NovelToon NovelToon
Love Me Back

Love Me Back

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:519
Nilai: 5
Nama Author: Aan Iman

Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.

"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.

"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.

"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.

Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lmb34

Seketika ruangan yang tadinya ramai menjadi hening karena pertanyaan polos Jian. Ryn, ia dulu begitu sulit dalam menghadapi situasi rumit baik itu mengenai sang ibu maupun Sian. Yang bisa Ryn lakukan hanyalah berusaha bertahan hidup atau menghindari masalah tersebut. Namun berbeda untuk Jian, ia harus menghadapinya apapun konsekuensinya nanti.

"Jian, mama pasti masih lelah jadi kau tidur bersama paman bagaimana?" Bass mencoba mengalihkan pembicaraan, berharap anak laki-laki Sian itu mau mengerti.

"Apa aku bisa bertemu papa bu? Jian janji tidak akan nakal." Lagi-lagi hati Ryn teriris mendengar pertanyaan anaknya.

"Akan mama usahakan..." Jawab Ryn akhirnya. Ia perlu mencari kesempatan untuk mengatakan semuanya pada Sian.

Ryn tidak mungkin tiba-tiba datang dan mengenalkan Jian begitu saja. Meski dulu Sian sangat menginginkan anak darinya bukan berarti hal itu masih sama hari ini.

"Hore..." Jian bersorak kegirangan mengundang kebahagiaan siapa saja yang melihatnya.

"Nah jadi kau mau tidur sama mamamu atau paman Bass?" Kembali Bass menawarkan diri menjaga Jian malam ini karena ia mengerti Ryn pasti butuh waktu menenangkan pikiran, apapun itu.

"Mmm paman Bass ye..." Lagi-lagi tingkah Jian membuat orang-orang dewasa penuh beban masalah masing-masing menjadi lebih ringan tertular semangatnya.

"Terima kasih Bass." Ucap Ryn menatap Bass yang sudah menggendong Jian.

"Istirahat Ryn." Tak lupa Bass mengusap singkat ujung kepala Ryn tanda sayang.

"Apa?" Ryn mendapati Vick tengah meledeknya seketika salah tingkah. Keke nya selalu saja menggoda interaksi keduanya yang bagai pasangan suami istri tapi saling gengsi.

"Kau masih menolak Bass?" Tanya Vick tanpa basa-basi penasaran akan hubungan keduanya. Mereka kompak membesarkan Jian namun enggan memutuskan bersama.

"Bass berhak mendapat yang lebih baik dariku." Jawaban Ryn klise menurut Vick karena pria itu bisa melihat masih ada bayang-bayang Sian di matanya.

"Dan kaupun berhak bahagia Ryn. Ingat itu selalu." Sebelum pergi ke kamar Vick sempat melakukan hal sama yang dilakukan Bass pada Ryn. Mereka sangat menyayangi Ryn dengan cara berbeda.

***

Ryn bekerja seperti biasa, menganggap kejadian kemarin bukan masalah besar baginya. Tidak menurut Sian, pria itu tak sabar ingin melihat keadaan Ryn hingga mengabaikan pandangan orang-orang ketika ia tiba-tiba mendatangi bagian gizi.

Semua yang ada di dapur terperangah mendapati pemilik rumah sakit baru tempat mereka bekerja berdiri mematung seperti sedang memperhatikan seseorang yaitu Ryn.

"Pak Komisaris, ada yang bisa kami bantu?" Kepala staf muncul mendengar kedatangan Sian di tempat ia bertugas.

Sedangkan Ryn menyadari arah tatapan Sian segera menutupi lengan kanannya yg dilapisi plester transparan anti air. Mata Sian memerah tak terima Lee Tak melukai Ryn bahkan di hari pertama dia bisa menghirup udara bebas.

"Aku ingin bicara dengan ibu Ryn, biarkan dia tidak bekerja hari ini." Sian keluar begitu saja dari ruangan setelah menyampaikan tujuannya.

"Ryn pergilah jangan buat pak Komisaris menunggu." Sejujurnya Ryn enggan bertemu Sian untuk saat ini tetapi tidak baik juga menimbulkan pertanyaan dari rekan kerjanya.

Sian menunggu Ryn di depan pintu tangga darurat, Ryn sangat mengakui Sian semakin tampan dan berwibawa sehingga berhasil membuat hatinya berdesir. Sesaat Ryn ingat keinginan Jian bertemu sang papa. Haruskah Ryn mengatakan semuanya sekarang?

"Pak Sian,,, " Belum selesai Ryn menyapa Sian dengan cepat menarik lembut tangan Ryn untuk masuk kedalam. Ya, keduanya berada di tangga darurat.

"Maaf, kau terluka karena ku." Sian mengusap tangan Ryn yang terbalut plester.

"Tidak, ini sama sekali bukan kesalahanmu. Ini konsekuensi yang harus aku Terima karena memutuskan kembali." Ryn menyentuh tangan Sian kemudian melepasnya perlahan.

"Apa yang harus aku lakukan untukmu Ryn, agar kau bisa aman dan baik-baik saja." Sian sakit ketika tahu Ryn rela pergi dari Jasata hanya demi Lee Tak menjauhi Sian. Segala pengorbanan Ryn begitu besar untuknya.

"Sian, bangun!" Ryn meraih pundak Sian yang berlutut di hadapannya. Seorang Sian merendah pada Ryn, satu-satunya wanita di dunia mampu membuatnya bertekuk lutut.

"Sian, jangan begini." Berusaha melepaskan diri dari dekapan erat Sian, Ryn dapat merasakan tubuhnya bergetar.

"Aku merindukanmu Zhao Ryn, bisakah kita bersama lagi hem?" Bisik Sian di dekat telinga Ryn, Ryn tak kuasa menahan rasa hangat yang menjalar ke sekujur tubuhnya.

"Sian, maafkan aku sungguh. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu saat terluka." Pertahanan Ryn akhirnya runtuh. Ryn menangis terisak membalas pelukan Sian.

'Sian, maaf sudah menyembunyikan Jian darimu selama ini.' Lanjut Ryn dalam hati.

Setelah puas saling melepas rindu Sian dan Ryn duduk bersebelahan di anak tangga. Ryn menyandarkan kepalanya di pundak Sian. Tangannya merangkul lengan kekar Sian yang terbalut dalam jas mahalnya.

"Ceritakan Zhao Ryn, bagaimana hidup tanpaku?" Sian menggenggam erat tangan Ryn yang melingkar padanya seolah takut wanita itu pergi lagi darinya.

"Setiap malam aku sulit untuk memejamkan mata, selalu ada ruang kosong di hatiku. Sian semua begitu berat tapi aku harus melakukannya bukan?" Hati Sian mencelos mendengar cerita Ryn, ia yakin Ryn pasti sulit menjalani hidup di tempat baru dan mencoba bertahan dalam kurun waktu tidak sebentar.

"Aku akan menebusnya, Zhao Ryn tinggallah bersamaku mulai sekarang." Ajakan Sian berhasil menyadarkan Ryn tentang Jian. Perlahan ia harus memberitahu Sian.

"Sian kau ingat malam saat aku mengalami pendarahan?" Disela menunggu Ryn menjeda ucapannya Ponsel Sian berdering tanda panggilan masuk.

"Sebentar, tunggu aku." Sian bangkit dari duduknya, ia menerima telepon dengan terus menatap Ryn yang tertunduk sambil meremass kedua tangannya seperti menahan sesuatu.

"Bicara Lusi, ada apa?" Tanya Sian khawatir mendengar nafas Lusi memburu.

"Sian, nenek jatuh di kamar mandi. Keadaannya baik hanya saja dia ingin kau datang." Tanpa menjawab apapun lagi Sian langsung mematikan sambungan. Ia melirik ke arah Ryn, Sian masih ingin menghabiskan waktu bersamanya namun keadaan Sansan belum pasti dan Sian harus melihatnya.

"Zhao Ryn..." Panggil Sian berjongkok guna menatap wanitanya.

"Hem?" Terlalu sibuk memikirkan cara mengatakan soal Jian pada Sian Ryn bahkan tidak tahu percakapan Sian tadi sudah selesai.

"Ada hal mendesak mengenai nenek. Boleh aku meminta WeChat mu?" Sian menyodorkan ponsel keluaran terbarunya. Ryn mengambil miliknya dari saku celana kemudian saling menambahkan akun.

"Wo ai ni Zhao Ryn, tetap bersamaku." Sebelum pergi Sian mengecup kening Ryn dalam dan cukup lama.

"Hati-hati Sian." Gumam Ryn meski pria matang itu telah menghilang dari pandangannya.

Setibanya Sian di panti jompo Sansan tengah ditemani makan oleh Lusi. Meimei sendiri pergi buru-buru setelah tahu Sian akan datang. Gadis itu belum siap bertemu sang kakak akibat takut ketahuan berpacaran dengan Vick.

"Apa tidak sebaiknya nenek di rawat? Kita lakukan pemeriksaan menyeluruh." Tawar Sian melihat Sansan tampak kurang nyaman dalam duduknya.

"Lusi bisa tinggalkan kami sebentar? Aku ingin bicara dengan cucuku." Mengerti maksud Sansan Lusi hanya mengangguk lalu keluar kamar.

"Putuskan Sian,,, " Dahi Sian mengernyit mendengar permintaan Sansan. Namun ia sabar menanti ucapan nenek selanjutnya.

"Menerima Lusi atau kenalkan wanita itu padaku. Saat koma aku belum sempat menjenguknya." Sansan gemas melihat cucunya kurang gesit mengambil langkah mengenai pasangan hidup. Sudah saatnya Sansan ikut campur.

"Aku baru memulainya nenek. Tidak mungkin memaksa cepat, beri aku waktu untuk membawanya menemui nenek." Sian berkata jujur karena merasa Ryn mau menerimanya lagi.

"Baik, nenek pegang omonganmu. Kalau hubungan kalian tidak jelas maka jangan salahkan aku menyatukanmu dan Lusi." Peringatan terakhir bagi Sian di usianya yang sudah tidak muda lagi.

"Istirahat nek, biar cepat sehat lagi. Aku harus kembali ke perusahaan." Sebelum pergi Sian membetulkan letak selimut Sansan agar merasa hangat.

Sian memijat pangkal hidungnya, ia duduk di kursi kebesaran usai menyelesaikan beberapa laporan keuangan. Pikirannya masih tertuju pada Ryn. Dia ingin menemuinya tetapi Ryn belum memberi kabar apapun.

"Tuan, aku membawa informasi alamat nona Ryn." Jun masuk memutus lamunan Sian.

"Katakan Jun." Perintah Sian.

"Nona tinggal di kediaman kedua tuan Vick Zhou, bersama Bass, satu orang Ayi dan anak kecil." Mendengar penjelasan Jun Sian berdecak kesal tau Ryn malah dikelilingi dua pria.

"Siapa Ayi dan anak kecil itu? Banyak sekali pengasuh Zhao Ryn..." Jun merapatkan bibirnya melihat tingkah Sian yang cemburu.

"Masih kami periksa, dan tuan sebelum nona Ryn tinggal di sana adik anda nona Meimei kedapatan sering berkunjung." Seketika Sian menatap tajam Junior seakan merasakan firasat buruk terhadap adiknya Meimei. Tidak bisa dibiarkan!

"Kita ke kediaman Vick!" Putus Sian beranjak dari duduknya, sedangkan Jun hanya bisa menghela nafas bersiap mendampingi kemarahan Sian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!