NovelToon NovelToon
Menyembunyikan Anakku Dari Mantan Suamiku

Menyembunyikan Anakku Dari Mantan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Cerai / Janda / Duda / Cintapertama
Popularitas:22.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ara Nandini

Alina harus menerima kenyataan kalau dirinya kini sudah bercerai dengan suaminya di usia yang masih sama-sama muda, Revan. Selama menikah pria itu tidak pernah bersikap hangat ataupun mencintai Alina, karena di hatinya hanya ada Devi, sang kekasih.

Revan sangat muak dengan perjodohan yang dijalaninya sampai akhirnya memutuskan untuk menceraikan Alina.

Ternyata tak lama setelah bercerai. Alina hamil, saat dia dan ibunya ingin memberitahu Revan, Alina melihat pemandangan yang menyakitkan yang akhirnya memutuskan dia untuk pergi sejauh-jauhnya dari hidup pria itu.

Dan mereka akan bertemu nanti di perusahaan tempat Alina bekerja yang ternyata adalah direktur barunya itu mantan suaminya.

Alina bertemu dengan mantan suaminya dengan mereka yang sudah menjalin hubungan dengan pasangan mereka.

Tapi apakah Alina akan kembali dengan Revan demi putra tercinta? atau mereka tetap akan berpisah sampai akhir cerita?

Ikuti Kisahnya!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ara Nandini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Malu banget

Lampu-lampu kristal yang menggantung di langit-langit ballroom mulai dinyalakan. Karpet merah sudah terbentang rapi, dan aroma bunga lili segar mulai memenuhi ruangan. Sejumlah pekerja tampak sibuk berlarian ke sana kemari.

Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang wanita berdiri dengan anggun. Matanya yang tajam menyisir setiap sudut ruangan, memastikan tidak ada satu pun detail yang luput dari pengawasannya. Baginya, malam ini tidak boleh ada cela sedikit pun. Ia ingin pesta ini menjadi buah bibir yang manis di kalangan kolega dan sahabatnya.

“Tolong, bunganya digeser sedikit ke kiri, ya.”

“Rania sayang, jangan lari-laki... nanti jatuh, Nak,” tegurnya sambil sesekali mengawasi anak kecil yang sibuk berlarian di dalam gedung.

Wanita itu adalah Jesika. Di usianya yang menginjak 45 tahun, ia tampak sangat sibuk mempersiapkan dekorasi pesta ulang tahunnya sendiri. Meski kepala empat sudah lewat, wajah Jesika tetap terlihat segar dan awet muda. Selain faktor genetik yang memang cantik, ia sangat telaten merawat diri.

“Mama undang berapa orang sih? Ramai banget kelihatannya,” komentar Felix, suaminya, yang baru saja tiba dan mengamati sekeliling.

“FYI ya, Pa... Mama undang semuanya, dari yang baru kenal sampai yang sudah bestie. Karena Mama ingin semua orang merasakan kebahagiaan Mama malam ini, bukan cuma Mama sendiri,” jawab Jesika santai dengan senyum puas.

“Katering juga sudah Mama pesan melimpah. Pokoknya semua harus happy malam ini,” lanjutnya penuh semangat.

Felix terkekeh pelan. “Kamu ini, semangatnya kayak anak remaja aja.”

“Biarin! Orang-orang juga bilang Mama masih kelihatan muda, nggak kayak umur 45,” balas Jesika bangga.

“Terserah deh...” ucap Felix sambil menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya.

Tak lama kemudian, seorang pemuda tampan dengan kemeja semi-formal masuk ke dalam gedung. Senyumnya langsung mengembang saat seorang anak kecil berteriak memanggilnya.

“Abang!!!”

Revan tersenyum hangat, lalu berjongkok menyambut adik kecilnya yang langsung menghambur ke dalam pelukannya.

“Kayaknya sudah lama banget kita nggak ketemu ya,” goda Revan sambil mengusap lembut kepala adiknya.

Anak itu adalah Rania, adik angkat Revan. Lima tahun lalu, orang tua Revan menemukan seorang bayi perempuan berusia sekitar dua bulan di bak sampah, menangis kencang. Tanpa pikir panjang, Felix dan Jesika membawa bayi itu pulang dan merawatnya seperti anak kandung. Apalagi, ada secarik kertas terselip di bedongnya yang bertuliskan "Tolong, siapapun... rawat anakku."

Kebetulan mereka memang mendambakan anak perempuan. Hari itu, seolah semesta menjawab doa mereka. Tuhan mengirimkan bayi mungil yang cantik.

"Kangen sama Abang...," rengek Rania manja.

Revan gemas melihat bibir mungil dan pipi gembul adiknya yang masih bicara cadel itu. "Nanti kalau weekend, Abang ajak jalan-jalan, ya."

"Nih, buat kamu." Revan mengeluarkan sebatang cokelat.

"Makasih, Abang!"

"Gih, sana makan," ujar Revan sambil menepuk pelan kepala Rania.

Setelah Rania pergi, Revan menghampiri Jesika yang masih sibuk melihat-lihat.

"Malam ini, aku ajak Devi," lapor Revan.

"Terserah kamu," jawab Jesika singkat tanpa menoleh sedikit pun.

"Ma... kapan Mama bisa terima Devi?"

"Nggak tahu."

Revan menghela napas frustrasi. "Devi itu baik, cantik, dan sopan, Ma. Apa sih yang kurang dari dia sampai Mama nggak suka?"

Jesika berbalik, menatap putranya dengan wajah datar. "Jangan paksa Mama buat suka sama dia."

Setelah itu, Jesika pergi begitu saja meninggalkan Revan yang terdiam kaku.

"Hah?"

"Ke pesta ulang tahun?" tanya Alina di ujung telepon.

"Iya, kami sudah di jalan. Paling dua jam lagi sampai," jawab Kamelia.

"Ke pesta siapa sih, Ma?"

"Mama juga nggak tahu pasti. Orang yang beli kue Mama sekalian undang Mama ke pestanya," jelas Kamelia. "Kamu mau ikut nggak?"

"Nggak ah... masa aku datang ke tempat orang yang nggak undang aku," balas Alina cepat.

"Ya sudah, nanti Mama menginap di sana sama dua bocil."

Alina tertawa. "Oke deh. Hati-hati di jalan ya, Ma. See you."

Setelah menutup telepon, Alina melirik jam dinding. Sudah pukul enam sore.

"Ma..." suara kecil memanggil dari arah kamar.

"Kenapa, sayang?"

"Temani mewarnai gambaran Aeris, dong,"

"Sini, bawa ke sini."

Aeris masuk ke kamar, mengambil kertasnya, lalu kembali ke ruang tamu.

"Ini..." katanya sambil menunjukkan hasil karyanya.

"Gambar apa ini?"

"Keluarga. Ada Mama, Nenek, Om Leon, Om Afkar, sama Tante Cika," jawab Aeris. Namun kemudian, Aeris menunduk. "Suami Mama Aeris tinggal... karena wujudnya Aeris nggak tahu."

Alina tertegun. Ia menatap wajah putranya yang kini mulai mengambil pensil warna satu per satu dengan raut serius.

"Aeris nggak tahu kenapa suami Mama ninggalin kita... Tapi kayaknya ada hal buruk yang terjadi," ucap Aeris pelan. "Teman Aeris, Tya, pernah cerita. Katanya papanya juga nggak ada sejak dia bayi, jadi Tya cuma tinggal sama mamanya. Sama kayak Aeris."

Alina menelan ludah, dadanya terasa sesak luar biasa. Alina pun hanya bisa menghela napas, lalu tersenyum lembut mencoba mengalihkan suasana.

"Mmm... nanti Nenek mau ke sini, lho."

"Beneran?!" mata Aeris langsung berbinar.

"Iya, katanya mau pergi ke pesta ulang tahun."

"Wah, ulang tahun?" seru Aeris senang. Ia meletakkan pensil warnanya dan menatap Alina antusias. "Siapa yang ulang tahun, Ma? Sudah lama Aeris nggak ke pesta!"

"Mama juga nggak tahu. Yang pasti, yang diundang itu cuma Nenek, Tante Chika, sama Om Afkar."

Aeris mengerucutkan bibir, kecewa. "Yah... Padahal Aeris pengen lihat orang-orang nyanyi Happy Birthday..."

"Nanti, kalau kamu ulang tahun, kita rayain seperti itu ya. Makan kue, nyanyi bareng, undang teman-teman juga."

"Tapi kan masih lama, Ma. Masih tujuh bulan lagi..."

"Nggak akan terasa kok," balas Alina sambil membelai rambut anaknya. Aeris cemberut, tapi akhirnya kembali fokus pada pensil warnanya.

Devi menatap bayangannya di cermin salon. Revan benar-benar niat membawanya kemari agar penampilannya sempurna malam ini.

"Ketebalan nggak sih, Mbak?" tanya Devi ragu sambil menyentuh pipinya yang dirias flawless.

"Nggak, Kak. Sumpah, Kakak itu aslinya sudah cantik banget. Kalau didandani begini, saya yang cewek saja bisa naksir, apalagi pacar Kakak," puji si MUA.

Devi tersipu malu. Ia berdiri dan memperhatikan gaun biru dongker selutut yang membungkus tubuhnya. Sangat elegan dan pas.

Devi keluar ke ruang tunggu. Di sana, Revan sudah menunggu di sofa, tampak gagah dengan kemeja dan jas yang senada dengan gaunnya, lengkap dengan dasi kupu-kupu hitam.

Revan berdiri, matanya tak lepas menatap Devi. "Kamu cantik banget," bisiknya penuh kagum.

Devi menunduk, pipinya merona. "Mmm... nggak apa-apa ya aku datang?"

Revan tersenyum, mengangkat dagu Devi dengan lembut. "Acara ini umum, siapa saja bisa datang. Jadi jangan gugup. Ada aku di samping kamu."

Baru saja Devi hendak menjawab, Revan memajukan wajahnya.

"Eh? Mau ngapain?"

"Cium kamu," jawab Revan santai.

"Ini tempat umum, Revan!"

"Sepi juga, siapa yang lihat?" balas Revan sambil melirik sekitar.

"Nanti make up-ku luntur!"

"Aku memang sengaja mau melunturkan lipstik kamu," goda Revan sambil tertawa.

Devi terkejut saat Revan menarik tengkuknya. Ia refleks memejamkan mata dan memegang bahu Revan yang kekar. Kurang dari satu menit suara nyaring memecah keintiman mereka.

"EHEM!!"

Suara deheman keras membuat Devi sontak mendorong Revan menjauh.

"WOI LAH!! Nggak di kantor, nggak di mana-mana, kalian berdua selalu keciduk sama gue! Nikah saja sekalian!" seru Javier yang tiba-tiba muncul. "Pacar lo mesum banget, Dev. Gue nggak kebayang kalau lo nikah sama dia... bisa-bisa lo pincang tiap hari!"

Devi langsung menunduk, wajahnya merah padam karena malu. Revan hanya melirik tajam ke arah sahabatnya itu.

"Lo iri ya? Karena nggak ada yang bisa lo bikin pincang?"

"Gue sih mending jomblo daripada mengganggu salon orang," balas Javier santai.

Devi menutup wajahnya dengan tangan. "Astaga... malu banget..."

1
Lili Inggrid
lanjut
Bunda Dzi'3
blm Up Thor...smngts thor
olyv
hancurkan revan
buat alina n leon bahagia thor
Syamsudin Oke
up thor
Sunaryati
Memangnya Alina menyerahkan anaknya ke Revan? PD sekali Devi. Bu Sitha orang tua itu biasanya mau berkorban apa saja demi kebahagiaan anaknya, tapi yang ibu lakukan egois, hanya demi kebahagiaan anda sendiri.
Sunaryati
Kenapa Revan, seperti tak punya hati.
Bunda Dzi'3
up thor
Bunda Dzi'3
heammmm ketemu dahh
Bunda Dzi'3
hadehhh berat bngt alana...mertuanya nenek lampur
Bunda Dzi'3
thor jgn biarin itu mantan balik lagi aja
Bunda Dzi'3
alina jgn mau balik lgi sma pria plinplan
Alma Hyra
gak gregetan karena baper dengan peran karakter tokoh²nya, tapi lebih greget sama Thor yang bikin cerita alurnya.../Speechless/
Rieya Yanie
kpn revan nyesel thor
sdah tua jg msh ky abg
Rieya Yanie
kasian alina..
Sunaryati
Jika kalian berbuat jahat sama anak Alina, dipastikan pernikahan Revan dan Devi gagal. Ternyata keluarga Devi tabiatnya buruk, mungkin mengincar harta dan nebeng nama. Jika orang baik akan menerima anak sambung. Benar firasat mama Revan jika Devi jadi menantunya mungkin mereka ikut menikmati kekayaan Revan bukan sewajarnya.
rin ini siapa thor🤔
Amazing Grace
rasanya terlalu berlebihan kalo Alina masih cemburu dan nyimpen rasa padahal sudah 7 tahun, kesannya seolah olah dia murahan karena masih ngarep padahal tuh cowok udah rendahin dan punya pacar juga
atau memang sedari awal karakter nya udah diciptain plin plan yaa🙏
Adelio
Udah bab 33 kok masih gini2 aja ya, kayak kurang greget..
Alma Hyra
terus kenapa juga aeris karakternya jadi anak bandel, yang baca mau kasian ke aeris malah mamang enggak jadi, harusnya aeris itu jadi anak yang tertindas, bukan dijauhin teman karna karakternya tapi karna keadaanya enggak punya ayah ... gitu lebih wow
Alma Hyra
huhhj... alurnya malah gimana gitu, pindah ke novel sebelah dulu aja, nanti balik lagi kalau si revan udah menyesal menyia²kan Alina aja ... soalnya ceritanya kurang ngena banget di hati, masa si Revan masih makin cinta ke Devi, tapi semuanya udah mau ke bongkar engak dag dig dug derrr aja rasanya, kecuali revannya udah mulai punya rasa bersalah, rasa menyesal, atau mulai ada rasa ke Alina gitu baru semuanya terbongkar kan jadi wow gitu yang baca terharu... ini kenapa yang sakit hati Alina cintanya tidak terbalas, yang di sia²kan Alina, masih aja yang dibuat sewot ngelihat Revan sama Devi juga Alina, enggak adil sama sekali, trs kpn munculnya rasa Revan ke Alina, masa sama Leon aja juga enggak ngaruh perasaannya Revan ke Alina...
astr.id_est 🌻: gak jelas alur cerita nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!