Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐
baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pick me geng
Sore itu, Selena pulang dari markas Thunder dengan perasaan campur aduk. Musik rock masih terngiang di telinganya, begitu juga tatapan tajam Zeus dan sentuhan hangat Leon. Tapi, di atas semua itu, ada rasa lega sekaligus aneh: Mulai besok, dia bukan lagi babu Thunder.
Senin pagi tiba. Selena berjalan menyusuri koridor sekolah dengan langkah ringan. Dia merasa "bebas" karena tidak perlu lagi membawakan tas Zeus yang beratnya seperti membawa bongkahan berlian.
Namun, baru saja dia melewati belokan koridor menuju kelasnya...
BRUAKKK!
Tubuh Selena terpental ke samping setelah ditabrak dengan sengaja oleh sekelompok siswi. Selena hampir jatuh jika tidak berpegangan pada loker.
"Aduh! Kalau jalan pake mata dong!" seru Selena ketus.
Di depannya berdiri tiga orang cewek dengan seragam yang sengaja dikecilkan, bibir merah menyala karena lip tint berlebihan, dan bedak yang ketebalannya bisa buat nambal tembok gudang angker. Inilah geng "The Pretty" alias geng pick-me sekolah yang merasa paling cantik.
"Eh, santai dong! Lo yang harusnya tahu diri," ucap pimpinan mereka, Bella, sambil mengibaskan rambutnya yang bau parfum menyengat. "Lo pikir karena lo sering kelihatan bareng Geng Thunder, lo jadi hebat?"
Temannya yang satu lagi menyahut sambil memoles bedak tambahan, "Iya, gaya lo sok banget deh. Cowok-cowok sekelas Zeus Alexandra itu seleranya yang berkelas, yang glowing, bukan yang kucel kayak lo begini."
Selena terdiam sebentar, lalu dia memperhatikan wajah Bella dan kawan-kawannya dari dekat. Dia tiba-tiba tertawa kecil.
"Kenapa lo ketawa?!" bentak Bella emosi.
"Nggak apa-apa," jawab Selena santai sambil merapikan poninya. "Gue cuma baru sadar. Gue aja yang nggak pake makeup udah begini... gimana ya? Alami. Eh, kalian pake bedak tebel gitu kok nggak glowing-glowing amat ya? Malah lebih mirip donat gula yang jatuh di aspal."
"APA LO BILANG?!"
"Gue bilang, gue cantik alami tanpa perlu dandan sejam," sindir Selena pedas. "Lagian, lo semua ngapain sih nyerang gue?"
"Halah! Ngaku aja, lo ada hubungan apa sama Geng Thunder ?!" desak Bella sambil melangkah maju, memojokkan Selena. "Kenapa lo bisa masuk ke markas mereka? Lo pake pelet apa?!"
Selena menarik napas panjang dan menjawab dengan nada sedatar mungkin. "Denger ya, Mbak-mbak Donat. Mulai hari ini, gue udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama mereka. Masa kontrak gue udah abis. Jadi mending lo urusin tuh bedak lo yang udah mulai retak-retak daripada urusin hidup gue."
Selena melenggang pergi meninggalkan mereka yang sedang menghentak-hentakkan kaki karena kesal.
Di Ujung Koridor...
Tanpa Selena sadari, di lantai dua yang menghadap ke koridor itu, lima cowok sedang berdiri memperhatikan kejadian tersebut.
"Katanya udah nggak ada hubungan, Ze" celetuk Axel sambil menyenggol lengan Zeus. "Sakit nggak tuh dengernya?"
Damon mendengus. "Geng donat gula... lucu juga tuh julukan. Tapi Selena kelihatan lemes ya pas bilang 'nggak ada hubungan'?"
Zeus tidak menjawab. Dia hanya menatap punggung Selena yang semakin menjauh. Tangannya mencengkeram pembatas besi koridor dengan erat. Ada rasa tidak suka yang tiba-tiba muncul di dadanya saat mendengar Selena memutuskan hubungan begitu saja di depan umum.
"Nggak ada hubungan, ya?" gumam Zeus dengan suara rendah yang berbahaya. "Kita lihat aja nanti."
Sepulang sekolah.....
"Ayo Sel, cepetan! Nyokap gue udah nge-WA terus nih, daftar belanjaannya panjang banget kayak kereta api," gerutu Rora sambil menarik lengan Selena keluar dari gerbang sekolah.
Selena menghela napas, menyeka keringat di dahinya. "Iya-iya, sabar! Nyokap gue juga nitip santan sama deterjen. Kita ke supermarket depan aja yang adem."
Baru saja mereka melangkah beberapa meter dari gerbang, sebuah mobil SUV hitam legam dengan kaca film yang sangat gelap tiba-tiba meluncur kencang dan berhenti mendadak tepat di depan mereka.
CITTTTT!
Ban mobil itu mencit nyaring, menghalangi jalan Selena dan Rora.
Rora yang memang punya insting lebay tapi pemberani langsung pasang kuda-kuda. Dia berdiri di depan Selena sambil mengangkat tas sekolahnya tinggi-tinggi, siap menghantam siapa pun yang keluar.
"HEH! SIAPA LO?! MAU NYULIK YA?!" teriak Rora lantang sampai urat lehernya kelihatan. "Nggak akan bisa! Gue sabuk hitam karate—biarpun cuma ikut dua kali latihan! Pergi nggak lo, atau gue laporin Pak Satpam?!"
Pintu belakang mobil terbuka perlahan. Tapi bukannya penjahat bertopeng yang keluar, melainkan sebuah tangan kekar yang memakai jam tangan mahal menjulur keluar.
"Banyak bicara," suara berat yang sangat familiar terdengar dari dalam.
Dalam sekejap mata, sebelum Rora sempat mengayunkan tasnya, tangan itu menarik kerah jaket Selena dengan sangat cepat.
"EH! EH! APAAN NI—WAAAA!" jerit Selena.
Tubuh mungil Selena seperti terbang ditarik masuk ke dalam mobil yang dingin itu. Selena sempat meronta, tapi kekuatan orang di dalam mobil itu bukan tandingan dia.
BRAAAKKK!
Pintu mobil ditutup keras. Mesin SUV itu menderu dan langsung tancap gas meninggalkan tempat itu, meninggalkan kepulan asap tipis dan Rora yang masih mematung dengan tas terangkat di udara.
Rora bengong. Matanya berkedip-kedip menatap jalanan yang sudah kosong.
"Selena?" panggil Rora pelan. "SELENAAAAA! TEMEN GUE DICULIK MAFIAAAA! TOLONGGGGG!" teriak Rora histeris sambil lari-lari kecil nggak jelas arahnya. "GUE HARUS BILANG APA SAMA NYOKAPNYA?! 'Tante, Selena nggak jadi beli santan karena dibawa lari Pangeran Kegelapan'?! MATI GUEEE!"
Di dalam mobil yang kedap suara itu, Selena berusaha bangun dari posisinya yang terjungkal di kursi belakang. Dia merapikan rambutnya yang berantakan dan menoleh ke samping.
Di sana duduk Zeus, sedang tenang membaca pesan di ponselnya seolah baru saja mengambil paket ekspres, bukan menculik anak orang. Di kursi kemudi, Axel cuma nyengir lewat spion tengah.
"ZEUS! LO GILA YA?!" semprot Selena sambil mukul lengan Zeus. "Gue mau belanja ke supermarket sama Rora! Kasian dia ditinggal sendirian, pasti dia lagi nangis darah sekarang!"
Zeus menurunkan ponselnya, lalu menatap Selena dengan tatapan datarnya yang bikin merinding. "Gue denger ada yang bilang 'udah nggak ada hubungan' tadi pagi di koridor."
Selena mendadak kaku. "Ya... ya emang bener kan? Masa kontrak babu gue udah abis!"
Zeus mendekatkan wajahnya ke arah Selena, membuat Selena mundur sampai mepet ke pintu mobil.
"Kontrak babu emang abis, Sel," bisik Zeus rendah. "Tapi kontrak pribadi gue sama lo... baru aja dimulai. Lo nggak bisa lepas dari Thunder segampang itu."
"Kontrak apaan?! Gue nggak pernah tanda tangan apa-apa!" balas Selena berani, padahal jantungnya sudah konser rock lagi.
"Kontrak perlindungan," sahut Zeus santai sambil menyandarkan punggungnya lagi. "Geng 'Donat Gula' tadi pagi mulai cari masalah sama lo. Kalau lo nggak sama kita, lo bakal habis di-bully. Jadi, sekarang lo ikut ke markas. Ada 'tugas' baru buat lo."
"Tugas apaan lagi?! Jadi superhero lagi?!"
Axel tertawa dari depan. "Bukan, Sel! Kali ini tugasnya lebih berat... lo harus jadi 'Pawangnya Zeus'!"
Di dalam mobil yang melaju kencang, Selena sempat terdiam. Pikirannya melayang-layang. Di satu sisi, ada bagian dari dirinya yang merasa... keren.
Gila, gue diculik pake mobil mewah sama cowok paling ditakuti di sekolah, batin Selena. Dia membayangkan dirinya seperti pemeran utama di film aksi, menjadi "Pawang" dari sang Pangeran Mafia. Pasti geng "Donat Gula" itu bakal langsung kena mental kalau liat Selena turun dari mobil Zeus dengan gaya berkelas.
Tapi, khayalan tingkat tinggi itu langsung hancur berkeping-keping saat wajah sang Ibu muncul di benaknya.
"Aduh, mati gue!" gumam Selena tiba-tiba sambil memegang kepalanya.
"Kenapa? Mabuk perjalanan?" tanya Zeus tanpa menoleh.
"Bukan! Nyokap gue, Zeus! Nyokap gue!" Selena mulai panik sendiri. "Lo nggak tau ya, nyokap gue itu kalau udah marah lebih serem dari Damon! Kalau gue telat pulang tanpa kabar, apalagi belanjaannya nggak nyampe rumah, gue bisa kena senjata maut-nya!"
Axel mengintip dari spion. "Senjata maut? Apaan? Pistol? Granat?"
"Lebih parah!" seru Selena histeris. "SAPU LIDI SAKTI DAN SENDAL JEPIT TERKENDALI! Nyokap gue bisa ngelempar sendal dari jarak sepuluh meter dan itu selalu kena sasaran! Belum lagi omelannya yang lebih panjang dari lagu rock yang kita dengerin kemarin!"
Selena membayangkan ibunya berdiri di depan pintu dengan daster kebangsaan, memegang daftar belanjaan sambil pasang muka sangar.
"Zeus, serius, anterin gue balik sekarang atau beliin santannya dulu!" pinta Selena sambil mengguncang-guncang lengan Zeus. "Gue nggak mau jadi pahlawan kesiangan yang pulang-pulang badannya penuh bekas sapu lidi. Reputasi gue sebagai superhero di markas lo bisa hancur!"
Zeus terdiam sejenak. Dia menatap Selena yang mukanya sudah pucat membayangkan "senjata" ibunya. Ternyata, gadis yang berani neriakin pangeran mafia ini takluk juga sama kekuatan emak-emak.
"Axel, mampir ke supermarket depan," perintah Zeus singkat.
"Loh, Ze? Kita mau ke markas, masa beli santan dulu?" protes Axel bingung.
"Mampir aja. Gue nggak mau babu gue tinggal nama gara-gara sendal jepit," jawab Zeus datar, tapi ada sedikit nada geli di suaranya.
Beberapa menit kemudian, pemandangan luar biasa terjadi di supermarket. Dua orang cowok tinggi, ganteng, dan pake baju mahal sedang berjalan di lorong bumbu dapur diikuti seorang gadis kecil yang sibuk mencocokkan daftar belanja.
Zeus berdiri di depan rak deterjen dengan wajah bingung, sementara Axel memegang dua bungkus santan instan seolah itu adalah barang ilegal yang sangat berharga.
"Ini yang 'Santan Peras Asli' atau yang 'Santan Kental Manis'?" tanya Axel dengan muka serius.
"SANTAN KENTAL MANIS MAH BUAT ES BUAH, BEGO!" semprot Selena sambil merebut bungkusannya. "Duh, kalian ini ya, mafia-mafia nggak ada gunanya di supermarket!"
Beberapa ibu-ibu yang lagi belanja di sana sampai menoleh-noleh, bingung melihat "pengawal" Selena yang penampilannya lebih cocok jadi model majalah daripada tukang angkut belanjaan.
Setelah belanjaan lengkap, Zeus mengambil alih semua kantong belanjaan yang berat. "Dah, masuk mobil. Kita anter ini ke rumah lo dulu, baru ke markas."
Selena bernapas lega. "Makasih ya, Zeus. Lo ternyata mafia yang pengertian sama nasib rakyat kecil yang takut sama emaknya."
Zeus cuma mendengus. "Gue cuma nggak mau jadwal latihan lo terganggu gara-gara lo dikurung di kamar mandi."
"Tadi kalian lucu"ujar selena ketawa.
Flashback ...
Suasana di depan kasir supermarket mendadak mencekam, tapi bukan karena ada perampokan. Selena berdiri mematung sambil menggeledah seluruh saku seragam dan tasnya dengan panik.
"Duh... mampus. Zeus, uang gue ketinggalan di laci meja kelas!" bisik Selena dengan wajah pucat pasi. "Gimana nih? Santannya udah dipindai, deterjennya udah masuk plastik. Malu banget gue!"
Zeus menghela napas malas, seolah masalah uang adalah hal paling sepele di dunia. Dia merogoh dompet kulitnya yang elegan dan mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam legam dengan aksen emas yang berkilau—Black Card.
"Pake ini aja," ucap Zeus dingin sambil menyodorkan kartu itu ke Mbak Kasir.
Mbak Kasir itu melongo. Dia melihat kartu itu, lalu melihat mesin EDC-nya yang sudah tua, lalu melihat ke arah Zeus. "A-aduh, Mas... maaf banget. Mesin kami lagi rusak koneksinya, cuma bisa tunai atau QR yang bank lokal aja. Kartu jenis 'Sultan' begini nggak bisa masuk, Mas."
Axel ikut mengeluarkan kartunya yang sama. "Punya gue juga Black Card. Masa nggak bisa? Ini limitnya bisa buat beli supermarket ini sekalian sama tanah-tanahnya, Mbak!"
"Nggak bisa, Mas... beneran," ucap Mbak Kasir yang mulai salah tingkah karena ditatap dua cowok ganteng.
Selena makin panik. "Tuh kan! Makanya, jadi orang jangan terlalu kaya! Giliran butuh duit receh buat beli santan malah nggak punya!"
Tiba-tiba, Ibu pemilik supermarket yang sedari tadi memperhatikan dari meja sebelah langsung berdiri dan mendekat. Matanya berbinar-binar melihat Zeus dan Axel.
"Aduh, aduh... ganteng-ganteng banget sih kalian ini! Kayak artis Korea yang sering ditonton anak saya!" seru si Ibu dengan semangat.
Ibu itu melirik belanjaan Selena yang nggak seberapa. "Udah, Mbak... nggak usah bayar! Gratis! Santan, deterjen, semuanya gratis buat kalian!"
Selena melongo. "Hah? Serius, Bu? Tapi kan..."
"Eits, ada syaratnya!" Ibu itu mengeluarkan ponselnya yang casing-nya penuh stiker bunga. "Syaratnya, Mas-Mas ganteng ini harus mau foto bareng sama saya dan Mbak Kasir buat dipajang di status WhatsApp dan dinding toko! Biar toko saya rame!"
Selena langsung menahan tawa sampai bahunya bergetar. Dia melirik Zeus yang wajahnya langsung berubah jadi makin kaku. Sang Pangeran Mafia Alexandra, calon pewaris tahta gelap, harus membayar santan dengan harga diri: FOTO BARENG IBU SUPERMARKET.
"Gak. Gue nggak mau," tolak Zeus tegas.
"Yah... kalau nggak mau, santannya saya ambil lagi ya? Deterjennya juga," ucap si Ibu sambil pura-pura mau narik plastik belanjaan.
Selena langsung menyenggol lengan Zeus. "Zeus! Ayo dong! Demi santan nyokap gue! Lo mau liat gue kena sabet sapu lidi?! Cuma foto doang, nggak bakal bikin tato lo ilang!"
Axel yang dasarnya narsis langsung ngerapiin rambut. "Gue sih oke aja, Bu! Ayo, gaya apa nih? Gaya metal atau gaya saranghae?"
Akhirnya, dengan wajah yang ditekuk habis-habis, Zeus terpaksa berdiri di antara Ibu pemilik toko dan Mbak Kasir.
CEKREK! CEKREK!
"Satu lagi Mas, gaya peace ya!" seru si Ibu kegirangan.
Selena tertawa puas sambil memegangi perutnya. "Hahahaha! Foto lo bakal viral di grup WA ibu-ibu pengajian, Zeus! 'Dua pemuda tampan pencari santan'!"
Zeus langsung menyambar plastik belanjaan dengan gusar dan berjalan cepat keluar toko. "Cepat masuk mobil. Kalau sampe foto itu tersebar ke anak-anak Thunder, lo orang pertama yang gue cari, Sel!"
Bersambung...