Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Namun Bu Ratih tetap menggeleng.
"Keputusan Mama sudah bulat. Mama hanya memikirkan masa depan keluarga ini dan kamu merusaknya hanya karena cemburu kepada Aisyah."
Salsa menangis semakin keras.
"Ma... Tolong. Jangan nikahkan mas Ammar dengan perempuan lain lagi. Salsa mohon jangan lakukan ini sama Salsa."
Bu Ratih tetap diam. Melihat itu, Salsa buru-buru berkata dengan suara gemetar,
"Salsa janji akan bicara dengan Mas Ammar. Salsa akan meminta Mas Ammar untuk menjalankan tugasnya sebagai suami. Salsa akan meminta Mas Ammar menyentuh Aisyah, Asal Mama jangan menikahkan Mas Ammar lagi dengan perempuan lain."
Deg, Aisyah langsung menoleh cepat. Matanya membulat penuh keterkejutan setelah mendengar perkataan kakaknya.
"Kak... Apa yang Kakak bicarakan?"
Salsa masih menggenggam tangan Bu Ratih erat-erat. Air matanya terus mengalir tanpa bisa dihentikan. Dadanya naik turun menahan sesak, sementara wajahnya dipenuhi kepanikan.
"Ma... Salsa mohon...."
Namun perhatian Aisyah kini sepenuhnya tertuju kepada kakaknya. Ia benar-benar tidak menyangka, orang yang selama ini paling melindunginya, orang yang sejak kecil selalu mengutamakan dirinya, Kini justru meminta suaminya sendiri untuk menerima Aisyah sebagai istri demi memenuhi keinginan keluarga.
"Kak...." Aisyah melangkah mendekat. Ia menggenggam kedua tangan Salsa dengan erat. "Aisyah mohon tolong jangan bilang seperti itu."
Salsa mengangkat wajahnya perlahan dan menunjukkan matanya yang sembab.
"Aisyah, apa yang kakak ucapkan tadi benar benar serius."
"Tidak." Aisyah buru-buru menggeleng. "Aisyah nggak mau. Aisyah sama sekali nggak menginginkan itu." Air mata kembali memenuhi pelupuk mata Aisyah. "Kakak tahu dari awal Aisyah nggak pernah menginginkan pernikahan ini. Aisyah juga nggak pernah berharap menjadi istri Mas Ammar. Jadi jangan," Suaranya mulai pecah. "Jangan minta Mas Ammar melakukan sesuatu yang memang tidak dia inginkan."
Tatapan Aisyah kemudian beralih kepada Bu Ratih.
"Ma...." Ia menundukkan kepalanya penuh hormat. "Aisyah mohon, jangan paksa Mas Ammar melakukan itu dan jangan menikahkan mas Ammar dengan perempuan lain lagi. Kalau itu terjadi," Aisyah melirik Salsa yang masih menangis. "Kak Salsa akan semakin terluka." Bu Ratih hanya memandang Aisyah tanpa mengubah raut wajahnya. "Aisyah tahu Papa dan Mama menginginkan keturunan di keluarga Adhitama. Aisyah juga mengerti sama perasaan papa dan mama, Tapi...." Aisyah menarik napas panjang. "Anak adalah rezeki dari Allah. Dia tidak akan datang hanya karena seseorang dipaksa. Aisyah percaya, Kalau memang Allah sudah menghendaki, pasti akan ada jalannya. Jadi, Tolong jangan memaksa siapa pun lagi."
Keheningan menyelimuti halaman rumah Adhitama. Untuk sesaat, tak ada seorang pun yang berbicara. Namun beberapa detik kemudian, Bu Ratih menggeleng pelan.
"Mama menghargai cara berpikir mu, Aisyah. Tapi...." Bu Ratih menghela napas. "Mama sudah terlalu lama menunggu." Tatapannya kemudian berpindah kepada Salsa. "Salsa."
Salsa langsung mendongakkan kepalanya.
"Iya, Ma...."
"Mama tidak sedang bercanda." Suara Bu Ratih berubah sangat serius. "Kalau dalam waktu dekat Ammar tetap tidak menjalankan tanggung jawabnya sebagai suami kepada Aisyah," ia berhenti sejenak. "Mama akan meminta Papa mencarikan perempuan lain."
Kalimat itu membuat Salsa semakin pucat.
"Ma...."
"Tidak ada tawar-menawar. Ammar adalah anak tunggal keluarga Adhitama dan keluarga ini membutuhkan penerus." Tatapan Bu Ratih terlihat semakin tegas. "Kalau kamu tidak mampu membujuk suamimu, maka mama yang akan mengambil keputusan sendiri."
Salsa langsung terisak.
"Ma... jangan, Salsa mohon."
Namun Bu Ratih tetap tidak bergeming.
"Mama sudah memutuskan." Ia kemudian menoleh kepada Aisyah. "Kamu juga jangan ikut campur lagi, Aisyah. Ini urusan rumah tangga kalian."
Setelah mengatakan itu, Bu Ratih berbalik memasuki rumah. Langkahnya mantap, meninggalkan dua saudara yang kini sama-sama larut dalam kesedihan.
Beberapa saat kemudian, halaman depan Adhitama kembali sunyi. Yang terdengar hanyalah suara dedaunan yang tertiup angin.
Salsa masih berdiri sambil menundukkan kepalanya. Tangisnya belum juga berhenti. Aisyah menghapus air matanya sendiri sebelum akhirnya kembali menghampiri kakaknya.
"Kak...." Suaranya jauh lebih lembut. "Tolong jangan menangis lagi." Salsa tidak menjawab.
"Aisyah akan bicara lagi sama Mama. Aisyah akan membujuk mama untuk tidak menikahkan mas Ammar dengan perempuan lain. Mungkin nanti Mama akan berubah pikiran."
Belum selesai Aisyah berbicara, Salsa langsung menggeleng.
"Tidak."
Aisyah mengernyit.
"Kak?"
Salsa mengusap air matanya.
"Tidak ada gunanya, Aisyah. Mama sudah mengambil keputusan dan ia tidak akan berubah pikiran."
"Lalu...." Aisyah menatap kakaknya dengan bingung. "Kakak mau bagaimana?"
Salsa mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya dipenuhi keputusasaan.
"Malam ini...." Suaranya terdengar lirih. "Aku akan bicara sama Mas Ammar."
Deg, Jantung Aisyah seolah berhenti berdetak begitu mendengar perkataan Salsa.
"Kak...."
"Aku akan meminta Mas Ammar menerima kamu sebagai istrinya. Aku akan meminta mas Ammar untuk menjalankan tanggung jawabnya sebagai suami."
Aisyah langsung mundur selangkah.
"Kak! Apa yang Kakak katakan? Aisyah nggak mau!"
"Tapi aku mau!" Jawaban Salsa kali ini terdengar jauh lebih keras. Air matanya kembali jatuh. "Aku nggak mau kehilangan Mas Ammar. Aku juga nggak mau ada perempuan lain masuk ke rumah ini. Kalau satu-satunya cara mempertahankan rumah tanggaku adalah dengan membuat Mas Ammar menerima kamu," Salsa menundukkan kepalanya. "Aku akan melakukannya."
Aisyah menatap kakaknya tidak percaya sementara dadanya terasa semakin sesak.
"Sampai kapan, Kak?" Salsa terdiam. "Sampai kapan Kakak mau hidup seperti ini? Hidup di rumah yang penuh tekanan. Selalu mengalah, menangis dan takut kehilangan suami kakak sendiri?" Air mata Aisyah kembali mengalir. "Ini bukan kehidupan yang Kakak impikan."
Salsa tersenyum hambar.
"Aku tahu, Tapi... Aku sudah menerima takdirku. Aku sudah memilih jalan ini sejak aku menikah dengan Mas Ammar. Aku mencintainya, sangat mencintainya dan aku tidak sanggup kehilangannya." Perlahan Salsa menggenggam tangan Aisyah. "Aisyah, Tolong. Kalau nanti Mas Ammar berubah pikiran, Terimalah dia sebagai suamimu."
Kalimat itu benar-benar membuat Aisyah membeku. Ia menarik tangannya perlahan sementara matanya berkaca-kaca.
"Tidak." Jawab Aisyah tegas. "Aisyah tidak bisa. Kak, Aisyah nggak bisa menerima permintaan itu. Aisyah tidak ingin Mas Ammar melakukan sesuatu hanya karena terpaksa. Itu bukan rumah tangga yang Aisyah inginkan. Itu hanya akan menambah penderitaan baru untuk Aisyah dan juga kakak."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Aisyah buru-buru membalikkan badan. Air matanya terus jatuh dan ia berlari kecil memasuki rumah, meninggalkan Salsa yang masih berdiri seorang diri di halaman dengan hati yang sama-sama hancur.
Malam datang jauh lebih cepat daripada yang mereka sadari. Langit yang sejak sore dihiasi semburat jingga kini telah berubah menjadi hamparan hitam pekat. Lampu-lampu taman di kediaman Adhitama menyala satu per satu, menerangi halaman rumah yang megah dengan cahaya kekuningan yang hangat. Dari kejauhan, suara kendaraan yang lalu-lalang mulai berkurang, berganti dengan suasana malam yang tenang.
parah ini mah kata aku