NovelToon NovelToon
Pengganti Yang Dipilih

Pengganti Yang Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ayyun

Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.

Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?

Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Semua mata tertuju pada Oma. Suara beliau bergema, tegas namun anggun.

“Setelah mempertimbangkan dedikasi, keberanian, dan visi masa depan, keluarga Nugraha memutuskan…”

Hening menyelimuti ruangan. Semua orang menahan napas. Bahkan para eksekutif, penasihat, dan anggota keluarga Juna menegakkan punggung mereka.

“…pewaris utama grup Nugraha adalah Olivia Nugraha. Sah dan efektif…”

Bisik-bisik terdengar di seluruh ruangan, tapi Oma menahan semua tatapan penasaran.

“…dengan syarat pewaris sudah memiliki keturunan untuk menjamin kesinambungan garis keluarga.”

Seketika, Olivia terdiam. Matanya membulat, jantungnya seperti berhenti sebentar.

Juna duduk di sampingnya, menatapnya lekat. Mata pria itu sedikit terbuka lebar, tapi ia segera menutup ekspresinya—coba tetap tenang di depan semua orang.

Olivia menoleh pada Juna, napasnya masih terengah. Ia menatap genggaman tangan Juna yang masih tersisa, lalu menariknya cepat.

“Lah?! Gimana bisa kita punya anak kalau gue nggak setuju?!” protesnya, suaranya terdengar tegas tapi sedikit gemetar.

“Tenang dulu,” ujar Juna, suaranya tetap lembut, tapi tegas. “Gue janji… nggak akan sentuh lu kalau lu nggak mau.”

Olivia merengut, mata menyipit. “Lebih baik gue gini aja, ngga perlu jadi pewaris. Jangan mimpi lu bakal sentuh gue, kak!”

Ucapan itu keluar begitu spontan, penuh kemarahan sekaligus panik. Juna hanya tersenyum tipis, hampir tak terlihat, tapi cukup untuk membuat bulu tengkuk Olivia merinding.

“Santai aja, Liv,” gumamnya dengan nada santai, hampir seperti bercanda. “Gue jadi penasaran… nanti kalau kita mau punya anak, apa kita pakai cara modern aja, ya… biar nggak nyentuh lu.”

Olivia menatapnya dengan mata melotot, merasa geli sekaligus kesal. “Apa maksud lu, kak?!”

Juna mengedipkan satu mata, dan senyumnya makin nakal. “Ah… cuma bercanda”

Olivia mendengus, wajah memerah setengah karena malu setengah karena geli. Ia cepat-cepat menoleh ke arah Oma, seolah ingin menutupi reaksinya.

***

Salju tipis masih menutupi jalanan Zurich ketika mobil hitam keluarga Nugraha melaju pelan dari kantor menuju rumah baru Olivia di sana. Olivia duduk di kursi penumpang depan, jaket tebal menutupi tubuhnya, lutut ditekuk ke dada. Matanya menatap jendela, menelusuri setiap gedung, jalan, dan mobil yang melintas.

Juna duduk di kursi depan, satu tangan di setir, satu tangan lain dibiarkan di sandaran. Tatapannya tetap fokus pada jalan, tapi sesekali matanya menoleh ke Olivia. Santai. Dewasa. Memiliki aura yang membuat Olivia merasa… kekanakan.

“Kak,” Olivia mulai, suaranya setengah keras karena mobil sedikit bising, “gue nggak ngerti sama sekali kenapa kita harus tinggal di rumah segede ini. Ini kayak… kastil, serius!” Ia menatap layar ponselnya dengan heran.

Juna menoleh sebentar, tersenyum tipis. “Kastil modern, Liv. Tapi ya… lu bakal terbiasa.”

Olivia menekuk bibir, masam. “Terbiasa? Gue baru lulus SMA, Kak. Gue nggak siap urus rumah gede, nggak siap urus tanggung jawab orang dewasa, apalagi urus… pewaris.”

Juna tersenyum lagi, santai seperti biasa. “Pewaris atau nggak, Liv… kita bisa mulai dari hal kecil dulu. Santai. Lu nggak perlu panik.”

Olivia mendengus, tapi pipinya tetap memerah. “Santai?! Lu santai karena lu udah dewasa, Kak! Gue masih remaja, baru lulus sekolah, gue… gue pengen nonton drama Korea, makan es krim, main sepatu roda… bukan…”

Juna menoleh sebentar, matanya berkilat. “Es krim, drama Korea, sepatu roda… Oke, Liv. Kita bisa selingi pekerjaan dengan itu. Asal lu janji nggak ada niat kabur lagi.”

Olivia menatapnya tajam, mengerutkan kening. “Janji? Gue janji… asal lu nggak ganggu gue sama kata ‘pewaris’ itu. Jangan lu pikir gue bakal santai sama semua syarat Oma!”

Juna menoleh lagi, senyumnya makin nakal. “Ah, santai aja. Gue nggak bakal sentuh lu… kalau lu nggak mau. Tapi…”

Olivia langsung menatapnya, dagunya maju. “Tapi apaan?! Jangan mulai ngegodain gue sekarang, kak!”

Juna mencondongkan tubuh sedikit ke kesamping, matanya bersinar tipis. “Tapi kalau lu merinding… berarti gue berhasil bikin efeknya, kan?”

Olivia mendengus, wajah merah, tapi tangan secara refleks menekuk lutut lebih erat. “Gila lu, Kak. Bikin gue geli aja. Awas ya…”

Juna tersenyum santai, lalu kembali menatap jalanan yang tertutup salju. Suasana mobil hangat, tapi ketegangan lucu itu terasa menyelimuti kabin. Olivia sadar—meski ia kekanakan, canggung, dan ingin tetap bebas, kehadiran Juna selalu berhasil membuatnya merinding, geli, dan… penasaran.

Beberapa menit kemudian, mobil melambat. Rumah mereka terlihat megah di ujung jalan, fasad modern berpadu dengan sentuhan klasik Eropa, lampu hangat menyorot taman kecil di depan.

Olivia menarik napas panjang, bersiap menghadapi kehidupan barunya. Tapi sebelum ia sempat membuka pintu, Juna menoleh sebentar dengan senyum tipis.

“Siap untuk petualangan baru, Liv?”

Olivia menoleh balik, dagunya menempel di dada, setengah marah, setengah geli. “Kak… jangan sok dewasa dulu, gue masih remaja di sini!”

Juna tertawa rendah, tenang, tapi matanya bersinar nakal. “Santai...”

Olivia mendesah, menutup wajah dengan tangan, tapi hatinya berdebar. Petualangan baru di Zurich baru saja dimulai—dan Olivia tahu, Juna akan membuatnya terus merinding… dengan cara yang aneh tapi menghibur.

Ketika pintu mobil terbuka, angin dingin Zurich menyapa wajah Olivia, dan Juna bersandar sedikit ke arahnya sambil berkata pelan,

“Liv… kalau nanti lu masih kekanakan, jangan salahkan gue kalau sepanjang perjalanan… gue bikin lu merinding terus.”

Olivia menutup wajahnya, menahan tawa dan geli, tapi hatinya sudah tahu—hidupnya akan jauh lebih mendebarkan daripada yang ia bayangkan.

1
Paradina
semangat kakak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!