Dawai Asmara, seorang fresh graduate sekaligus guru Bahasa Inggris baru di SMA Bina Bangsa, sekolah menengah atas yang terkenal elite.
Perawakan Dawai yang imut membuatnya menjadi target sasaran permainan dari Rendra, siswa kelas dua belas, ketua dari geng the Fantastic Four, geng yang terdiri dari siswa-siswa paling keren di sekolah, yang merupakan putra dari dewan komite sekolah.
Suatu ketika, Rendra mengatakan "I love you, Miss," pada Dawai. Dawai yang sering menjadi sasaran keanehan sikap Rendra, tak menghiraukan pernyataan cinta Rendra.
Apakah Rendra hanya becanda mengatakan itu? Atau serius? Temukan jawabannya hanya di I Love You, Miss!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Rendra dan Adit
Dawai terduduk di perpustakaan, masih memikirkan percakapan Adit dan Rendra di koridor pagi tadi. Dari perkataan Rendra, keduanya terlihat saling cukup mengenal.
'Pergi dari rumah?' pikir Dawai.
"Berarti mereka serumah?" gumam Dawai. Sedetik kemudian Dawai terkejut.
'Ah! They're siblings?!' pikir Dawai.
"Sepertinya Miss Dawai sedang memikirkan sesuatu?" tanya Ryan. Dia selalu tiba-tiba muncul di perpustakaan seperti biasa.
"Eh?"
Tanpa meminta ijin seperti sebelumnya, Ryan langsung duduk di depan Dawai. Dawai tertegun dengan sikap santai Ryan.
"Mikirin soal Rendra sama Kak Adit?" tanya Ryan seperti tahu isi kepala Dawai.
"Kak Adit?" tanya Dawai bingung mengapa Ryan memanggil Adit dengan sebutan 'Kak' bukan 'Pak'. Ryan mengangguk, tersenyum, seperti paham pikiran Dawai.
"Pak Adit itu kakaknya Rendra," kata Ryan. Mata Dawai membulat.
"Not related by blood. Tapi, Rendra selalu menganggapnya kakak kandung," lanjut Ryan. Dawai manggut-manggut.
'Pantesan sama sekali nggak mirip. Cuma sama-sama nyebelin kalo ngomong,'
"Setelah lulus SMA, Kak Adit memutuskan untuk keluar dari rumah Rendra. Kak Adit menyerahkan sebagian warisan mendiang ayahnya pada ayah Rendra, termasuk perusahaan besar milik mendiang ayahnya," lanjut Ryan.
"Karena itu, Rendra jadi tahu kalau selama ini Kak Adit bukanlah kakak kandungnya," kata Ryan. Dawai mendengarkan dengan seksama.
"Kak Adit lalu tinggal di sebuah rumah sederhana dekat sini. Kuliah. Lulus. Dan sekarang ngajar di sini," lanjut Ryan.
"Kak Adit dulu juga lulusan sini. Makanya, guru-guru lama udah pada tau kalo Kak Adit itu kakaknya Rendra," kata Ryan menutup ceritanya.
"Eh? Jadi cuma aku yang nggak tau?" tanya Dawai lebih kepada dirinya sendiri. Ryan tersenyum.
"Beberapa guru kan ada yang baru, Miss. Sepertinya Pak Adit juga meminta pihak sekolah untuk tidak terlalu memperhatikan hal itu," kata Ryan.
"Reno dan Rafa juga nggak tau soal itu. Mereka baru gabung sama Rendra pas SMP. Saat itu, Kak Adit udah nggak di rumah Rendra lagi," kata Ryan.
"Reno? Rafa?" tanya Dawai bingung.
"Ah! Iya. Miss Dawai belum pernah ketemu mereka," kata Ryan dengan nada sedikit menyesal. Dawai hanya tersenyum.
"Rendra itu baik," kata Ryan tiba-tiba.
"Hanya saja, dia selalu sulit mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada orang lain," lanjut Ryan. Dawai mendengarkan dengan seksama.
"Sama seperti yang dia lakukan pada Kak Adit di koridor tadi pagi," kata Ryan. Dawai mengerutkan kedua alisnya. Tak paham. Ryan tersenyum.
"Itu artinya, Rendra sangat merindukan kakaknya," kata Ryan sambil tersenyum. Dawai manggut-manggut.
"Kamu udah lama temenan sama Rendra?" tanya Dawai pada Ryan penasaran.
"Dari lahir, Miss," jawab Ryan santai.
"Eh?"
"Orangtua kami sahabat dekat. Kebetulan jarak lahir kami juga dekat. Lebih tua saya tiga bulan. Sama-sama cowok juga. Orangtua kami sering membawa kami ketika mereka ngumpul bersama. Jadi ya begitu," kata Ryan. Lagi-lagi Dawai manggut-manggut.
Dawai merasa Ryan memiliki pembawaan yang lebih tenang dan dewasa. Berbeda dari Rendra yang terlihat beringas dan tempramen. Dawai sampai heran, mengapa para siswi begitu tergila-gila dengan Rendra.
'Kenapa mereka nggak suka Ryan yang lebih charming?'
***
"Ren, darimana lo?" tanya Reno penasaran. Sejak jam pelajaran pertama hingga jam istirahat tiba, Rendra tak hadir di kelas.
"Dicariin Bu Ina," kata Rafa.
Rendra hanya mendengus kesal. Rafa dan Reno saling pandang.
"Yan, Rendra kenapa?" tanya Rafa pada Ryan yang baru saja duduk di kursinya.
"Biasa," jawab Ryan dingin.
"Miss Dawai?" bisik Rafa. Ryan tersenyum tipis. Reno berjalan mendekat ke arah Ryan.
"Keknya otaknya bener-bener dipenuhi Miss Dawai," komentar Reno sambil menatap Rendra yang terlihat kesal sendiri. Ryan tersenyum sinis.
"Mungkin kali ini dia salah menentukan target," kata Ryan sambil menyiapkan buku untuk pelajaran selanjutnya.
Rendra menoleh ke arah Ryan. Wajahnya semakin terlihat kesal. Ryan tersenyum menatap sahabatnya yang dipenuhi amarah.
"Hei, Ren, nyerah aja. She's different, I told you," kata Ryan pada Rendra.
"Hh. Nyerah? Nggak bakal. Gue malah semakin pengen dapetin dia. Dan kalo udah gue dapetin, gue bakal balas semua yang udah dia lakuin ke gue," kata Rendra pasti sambil mengembangkan senyum liciknya. Ryan menaikkan kedua bahunya.
"Keknya lo punya saingan baru selain gue dan cowoknya Miss Dawai," kata Ryan santai. Rafa dan Reno saling tatap. Rendra menatap tajam Ryan. Ryan tersenyum.
"Siapa, Yan?" tanya Reno dan Rafa bersamaan.
"Pak Adit," kata Ryan sambil menatap lurus ke arah Rendra. Rendra menatap Ryan tajam.
"Lo yakin?" tanya Rendra memastikan Ryan bukan sekedar menggodanya. Ryan menatap Rendra tajam.
"Miss Dawai punya pesona itu. Gue yakin, nggak cuma elo, murid yang suka sama Miss Dawai. Kalo muridnya aja segila lo, apalagi guru?" kata Ryan sengaja memancing Rendra untuk melihat reaksinya.
"Iya. Imut sih. Manis lagi," komentar Reno. Rendra melirik ke arah Reno. Reno segera menutup mulutnya rapat.
"Lo atau siapapun nggak bakal bisa dapetin dia, kecuali gue," kata Rendra penuh percaya diri. Reno dan Rafa tertegun. Baru kali ini mereka melihat Rendra begitu serius mengejar cewek. Ryan tersenyum.
"We'll see," kata Ryan dingin. Rendra memicingkan matanya.
"Sebenernya mereka berdua ini akur atau nggak sih?" tanya Rafa pada Reno dengan nada berbisik.
"Entah. Gue juga suka bingung," jawab Reno heran.
"Sejak dulu gue selalu bertanya-tanya, sebenernya mereka ini gimana? Tapi, sama-sama saling tau, paham," kata Rafa.
"Kalo pas mode kek gini bikin bingung," kata Reno.
Ryan hanya diam mendengar kasak-kusuk antara Rafa dan Reno. Ryan tahu, Rendra tidak pernah benar-benar marah padanya apapun yang dia katakan dan lakukan.
Di sisi lain, Rendra pun tahu bahwa terkadang Ryan memang sengaja membuatnya kesal untuk memotivasinya saja. Bukan benar-benar ingin membuatnya kesal. Meskipun memang sikapnya yang dingin itu benar-benar membuat Rendra kesal.
Tak terasa waktu pulang telah tiba. Rendra and the gank berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Riuh teriakan para siswi memenuhi setiap koridor yang dilewati the Fantastic Four, panggilan untuk Rendra and the gank.
Adit yang sudah berada di lobi samar-samar mendengar teriakan para siswi. Adit terus berjalan tanpa mempedulikan suasana lobi yang sudah mulai riuh. Yang Adit pedulikan hanya satu. Dawai.
Dawai tengah menanti Disa di depan sekolah. Adit berjalan menuju Dawai yang tengah asyik mengobrol dengan beberapa siswi yang sepertinya sedang menanti jemputan.
Rendra, yang kini sudah tiba di lobi, menangkap sosok Adit yang terlihat berjalan cepat menuju Dawai. Rendra berhenti. Mengamati.
'Sial! Serius?'
***
semngaatt ya thorrr