Sequel dari Menikahi Mr. Rajendra
_________________________________
"Mencintaimu adalah luka paling hebat dalam hidupku, yang dimana hadirnya tidak bisa aku hindari."
-Azizah Ghaffara Dananjaya-
Zizi harus menerima kenyataan pahit dalam hidupnya yaitu melihat secara langsung laki-laki yang ia cintai menyatakan perasaannya pada wanita lain. Apalagi saat mengetahui wanita itu adalah sahabatnya sendiri.
Namun, disaat Zizi ingin memulai kehidupan barunya dengan laki-laki yang dijodohkan oleh orang tuanya. Tristan malah menyadari perasaannya terhadap Zizi.
"Aku terlambat menyadari siapa yang sebenarnya diinginkan oleh hatiku," ucap Tristan dengan frustasi.
Permainan takdir apa yang akan dihadapi oleh Zizi kedepannya ? Dan siapa yang akhirnya akan menjadi pendamping hidup Zizi ?
Jangan lupa ikuti ceritanya ya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INRA KHAIRUNNISA JEOMI YUSUF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma Akan Cinta
...~ Aku hanya trauma dengan kisah cinta yang belum sempat ku mulai. Meskipun orang bilang tidak semua laki-laki memiliki sifat yang sama. Tapi mau bagaimana lagi, hati ku terlanjur takut untuk memulai kisah yang baru ~...
...Azizah Ghaffara Dananjaya...
Happy Reading !!!
Dua minggu telah berlalu, sejak pertemuan tak sengaja mereka disebuah restoran kala itu. Zizi semakin dekat dengan Alvaro meskipun dalam konteks hanya sebagai teman biasa. Mereka berdua sering menghabiskan waktu bersama, meskipun hanya sekedar makan siang atau makan malam berdua.
Semakin kesini, belum ada tanda-tanda apapun dengan kelanjutan hubungan mereka. Entah akan terus sebagai seorang teman atau akan berubah menjadi seorang kekasih. Itu hanya mereka berdua yang bisa menentukkannya.
Karena sebuah hubungan hanya bisa terjalin dengan baik jika keduanya saling menerima. Tidak bisa hanya satu orang saja yang berperan lebih banyak karena itu hanya akan membuahkan sebuah luka.
Seperti hari ini, mereka berdua telah membuat janji untuk makan siang bersama disebuah restoran tempat pertama kali mereka bertemu.
“Zizi.” Panggil seorang wanita hamil yang tak lain dan tak bukan adalah Nana – Sahabatnya.
“Hay na,” balas Zizi dengan tersenyum.
“Makan siang bareng yuk. Tadi gue udah ajak Tristan juga,” seru Nana.
Sampai saat ini, Nana memang belum mengetahui tentang permasalahan antara Zizi dan Tristan. Karena setiap kali ia ingin membahas itu, Zizi selalu saja menghindar darinya. Bahkan gadis cantik yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu tidak akan segan-segan untuk menolak berkumpul bersama jika ada Tristan. Kecuali jika acara itu memang benar-benar penting dan mengharuskan mereka harus bersama.
Zizi terdiam sejenak sebelum menjawab ajakan dari sahabatnya itu “Hmm gimana ya Na, bukannya gue mau nolak tapi gue udah ada janji mau makan siang sama seseorang. Gue ngak enak kalau batalin mendadak,” ujar Zizi apa adanya. Terlepas dari alasan lain nya, dia memang sudah membuat janji terlebih dahulu dengan orang lain, bukan !.
“Yah, lo memang udah ngak punya waktu untuk bareng-bareng sama kita lagi ya,” ucap Nana dengan nada sedih.
“Bukan gitu na, tapi gue ngak enak kalau batalin janji gitu aja,” jawab Zizi. “Lain kali gue ngak akan nolak kalau lo ajak pergi, janji deh,” tutur Zizi mencoba membuat sahabatnya itu mengerti.
“Janji ya, ngak akan nolak lagi,” seru Nana yang diangguki oleh Zizi. “Awas aja kalau nolak lagi, gue ngak mau bicara lagi sama lo,” ancam Nana.
Zizi tertawa melihat tingkah ibu hamil yang sering kali berubah-ubah dalam sewaktu-waktu. “Iya my queen,” jawab Zizi.
“Eh btw, lo janjian sama siapa sih ? Cowok atau cewek ?” Tanya Nana yang mulai kepo.
“Cowok, dia teman gue. Prajurit Negara lagi Na, cakep banget deh” jawab Zizi dengan tersenyum.
“Alah.. Teman apa teman ?,” goda Nana.
“Waduh itu pilihan apaaan ya ? kok sama aja !” Seru Azizah tertawa. Ia tahu kalau Nana mencoba menggodanya saat ini. Jadi ia tidak akan terpancing. “Ya udah lah ya, gue pergi dulu takut dianya malah kelamaan nunggu,” Pamit Zizi.
“Iya, jangan lupa kenalin ke gue ya,” teriak Nana saat Zizi mulai melangkah menjauh darinya.
“Okee bumil cantik,” jawab Zizi.
***
Disisi lain, Nana segera berjalan menuju ruangan Tristan. Karena Zizi menolak ajakannya tadi, maka jadilah ia hanya makan berdua dengan Tristan.
“Tris, pergi sekarang yuk ! ponakan lo udah laper banget nih,” ajak Nana.
“Alah, itu mah alasan lo doang. Lo yang laper malah bawa-bawa ponakan gue lagi, kan kasian dianya selalu jadi kambing hitam,” seru Tristan.
Nana pun tertawa kecil mendengar ucapan Tristan “Trus kalau gue yang laper, lo ngak mau gitu temenin gue makan,” ujar Nana yang tiba-tiba mengerucutkan mulutnya.
“Iya mau kok, ya udah kita pergi sekarang,” ucap Tristan namun langkahnya terhenti karena tidak menemukan sahabatnya yang satu lagi. “Zizi mana ? katanya lo mau panggil dia tadi !” ucapnya lagi.
“Zizi ngak bisa makan siang bareng kita sekarang, soalnya udah janji sama teman nya.” jawab Nana yang membuat Tristan menghela nafasnya. Zizi menolak ajakan Nana pasti karena ada dirinya, pikir Tristan.
Tapi tidak mau ambil pusing, Tristan pun langsung mengajak Nana kesebuah restoran terdekat dari Rumah sakit tempat mereka bekerja. Dan secara tidak sengaja mereka berada ditempat yang sama dimana Zizi dan Alvaro makan siang.
Tristan langsung memesan makanan sesuai dengan apa yang diingin oleh wanita hamil disampingnya ini. Namun secara tidak sengaja matanya menangkap seorang wanita yang ia kenal sedang tertawa bersama seorang pria asing.
Untuk memastikan penglihatannya benar, Tristan pun meminta Nana melihat kearah yang ia tunjuk. “Na, coba lo lihat kesana. Itu Zizi kan?” Tanya Tristan.
Nana segera melihat kearah yang ditunjuk oleh Tristan. “Iya, itu Zizi. Mereka makan siang disini juga ya,” bingung Nana.
“Siapa laki-laki itu ?” Tanya Tristan lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari Zizi.
“Entahlah, gue ngak tau,” jawab nana acuh. “Tapi tadi Zizi sempat bilang kalau dia akan makan siang bersama teman laki-lakinya, terus dia bilang laki-laki itu seorang prajurit Negara dan dia sangat tampan,” sambung Nana mengatakan apa yang dikatakan Zizi padanya tadi.
“Apa mereka berteman sudah sejak lama ?” Lagi-lagi Tristan bertanya pada Nana, dan itu membuat wanita hamil itu menjadi kesal. Namun Nana menangkap sesuatu dari raut wajah Tristan yaitu ketidaksukaan melihat laki-laki itu dekat dengan Zizi.
“Mending tanya sendiri deh Tris. Gue ngak tau apa-apa tentang hubungan mereka,” kesal Nana. “Dari tadi nanya mulu, kesel deh gue,” gerutu Nana.
“Atau jangan-jangan lo cemburu ya ?” Tuduh Nana yang langsung membuat Tristan salah tingkah. Ia tidak tau kenapa, tapi ada semacam rasa tidak rela jika Zizi didekati oleh laki-laki lain, apalagi tertawa lepas seperti itu.
“Ngak kok, ngapain gue cemburu,” elak Tristan.
***
Dimeja lain, suasana mulai berubah menjadi agak hening dan tidak seseru tadi lagi. Setelah Alvaro mengungkapkan perasaannya pada Zizi, semenjak itu juga suasana berubah.
“Zi.” Panggil Alvaro.
“Iya, kenapa Al ?” Tanya Zizi menunggu ucapan Alvaro selanjutnya.
“Aku boleh jujur ngak sama kamu ?” Tanya Alvaro.
Zizi mengerutkan dahinya karena merasa bingung dengan apa yang akan dikatakan oleh Alvaro padanya “Boleh, memangnya mau jujur tentang apa ?” Tanya Zizi dengan sedikit ragu karena pikirannya sudah mulai menebak-nebak apa yang akan dikatakan olehlaki-laki yang ada dihadapannya saat ini.
“Sebenarnya… Sebenarnya aku sudah lama memperhatikan kamu dari jauh, aku sering stalking kamu di media sosial, tapi belum punya keberanian untuk menemui kamu. Hingga saat itu aku beranikan diri untuk menyapa kamu dari dekat dan ternyata dugaan aku benar, kamu orang nya asik dan aku suka dengan wanita yang seperti itu.”
“Iya, terus !” ucap Zizi yang sudah mulai bisa menebak kemana arah pembicaraan Alvaro sekarang.
“Aku jatuh cinta sama kamu. Apa kamu mau jadi kekasih ku ?” Tanya Alvaro yang membuat kedua mata Zizi membola. Ia tidak menyangka bahwa tebakannya benar dan laki-laki ini memang benar-benar meminta nya menjadi kekasih.
Zizipun dilanda kebingungan sekarang ini. Mau menolak tau tapi tidak bagaimana caranya, tapi jika diterima itu sama saja dengan Zizi menyakiti hati mereka berdua secara sengaja. Ia berusaha keras memutar otaknya hingga akhirnya ia memilih jujur dan mengatakan yang sebenarnya pada Alvaro.
“Maafkan aku Al, tapi aku tidak bisa menerima ungkapan cinta mu saat ini,” ucap Zizi.
“Boleh aku tau apa alasannya ?” Tanya Alvaro dengan hati-hati karena ia melihat ada raut wajah kesedihan diwajah Zizi setelah ia mengungkapkan perasaannya tadi.
Zizi tampak menghela nafasnya sebelum menjawab “Aku trauma akan cinta,” jawab Zizi.
“Maksudnya ?” Alvaro tampak bingung dengan pernyataan dari Zizi barusan. Ia gagal memahami maksud dari perkataan gadis dihadapannya.
Zizi tersenyum getir “Iya… Aku hanya trauma dengan kisah cinta yang bahkan belum sempat ku mulai. Meskipun orang bilang tidak semua laki-laki memiliki sifat sayang sama. Tapi mau bagaimana lagi, hati ku terlanjur takut untuk memulai kisah yang baru,” seru Zizi.
Alvaro mulai menangkap apa yang berusaha dijelaskan oleh Zizi, meskipun gadis itu tidak mengatakan nya secara langsung apa yang telah ia hadapi. Tapi Alvaro tahu kalau gadis ini baru saja patah hati karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
“Aku mengerti apa yang berusaha kamu katakan Zi. Tapi asal kamu tahu satu hal, saat kita jatuh cinta maka itu artinya kita pun harus siap untuk patah hati,” ujar Alvaro.
Zizi terdiam sejenak sebelum menjawab “Iya kamu benar Al, karena itu juga untuk saat ini aku memilih untuk sendiri,” jawab Zizi. “Maafkan aku karena membuat mu kecewa sama seperti apa yang aku rasakan. Tapi ketahuilah, jika kita memang jodoh maka Allah akan selalu punya cara untuk menyatukan kita,” sambung nya lagi.
Meskipun kecewa dengan penolakan gadis yang ada dihadapannya saat ini, namun Alvaro mencoba menerimanya. Ia juga tidak ingin menjalin hubungan yang berlandaskan dengan sebuah keterpaksaan. Karena apa ? karena itu tidak akan baik bagi keduanya.
“Tidak apa-apa. Tapi aku akan meminta pada sang pengatur Skenario agar menjadi kan mu jodohku,” ucap pria itu tertawa.
Zizi hanya tersenyum menanggapi ucapan Alvaro karena ia juga tidak tau harus meresponnya seperti apa. Pikirannya pun teralihkan pada sosok pria yang sampai saat ini masih menghuni relung hatinya.
“Bolehkah aku berharap jika kamulah yang akan menjadi jodohku, Prince ? Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi.”
Hallo Readers !!!
Ketemu lagi di ceritanya Dokter Zizi dan perjalanan kisah cintanya. Jangan lupa tinggalin jejaknya ya dengan cara Vote, Like, dan Koment.
With Love,
Author
27.10.2020
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu