NovelToon NovelToon
Fajar Kedua Sang Lady

Fajar Kedua Sang Lady

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Wanita perkasa
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Tirai Fajar yang Membeku

Perjalanan kembali dari dapur menuju kamar menara sayap barat terasa seratus kali lipat lebih menyiksa daripada saat ia turun tadi. Adrenalin yang sempat memompa jantung Genevieve di dalam pantri kini perlahan surut, meninggalkan realitas pahit akan kondisi fisiknya yang sebenarnya. Tubuh Lady Genevieve yang malang ini sudah berada di ambang batas kehancuran. Setiap kali ia mengangkat kaki untuk menaiki anak tangga batu spiral, otot-otot pahanya menjerit memprotes, bergetar hebat seolah ribuan jarum tak kasat mata ditusukkan ke dalam dagingnya.

Namun, ia tidak berhenti. Ia tidak membiarkan dirinya bersandar terlalu lama pada dinding batu yang basah oleh embun beku. Di dalam dadanya, sebuah tungku api baru telah menyala—sebuah tekad kelangsungan hidup yang dibakar oleh rahasia kotor yang baru saja ia dengar. Kastil Ravenscroft ini bukanlah tempat pengasingan yang sunyi; tempat ini adalah arena eksekusi yang dirancang dengan sangat rapi.

Angin malam yang menyusup melalui celah-celah jendela lorong melolong panjang, suaranya terdengar seperti tangisan roh-roh penasaran yang terperangkap di dalam dinding kuno ini. Sesekali, suara itu menutupi derap langkah kakinya yang diseret pelan. Genevieve menarik jubah wol usangnya lebih rapat, menyembunyikan wajah pucatnya di balik tudung, menyerupai hantu yang bergentayangan di koridor perbatasannya sendiri.

Ketika ia akhirnya berhasil mendorong pintu ek raksasa kamarnya dan menutupnya kembali tanpa suara, Genevieve membiarkan tubuhnya merosot perlahan hingga terduduk di lantai batu. Napasnya memburu cepat, memecah kesunyian kamar dengan suara seraknya. Keringat dingin sebesar biji jagung mengalir dari pelipisnya, membeku seketika saat bersentuhan dengan udara ruangan. Ia memejamkan mata, memusatkan seluruh sisa tenaganya untuk mengendalikan detak jantungnya yang liar. Ia tidak boleh pingsan. Belum saatnya.

Dengan gerakan lambat yang penuh kehati-hatian, ia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sisa roti gandum hitam yang ia curi dari dapur. Ia membawanya ke bibir, menggigit teksturnya yang sekeras kayu, dan membiarkan air liurnya melembutkan makanan kasar itu sebelum mengunyahnya. Tidak ada rasa nikmat, hanya rasa ragi tua dan debu, namun bagi Genevieve, ini adalah asupan kehidupan. Sambil mengunyah dalam diam, pikirannya yang tajam mulai membedah jaring laba-laba politik yang kini menjerat lehernya.

Duke Alistair, suaminya yang dingin dan tak tersentuh. Memori dari tubuh aslinya hanya merekam tatapan benci dan rasa jijik pria itu. Namun, kecerdasan Genevieve yang baru menolak untuk menerima informasi mentah begitu saja. Jika Alistair benar-benar menginginkan kematiannya secara langsung, pria dengan kekuasaan militer absolut seperti Sang Duke bisa saja memenggal kepalanya di alun-alun ibukota atas tuduhan pengkhianatan. Mengapa repot-repot mengirimnya ke ujung utara Aethelgard? Apakah pengasingan ini adalah bentuk hukuman yang paling sadis, ataukah... sebuah manuver politik yang gegabah untuk menjauhkannya dari pusat konflik?

Dan kemudian, ada sang Nyonya Besar. Ibu suri House Blackwood. Wanita yang bahkan tidak pernah tersenyum dalam memori Genevieve yang asli. Jika Nyonya Besar adalah dalang di balik racun Silvershade ini, itu berarti konspirasi yang menjebak Genevieve di ibukota kemungkinan besar dirancang dari dalam keluarganya sendiri. Nyonya Besar tidak hanya ingin menyingkirkan menantunya, tapi ia ingin memastikan akar keberadaan Genevieve terhapus dari sejarah tanpa meninggalkan jejak pembunuhan yang mencurigakan di tangan House Blackwood. Itulah mengapa mereka menggunakan racun pelemah, dan itulah mengapa Gideon—sang kepala pelayan—sangat ketakutan akan ancaman dari ibukota.

Genevieve menelan sisa roti terakhirnya. Matanya yang biru kristal terbuka perlahan, menatap tajam ke arah kegelapan kamar. Pandangannya kini bukan lagi pandangan seorang korban, melainkan seorang ahli strategi yang sedang menatap papan catur.

"Sistem," panggilnya lirih ke ruang hampa.

**[Sistem Bertahan Hidup Siaga. Memproses perintah Tuan Rumah.]**

Panel biru seketika berpendar di udara, memberikan sedikit penerangan artifisial pada wajah Genevieve yang tirus.

"Tampilkan status fisikku secara detail. Berapa banyak tenaga yang kumiliki untuk melakukan satu gerakan fisik yang sangat cepat?"

Teks perak pada layar berkedip dan berubah bentuk menjadi deretan diagram dan angka yang bergerak cepat.

**[Analisis Fisik Tuan Rumah:]**

**[Kekuatan Otot: 12% dari batas normal wanita dewasa.]**

**[Kapasitas Paru-paru: Terganggu oleh residu awal Silvershade (Efisiensi 60%).]**

**[Tingkat Respons Saraf: Meningkat drastis berkat sinkronisasi jiwa (110%).]**

**[Kalkulasi Taktis: Tuan Rumah hanya memiliki cadangan energi untuk SATU ledakan tenaga maksimal berdurasi kurang dari 4 detik. Setelah itu, risiko kolaps otot dan pingsan mencapai 95%.]**

"Empat detik," bisik Genevieve, sebuah senyum tipis yang mematikan dan nyaris tak terlihat melengkung di sudut bibirnya yang pucat. "Empat detik adalah waktu yang sangat panjang jika kau tahu di mana harus menancapkan pisaumu."

Ia memaksa dirinya berdiri, berpegangan pada tiang ranjang yang berukir rumit. Ia tidak memiliki kemewahan untuk tidur malam ini. Setiap detiknya harus digunakan untuk mempersiapkan panggung pertunjukan untuk esok pagi.

Genevieve mulai bergerak dengan efisiensi yang mengerikan. Pertama, ia melepas jubah wolnya dan menyembunyikannya kembali ke dasar lemari, memastikan tidak ada lipatan yang terlihat janggal. Kedua, ia berjalan ke meja rias dan mengambil tusuk konde perak murni yang ia temukan di bawah lantai. Ia menimbang benda itu di tangannya; ujungnya yang runcing memantulkan cahaya redup, cukup tajam untuk menembus kulit dan pembuluh darah jika diarahkan dengan tepat. Ia menyelipkan senjata rahasia itu di bawah bantalnya, pada posisi yang paling mudah dijangkau oleh tangan kanannya hanya dengan satu kedutan jari.

Langkah ketiga adalah racun itu sendiri. Ia mengeluarkan botol kaca gelap berisi sisa teh beracun dosis tinggi dari balik pakaiannya. Jika besok pagi Martha akan datang membawa racun yang dosisnya digandakan, Genevieve membutuhkan sesuatu untuk membuat pelayan itu lengah. Ia meletakkan botol kecil itu tepat di bawah lipatan selimut di sisi kiri pinggangnya, tersembunyi namun siap ditarik kapan saja.

Terakhir, ia menata dirinya sendiri. Ini adalah mahakaryanya. Ia meremas ujung-ujung gaun linen tipisnya hingga kusut masai. Ia sengaja menggosok matanya kuat-kuat hingga area sekitarnya memerah dan tampak bengkak, meniru gejala demam tinggi dan kurang tidur yang ekstrem. Ia membasahi bibirnya dengan sedikit ludah, lalu menggigitnya keras-keras hingga mengering dan meninggalkan bercak darah kecil yang tampak seperti luka pecah-pecah karena dehidrasi parah.

Setelah panggungnya siap, Genevieve membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang dingin. Ia menarik selimut kasarnya hingga sebatas dada, membiarkan lengannya tergeletak lemas di kedua sisi tubuhnya.

Kelopak matanya setengah terpejam, menampakkan garis tipis iris yang tampak kehilangan fokus. Pandangannya kosong, mengarah pada langit-langit kamar yang kusam, tetapi tanpa benar-benar melihat apa pun. Wajahnya dipertahankan dalam ekspresi pucat dan letih, seolah kehidupan di dalam dirinya benar-benar sedang meredup. Posturnya adalah perwujudan sempurna dari seorang wanita yang napasnya tinggal menghitung jam.

Kini, yang tersisa hanyalah menunggu.

1
Bambang Widono
🙏👍💯💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏🙏
Memyr 67
𝗆𝖾𝗇𝖺𝗋𝗂𝗄
Wahyuningsih
thor sustemnya kok cuman gitu aja gk srulah
Wahyuningsih
thor buat suaminya menyesal d buat segan matipun tk mau biar nyakho dia n buat bbadaz abuz biar mkin keren
Wahyuningsih
q mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!