Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 12
Dia berdiri mematung, memperhatikan empat mayat yang digantung terbalik dengan pengait daging. Tenggorokan mereka terkoyak dan berdarah. Wajah-wajah pucat itu dilapisi darah yang sudah mengering, tetapi ekspresi ketakutan masih tertinggal jelas. Ada sesuatu yang janggal pada raut mereka, terutama tatapan mata yang kosong.
Seharusnya pemandangan itu membuatnya mual. Namun kenyataannya tidak. Ditatap selama apa pun, semuanya terasa biasa saja.
Pandangannya menyapu ruang bawah tanah yang baru saja dimasukinya. Tiga ember penuh darah berjejer rapi di sepanjang dinding.
Dia menelan ludah, memaksa diri mencerna apa yang ada di hadapannya. Ini nyata. Benar-benar nyata. Saat itu juga dia sadar, mungkin pria yang rumahnya dia bobol bukan orang seperti yang selama ini dia bayangkan. Dokter terapinya kini tampak seperti pembunuh. Pembunuh yang sangat berpengalaman, jika melihat ruangan ini.
Ruang bawah tanah yang luas itu seolah didedikasikan untuk pembunuhan dan hal-hal lain yang sejenis. Selain mayat-mayat yang tergantung, ada toples kaca cokelat berlabel rapi, tabung plastik berisi bahan kimia, semuanya tersusun manis di rak baja. Ada tandu stainless, jerigen, galon, dan berbagai peralatan lain.
Selama ini dia membayangkan pembunuhan seperti yang dipahami orang waras pada umumnya, ditusuk, ditembak, atau cara-cara lain. Namun dia tidak pernah membayangkan sejauh ini. Gergaji tulang, gerinda, palu yang berlumuran darah. Mereka disiksa terlebih dahulu atau bagaimana?
Berita tentang pembunuhan dan penculikan selama beberapa tahun terakhir tiba-tiba menyeruak di kepalanya. Dia sama sekali tidak menyangka semua itu akan mengarah pada Darcel.
Mungkin dia terlalu cepat menyimpulkan bahwa Darcel adalah pelakunya. Seharusnya dia juga merasa bersalah karena sudah sejauh ini ikut campur. Namun alih-alih berhenti, rasa bersalah itu berubah menjadi sensasi yang membuat kulitnya merinding, jantungnya berdegup kencang, dan yang pasti, membuat ketagihan.
Dan itulah yang membuat semuanya kacau.
Dia ingin tahu segalanya.
Telinganya menangkap suara tetesan darah di tengah dengungan Cold Room. Pendengarannya memang tidak biasa. Dulu, tante dan pamannya sering berkata bahwa dia berhalusinasi soal apa pun yang dia dengar dan cium.
Tesss.
Tesss.
Tessss.
Darah itu mengalir.
Merembes masuk ke kepalanya, makin lama makin dalam. Rasa ingin tahu yang mendesak menjalar di otaknya. Perutnya menegang ketika dorongan absurd itu menguasai pikirannya. Ayo, Rowena. Coba. Cicipi darah orang mati itu.
Ya.
Kedengarannya masuk akal.
Dia menggumam pelan, menyuruh dirinya sendiri berhenti bersikap aneh. Matanya terpejam, kuku ibu jarinya menekan ujung jari-jari yang lain. Darcel pernah mengatakan bahwa dia harus melawan dorongan mengerikan itu. Karena begitu dia merasakan sedikit saja, dia akan melewati batas dan tidak akan bisa kembali.
Sepertinya Darcel berbicara dari pengalaman pribadi.
Dia berdiri ragu di tengah ruangan yang bersih itu, menahan keinginan untuk berjalan ke salah satu ember, mencelupkan jarinya, lalu menjilatnya.
Sial.
Kenapa dia seperti ini?
Obsesi pada darah benar-benar merusak semua suasana hatinya.
Dr. Darcel, apa yang sudah kamu lakukan?
“Mungkin dia punya alasan,” katanya lantang pada mayat-mayat yang bergoyang pelan di udara. Dia menggigit pipinya, jemarinya mengusap pahanya. Dalam hati, dia yakin Dr. Darcel gila. Ironisnya, pria itu justru menjadi dokter terapinya.
Sempurna.
Dia mencolek jaket kulit salah satu mayat, sekadar memastikan itu mayat sungguhan. Tubuh itu terayun pelan. Dorongan untuk mendorongnya lebih keras, melihatnya bergoyang maju mundur, langsung menyelinap ke benaknya.
Senyumnya hampir menyerah pada dorongan itu. Namun tiba-tiba suara meronta membuatnya tersentak. Dia buru-buru menarik napas dalam dan berputar dengan panik.
Salah satu tubuh itu bergerak. Menggeliat seperti cacing di kail. Pria itu mengerang. Mata merahnya akhirnya terbuka dan langsung menatapnya. Sekejap kemudian, mata itu melebar ketakutan. Tubuhnya gemetar hebat, seperti tersengat listrik.
Geraman kasar dan napas paniknya membuat jantung Rowena semakin kacau. Refleks, dia menoleh ke arah pintu Cold Room.
“Ssst. Berhenti,” siulinya pelan.
Pria itu tidak berhenti mengoceh, justru makin gelisah. Getarannya semakin parah.
“Diam,” bentaknya lirih.