"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."
Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.
Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
...
Hujan yang mengguyur pemakaman tadi seolah masih menyisakan hawa dingin yang merayap di kulit Kalea, meskipun kini ia sudah berada di dalam mobil Rolls-Royce milik Liam yang kedap suara. Sepanjang perjalanan pulang dari makam ibunya, tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Kalea. Matanya yang sembab menatap kosong ke arah jalanan Jakarta yang mulai macet. Di tangannya, ia masih meremas sisa tanah makam yang terselip di kuku-kukunya—sebuah bukti bisu bahwa dunianya baru saja dikubur dalam-dalam.
Liam Jionel duduk di sampingnya, sibuk dengan tablet di tangan, seolah-olah baru saja pulang dari pertemuan bisnis biasa dan bukannya dari pemakaman seorang wanita yang hidupnya ia tukar dengan uang. Aura pria itu tetap tenang, angkuh, dan tak tersentuh.
"Berhenti menatap jendela seperti itu," suara Liam memecah keheningan. Dingin dan tajam. "Kau terlihat menyedihkan. Dan aku tidak membayar satu miliar untuk melihat wajah penuh duka selama sisa hidupmu."
Kalea menoleh perlahan. Kilatan benci di matanya kini bercampur dengan kehampaan yang mengerikan. "Lalu kau ingin aku apa, Liam? Tersenyum? Menari di atas penderitaanku sendiri karena kau merasa telah menjadi pahlawan dengan membayar liang lahat ibuku?"
Liam meletakkan tabletnya, memberikan perhatian penuh pada Kalea. Ia mencengkeram dagu gadis itu, memaksa mata mereka bertemu. "Aku ingin kau sadar posisi. Kau bukan lagi gadis malang dari gang sempit. Kau adalah milikku. Apa pun yang kau rasakan di dalam hati, simpan itu untuk dirimu sendiri. Di depanku, dan di depan orang-orangku, kau harus terlihat seperti sesuatu yang layak kupamerkan."
Kalea menyentak tangan Liam. "Aku bukan barang pajangan, Liam. Kau mungkin punya ragaku, tapi kau tidak akan pernah punya kendali atas apa yang kurasakan."
Mobil itu akhirnya memasuki gerbang mansion Jionel yang menjulang tinggi. Sebuah istana modern yang terbuat dari kaca dan marmer, namun bagi Kalea, itu tak lebih dari sebuah laboratorium tempat Liam melakukan eksperimen kekuasaan. Begitu mobil berhenti, Liam turun tanpa menunggu, meninggalkan Kalea yang dipandu oleh pengawal menuju kamar yang sudah disiapkan.
Kamar itu sangat luas, mungkin tiga kali lipat dari luas rumah kontrakan Kalea dulu. Ada lemari walk-in closet yang dipenuhi dengan gaun-gaun rancangan desainer ternama, sepatu-sepatu mahal, dan perhiasan yang harganya bisa membiayai makan seribu orang selama setahun. Tapi bagi Kalea, semua itu terasa menyesakkan. Bau parfum sandalwood yang menjadi ciri khas Liam seolah meresap ke setiap sudut ruangan, mengingatkannya bahwa ia sedang diawasi.
Kalea melangkah menuju balkon, menatap taman mansion yang sangat luas. Di sana, ia melihat Liam sedang berbicara di telepon, sosoknya terlihat sangat kecil dari lantai dua, namun otoritasnya tetap terasa dominan.
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk. Seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan yang kaku masuk membawa nampan berisi makanan sehat dan segelas susu hangat. "Nona Kalea, Tuan Liam meminta Anda segera makan dan beristirahat. Besok akan menjadi hari yang panjang untuk Anda."
"Aku tidak lapar," jawab Kalea singkat.
"Tuan Liam tidak menerima kata 'tidak', Nona. Beliau bilang, jika Anda tidak makan, beliau sendiri yang akan datang ke sini untuk menyuapi Anda. Dan percayalah, Anda tidak ingin Tuan Liam kehilangan kesabarannya."
Kalea mengepalkan tangannya. Ancaman halus itu bekerja. Ia tidak sudi melihat wajah pria itu di kamarnya malam ini. Dengan paksa, ia menelan makanan yang terasa hambar di lidahnya, meski itu adalah hidangan kelas atas. Setiap suapan terasa seperti menelan harga dirinya sendiri.
Malam itu, Kalea tidak bisa tidur. Ia meringkuk di lantai, di samping tempat tidur mewahnya. Ia merasa terlalu kotor untuk tidur di atas sprei sutra yang lembut itu. Pikirannya melayang pada ibunya. Bagaimana jika ibunya tahu apa yang ia lakukan? Bagaimana jika ibunya tahu bahwa hidupnya ditukar dengan "penjualan" kehormatan putrinya kepada seorang pria yang memandang manusia sebagai aset?
"Maafkan aku, Bu..." bisiknya dalam kegelapan. Air matanya kembali luruh, namun kali ini tanpa suara.
Keesokan paginya, suasana di mansion terasa lebih sibuk dari biasanya. Aris, asisten kepercayaan Liam, datang membawa beberapa map dokumen. Ia menjelaskan bahwa mulai hari ini, identitas Kalea akan mulai "dibersihkan". Semua catatan tentang kemiskinannya, tentang pekerjaannya di masa lalu, akan dihapus dan diganti dengan latar belakang yang lebih "layak" untuk bersanding dengan seorang Liam Jionel.
"Tuan Liam ingin Anda siap dalam tiga jam," ucap Aris dengan nada profesional yang tanpa emosi. "Siang ini ada tamu penting, Mr. Tanaka. Ini adalah ujian pertama Anda. Jika Anda gagal menarik simpati Mr. Tanaka, Tuan Liam tidak akan segan-segan memberikan hukuman yang lebih berat dari sekadar mengurung Anda di kamar."
Kalea menatap Aris dengan tajam. "Kalian semua benar-benar robot, ya? Apa kalian tidak punya hati?"
Aris hanya sedikit menunduk. "Di rumah ini, hati adalah sebuah kelemahan yang mahal harganya, Nona. Saya sarankan Anda segera bersiap."
Kalea kemudian dibawa ke sebuah ruangan khusus di mana tim penata rias sudah menunggu. Mereka bekerja dengan cekatan—menggosok kulitnya dengan lulur mahal, menata rambutnya yang berantakan menjadi gelombang yang elegan, dan mengaplikasikan makeup yang membuat wajahnya terlihat seperti bangsawan namun tetap mempertahankan sisi misteriusnya.
Saat cermin menampilkan sosok wanita yang berbeda, Kalea nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Wanita di cermin itu terlihat kuat, berkelas, dan mematikan. Namun jika dilihat lebih dekat ke dalam matanya, ada api dendam yang mulai menyala.
"Sempurna," sebuah suara berat terdengar dari arah pintu.
Liam Jionel berdiri di sana, bersandar pada bingkai pintu dengan tangan bersedekap. Ia mengenakan kemeja hitam yang membalut tubuh atletisnya. Matanya yang dingin kini tampak berkilat puas melihat hasil transformasi Kalea.
Liam berjalan mendekat, aroma whisky dan sandalwood yang maskulin kembali mengintimidasi indra penciuman Kalea. Ia menyentuh helai rambut Kalea yang baru saja ditata. "Lihat dirimu. Ternyata lumpur bisa berubah menjadi permata jika dipoles dengan uang yang tepat."
Kalea tidak berkedip. Ia menatap Liam melalui pantulan cermin. "Permata ini memiliki sudut yang tajam, Liam. Berhati-hatilah agar kau tidak terluka saat mencoba menggenggamnya."
Liam tertawa pendek, sebuah tawa yang terdengar seperti tantangan. "Aku suka luka, Kalea. Itu mengingatkanku bahwa aku masih hidup. Sekarang, pasang topengmu. Mr. Tanaka akan segera sampai. Tunjukkan padanya bahwa kau adalah alasan kenapa aku menolak semua perjodohan bisnis yang ditawarkan padaku."
Liam mengulurkan tangannya, sebuah isyarat agar Kalea menggandengnya. Kalea ragu sejenak. Tangannya gemetar di sisi tubuhnya. Namun, ia teringat pada makam ibunya yang masih basah. Ia teringat pada janjinya untuk bertahan hidup.
Dengan perlahan, Kalea meletakkan tangannya di atas lengan kokoh Liam. Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik yang menyakitkan sekaligus memicu adrenalin.
"Mari kita mulai sandiwara ini, Tuan Jionel," ucap Kalea dengan suara yang kini lebih stabil dan penuh tekad.
Liam menyeringai, ia menarik tangan Kalea dan mencium punggung tangannya dengan gestur yang sangat posesif. "Ingat, kau milikku. Jangan biarkan mata pria lain menatapmu lebih dari tiga detik, atau mereka akan menyesal telah dilahirkan."
Babak baru kehidupan Kalea di mansion Jionel resmi dimulai. Ia bukan lagi korban yang menangis di ICU; ia kini adalah pemain dalam papan catur yang dibuat oleh Liam. Dan meski ia merasa seperti tawanan, Kalea bersumpah dalam hati: suatu saat nanti, ia akan menjadi orang yang menggerakkan bidak terakhir untuk meruntuhkan kerajaan Liam Jionel.