"Orang bilang cinta itu membebaskan. Tapi bagi kami, cinta adalah rantai. Dan aku tidak akan pernah melepaskannya."
Elara Vance telah kehilangan segalanya—keluarga, masa depan, dan harga diri. Dibuang oleh kerabatnya yang kaya raya, dia bertahan hidup di selokan kota, menolak untuk mati dalam diam. Hingga satu malam yang berdarah, takdir menyeretnya kembali ke hadapan Ciarán Vane.
Ciarán bukan pangeran penyelamat. Dia adalah raja bisnis yang dingin, kalkulatif, dan tak punya hati. Dia tidak menawarkan cinta; dia menawarkan kepemilikan. Dia membawa Elara masuk ke dalam sangkar emasnya, memberinya makan, dan membalut lukanya dengan sutra mahal.
Namun, Ciarán melakukan satu kesalahan perhitungan: dia mengira dia memelihara seekor domba yang lemah.
Ini bukan kisah tentang penyembuhan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa rusak yang memutuskan bahwa neraka terasa lebih nyaman jika dinikmati berdua.
Mereka busuk. Mereka hancur. Dan mereka sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Keluarga Vane
Kami masuk ke ruang makan, dan seketika itu juga aku merasa seperti menyusut menjadi seukuran debu.
Ruangan ini lebih pantas disebut aula perjamuan. Meja makannya terbuat dari kayu ebony hitam yang panjangnya mungkin bisa menampung dua puluh orang. Di atas meja itu, lilin-lilin tinggi dalam tempat perak menyala redup, memberikan atmosfer gotik yang mencekam.
Di ujung meja paling jauh, duduk seorang pria tua dengan rambut putih yang mulai menipis namun posturnya masih tegap mengintimidasi.
Julian Vane.
Dia sedang mengiris daging steak di piringnya dengan presisi bedah. Dia tidak mendongak saat kami masuk. Dia tidak menyapa. Dia bahkan tidak menghentikan gerakan pisau dan garpunya sedetik pun. Bagi Julian, kedatangan dua keponakan yatim piatu yang pernah dia usir dua belas tahun lalu tampaknya tidak lebih penting daripada potongan daging sapi medium rare di hadapannya.
Di sisi kanan meja, duduk Ciarán. Dia sudah mengganti setelan jasnya dengan kemeja hitam santai yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mahal dan otot lengan yang terlatih. Dia sedang menyesap wine, matanya menatap kosong ke arah gelas kristal di tangannya, tampak bosan setengah mati.
Di sebelahnya, ada seorang pemuda yang mirip Ciarán tapi versi yang lebih kasar dan berisik. Wajahnya tampan tapi matanya licik, dan ada aroma arogansi yang menguar kuat darinya bahkan dari jarak sejauh ini. Dia memakai jas beludru merah marun yang mencolok.
Itu Lucas Vane. Kakak tertua.
Dan di seberang mereka, duduk seorang gadis muda yang mungkin seusia denganku. Dia cantik, sangat cantik, dengan rambut pirang ikal sempurna dan gaun malam sutra biru yang memeluk tubuhnya. Tapi wajah cantiknya dirusak oleh ekspresi jijik yang tidak disembunyikan saat matanya mendarat padaku.
Isabella Vane.
Greta, pelayan yang mengantar kami, berdeham pelan. "Tuan Besar, Nona Elara dan Nona Lily sudah tiba."
Hening.
Hanya suara pisau Julian yang beradu dengan piring porselen. Kling. Krek.
Lalu, Lucas tertawa.
Suara tawanya pendek, tajam, dan menyakitkan telinga. Dia meletakkan gelas anggurnya dengan kasar, lalu memutar tubuhnya di kursi untuk menatap kami, tepatnya, menatapku yang berdiri kaku dengan piyama pinjaman dan kaki diperban.
"Wow," Lucas bersiul pelan, nada mengejek yang kental. Matanya menelanjangiku dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Jadi ini dia? Kucing liar pungutan Ciarán yang membuat heboh satu rumah?"
Dia menoleh pada Ciarán, menyeringai lebar. "Selera humormu semakin aneh, Adikku. Dulu kau suka mengoleksi mobil antik, sekarang kau mengoleksi gelandangan cacat?"
Wajahku panas. Tanganku mengepal di samping tubuh.
Ciarán tidak menoleh. Dia tetap menatap gelas anggurnya, memutarnya perlahan. "Tutup mulutmu, Lucas. Suaramu membuat wine ini terasa asam."
"Oh, ayolah," Lucas terkekeh, kembali menatapku. "Lihat dia. Dia gemetar seperti tikus basah. Apa kita yakin dia sudah disuntik rabies sebelum dibawa masuk?"
"Lucas!" tegur Eleanor yang duduk di sisi kiri meja, wajahnya pias. "Jaga sopan santunmu."
"Aku hanya bertanya, Ibu," Lucas mengangkat bahu tak acuh, lalu kembali memotong makanannya dengan kasar.
Greta menarik dua kursi kosong di ujung meja yang berlawanan dengan Julian. Posisi yang paling jauh, posisi untuk orang luar.
"Silakan duduk," bisik Greta.
Lily buru-buru duduk, tampak ketakutan. Aku mengikutinya, duduk dengan hati-hati agar perbannya tidak terbentur kaki meja.
Di depan kami sudah tersaji piring-piring berisi makanan yang belum pernah kulihat seumur hidupku. Daging panggang dengan saus kental, sayuran yang dikukus cantik, kentang tumbuk yang lembut. Aromanya menggoda perutku yang lapar, tapi selera makanku sudah hilang ditelan penghinaan Lucas.
Aku memberanikan diri mengambil garpu perak berat di samping piring. Tanganku sedikit gemetar, efek saraf atau lapar, aku tidak tahu.
Tiba-tiba, aku merasakan tatapan panas membakar sisi wajahku.
Aku menoleh. Isabella sedang menatapku. Matanya menyipit, bibirnya mengerucut jijik. Dia tidak melihat wajahku. Dia melihat tanganku yang memegang garpu.
"Ya Tuhan," desis Isabella pelan, tapi cukup keras untuk didengar semua orang di meja hening itu. "Lihat cara dia memegang garpu itu. Seperti kuli bangunan memegang sekop."
Dia menatapku langsung, matanya berkilat kejam. "Di sini kita makan, Elara. Bukan menggali tanah. Apa di selokan tempat kalian tinggal tidak diajarkan cara makan yang benar?"
Aku membeku, garpu perak itu masih melayang di udara.
Semua mata kini tertuju padaku. Julian yang dingin. Lucas yang menyeringai. Eleanor yang cemas. Dan Ciarán...
Aku melirik Ciarán. Dia akhirnya meletakkan gelasnya. Dia menatapku, lalu menatap tanganku yang memegang garpu dengan canggung.
Dia tidak membela. Dia tidak memarahi Isabella.
Dia hanya diam, membiarkan aku dikuliti hidup-hidup oleh tatapan menghakimi keluarganya.
"Jawab aku," desak Isabella, senyum manisnya tidak mencapai mata. Dia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, seolah-olah dia benar-benar penasaran secara akademis. "Apa di panti asuhan kalian makan dengan tangan? Seperti... orang purba? Di sini, di keluarga Vane, kita menggunakan alat makan perak. Dan ada aturan untuk itu."
Dia mengangkat garpunya sendiri dengan anggun, memamerkan kelentikan jari-jarinya yang terawat. "Garpu di tangan kiri, pisau di tangan kanan. Jangan disekop. Jangan berbunyi. Dan demi Tuhan, jangan bungkuk seperti udang."
Darahku mendesir di telinga.
Aku tahu cara makan. Ayah mengajariku dulu, sebelum dunia kami runtuh. Tapi di bawah tatapan mata mereka, tatapan Lucas yang predator, tatapan Julian yang dingin, dan tatapan Isabella yang berbisa, tanganku terasa lumpuh.
Jari-jariku yang memegang gagang garpu perak yang berat itu mulai gemetar. Bukan gemetar kecil, tapi tremor yang tidak terkendali.
Semakin aku berusaha menahannya, semakin kencang getarannya.
"Lihat," kikik Lucas. "Dia gempa bumi."
"Mungkin dia butuh mangkuk anjing di lantai," tambah Isabella kejam. "Itu akan lebih mudah baginya."
Cukup.
Sarafku putus.
Pegangan jariku terlepas.
KLANG!
Garpu perak berat itu jatuh menghantam piring porselen bone china. Suaranya tidak keras, tapi di ruang makan yang hening dan berakustik sempurna ini, suara itu terdengar seperti ledakan granat.
Denting itu menggema, memantul di dinding-dinding kayu ebony, lalu mati, meninggalkan keheningan yang jauh lebih mematikan daripada sebelumnya.
Napas semua orang tertahan.
Jantungku berhenti. Wajahku terasa terbakar, air mata frustrasi menusuk di sudut mata. Aku menunduk dalam-dalam, menatap garpu sialan yang tergeletak miring di atas potongan wortel itu.
Aku menunggu bentakan Julian. Aku menunggu tawa Lucas meledak lagi.
Tapi tidak ada yang bersuara.
Kenapa sepi sekali?
Perlahan, suara lain terdengar.
Sreeet... Tak.
Sreeet... Tak.
Itu suara pisau yang mengiris daging. Tenang. Berirama. Metodis.
Aku memberanikan diri melirik ke samping.
Ciarán.
Dia tidak berhenti makan. Dia tidak mengangkat kepalanya. Dia terus memotong steak-nya menjadi potongan-potongan kecil yang presisi. Wajahnya datar, tanpa emosi sedikit pun.
Tapi atmosfer di sekitar meja itu berubah drastis.
Suhu ruangan seolah turun sepuluh derajat. Udara menjadi berat, menekan dada, membuat sulit bernapas. Aura gelap menguar dari tubuh Ciarán, merambat di atas meja, mencekik setiap suara lain yang hendak keluar.
Isabella, yang tadinya sudah membuka mulut untuk melontarkan hinaan berikutnya, tiba-tiba mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Wajahnya memucat. Matanya terpaku pada tangan Ciarán yang memegang pisau.
Ciarán tidak perlu membentak. Dia tidak perlu membela kami.
Dia hanya perlu ada. Dan keberadaannya yang diam itu adalah ancaman yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan siapa pun. Dia adalah predator puncak di meja ini, dan ketika sang raja makan, hyena-hyena kecil tahu mereka harus diam.
Sreeet... Tak.
Ciarán memasukkan potongan daging ke mulutnya, mengunyah pelan, lalu akhirnya mendongak.
Dia tidak menatapku. Dia menatap Isabella.
Hanya satu detik. Tatapan kosong dan dingin yang membuat Isabella menunduk cepat-cepat ke piringnya, tangannya gemetar saat mengambil gelas air.
Gadis sombong itu ketakutan.
Ciarán kembali menatap piringnya, lalu berkata pelan, "Makanannya dingin. Makan."
Itu bukan ajakan. Itu perintah.
Dan di meja makan neraka ini, tidak ada yang berani membantah Ciarán Vane.