NovelToon NovelToon
The Instant Obsession

The Instant Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.

Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.

Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.

Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Si Licik

Langkah kaki Damian bergema berat di atas lantai marmer kediaman Nicholas yang dingin. Matanya tampak sangat lelah, bukan hanya karena kurang tidur setelah kejadian mengintip di panti semalam, tapi juga karena muak harus kembali ke sangkar emas ini.

Begitu ia melangkah ke ruang keluarga, pemandangan yang paling ia hindari tersaji tepat di depan mata. Di sana, duduk kedua orang tuanya yang tampak sangat akrab dengan seorang gadis yang sudah tidak asing lagi baginya.

"Damian! Akhirnya kau pulang juga," seru Tuan Nicholas dengan nada menuntut. "Lihat siapa yang datang berkunjung. Clarissa sudah menunggumu sejak tadi."

Gadis itu, Clarissa, menoleh dengan senyum manis yang bagi Damian terlihat sangat palsu. Ia mengenakan gaun sutra mahal yang membentuk lekuk tubuhnya, namun di mata Damian, kecantikan itu tidak ada artinya dibandingkan kesederhanaan Selene yang ia lihat di bawah lampu jingga semalam.

"Halo, Damian. Kau terlihat sangat berantakan," ucap Clarissa sambil berdiri dan mendekat, mencoba mengikis jarak di antara mereka. "Ayahmu bilang kau sedang 'menghilang' untuk urusan bisnis. Ke mana saja kau?"

Damian mundur selangkah, menolak aroma parfum Clarissa yang terlalu tajam menusuk hidungnya. "Bukan urusanmu," sahut Damian dingin.

Clarissa tidak menyerah. Ia adalah tipe wanita yang tahu cara menggunakan kecantikannya untuk mendapatkan apa yang ia mau. Ia melirik orang tua Damian sejenak sebelum berbisik pelan, hanya untuk didengar oleh Damian. "Jangan terlalu kasar padaku, Damian. Kau tahu orang tua kita sudah merencanakan penggabungan aset lewat pernikahan kita bulan depan. Sebaiknya kau mulai terbiasa denganku."

Damian menatap Clarissa dengan pandangan meremehkan. "Penggabungan aset? Kau hanya mengincar posisi di dewan direksi Nicholas Group, Clarissa. Jangan berpura-pura seolah ini soal cinta."

"Kenapa kau selalu menuduhku begitu kejam?" Ujar Clarissa dengan nada manja.

"Aktingmu cukup bagus, Clarissa. Kau seharusnya mendaftar ke sekolah seni peran," sahut Damian dengan nada datar yang menusuk.

"Ini bukan akting!" Clarissa menaruh tangannya di dada, seolah-olah hatinya benar-benar hancur. "Aku tidak butuh uang Nicholas Group. Keluargaku sudah punya cukup. Aku hanya ingin bersamamu, mendukungmu di saat kau lelah seperti sekarang. Apa itu salah?"

Damian menatap mata Clarissa dengan dingin. Ia teringat bagaimana Selene memperlakukannya; tanpa topeng, tanpa air mata palsu, bahkan berani menjentik dahinya dengan jujur.

"Kau tahu apa bedanya kau dan wanita yang aku temui di luar sana?" bisik Damian, membuat Clarissa tertegun sejenak. "Dia tidak perlu menangis atau memohon agar aku melihatnya. Dia hanya menjadi dirinya sendiri, dan itu jauh lebih berharga daripada semua air mata buayamu ini."

Wajah Clarissa seketika mengeras mendengar ada "wanita lain" yang disebut oleh Damian. Namun, ia dengan cepat menguasai dirinya kembali.

Damian langsung pergi memanfaatkan situasi, ia tak ingin membuang-buang waktu pada gadis yang hanya sebatas teman kecil.

Nyonya Nicholas yang sejak tadi menyaksikan perlakuan dingin putranya langsung berdiri dengan wajah memerah menahan amarah. Ia melangkah cepat menghampiri Clarissa yang masih berdiri mematung di anak tangga dengan bahu yang bergetar hebat.

"Damian! Berhenti di sana!" teriak ibunya, suaranya menggema di seluruh aula rumah yang megah itu.

Damian menghentikan langkahnya di lantai atas, namun ia tidak menoleh. Ia hanya terdiam dengan tangan terkepal di pagar pembatas.

Nyonya Nicholas merangkul bahu Clarissa dengan penuh kasih sayang, menarik gadis itu ke dalam pelukannya. "Keterlaluan kau, Damian! Di mana sopan santunmu? Clarissa sudah menunggumu seharian, dia datang dengan niat baik, dan kau memperlakukannya seperti sampah?"

Clarissa menyembunyikan wajahnya di bahu ibu Damian, mengeluarkan suara isakan kecil yang terdengar sangat memilukan. "Tidak apa-apa, Tante... Mungkin Damian memang sedang sangat lelah. Ini salahku karena datang di waktu yang tidak tepat," ucap Clarissa dengan suara yang sengaja digetarkan, menambah kesan bahwa ia adalah korban yang sangat sabar.

"Tidak, Sayang. Ini bukan salahmu," sahut Nyonya Nicholas sambil mengusap rambut Clarissa, lalu kembali menatap tajam ke arah punggung Damian. "Turun sekarang dan minta maaf pada Clarissa! Atau Ibu akan membatalkan semua proyek pribadimu dan memaksamu tinggal di rumah ini tanpa ponsel!"

Damian sama sekali tidak gentar. Ancaman ibunya lewat di telinganya bagai angin lalu. Baginya, satu-satunya orang yang memiliki otoritas yang ia segani hanya ayahnya—itu pun karena menyangkut urusan strategis Nicholas Group. Terhadap ibunya, ia sudah tahu bahwa wanita itu hanya termakan oleh drama murah Clarissa.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas omelan ibunya, Damian membalikkan badan. Ia benar-benar mengacuhkan keberadaan ibunya dan Clarissa yang masih berdiri di bawah sana menantikan permintaan maaf yang tulus.

"Damian! Ibu sedang bicara padamu! Kembali ke sini!" teriak ibunya, suaranya naik satu oktaf karena merasa otoritasnya dilecehkan di depan calon menantunya.

Damian tetap melangkah. Langkah kakinya yang berat dan berirama di atas lantai kayu lantai dua adalah satu-satunya jawaban. Ia tidak butuh validasi dari ibunya, apalagi dari wanita ular seperti Clarissa.

"Tante, sudahlah... jangan marahi Damian lagi. Aku tidak apa-apa," bisik Clarissa dengan nada yang dikasihani, padahal di dalam hatinya ia mendidih karena diabaikan secara terang-terangan.

1
Leny Enick
ditunggu selajutnya 💪semngat thor
YuWie
ada2 aja tingkah org kaya tuh ya..nyamar segala..adakah di dunia nyata..hmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!