Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.
Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.
Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.
Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.
Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?
Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percakapan Di Bangku Taman.
Bel istirahat berbunyi lebih keras dari biasanya. Atau mungkin hanya perasaan Hana saja. Begitu guru keluar kelas, suasana langsung berubah. Kursi bergeser, tas dibuka, suara obrolan saling tumpang tindih. Beberapa anak sudah berdiri bahkan sebelum bel benar-benar berhenti berdentang.
Hana merapikan alat gambarnya pelan-pelan. Ia memasukkan pensil warna ke tempatnya, meniup sisa serbuk penghapus di atas meja, lalu melipat kertas coretan kecil yang tadi ia pakai untuk mencoba gradasi.
Di meja sebelah, Nisa sudah berdiri.
“El, ke kantin sekarang aja yuk. Nanti keburu penuh,” katanya cepat.
Eliza mengangguk. “Iya, aku laper banget.”
Hana menoleh sekilas.
Untuk sepersekian detik, ia menunggu. Menunggu satu kalimat kecil seperti biasa. Han, ikut nggak?
Namun, kalimat itu tidak kunjung datang. Nisa sudah meraih lengan Eliza, tertawa kecil, lalu berjalan keluar kelas bersama. Hana masih duduk. Tangannya berhenti di atas resleting tas.
Ia tidak marah. Tidak juga kecewa secara dramatis. Hanya… kosong. Di sekelilingnya, hampir semua sudah pergi. Gio lewat sambil menyambar bola basket kecil dari bawah mejanya.
“Gue ke lapangan dulu!” teriaknya pada siapa pun yang mendengar.
Arga berdiri, memasukkan buku ke tas dengan gerakan tenang. Ia sempat melirik ke arah Hana.
“Makan?” tanyanya singkat.
Hana terkejut sedikit. “Eh… iya.”
“Ke mana?”
Hana menggeleng kecil. “Belum tahu.”
Arga mengangguk pelan. “Gue ke perpustakaan dulu.”
Tanpa penjelasan tambahan, ia melangkah keluar. Hana menatap punggungnya sebentar, lalu kembali melihat meja yang sudah hampir kosong.
Akhirnya ia berdiri. Daripada ke kantin yang pasti ramai—dan mungkin melihat Nisa dan Eliza duduk berdua—ia memilih arah lain.
Taman belakang sekolah. Tempat itu tidak terlalu besar. Hanya beberapa bangku kayu di bawah pohon ketapang dan satu ayunan tua yang jarang dipakai. Biasanya hanya anak-anak tertentu yang datang ke sana. Yang ingin tenang. Atau yang ingin sendiri.
Hana mengeluarkan bekal kecil dari tasnya. Roti isi dan botol minum. Ia duduk di bangku paling ujung, yang setengah tertutup bayangan pohon.
Angin siang berembus pelan. Tidak terlalu panas, tidak juga dingin. Ia membuka bungkus roti perlahan. Baru saja hendak menggigit—
“Ternyata kamu suka kabur ke sini.”
Hana tersentak. Ia mendongak cepat. Di depannya, berdiri seseorang dengan seragam yang rapi dan dasi sedikit dilonggarkan.
Kenzo. Ketua OSIS.
Hana refleks berdiri hampir saja, lalu bingung harus bagaimana.
“Eh… aku nggak kabur,” katanya spontan.
Kenzo tertawa kecil. “Bercanda.”
Ia melangkah mendekat, tapi tetap menjaga jarak sopan.
“Kantin lagi penuh ya?”
Hana mengangguk pelan. “Iya.”
Sebagian ucapannya benar.
Kenzo melihat bangku di seberangnya. “Boleh duduk?”
Hana terdiam setengah detik, lalu mengangguk lagi. “Boleh.”
Kenzo duduk santai, satu kaki sedikit maju. Tidak terlihat canggung sedikit pun. Beberapa detik hening. Hana menggigit rotinya kecil-kecil, merasa aneh karena makan di depan orang yang hampir semua murid perempuan kagumi.
“Kamu kelas 10, kan?” tanya Kenzo. “Nama kamu… Hana, ya?” Sambungnya lagi
Hana berhenti mengunyah. “Iya.”
“Yang kemarin daftar kelas gambar.” Ucap Kenzo lagi
Hana menatap Kenzo, sedikit terkejut. “Kakak ingat?”
Kenzo mengangkat bahu. “Lumayan.”
Jawaban itu ringan, tapi cukup membuat jantung Hana berdebar aneh.
“Kenapa pilih gambar?” lanjutnya.
Hana berpikir sejenak. “Suka aja.”
“Udah lama?”
“Dari SD.”
Kenzo mengangguk pelan, seolah benar-benar mendengarkan, bukan sekadar mengisi waktu.
“Itu bagus,” katanya. “Biasanya orang yang suka gambar punya cara lihat dunia yang beda.”
Hana tidak tahu harus menjawab apa. Ia menunduk sedikit, menyadari sesuatu yang tiba-tiba membuatnya tidak nyaman. Jerawat di wajahnya.
Tadi pagi ia sempat melihatnya di cermin. Kemerahan, tepat di dekat tulang pipi kiri. Ia sudah menutupinya dengan bedak tipis, tapi tetap terasa jelas baginya.
Apakah dari jarak ini terlihat?
Apakah Kenzo memperhatikan?
Pikiran itu datang begitu saja, tanpa diundang.
“Kamu kelihatan lebih santai di sini,” ujar Kenzo tiba-tiba.
“Hah?”
“Di kelas kamu kayak tegang.”
Hana terdiam. Ia tidak sadar terlihat setegang itu.
“Enggak kok,” bantahnya pelan.
Kenzo tersenyum tipis. “Ya mungkin cuma perasaanku.”
Angin kembali berembus. Hana menatap tanah sejenak.
“Kenapa nggak ke kantin bareng teman-teman?” tanya Kenzo lagi, nadanya tidak menginterogasi. Lebih seperti penasaran biasa.
“Mereka… udah duluan.”
Kenzo mengangguk mengerti. Tidak ada komentar tambahan. Tidak ada kalimat sok bijak seperti teman sejati harusnya menunggu atau semacamnya. Dan entah kenapa, itu membuat Hana lebih nyaman.
“Kamu tahu nggak,” kata Kenzo tiba-tiba, “waktu aku bilang ‘gadis cantik’ kemarin, kamu langsung panik.”
Hana hampir tersedak roti.
“Itu cuma bercanda kan?” tanyanya cepat.
Kenzo menatapnya beberapa detik. “Setengah bercanda.”
Jantung Hana seperti berhenti sesaat.
“Setengahnya lagi?”
“Ya… kamu memang cantik.”
Hening sesaat.
Suara daun bergesekan terdengar lebih jelas dari biasanya. Hana menunduk cepat. Pipi kirinya terasa makin panas.
(Jerawatku pasti kelihatan aneh...) Benaknya
“Enggak juga,” gumamnya pelan.
Kenzo memiringkan kepala sedikit. “Kenapa?”
Hana menggeleng. “Nggak kenapa-kenapa.”
Ia tidak mungkin bilang soal jerawat. Itu terdengar konyol. Namun, di kepalanya, pikirannya berputar cepat. Cantik? Dengan jerawat segini? Dengan wajah yang biasa aja?
Kenzo menyandarkan punggung ke bangku.
“Percaya nggak percaya, orang yang nggak sadar dirinya menarik biasanya justru yang paling beda.”
Hana terdiam. Ia tidak tahu apakah itu kalimat umum yang Kenzo pakai untuk semua orang, atau benar-benar ditujukan padanya.
“Kamu overthinking ya?” tanya Kenzo ringan.
Hana menoleh cepat. “Enggak!”
Kenzo tertawa kecil. “Ketahuan.”
Ia menghela napas pelan. “Aku cuma… nggak biasa aja.”
“Diperhatiin?”
Hana mengangguk sangat kecil.
Kenzo mengangguk balik. “Wajar.”
Beberapa detik mereka hanya duduk. Tidak ada yang terlalu istimewa. Hanya dua orang di bangku taman belakang sekolah. Namun, entah kenapa suasana di antara mereka terasa berbeda.
“Kalau ada yang bikin kamu nggak nyaman, bilang aja,” kata Kenzo tiba-tiba.
“Maksudnya?”
“Kadang perhatian orang bisa berlebihan.”
Hana terdiam. Ia tidak tahu harus menganggap itu sebagai perhatian tulus atau hanya sikap ketua OSIS yang ingin menjaga nama baiknya.
“Aku nggak apa-apa kok,” jawabnya akhirnya.
Kenzo tersenyum lagi. Kali ini lebih lembut. “Bagus.”
Bel istirahat hampir selesai. Suara langkah kaki mulai terdengar dari arah gedung. Kenzo berdiri lebih dulu.
“Balik?”
“Iya.”
Hana ikut berdiri. Untuk sesaat mereka berjalan berdampingan menuju koridor. Tidak terlalu dekat. Tetapi tidak terlalu jauh juga. Saat sampai di persimpangan lorong, Kenzo berhenti.
“Kelas kamu ke sana, kan?”
“Iya.”
“Oke. Sampai ketemu lagi, Hana.”
Nada suaranya santai, tapi menyebut namanya dengan jelas.
Hana mengangguk kecil. “Iya, Kak.”
Kenzo berbalik lebih dulu. Hana memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya berjalan ke kelas. Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa campur aduk. Antara senang, dann takut.
Di sisi lain taman, di balik batang pohon ketapang yang cukup besar— Seseorang berdiri. Ponselnya berada di tangan sejak tadi, dengan layar kamera yang masih menyala, dan beberapa foto yang tersimpan di galerinya.
Saat Hana dan Kenzo duduk berhadapan. Hana menunduk malu. Kenzo tersenyum. Sudut pengambilan yang pas untuk menimbulkan banyak tafsir.
Orang itu menurunkan ponsel perlahan. Sudut bibirnya terangkat tipis. Lalu ia berbalik, meninggalkan taman lebih dulu sebelum Hana menyadari apa pun.
Dan tanpa Hana tahu— Percakapan singkat di bangku kayu itu tidak akan berhenti hanya sebagai obrolan ringan saat istirahat. Karena mulai besok, foto itu akan punya cerita sendiri.