NovelToon NovelToon
JALAN PENDEKAR NAGA

JALAN PENDEKAR NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hamtaro Dasha

Seri Kedua dari Lahirnya Pendekar Naga!

___
Kemunculan Pendekar Naga telah mengguncang keseimbangan dunia—membangunkan makhluk kuno dan menarik perhatian kekuatan yang telah lama menunggu dalam bayang-bayang.

Dunia berubah.

Sekte-sekte hancur tanpa sisa. Jejak kehancuran menyebar tanpa arah… dan pelakunya adalah sosok yang tidak pernah dibayangkan oleh Wei Zhang Zihan.

Chu Kai.

Sebagai Pendekar Suci, Wei Zhang Zihan tidak punya pilihan selain menelusuri jejak itu—mengungkap kebenaran yang tersembunyi, dan menghadapi satu kenyataan yang tidak ingin ia percayai:

Mungkin, orang yang harus ia hentikan… adalah orang yang seharusnya menjadi pelindung dunia.

Pendekar Naga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamtaro Dasha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9 - Fakta Kota Hou

Wei Shezi segera menyusul Wei Zhang Zihan. Langkahnya ringan, lalu ia berjalan di samping pemuda itu, menggeleng pelan dengan senyum tipis.

"Aiya, kau ini benar-benar pemuda yang suci." Wei Shezi mengusap tengkuknya santai. "Kau itu harus sedikit manipulatif. Jangan terlalu bersikap suci—hei, coba lihat di sana."

Wei Zhang Zihan berhenti. Dia menoleh, mengikuti arah yang ditunjuk wanita ini.

Ada sebuah lorong sempit di sudut bangunan. Gelap dan tersembunyi, namun masih cukup jelas untuk terlihat.

Mata Wei Zhang Zihan seketika melebar saat melihat ada dua sosok—seorang pria dan wanita—berdiri saling menempel, tenggelam dalam ciuman yang penuh nafsu, seakan dunia di sekitar mereka tidak pernah ada. Mereka melakukan sesuatu tanpa rasa malu dan tanpa peduli siapa yang melihat.

!

Tubuh Wei Zhang Zihan langsung membeku dan kedua tangannya mengepal kuat. Dalam sekejap, ia memalingkan wajahnya lalu menatap tajam ke arah Wei Shezi. Tatapan itu dingin, nyaris menusuk.

"Ha ha ha—" Wei Shezi tertawa ringan, sama sekali tidak merasa bersalah. Dia melanjutkan langkahnya, "Maaf. Tapi responmu sangat lucu~"

"Kau..."

Wei Zhang Zihan bahkan kehabisan kata-kata.

Wei Shezi hanya tersenyum, kembali berjalan sebelum akhirnya buka suara. "Seperti itulah kota ini."

Nada suara Wei Shezi berubah lebih tenang—namun tetap mengandung ledekan halus. "Kau baru saja memasuki lingkungan yang buruk, Tuan Tampan yang berhati murni~"

"Kota Huo... wilayah Aliran Hitam." tatapan Wei Shezi menyapu jalanan. "Di sini, kau akan menemukan perjudian, tempat prostitusi... dan yang paling banyak—perdagangan manusia."

Langkah Wei Zhang Zihan melambat sedikit. Tatapannya mengeras.

Wei Shezi meletakkan tangan di belakang punggung dan kemudian menatap Wei Zhang Zihan. "Alasan penjaga itu tidak banyak bertanya saat aku bilang kau tidak punya identitas... adalah karena di tempat ini, hanya mereka yang tidak memiliki identitas… yang diperjual-belikan."

"Kau sepertinya tahu banyak tentang kota ini."

"Tentu saja." Wei Shezi menjawab ringan. "Aku mengikuti gadis kecil dari Sekte Long Yu itu selama ini. Token tadi pun adalah miliknya."

Wei Shezi mengangkat bahu. "Dia jarang bermain di wilayah Aliran Putih... tapi di Aliran Hitam, dia cukup terkenal. Kota ini pun pernah ia datangi."

Wei Zhang Zihan terdiam. Gadis kecil yang dimaksud oleh roh cantik di sampingnya ini tidak lain adalah Zhui Ying.

Mendengar nama Sekte Long Yu, dia jadi teringat dengan bagaimana sekte itu hancur dan Zhui Ying sendiri tewas tanpa bisa diselamatkan oleh Wei Zhang Zihan.

"... Saat itu," suara Zhang Zihan terdengar lebih rendah, "Kenapa kau tidak membantunya?"

"Hm?" Wei Shezi berkedip dan lantas tersenyum tipis. "Ah… itu karena aku tidak tertarik."

!

Langkah kaki Wei Zhang Zihan berhenti. Perlahan, dia menoleh—tatapannya kali ini bukan sekadar dingin, tetapi berat. Dia tersentak mendengar ucapan dari Wei Shezi.

Sekte Long Yu dimusnahkan dan para muridnya dibantai, termasuk Zhui Ying. Namun subjek ini justru dengan mudahnya berkata demikian seolah itu tidak berarti apa-apa.

"Dengar." Wei Shezi menghela napas pelan. "Aku tahu apa yang kau pikirkan."

Tatapan wanita itu tidak lagi sepenuhnya main-main saat berkata. "Aku adalah Roh Kuno. Aku tidak akan sembarangan melibatkan diri dengan manusia... apalagi jika itu hanya akan membawa kemalangan bagiku."

Wei Shezi menyilangkan tangannya dan memandang lurus ke depan. Langkah kakinya ringan, "Aku pernah berniat ingin membantu gadis kecil itu."

Sejenak, dia terdiam sebelum akhirnya menghela napas. "Lalu aku melihat sifat aslinya dan mengurungkan niatku. Haiih... Tsk, jika gadis kecil itu tahu ada Roh Kuno di dalam pedangnya, maka dia pasti... tidak akan ragu memanfaatkanku."

Wei Shezi kembali menatap Wei Zhang Zihan, "Meskipun aku jahat... bukan berarti aku ingin berada di sisi manusia yang lebih jahat dariku. Para kultivator Aliran Hitam itu... tidak ada yang bisa dipercayai. Kau tidak mungkin... tidak mengenali sifat mereka, kan?"

Wei Zhang Zihan tidak membalas, namun dia memang tahu seperti apa kultivator dari Aliran Hitam—dan Sekte Long Yu termasuk sekte yang sering membuat keributan bagi orang lain.

*

*

Kota Huo tidak pernah benar-benar tenang.

Wei Zhang Zihan berjalan menyusuri jalan utama, langkahnya stabil, namun tatapannya terus bergerak. Di kiri dan kanan, bangunan kayu berdiri rapat dengan papan-papan dan lentera yang menggantung miring.

Ada suara tawa kasar bercampur dengan teriakan pedagang. Aroma alkohol dan asap yang tercium saat ia melangkah. Bahkan jika memfokuskan penciumannya... akan ada aroma seperti darah yang mengering bercampur di udara.

Wei Zhang Zihan terus melangkah. Beberapa wanita berdiri di depan bangunan dengan pakaian terbuka, melambai pada siapa pun yang lewat. Lalu di sudut lain, sekelompok pria berjudi dengan wajah tegang, sementara pertengkaran kecil pecah tanpa ada yang benar-benar peduli.

"..."

Wei Zhang Zihan menarik napas berat. Tempat ini memang hidup, namun dengan cara yang salah. Benar-benar berbeda dari lingkungan tempatnya tinggal.

Semakin lama berjalan dan memperhatikan sekelilingnya—semakin rumit pikiran yang bergelayut di benak Wei Zhang Zihan.

Wilayah Hu Nang, utamanya Kota Hou ini... meski bukan bagian dari Kekaisaran Zhou—tapi masih menjadi wilayah kekaisaran lain. Walau dalam lingkup Aliran Hitam—seharusnya... masih ada aturan mengenai beberapa larangan. Apalagi mengingat bahkan perdagangan manusia justru begitu biasa di tempat ini.

Kening Wei Zhang Zihan mengerut sepanjang jalan, memikirkan begitu berantakannya kota ini dibalik gemerlap dan kilauannya.

Wei Shezi sendiri berjalan santai di samping Wei Zhang Zihan. Sama sekali tidak merasa terganggu dengan cara kota ini bergerak. Bahkan pemandangan di sekitarnya seolah biasa-biasa saja.

"Bagaimana jika kita mencari pelelangan di tempat ini?" Wei Shezi buka suara. "Kau punya uang, kan? Aku lapar dan butuh mutiara roh~"

Saat Wei Shezi mengatakan keinginannya—keributan terdengar tidak jauh di depan mereka.

Wei Zhang Zihan bahkan belum sempat merespon ketika terdengar suara bentakan, barang yang pecah, dan orang-orang mulai berkumpul.

BAAAM..!

!!

******

1
uh uh
up mna
uh uh
woy Sialan apa apan up satu
uh uh
sialan GK ad up
ind@h
/Coffee/ meluncur..
ind@h
👣👣👣👣
ind@h
hahhh..langsung merasa aman dari suaminya..
ind@h
kangen narsismu yang mulia...
uh uh
mana up sialan
uh uh
un mna
uh uh
up mna
uh uh
mna up sialan
uh uh
mna up
uh uh
up mana sialan👺
uh uh
mana up
enda harahap
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Indah Hidayat
roh pedangnya cantik
Alw
orang tidak waras itu kembali
Nanik S
Kong Yang akhirnya bisa melihat ibunya
Nanik S
Ibunya mengenali Aura dari Anaknya
Nanik S
Keren dan keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!