NovelToon NovelToon
Malam Terlarang Dengan Om Asing

Malam Terlarang Dengan Om Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Beda Dunia / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.

"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"

"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."

Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.

Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.

Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Rumah Sagara terasa lebih sunyi saat pintu depan terbuka. Bukan sunyi kosong, melainkan sunyi yang membawa keputusan.

Senja berdiri di dekat sofa ruang tamu, jari-jarinya saling meremas. Ia tahu hari ini tidak akan mudah. Pagi tadi Sagara sudah memberitahunya akan ada yang datang. Bukan takut, hanya... sedikit gugup. Namun, dia paksa tubuhnya lebih tegak, lebih siap menerima apa pun.

Deru mobil terdengar, berhenti di halaman. Sagara melangkah lebih dulu, membuka pintu.

"Kakek. Nenek."

Kakek turun lebih dulu. Tubuhnya masih tegap meski usia jelas tertulis di rambut yang memutih. Wajahnya keras, bukan karena marah yang meledak, tapi karena kecewa yang terlalu dalam untuk diekspresikan dengan teriakan.

Nenek menyusul. Tatapannya langsung menyapu rumah itu. Lalu berhenti pada Senja yang berdiri kaku di balik Sagara. Tatapan itu lembut, terlalu lembut untuk situasi seberat ini.

Keluarga Sagara bukan keluarga sembarangan. Kekayaan mereka bukan sekadar angka, tapi warisan panjang dari kerja keras, pendidikan, dan posisi terhormat di masyarakat. Nama keluarga itu terbiasa disebut dengan hormat di ruang-ruang formal, di kalangan akademisi, pebisnis, dan pejabat.

Mereka masuk, duduk di ruang tamu. Tak ada basa-basi. Tak ada senyum pembuka.

Hening jatuh lama.

Sagara berdiri tegak di depan mereka, tangan lurus di sisi tubuhnya. Tidak seperti cucu yang akan dimarahi, tapi seperti seorang pria dewasa yang siap diadili.

Kakek menatapnya lurus. "Kamu tahu kenapa kami datang?" tanya Kakek Adam akhirnya. Pertanyaan yang ditujukan ke Sagara.

"Tahu."

"Dan kamu tahu seberapa besar kesalahanmu."

"Tahu." Jawabannya pendek, tapi penuh tanggung jawab. Sagara menarik napas. "Itu kesalahanku. Aku tidak menutupinya. Dan aku bertanggung jawab." Tiga kalimat. Tidak lebih.

Nenek Widari menoleh ke Senja. Tatapannya bergetar halus. "Nak... kemarilah."

Senja ragu, bergerak satu langkah, lalu berhenti. Sagara sedikit menoleh padanya. Bukan melarang, bukan mendorong. Hanya isyarat tenang bahwa ia aman.

Senja mendekat. Duduk di kursi kecil di seberang Widari. Nenek Sagara itu menatap perutnya yang masih samar. Lalu, mengangkat wajah Senja dengan dua jari yang lembut.

"Kamu masih sangat muda…"

Senja menunduk. "Iya, Nek."

Nenek menghela napas panjang. "Dan seharusnya dunia memperlakukanmu dengan lebih hati-hati."

Kalimat Widari membuat dada Senja menghangat dan perih sekaligus.

Adam bersuara. Nadanya berat. "Kamu itu profesor, Sagara. Kamu itu panutan. Kamu tahu apa arti batas." Ia mencondongkan tubuh sedikit. "Tapi kamu justru menjadi orang yang merobohkannya."

Sagara tidak membela diri. Tidak menunduk. Tidak menghindar. "Benar," jawabnya singkat.

"Kamu bukan hanya merusak hidupmu sendiri," lanjut Kakek. "Kamu juga menjatuhkan seorang anak perempuan ke situasi yang seharusnya tidak pernah ia tanggung."

Sagara menatap lurus. "Yang pantas menerima semua amarah itu aku."

Nenek menahan napas kecil. Ia memandang Senja lagi. "Nak… kamu tidak bersalah. Sagara sudah menjelaskan semuanya."

Senja tercekat. Bibirnya bergetar. Kakek dan nenek Sagara sangat berbeda dengan orang kaya di luar sana. Tidak ada sikap menilai dari pakaian, latar belakang, atau ketidaksempurnaan hidupnya. Yang ada hanya tatapan seorang pria tua yang bijaksana dan perempuan tua yang melihat seorang gadis muda sedang memikul beban terlalu besar.

"Saya… tidak ingin merepotkan siapa pun, Nek."

Nenek menggeleng pelan. "Kalau kamu terluka, itu juga tanggung jawab keluarga kami."

Sekali lagi kalimat Widari jatuh seperti selimut hangat. Senja menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata.

Adam menghela napas berat. "Kami membesarkan cucu yang bertanggung jawab, tapi rupanya kami gagal mengajarkannya menjaga batas."

Sagara menjawab tanpa emosi.

"Kesalahan itu milikku sepenuhnya."

Senja akhirnya bersuara, pelan tapi jujur.

"Saya tidak menuntut apa pun. Saya cuma ingin anak ini lahir dengan layak."

Hening.

Nenek menutup mulutnya seiring matanya yang mulai berkaca-kaca. "Anak seumuranmu seharusnya masih memikirkan sekolah… mimpi… bukan tentang bagaimana bertahan hidup."

Senja tersenyum kecil. "Saya masih punya mimpi, Nek. Saya ingin tetap kuliah. Saya ingin berdiri dengan kaki saya sendiri."

Kalimat itu sederhana, tapi membuat Nenek terisak kecil. Bukan karena lemah, tapi karena kagum pada keteguhan yang lahir terlalu dini.

Kakek menatap Senja lama. "Kamu gadis yang kuat." Lalu tatapannya kembali ke Sagara. "Dan kamu… harus lebih kuat lagi. Bukan dengan kuasa, tapi dengan tanggung jawab."

"Saya tahu," jawab Sagara.

"Bukan sekadar menanggung biaya hidup, tapi menjaga martabatnya. Menjaga mimpinya. Menjaga masa depannya," lanjut Adam.

Sagara mengangguk sekali. "Itu yang akan aku lakukan."

Widari berdiri perlahan, mendekati Senja. Tangannya menggenggam tangan kecil itu. "Kamu tidak sendirian, Nak."

Senja menahan tangis. "Terima kasih, Nek…"

Sagara melihat Senja mulai gemetar. Ia bersuara, pendek. "Cukup."

Semua mata reflek tertuju padanya. "Dia tidak perlu membela dirinya," katanya tenang.

Kakek terdiam lama. Lalu ia mengangguk pelan. "Itu baru cucuku."

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka datang, bukan kemarahan yang tersisa di ruangan itu, melainkan sesuatu yang lebih berat, lebih dewasa, dan jauh lebih tulus, yaitu penerimaan atas kesalahan, dan komitmen untuk tidak mengulanginya.

Senja duduk di sana, kecil di antara mereka. Namun untuk pertama kalinya juga, ia merasa diperjuangkan. Ia merasa… diakui.

Senja mengernyit ketika rasa tak nyaman tiba-tiba datang lagi, gejolak yang tidak bisa ditawar, bukan pula yang bisa ditunda.

Dadanya mendadak sesak. Tenggorokannya terasa pahit. Tubuhnya menegang, seperti memberi peringatan yang tak bisa diabaikan.

Ia menutup mulut cepat-cepat. "Permisi…" suaranya nyaris tak terdengar. "Saya… saya ke kamar mandi sebentar."

Adam dan Widari belum sempat merespons ketika Senja sudah berdiri tergesa. Langkahnya cepat, sedikit limbung, satu tangannya menahan dinding saat melewati lorong.

Sagara langsung menoleh. Alisnya berkerut tipis. Kakinya hendak bergerak namun, Senja sudah menghilang di balik pintu.

Beberapa detik ruang tamu hening. Lalu, terdengar suara muntah dari arah kamar mandi.

Pelan, tertahan, tapi cukup jelas. Widuri memejamkan mata, menarik napas panjang. Kemudian… menoleh perlahan ke arah Sagara.

Tatapannya bukan tatapan marah yang meledak, tapi tatapan seorang nenek yang sedang menahan seluruh daftar ceramah panjang dalam kepalanya.

Sagara berdiri tegak seperti biasa. Bahunya lurus. Wajahnya tenang. Namun, ketika Widuri berdiri, langkahnya mendekat satu langkah… dua langkah. Sagara refleks menegakkan punggung sedikit lebih kaku dari sebelumnya.

"Bungkuk sedikit," titah Widuri.

Sagara mengernyit. "Nek?"

"Bungkuk."

Sagara menuruti. Bukan karena takut, tapi karena sudah hafal pola gelagat sang nenek.

Dan detik berikutnya...

Plak!

Pukulan ringan mendarat di pantatnya. Tidak terlalu keras. Lebih seperti simbol isyarat.

Kakek menutup mulutnya, menahan senyum yang gagal total. Wibawanya seketika menyisih.

Sagara terperanjat kecil. Alisnya terangkat. "Nek…"

"Profesor segala profesor," omel Widuri. "Tapi soal tanggung jawab begini masih harus dipukul dulu biar masuk."

Sagara tetap diam, tidak membela diri, tidak juga mengeluh, hanya menghela napas pendek.

Widuri memukul sekali lagi, lebih keras sekaligus gemas. "Anak perempuan itu muntah-muntah, pucat, berdiri di hadapan kami dengan tubuh yang seharusnya masih memikirkan kuliah. Dan kamu berdiri di sini dengan bahu tegak seperti sedang sidang akademik."

Sagara menunduk sedikit. "Aku memang sedang disidang, Nek."

Adam akhirnya tertawa kecil. "Dan kamu menerima sidangnya tanpa pembelaan."

Widuri mendengus. "Ya memang harus begitu." Ia menatap cucunya lama. Bukan dengan marah, tapi dengan lelah yang penuh cinta. "Kamu tahu kenapa Nenek memukulmu?"

"Supaya aku ingat," jawab Sagara.

"Bukan." Widuri menggeleng. "Supaya kamu tetap manusia. Bukan cuma pria hebat yang merasa cukup dengan bertanggung jawab di atas kertas."

Sagara terdiam.

Widuri mendekat, kali ini tangannya tidak memukul, tapi merapikan kerah baju Sagara. Gerakan kecil yang hanya bisa dilakukan oleh seorang nenek.

"Dia itu bukan proyek yang harus kamu kelola," katanya lirih. "Dia anak orang. Dan sekarang dia akan jadi ibu."

Sagara mengangguk. "Aku tahu."

Adam berdiri, menepuk bahu Sagara. "Dan untuk ukuran manusia keras kepala sepertimu, kau sudah melakukannya cukup baik."

Widuri mengangkat alis. "Cukup baik bukan berarti cukup."

Sagara hampir tersenyum.

Hampir.

Dari lorong terdengar pintu kamar mandi terbuka. Langkah Senja terdengar pelan. Sagara langsung kembali ke sikap tenangnya. Wajahnya kembali seperti semula, dingin, berpendar wibawa.

Tapi di dalam, bekas dua pukulan ringan di pantatnya terasa seperti pengingat, bahwa ia bukan hanya pria dewasa yang memikul tanggung jawab.

Ia masih cucu. Masih manusia. Dan tanggung jawab tidak menghapus haknya untuk dikoreksi dengan cinta.

Bersambung~~

1
Ayuwidia
Wkkkk, mewakili gueeee. Makasih, Mak
Ayuwidia
Aku penasaran, kenapa Winarti dan Pandi bisa setega itu memperlakukan Senja. Beda banget sama perhatian mereka ke Rian 🤔
Ayuwidia
Baru diakui. Telat, terlambat!!!!
Ayuwidia
Ealah, adek nggak ada akhlak. Kok bisa, Senja punya adek semenyebalkan gini. Hidup lagi
Ayuwidia
Salah sendiri. Terlalu jumawa, sombong
Ayuwidia
Winarti serasa ditampar keras. Dan aku, tersenyum membayangkan wajahnya
Ayuwidia
Alhamdulillah, ikut senang. Semoga sakinah, mawadah, warahmah 🥰
Ayuwidia
Meski sederhana, tapi tulus dari dalam hati 🥰
NA_SaRi
kok bru diakui ya mak
NA_SaRi
lambene😩
NA_SaRi
klo Pengen dihormati, belajarnya caranya menghargai bapak🙃
NA_SaRi
Alhamdulillah 😍
NA_SaRi
netizen ya awooooohhh jempolnya kebangetan, bibirnya semoga kepedesan😩
NA_SaRi
betul, aku prnh mengalaminya
NA_SaRi
gengsi ga usah ditinggiin Napa mak😩
NA_SaRi
dari bab ini aku belajar bahwa ilmu tenang itu mahal, bahkan ga bisa dibeli dgn uang, membuat karakter seseorang jd elegan tanpa harus meninggi, aku harus banyak belajar dr om sagara
Ayuwidia
Kalimat penutup yg sangat mewakili orang2 sefrekuensi dgn Senja, keren 👍🏻
Ayuwidia
Ini selalu berlaku di kampung/ kompleks. Apalagi klw dihuni emak2 yang demen banget gibah. Ibarat kata, nggak gibah--nggak hidup
Nofi Kahza: iya, kalau nggak ada bahan gibah hidup mereka kurang seru..
total 1 replies
Ayuwidia
Part ini pasti ada yang menginspirasi
Nofi Kahza: hush! diem.
total 1 replies
Ayuwidia
Pfttttt jatuhnya pingin ngakak
Nofi Kahza: kampungnya ngampung banget🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!