam yang terasa hambar dan harus kembali mendengar 'ceramah' sang ayah, Hawa memilih mengurung diri.

Ia muak.

Ayahnya hanya menjadi gema bagi perkataan bundanya tadi, terus-menerus memuja silsilah dan status lewat filosofi bobot, bibit, bebet.

Sungguh ironis.

Meski kedua orang tuanya jauh lebih terpelajar, nyatanya pemikiran mereka masih terjebak dalam labirin masa lalu yang kolot. Sangat berbeda dengan pola pikir Ijah yang sederhana, namun jauh lebih cerdas, bijak, dan maju dalam memanusiakan manusia.

Gawai yang tergeletak di atas nakas bergetar, diikuti nada pesan yang memecah keheningan.

Hawa segera menyambar benda pipih itu, lalu merebahkan tubuh di atas ranjang yang terasa dingin sambil menggeser layar gawai.

Rama: "Assalamu'alaikum, Hawa. Pecelnya sudah diterima Bunda dan Bi Ijah?"

Bibir Hawa melengkung tipis saat membaca pesan yang dikirim oleh Rama. Kentara sekali lelaki bermata teduh itu hanya berbasa-basi untuk membuka obrolan.

Namun kemudian, sepasang manik indahnya berkaca-kaca ketika perkataan ayah dan bundanya tadi kembali berdenging di telinga.

Miris.

Di zaman semodern ini, ternyata masih ada orang tua yang berpikiran sekolot itu. Dan pahitnya, mereka adalah orang tuanya sendiri.

Hawa menghela napas, jarinya menari tanpa semangat di atas layar, mengetikkan balasan.

Hawa: "Wa'alaikumsalam, Ram. Udah. Tadi langsung aku kasih. Bi Ijah bilang terima kasih."

Rama: "Alhamdulillah, sama-sama."

Hanya jeda sekian detik sebelum Rama kembali mengirim pesan.

Rama: "Sudah malam. Istirahat, Wa. Jaga kesehatan. Jangan biarkan pikiranmu riuh. Bagi bebannya sama Allah."

Hawa tercenung. Ada hangat yang menjalar di dada, seolah kalimat itu adalah pelukan yang ia butuhkan di tengah badai malam ini.

Hawa: "Iya, Ram. Makasih."

Interaksi mereka diakhiri dengan stiker penyemangat dari Rama. Hawa menatap layar itu lama, sebelum akhirnya beranjak dari ranjang, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu.

Di atas sajadah, Hawa duduk bersimpuh. Ia membagi kesah, meluruhkan bebannya dengan tangis, dan memeluk dirinya sendiri dalam untaian doa--memohon petunjuk menuju jalan cahaya.

Kelelahan raga dan jiwa akhirnya membuat ia terlelap dalam dekapan mukena, tertidur di atas kain yang hangatnya melebihi ranjang mana pun.

Fajar menyapa dengan lembut melalui celah jendela. Hawa terbangun, bukan lagi dengan beban yang sama, melainkan dengan hati yang tenang dan perasaan yang jauh lebih ringan. Di balik sujudnya semalam, ia tahu Tuhan telah mendengar setiap bisikan yang tak sempat terucap.

Ia bangkit, membersihkan tubuh, lalu menunaikan dua rakaat Subuh. Baru kemudian, ia melangkah ke dapur untuk membantu Ijah menyiapkan sarapan.

"Non, pagi ini Non Hanum minta dimasakin makanan kesukaan Den Damar," kata Ijah saat Hawa mulai meraih pisau dapur. "Non Hanum bilang, Non Hawa pasti tahu makanan apa saja yang disukai calon suaminya itu. Makanya, Bibi disuruh tanya ke Non."

Hawa berdecak pelan. Ada sedikit rasa sebal yang muncul, namun ia tetap mengendalikan dirinya. Tangannya bergerak santai, mulai mengupas bawang dengan gerakan yang stabil.

"Kenapa Kak Hanum nggak tanya langsung ke orangnya? Sekalian belajar masak buat calon suaminya itu, bukan malah menyuruh Bibi," ujarnya sewot, namun nada bicaranya tetap terkontrol.

Ijah menggelengkan kepala, tertawa kecil melihat ekspresi Hawa. "Non, Non Hanum kan tidak bisa masak dan paling alergi bau asap dapur. Selalu terbatuk-batuk setiap menemani Bibi memasak."

"Bi, Kak Hanum cuma butuh beradaptasi dengan asap dapur. Jadi, harus dipaksa," balas Hawa tanpa menghentikan aktifitasnya.

"Biar besok kalau beneran nikah sama Damar, Kak Hanum bisa masak semua makanan kesukaan suaminya," imbuhnya.

Hawa meletakkan bawang yang sudah dikupas ke dalam wadah. Ia melakukan semuanya dengan tenang, meski benaknya berisik; betapa ironisnya ia harus menjadi 'pemandu' bagi Hanum untuk mengenal pria yang dulu pernah menghujani hidupnya dengan harapan-harapan manis.

Satu jam berlalu. Nasi putih, tumis kangkung, ayam goreng saus Inggris, omelet, dan kerupuk udang telah tersaji rapi di atas meja makan, berteman lima gelas air putih.

Hening turun saat Damar dan Hanum duduk bergabung di ruang makan. Namun, keheningan itu hanya bertahan sejenak, terpecahkan oleh suara Damar yang menyapa Hawa tepat di hadapannya.

"Selamat pagi, calon adik ipar." Damar memperlihatkan senyum khas yang dulu terlihat indah dan selalu menuntun hati Hawa untuk memuji. Namun kini, senyum itu terasa hambar--bahkan memuakkan.

Meski enggan menanggapi, Hawa memaksa bibirnya melengkung tipis. Damar menyadari sesuatu; keceriaan Hawa telah hilang. Binar di matanya redup dan sikapnya mendingin, tak sehangat dulu. Perubahan itu membuat ulu hati Damar serasa diremas erat.

"Wa, disapa calon kakak ipar, kenapa cuma diam?" Hanum menggoda, berniat memecah suasana sekaligus mencipta keakraban.

"Tadi aku udah senyum, Kak," jawab Hawa tenang sambil mengisi piringnya dengan nasi dan lauk--menyusul kedua orang tua mereka yang telah lebih dulu memulai makan.

"Biasanya kamu selalu semangat, menimpalinya dengan candaan," tambah Hanum lagi.

Hawa mendongak sebentar, lalu menjawab dengan suara datar yang menciptakan jarak. "Sekarang kan status Damar beda, Kak. Bukan lagi sahabat atau teman gelut, tapi meningkat jadi calon kakak ipar. Makanya, aku harus bisa jaga sikap dan sopan demi menghormati beliau."

Hawa menekankan kata terakhir itu dengan tegas. Kalimatnya yang begitu formal seketika menciptakan rasa tak nyaman yang mencekik bagi Damar.

Janu menjeda ritual makannya, lalu berdeham. "Sarapan dulu, baru ngobrol!" tegurnya tegas, yang ditujukan pada kedua putrinya.

Hawa dan Hanum patuh. Keduanya mengangguk samar, lantas mulai menikmati menu sarapan masing-masing.

Tak ada lagi obrolan yang keluar.

Ruang makan itu kini hanya diisi oleh suara denting sendok dan garpu yang menari di atas piring, mengiringi ritual yang ingin segera diakhiri oleh Hawa.

"Wa, mulai hari ini, kamu berangkat kuliah bareng Damar. Pulangnya juga," tutur Gistara seusai menandaskan isi piringnya. Suaranya rendah, namun menyiratkan titah yang tak boleh dibantah.

Hawa tertegun sejenak, namun jarinya tetap tenang melipat selembar tisu yang baru saja digunakan untuk mengusap bibirnya.

"Hawa naik Scoopy, Bun. Sayang, udah lama dianggurin. Kak Damar biar mengantar Kak Hanum ke kantor aja," jawabnya tenang, sengaja menekankan panggilan 'Kak Damar' yang membuat pria di hadapannya itu kian didera rasa tak nyaman.

"Jangan bilang... kamu sengaja naik Scoopy agar bisa bebas menemui pelayan itu?" selidik Gistara dengan nada curiga yang kental.

Hawa menarik napas panjang, berusaha sekuat tenaga menahan buncahan rasa yang ingin dimuntahkan tepat di hadapan bundanya.

Tuduhan itu terasa seperti jarum yang ditusukkan ke luka yang belum kering. Ia tidak membantah, tidak juga membenarkan.

Ia melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan, lantas membawa tubuhnya bangkit dengan gerakan yang tenang.

"Hawa berangkat dulu, Yah-Bun. Ada janji dengan anak-anak BEM."

Usai mengucap kalimat itu, Hawa mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian.

Ia melangkah pergi, sengaja mengabaikan Gistara yang seolah belum puas memberi petuah. Meninggalkan keheningan baru yang jauh lebih berat bagi Damar yang kini duduk terpaku di kursinya, menatap Hawa dengan mata mengembun.

...🌹🌹🌹...

Terkadang, Tuhan mematahkan hati kita agar cahaya-Nya bisa masuk lebih dalam, dan menuntun kita untuk menemui ketulusan cinta yang sesungguhnya.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
ren_iren
bakal malu setengah hidup itu nanti emaknya hawa😂😂😂
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
ren_iren
pelayan warung merapi tp aslinya mas Rama itu pewaris lo... jgn underestimate dulu mas Damar🤭😁😂
Ayuwidia: Tau aja, Kak 😄
total 1 replies
Mila Mulitasari
gimana reaksi bu gistara kalau tahu pemuda yg diremehkan adalah anak sahabatnya sendiri
Ayuwidia: Mungkin syok berat, Kak 😄
total 1 replies
Najwa Aini
uangmu banyak sekali Rama, aslinya...
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
Ayuwidia: Bukan cuma pembaca yg dikasih, tapi othornya juga 😆
total 1 replies
Najwa Aini
sok kenal pada owner kafe..padahal ya emang kenal banget...
Ayuwidia: Betoel
total 1 replies
Najwa Aini
Nah si Rama kalau udah mode khotbah..Bi .Ijah pun pasti meleyott
Ayuwidia: Penulisnya pun mleyot
total 1 replies
Najwa Aini
Itu sih mobil bapaknya sendiri
Ayuwidia: Tahu ajah
total 1 replies
Najwa Aini
Semuanya nyaman dibaca kok...
upps..belum apa² dah komen
Ayuwidia: Saking nyamannya, yg baca cuma singgah. Nggak mau kenalan sama othornya 😆
total 1 replies
Ririn Rira
Bener kata Rama nggak ada yang nama nya membawa sial.
Ayuwidia: Betoel, Kak
total 1 replies
Nofi Kahza
kapan lagi bisa dicintai cowok keren kayak Rama coba. terima aja cintanya ya Hawa. aku restuin😆
Ayuwidia: Iya, Mak 😆
total 1 replies
Nofi Kahza
setuju sih aku..
Nofi Kahza
mending sudahin semuanya skrg, Damar.
Nofi Kahza
Nah betul. Bi Ijah kok gaul sih cara pikirnya. Nggak kolot kayak ortunya Hawa yg jelas2 lebih berpendidikan👍
Ayuwidia: dipaksa gaul sama othornya 😎
total 1 replies
Nofi Kahza
Bi Ijah tauuuuk aja😆
Nofi Kahza
beeeugh! badas si Rama. sukakkk
Nofi Kahza
ini baru jantan..👍
Nofi Kahza
Rama, aku padamu🥰
Ayuwidia: Aku bilangin Bang Jae
total 1 replies
Nofi Kahza
pengorbanan apa sih??
Nofi Kahza
keren nih🥰
Nofi Kahza
nggak ada tawar menawar katanya, tapi situ sendiri baru aja nawar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!