Di saat resepsi pernikahan. Anjani Thalia harus menerima kenyataan pahit jika calon suaminya tiba-tiba saja membatalkan pernikahannya.
Keluarga Anjani merasa malu dan marah karena merasa di permainkan oleh Arjuna . Calon menantu mereka.
Bahkan yang paling mengejutkan, ternyata Arjuna memilih wanita lain. Dan yang lebih mengejutkan dia memilih teman Anjani sendiri sebagai calon istrinya.
Saat keadaan kacau Anjani terlihat pasrah dengan kehancuran di depan matanya. Namun siapa sangka seseorang justru menyelamatkannya dari kehancuran itu.
Keandra Alarick. Mantan Anjani datang dengan tiba-tiba dan ingin menikahinya. Hal itu pun membuat semua orang terkejut.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Apa Anjani akan melanjutkan pernikahannya dengan Keandra?
Apakah setelah ini kehidupan Anjani akan bahagia?
Ikuti kisah mereka sampai selesai.
Jangan lupa follow. Beri like dan komentar kamu ya!
Happy Reading...! 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Kegelapan yang mendekatkan
"Sayang, kenapa kamu diam saja?" Felicia. Wanita yang di gadang-gadang sebagai kekasih Keandra ini terlihat heran. Sebab melihat Keandra hanya terdiam saja. "Kean, sayang. Aku sangat rindu sekali pada, mu. "
Anjani yang melihat hal itu pun, hanya memperhatikan dalam diam. Sakit, iya. Cemburu pastinya. Namun berusaha berpikir positif. Siapa tahu, wanita itu adalah kerabatnya Keandra.
Lain ceritanya dengan Keandra. Melirik sekilas pada Anjani, yang hanya terdiam. Terbesit rencana, ingin membuat Anjani cemburu padanya.
"Kamu sudah pulang. Kenapa tidak memberitahu, ku?" Keandra membelai lembut pipi, Felicia. Menyelipkan anak rambutnya penuh perhatian.
Felicia tersenyum manis. "Aku ingin membuat kejutan untuk mu, honey." jawabnya manja. "Kalau kamu tidak sibuk. Mau kan, temani aku makan?"
Keandra sebenarnya merasa keberatan, dengan permintaan Felicia. Namun demi membuat Anjani cemburu, ia pun terpaksa mengiyakan keinginan Felicia. Keandra pun melepaskan pelukannya. Beralih menatap Anjani yang hanya diam. "Tunggu saya di mobil. Beritahu klien, kalau kita akan datang sedikit terlambat." titahnya tegas.
Anjani mengangguk pelan. Meski hatinya sakit, mencoba berusaha tegar. Walaupun tidak dapat di pungkiri saat ini hatinya benar-benar sakit, melihat suami sendiri bersama wanita lain. Anjani pergi dari sana. Dengan perasaan sedih, membiarkan Keandra bersama wanita lain.
Keandra mengernyitkan dahi. Heran. Sebab melihat Anjani, nampak biasa saja. Apa dia tidak cemburu? Itulah pertanyaan yang kini muncul dalam hatinya.
Felicia memperhatikan sikap Keandra. Mengikuti arah pandangannya. "Siapa wanita itu? Sepertinya aku baru melihatnya?" tanyanya penasaran.
"Dia sekretaris baru, ku." jawab Keandra singkat.
Felicia tersenyum senang. Tidak ada hal yang perlu di khawatirkan, karena Anjani hanyalah seorang sekretaris. Yang terpenting baginya sekarang, Keandra berada di sisinya. Menemaninya makan romantis. Hanya berdua saja.
Mereka masuk kembali ke dalam restoran. Memesan makanan. Saling menyuapi. Bertukar cerita. Saling melemparkan senyuman penuh kerinduan. Iya, itu hanya dari Felicia sendiri. Sementara Keandra hanya menanggapinya, dengan perasaan tidak menentu. Walaupun dirinya bersama Felicia, namun pikirannya hanya tertuju pada Anjani.
Egois sekali bukan...
"Honey. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Felicia, menatap Keandra yang terlihat gelisah. "Sepertinya kamu tidak suka dengan kedatangan, ku." lanjutnya memanyunkan bibirnya. Pura-pura marah, untuk menarik perhatian Keandra.
Keandra menghela nafas. "Aku harus kembali bekerja. Apa kamu sudah selesai?"
Felicia mulai kesal. Sikap Keandra sama saja seperti dulu. Namun di samping itu, Felicia senang karena Keandra mau menemaninya. "Aku akan main ke rumah. Aku ingin bertemu dengan tante Nadine."
"Mamah sedang di luar kota. Jadi sebaiknya, mainnya lain kali saja." Keandra bangkit berdiri. Hatinya sudah tidak tahan berlama-lama di sana. Ingin segera menghampiri Anjani, yang sendirian di mobil.
"Keandra." Felicia menahan tangan Keandra. "Aku harap, kamu tidak lupa soal perjodohan kita. Masing-masing dari kakek kita berharap cucunya bisa bersama."
Keandra menatap tajam Felicia, yang mengungkit tentang perjodohan. Dulu mereka memang di jodohkan oleh kakek mereka. Saat tahu Keandra dan Anjani putus, kakeknya langsung menjodohkannya dengan cucu teman lamanya. Namun sayang, Keandra menolak mentah-mentah perjodohan itu. Sebab dirinya masih mencintai Anjani.
"Itu keinginan mereka. Tapi untuk jodoh, aku sendiri yang menentukannya." Keandra menghempaskan tangannya yang di genggam oleh Felicia. Dengan perasaan kesal, ia pergi meninggalkan Felicia. Masa bodo dengan perjodohan. Sebab sekarang dirinya sudah menikah.
Felicia mengepalkan tangan. Usahanya selalu gagal, untuk mendekati Keandra. "Semua ini pasti gara-gara perempuan itu. Aku penasaran dengan wajahnya. Apa dia secantik itu, sampai Keandra tidak bisa move-on darinya? Akan aku cari tahu tentang perempuan itu." gumamnya, penuh penekanan.
Felicia memang tidak pernah tahu wajah Anjani. Bahkan ia tidak tahu, jika saat ini Keandra sudah menikah. Sebab itulah saat kedatangannya di sana, ia tidak tahu bahwa wanita yang sedang bersama Keandra adalah Anjani. Wanita yang selalu ada di hati Keandra. Satu nama yang sulit di hapus, dari hati Keandra. Namun Felicia berjanji akan membuat Keandra, berpaling dari masa lalunya.
Pernikahan Keandra, hanya di ketahui oleh kedua orang tuanya. Mereka tidak pernah mempermasalahkan perempuan, yang akan menjadi pendamping Keandra. Bahkan orang tuanya, tidak menyetujui rencana kakek Keandra yang ingin menjodohkan cucunya dengan wanita pilihannya. Mereka menyerahkan semuanya pada Keandra.
...----------------...
Di parkiran
Keandra masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi pengemudi. Menatap Anjani yang rupanya sedang tidur. "Dasar tukang tidur." gumamnya pelan.
Keandra menatap Anjani, yang tertidur dengan damai. Ada rasa bersalah dalam hatinya. Mengingat bagaimana tadi Anjani terlihat biasa saja, melihat kedekatannya dengan Felicia. Namun Keandra yakin, jika sebenarnya Anjani saat itu cemburu.
"Kean. Maksud ku. Tuan. Maaf, aku ketiduran." Anjani terbangun. Terkejut melihat Keandra yang rupanya sudah berada di dalam mobil. "Kenapa kamu tidak membangunkan, ku?" tanyanya, berusaha mengumpulkan nyawanya.
Keandra tidak menjawab. Memilih menyalakan mesin mobil.
Anjani hanya mendengus, melihat sikap Keandra seperti itu. Kini ia teringat pada wanita yang bersama Keandra. Ingin bertanya namun dirinya ragu. Akhirnya Anjani memilih diam, meskipun hatinya di penuhi rasa penasaran.
...----------------...
Malam ini hujan turun sangat deras di sertai petir, yang terdengar begitu keras. Anjani yang sedang tertidur pun terlihat gelisah. Sebab faktanya, Anjani itu phobia suara petir dan takut kegelapan.
"Mah... aku takut...." lirih Anjani. Keringat dingin membasahi dahinya. Terlihat ketakutan. Gelisah. Meskipun kini ia memejamkan mata.
Keandra yang tidur di sofa pun terbangun. Merasa terganggu dengan Anjani yang sedang mengigau.
"Mah... Aku takut...." ucap Anjani lagi.
Keandra pun turun menghampiri ranjang. Ingin memastikan keadaan Anjani. Mengulurkan tangan. Menyentuh kening Anjani. Memastikan, jika keadaannya baik-baik saja.
"DUUUAAAR!!!"
Suara petir begitu keras, membuat Keandra terkejut. Lampu kamar seketika mati. Bahkan Anjani yang juga takut kegelapan seketika terbangun. Dan memeluk Keandra, yang memang berada dekat dengannya.
"AAAA...! Kean. Aku takut...." teriak Anjani. Memeluk erat tubuh Keandra. "Kenapa lampunya mati, Kean?"
"Dasar penakut! Cerewet. Sudah tahu ada petir. Seharusnya kamu tahu, kenapa lampunya mati."
Dalam kegelapan, Keandra terpaksa tidur di ranjang bersama Anjani. Hal ini ia lakukan karena Anjani, sama sekali tidak membiarkannya pergi.
"Aku takut, Kean. Jangan tinggalkan, aku...." lirih Anjani mulai terisak.
"Jangan menangis. Aku tidak akan meninggalkan ,mu. Karena aku tahu, kalau kamu itu penakut." balas Keandra sekenanya.
Anjani mempererat pelukannya. Hal itu membuat jantung Keandra berdegup kencang. Kenapa? Sebab posisi mereka saat ini begitu intim. Sadar atau tidak. Saat ini mereka tidur di kegelapan. Saling berpelukan. Bahkan Anjani bisa merasakan hembusan nafas Keandra. Ia juga dapat mendengar detak jantung Keandra, yang begitu cepat.
Keandra berhasil memenangkan Anjani. Sampai tidak terasa, mereka pun sama-sama terlelap. Masih dengan posisi yang sama.
Pagi hari
Anjani perlahan membuka mata. Sinar matahari yang masuk ke cela tirai, membuat dirinya menyipitkan mata. Anjani melihat ke arah samping. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan Keandra, yang masih tertidur. Anjani menutup mulutnya. Saat akan berteriak. Namun dirinya ingat, jika mereka memang sudah menikah.
Anjani melepaskan tangan Keandra, yang masih setia memeluknya. Senyuman terukir di bibirnya. Mengingat kejadian semalam. Ia memutuskan bangun, untuk membersihkan diri.
Tanpa sepengetahuan Anjani. Rupanya Keandra sudah bangun. Ia tersenyum tipis, melihat sikap Anjani yang senyum-senyum sendiri. Kejadian malam pun terlintas di pikirannya. Hati Keandra menghangat. Sepintas melupakan luka lama yang ia rasakan.
...----------------...
Anjani terlihat sedang menyiapkan sarapan. Namun tidak lama kemudian, ia mendengar bel rumah berbunyi.
"Siapa pagi-pagi seperti ini bertamu?" gumamnya. Berjalan menghampiri pintu. Sebab para pelayan sibuk, dengan pekerjaannya masing-masing.
"CKLEEEK."
Anjani membuka pintu. Matanya membulat sempurna melihat seorang wanita, yang tidak asing baginya. Sama-sama terkejut. Menatapnya penuh tanda tanya.
"Kamu....!" ucap wanita. Yang ternyata adalah Felicia. "Apa yang sedang kamu lakukan di rumah calon suami ku?"
lanjutin ceritanya sampai tamat