NovelToon NovelToon
Retired Hero

Retired Hero

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Epik Petualangan / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wanto Trisno 2

Setelah pahlawan terhebat berhasil mengalahkan Raja Iblis, dikhianati manusia. Dituduh berbuat kejahatan dan tak ada yang mempercayai semua yang dikatakan.

Alih-alih demi terciptanya kedamaian dunia, pahlawan bernama Rapphael Vistorness pun membiarkan dirinya ditangkap dan dihukum mati. Siapa sangka, dirinya malah mengulang waktu pada saat pertama dipanggil dari dunia lain.

Karena telah kembali, maka tugas pahlawan bukanlah tanggung jawabnya lagi. Bersantai dan berpetualang di dunia ini, saatnya untuk menikmati kehidupan tanpa beban kepahlawanan. Namun ia tak pernah lupa untuk mencari informasi, siapa dalang atas nasib buruknya dimasa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wanto Trisno 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Hunter

Tidak mau menyia-nyiakan usahanya, Rapphael mengambil Batu Perl tersebut. Lalu mendatangi para Hunter yang bersembunyi. Mereka memiliki pedang, busur, dan peralatan lainnya yang digunakan untuk berburu Batu Perl.

"Ah, akhirnya kita ketahuan juga," kata salah satu dari mereka, seorang wanita dengan rambut merah. "Anak kecil, kamu tidak bisa melarikan diri dari kami."

Rapphael menatap dingin, matanya memindai sekelompok orang itu. "Ah, para keroco yang menunggu mati. Aku tahu kamu semua ada di sini. Ayo, maju semua!" tantangnya.

Wanita itu tersenyum, pedangnya terhunus. "Kami ada di sini untuk membunuhmu. Karena kamu berani datang pada kami."

Rapphael terkekeh pelan, pedangnya terhunus. "Aku tidak akan menyia-nyiakan pemberian kalian. Jadi, silahkan maju semuanya."

Seorang pria dengan rambut hitam yang berdiri di sebelah wanita itu berkata, "Kami tidak hanya petualang biasa, asal kamu tahu, kami selalu menunggu mangsa. Baik itu Gomon, maupun petualang lain. Jadi, nikmatilah kematianmu."

Wanita itu, yang bernama Elena, tersenyum. "Kamu akan melihat kekuatan kami, Anak muda. Kami akan menunjukkan padamu apa yang kami bisa lakukan."

Elena dan para Hunter lainnya mulai bergerak maju, pedang dan peralatan mereka siap untuk digunakan. Rapphael tidak lupa melindungi tubuhnya dengan sihir pelindung, pedangnya terhunus dan siap untuk menghadapi mereka.

Pertarungan antara Rapphael dan para Hunter dimulai. Elena, wanita dengan rambut merah, melancarkan serangan pertama dengan pedangnya yang terhunus. Rapphael dengan mudah menghindarinya dan membalas dengan serangan sihir angin yang membuat Elena terkejut.

"Sial! Kenapa sihir tanpa mantra? Kau bukan manusia! Siapa kamu sebenarnya?" Elena telah terpukul mundur dan mengalami luka dalam. Memuntahkan darah dari mulutnya.

Para Hunter lainnya tidak menyerah dan terus melancarkan serangan. Mereka memiliki kemampuan yang kuat dan bekerja sama dengan baik, tapi Rapphael tidak kalah. Dia menggunakan sihir api untuk menghancurkan serangan mereka dan membalas dengan serangan yang lebih kuat.

"Kekuatan api dari segala jenis api yang menyala, datanglah memenuhi panggilanku, elemen api, serangan tinju api!"

Seorang Hunter melapisi tinjunya dengan api. Lalu menyerang secara brutal ke arah Rapphael. Namun pemuda itu tidak gentar. Justru ia semakin puas dengan pertarungan. Meski melawan sekelompok petualang yang lemah, disitu ada kepuasan sendiri. Pada akhirnya sihirnya tidak hanya tidak mempan. Bahkan api yang menyala di pedang hitam itu lebih besar dan suhunya berkali-kali lipat dari penyihir biasa.

"Awalnya tadi ingin menggunakan tongkat ini. Tapi lebih efisien dengan pedang." Rapphael membuang tongkat sihir yang dibuatnya dengan tulang.

Awalnya ada seorang yang ingin mengambilnya. Detik berikutnya, ledakan besar yang terjadi pada tingkat tulang tersebut. Sehingga membuat ahli sihir itu terluka cukup parah.

"Kekuatan es dari segala es yang membeku. Datanglah memenuhi panggilanku, hujan es di atas menara!"

Seorang Hunter yang memiliki kemampuan sihir es mencoba untuk menghentikan gerakan Rapphael, tapi Rapphael tidak menyerah. Dia menggunakan sihir petir untuk menghancurkan es itu dan melanjutkan pertarungan.

"Sihir kalian terlalu merepotkan," ejek Rapphael. Ia menggunakan banyak sihir tanpa merapalkan mantra. Bahkan berhasil membunuh satu penyihir untuk membalas serangannya.

Elena yang tidak puas dengan kemampuan sihir rekannya, mencoba untuk menggunakan teknik pedangnya yang lebih kuat. Dia melancarkan serangan yang cepat dan kuat, tapi Rapphael tidak kalah. Dia menghindarinya dengan mudah dan membalas dengan serangan yang lebih kuat.

"Teknik berpedangmu sangat berantakan. Kurasa hanya segini saja kemampuanmu." Rapphael kembali menghina lawannya. Ia semakin puas setelah menghina mereka. Karena ia ingat di kehidupan sebelumnya, dia juga pernah bertemu dengan mereka.

Karena bukan orang baik juga, maka kematian mereka tidak terhindarkan. Hingga ia bisa membunuh semuanya.

Tiba-tiba, seorang Hunter yang memiliki kemampuan sihir gelap mencoba untuk menggunakan sihirnya untuk mengendalikan pikiran Rapphael. Tapi Rapphael tidak terpengaruh dan menggunakan sihirnya sendiri untuk menghancurkan sihir itu.

"Dalam kegelapan malam. Aku sendiri, memikirkan dirimu yang kesepian. Malam yang lembut, kenali diri dalam pikiran semu. Datanglah padaku untuk menerima takdir sebagai seorang ham–"

"Mantra sihir yang terlalu panjang. Minggir!" teriak Rapphael. Ia langsung menghempaskan pengguna sihir hitam tersebut.

Para Hunter lainnya mulai merasa kelelahan, tapi Elena tidak menyerah. Dia terus melancarkan serangan, masih mencoba untuk mengalahkan Rapphael. Tapi pemuda itu tidak akan mudah dikalahkan.

"Akhirnya, aku akan menunjukkan kalian kekuatanku yang sebenarnya," kata Rapphael dingin. "Siap-siaplah untuk menerima pembahasannya."

Rapphael mengangkat tangannya, dan cahaya sihir yang kuat mulai berkumpul di sekitarnya. Para Hunter lainnya merasa takut, tapi Elena tidak menyerah. Dia terus melancarkan serangan, mencoba untuk mengalahkan Rapphael.

Tapi saat Elena hampir mencapai Rapphael, dia tiba-tiba berhenti. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Rapphael tidak bergerak, tapi ada sesuatu yang berbeda tentangnya.

Tiba-tiba, cahaya sihir yang berkumpul di sekitar Rapphael meledak. Para Hunter lainnya terlempar ke belakang, dan Elena merasa takut. Semakin kuat lawannya, semakin dirinya diselumuti rasa takut.

"Apa... apa yang kamu lakukan?" tanya Elena, suaranya bergetar. "Kau tahu siapa aku? Kau tidak bisa macam-macam denganku. Jika terjadi sesuatu padaku, akan ku pastikan kamu mendapatkan balasannya."

"Balasannya? Ohh ... bukankah kamu adalah Putri Elena? Siapa yang tidak tahu identitasmu? Semua orang ingin bertemu dan berbicara denganmu dengan rasa hormat. Tapi aku bukan bagian dari mereka."

Rapphael kembali mengangkat tangannya, dan bayangan-bayangan mulai muncul di sekitarnya. Bayangan-bayangan itu mulai menyerang para Hunter, dan mereka tidak bisa melawan.

Elena mencoba untuk melancarkan serangan, tapi bayangan-bayangan itu terlalu kuat. Dia merasa takut, dan ia tahu, tidak bisa mengalahkan Rapphael.

"Apa... apa ini?" tanya Elena, suaranya bergetar. Rasa takut semakin besar, membuatnya berkeringat dingin. Kali ini ia tidak tahan lagi.

Para Hunter lainnya mulai melarikan diri, tapi Elena tidak bisa bergerak. Dia merasa takut, dan dia tahu bahwa dia tidak bisa mengalahkan Rapphael. Karena tatapan matanya juga menunjukan tidak ada rasa takut.

Elena menutup matanya, dan dia tahu bahwa dia tidak bisa melawan. "Kami menyerah," katanya, suaranya lembut. "Tolong lepaskan kami."

"Hmmm, baiklah." Rapphael melepaskan kendali bayangannya. Lalu membiarkan Elena dan para Hunter lainnya.

Tidak diduga, setelah lepas dari Rapphael, para Hunter itu malah bertemu dengan Gomon yang tidak pernah diduga. Redrat dan juga Zombtree. Zombtree adalah zombie dari pohon yang mati. Mereka bergerak dengan lambat. Namun sulit dikalahkan.

"Tidak!" jerit seorang petualang. Ia kini dikerubungi Zombtree dan tubuhnya dicabik-cabik hingga darah bercucuran dari seluruh tubuhnya.

Hal yang sama terjadi pada yang lainnya. Selain Redrat yang bergerak cepat, Zombtree yang gerakannya lambat pun sangat berbahaya. Karena saat ranting menggores kulit, efek racunnya dapat membunuh dengan cepat.

Elena yang ketakutan pun tidak luput dari perhatian para Gomon. Mereka bergerak bebas di lantai empat itu. Lalu mereka mulai memakan kulit dan daging mereka. Hingga menyisakan tulang, meski masih bernyawa. Hingga pada akhirnya mereka meregang nyawa.

***

1
anggita
mampir lewat ng👍like aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!