Terlahir dengan dua elemen sekaligus, Yan Bingchen justru harus menanggung kutukan yang membuatnya kesulitan mengendalikan kekuatannya sendiri.
Dianggap berbahaya bahkan oleh keluarganya, ia tumbuh dalam kesepian dan penolakan sejak kecil.
Namun, ketika kesedihan dan amarahnya mencapai puncak, Yan Bingchen memilih meninggalkan klannya. Pada saat itulah, kekuatan sejatinya akhirnya bangkit sepenuhnya.
Kini, di dunia yang memandangnya sebagai ancaman, mampukah ia membuktikan bahwa dirinya bukanlah bencana … melainkan calon yang akan berdiri di puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Ketekunan
Malam di Kota Linyi mungkin terasa meriah bagi para turis dan pedagang, namun bagi Yan Bingchen, kegelapan adalah kanvas untuk mengasah maut.
Di halaman belakang penginapan yang sepi dan tersembunyi oleh tembok tinggi, ia berdiri mematung.
Cahaya bulan menyinari rambut merah-putihnya, memberikan kesan mistis yang tak tertandingi.
Di atas meja batu, buku tua pemberian kakek roh itu terbuka. Halamannya yang menguning tampak bergetar setiap kali angin malam berembus, seolah-olah roh di dalamnya masih hidup.
Nama teknik pertama yang tertulis di sana adalah: "Tebasan Cakrawala: Penyatuan Dua Kutub."
Yan Bingchen menarik napas panjang. Ia menghunus pedang tumpulnya—yang kini terasa jauh lebih ringan di tangannya.
Sesuai petunjuk di buku itu, ia harus membiarkan keduanya bertubrukan tepat di mata pedangnya untuk menciptakan daya hancur yang melampaui logika.
Jam demi jam berlalu. Mo Ran sudah tertidur lelap di balkon penginapan dengan mulut terbuka, sementara Si Hitam berjaga di pintu gerbang halaman, matanya yang merah waspada memerhatikan setiap gerak-gerik Yan Bingchen.
Sret!
Yan Bingchen mengayunkan pedangnya. Api merah menyambar, namun padam seketika oleh hawa es yang terlalu kuat. Gagal.
Ia mencoba lagi. Kali ini es yang membeku hancur oleh ledakan api yang tidak terkendali. Gagal lagi.
Keringat bercucuran, membasahi jubahnya hingga lepek. Otot-otot lengannya mulai berkedut karena kelelahan, namun tekadnya sekeras baja.
Ia mengingat wajah meremehkan dari orang-orang di masa lalunya, dan wajah hangat kakek tua yang memberinya harapan.
"Lagi ..." bisiknya dengan suara serak.
Menjelang pukul tiga pagi, suasana mendadak sunyi senyap. Yan Bingchen memejamkan mata. Ia berhenti menggunakan ototnya.
Ia mulai menggunakan Dantian-nya yang sudah berbentuk cair.
Ia membiarkan energi panas dan dingin itu mengalir perlahan, saling membelit seperti sepasang naga yang menari di sepanjang bilah pedangnya.
Tiba-tiba, pedang tumpul itu mengeluarkan dengung rendah yang menggetarkan kaca-kaca penginapan. Cahaya ungu yang tajam memancar dari ujung pedang.
Wush!
Yan Bingchen bergerak. Gerakannya begitu cepat hingga ia tampak seperti bayangan yang terbelah dua. Ia mengayunkan pedang secara vertikal ke arah udara kosong.
BOOM!
Tidak ada ledakan besar, namun udara di depan pedangnya tampak terbelah. Jejak tebasan itu meninggalkan garis ungu yang membara sekaligus membeku, menggantung di udara selama beberapa detik sebelum menghilang.
Ia telah mencapainya. Satu teknik sempurna.
Matahari mulai mengintip dari ufuk timur, menyinari Kota Linyi dengan cahaya keemasan. Yan Bingchen tetap berdiri di posisinya, napasnya kini teratur dan tenang.
Meski tidak tidur semenit pun, matanya tampak lebih tajam dan bertenaga daripada sebelumnya.
Kekuatan Tahap Pembentukan Fondasi membuatnya tidak lagi perlu selalu tidur setiap hari.
"Hoammm ... Kak Bingchen? Kau masih di sana?" Mo Ran mengucek matanya sambil berjalan sempoyongan ke balkon.
Ia terbelalak saat melihat lantai halaman belakang yang retak-retak dengan pola yang aneh—setengah hangus dan setengah tertutup bunga es.
"Kita berangkat sekarang," ujar Yan Bingchen sambil menyarungkan pedangnya. Suaranya terdengar sangat mantap, penuh dengan kepercayaan diri yang baru.
Mo Ran segera melompat turun, semangatnya mendadak pulih. "Wah! Kau benar-benar monster, Kak! Lihat lantai ini! Untung kita tidak perlu bayar ganti rugi sekarang. Ayo, Si Hitam! Siapkan taringmu, hari ini kita akan membuat sejarah!"
Mereka berjalan keluar dari penginapan menuju Arena Cakrawala yang sudah mulai dipenuhi oleh ribuan penonton.
Di sepanjang jalan, orang-orang kembali terpana. Yan Bingchen berjalan dengan jubah yang sedikit berkibar, tatapan matanya lurus ke depan.
Aura "Penyatuan Dua Kutub" masih tersisa sedikit di sekeliling tubuhnya, membuat suhu di sekitarnya terasa tidak stabil.
Gerbang raksasa Arena Cakrawala terbuka lebar. Para pengawal berbaju zirah perak berdiri berjejer, menyambut para peserta terpilih.
"Peserta nomor 742, Bingchen!" teriak pengumuman dari atas panggung utama.
Yan Bingchen melangkah maju. Saat ia melewati ambang gerbang arena, sorak-sorai ribuan penonton yang tadinya riuh mendadak meredup, digantikan oleh gumaman kekaguman dan rasa ingin tahu.
Di tengah arena yang luas, ia berdiri sendirian menghadapi ribuan pasang mata. Rambut merah-putihnya berkilau indah di bawah sinar matahari pagi.
Ia memegang kartu kayu emasnya erat-erat, menatap ke arah tempat duduk para petinggi turnamen.
"Aku sudah siap," gumamnya pelan.
Mo Ran berteriak dari bangku penonton paling depan, "HAJAR MEREKA SEMUA, KAK BINGCHEN! JANGAN KASI AMPUN!"
Turnamen Pendekar Cakrawala resmi dimulai. Dan hari ini, Benua Tiandi akan menjadi saksi lahirnya legenda baru yang membawa kekuatan dari dua kutub yang mustahil.