NovelToon NovelToon
Cerpen Misteri Dan Horor

Cerpen Misteri Dan Horor

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu
Popularitas:98
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

cerita pendek misteri dan horor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17_Angkot tengah malam

Hujan turun tanpa henti sejak sore. Jalanan kota yang biasanya ramai kini tampak lengang. Lampu jalan berkedip-kedip, sementara kabut tipis mulai menyelimuti aspal yang basah.

Raka, seorang mahasiswa yang baru pulang kerja paruh waktu, berdiri sendirian di halte.

Ia melihat jam di ponselnya. Pukul 23.58 WIB.

"Sial... angkot terakhir belum lewat juga." gumam Raka. Wajahnya terlihat lelah, sementara alisnya berkerut karena cemas.

Tak lama kemudian...

Dari kejauhan terdengar suara mesin tua.

Kreek... kreek...

Sebuah angkot berwarna hijau kusam perlahan muncul dari balik kabut. Lampunya redup. Catnya mengelupas. Nomor trayeknya hampir tidak terbaca.

Namun anehnya...

Tidak ada satu pun penumpang yang turun.

Pintu angkot terbuka sendiri.

Ciiit...

"Naik..." ucap sopir itu pelan. Wajahnya datar tanpa ekspresi, sementara matanya yang pucat menatap lurus ke depan.

Raka mengangguk.

"Iya, Pak." jawab Raka. Wajahnya tampak lega, sementara bibirnya mengembangkan senyum tipis.

Begitu masuk...

Bau tanah basah bercampur aroma bunga melati langsung menusuk hidungnya.

"Kenapa bau sekali?" gumam Raka. Hidungnya mengernyit, sementara dahinya berkerut bingung.

Di dalam angkot terdapat enam penumpang. Mereka semua duduk diam. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang memainkan ponsel. Semuanya hanya menatap lurus ke depan.

Raka duduk di kursi paling belakang.

Baru beberapa menit berjalan...

Seorang nenek di depannya berbicara.

"Nak..." ucap nenek itu lirih. Wajahnya tampak pucat, sementara bibirnya tersenyum tipis.

"Iya, Nek?" tanya Raka. Wajahnya terlihat sopan, tetapi matanya mulai dipenuhi rasa penasaran.

"Jangan pernah melihat ke belakang kalau nanti ada yang memanggil namamu." lanjutnya

Raka tertawa kecil.

"Memangnya kenapa?" tanyanya. Bibirnya tersenyum tipis, sementara alisnya terangkat heran.

Nenek itu perlahan menoleh. Kulit wajahnya tiba-tiba mulai mengelupas. Bola matanya berubah hitam seluruhnya.

"Karena... yang memanggil bukan manusia." jelas Nenek itu dengan tampang mengerikan. Senyumnya melebar sampai ke telinga.

Raka langsung membeku. Wajahnya pucat. Keringat dingin mulai mengalir.

Namun ketika berkedip... Wajah nenek itu kembali normal.

Raka mengusap wajahnya.

"Mungkin aku terlalu capek." gumamnya. Wajahnya mencoba tenang, tetapi napasnya mulai tidak beraturan.

Angkot terus melaju

Aneh... Tidak ada lampu kota. Tidak ada kendaraan lain. Yang terlihat hanya jalan panjang diselimuti kabut.

Tiba-tiba...

Tok!

Tok!

Tok!

Ada suara ketukan dari atap angkot.

Raka mendongak.

"Apa itu?" tanyanya pelan. Matanya membelalak, sementara tenggorokannya terasa kering.

Tidak ada jawaban.

Tok!

Tok!

Tok!

Ketukannya semakin keras. Seorang ibu yang duduk di dekat jendela berbisik.

"Jangan dilihat..." bisik ibu itu

Wajahnya gemetar, sementara bibirnya pucat.

"Kenapa?" tanya Raka. Wajahnya semakin bingung, sementara napasnya memburu.

"Itu sedang mencari tubuh untuk ditumpangi." jelasnya

Mendadak... Suara ketukan berhenti. Sunyi.

Lalu...

BRUK!!

Sesuatu jatuh tepat di atas atap angkot. Seluruh kendaraan berguncang.

"Astaga!" teriak Raka. Matanya membelalak ketakutan, sementara tubuhnya langsung menegang.

Perlahan... Terdengar suara kuku panjang menggesek atap.

Sreeeek...

Sreeeek...

Suara itu bergerak. Menuju tepat di atas kepala Raka.

Kemudian...

Suara itu berhenti. Terdengar suara perempuan tertawa.

"Hihihihihi...."

Raka menelan ludah. Suara itu kini berasal dari atas kepalanya.

Lalu...

Setetes cairan merah menetes melalui ventilasi.

Plok...

Mengenai tangannya. Raka melihat telapak tangannya. Darah. Masih hangat.

"Aaaaa!!" teriaknya. Wajahnya pucat pasi, sementara seluruh tubuhnya gemetar hebat.

Semua penumpang tetap diam. Tidak ada yang bereaksi. Sopir hanya terus mengemudi.

Raka memberanikan diri mendekati sopir.

"Pak! Tolong berhenti! Saya mau turun!" teriak Raka. Wajahnya panik, sementara kedua matanya dipenuhi air mata.

Sopir tidak menjawab.

"Pak! Dengar saya!" bentak Raka. Wajahnya memerah karena panik, sementara tangannya mencengkeram kursi.

Pelan... Sopir menoleh.

Namun... Yang terlihat bukan wajah manusia. Kulit wajahnya membusuk. Rahang bawahnya hilang. Belatung keluar dari rongga matanya.

"Kita... belum sampai..." Suaranya serak seperti berasal dari dasar sumur.

Raka menjerit sejadi-jadinya.

"Aaaaaaaa!!"

Tubuhnya mundur hingga membentur pintu.

Saat itulah... Seluruh penumpang menoleh bersamaan.

Kreeek...

Leher mereka berputar perlahan. 180 derajat. Mata mereka hitam seluruhnya. Mulut mereka terbuka sangat lebar. Serempak mereka berkata,

"Kenapa ingin turun...?" tanya mereka bersamaan. Senyum mereka melebar tidak wajar.

Raka menangis.

"Tolong... jangan ganggu saya..." ucapnya. Wajahnya dipenuhi air mata, sementara bibirnya bergetar hebat.

Seorang anak kecil berdiri di lorong angkot.

Padahal...Tadi tidak ada anak kecil. Ia membawa boneka lusuh tanpa kepala.

"Kak..." ucap anak itu pelan. Wajahnya tersenyum manis, sementara matanya kosong tanpa bola mata.

"A... ada apa?" tanya Raka. Wajahnya ketakutan, sementara tubuhnya terus mundur.

"Bonekaku kehilangan kepala." Anak itu mengangkat wajahnya. "Lalu... boleh pinjam kepalamu?"

Tiba-tiba...

Leher anak itu memanjang. Tangannya ikut memanjang. Jari-jarinya berubah seperti cakar. Ia merangkak cepat di langit-langit angkot.

"Kakakkkkk..."

"Aaaaaaaaa!!"

Raka menendang pintu. Namun pintunya tidak bisa dibuka. Semua jendela berubah menjadi dinding tanah. Bau kuburan memenuhi angkot.

Terdengar suara adzan sayup-sayup dari kejauhan. Seluruh makhluk di dalam angkot tiba-tiba menjerit kesakitan.

"Cepat turun!" teriak nenek itu. Wajahnya tampak panik, sementara matanya membelalak.

"Turun sekarang!!" perintah nya tegas.

Pintu mendadak terbuka sendiri. Raka melompat keluar. Tubuhnya berguling di jalan.

Saat menoleh... Angkot itu berhenti beberapa meter di depannya. Semua penumpangnya kini berdiri di luar. Mereka melambaikan tangan. Sambil tersenyum, tapi senyum yang terlalu lebar.

Kemudian...

Angkot perlahan masuk ke dalam kabut. Menghilang begitu saja.

Esok paginya...

Raka kembali ke lokasi itu bersama warga.

"Tidak mungkin..." ucap Raka. Wajahnya bingung, sementara matanya terus menyapu sekitar.

Seorang kakek tua menghampiri.

"Kamu semalam melihat angkot hijau?" tanyanya. Wajahnya terlihat serius, sementara sorot matanya penuh kekhawatiran.

"Iya..." jawab Raka. Wajahnya masih pucat, sementara bibirnya bergetar.

Kakek itu menarik napas panjang.

"Itu angkot yang mengalami kecelakaan dua puluh tahun lalu." jelasnya

Raka terdiam.

"Semua penumpangnya meninggal." katanya lagi

Tubuh Raka langsung lemas.

"Lalu... sopirnya?" tanyanya. Wajahnya dipenuhi rasa takut, sementara tenggorokannya tercekat.

Kakek itu menatap lurus ke arahnya.

"Sopirnya masih mencari satu penumpang lagi..." ucapannya terhenti. "Untuk menggantikan kursi yang kosong."

Malam itu...

Saat Raka membuka ponselnya...Ia mendapati sebuah foto yang tidak pernah ia ambil. Foto dirinya sedang duduk di dalam angkot.

Di sampingnya...

Anak kecil tanpa mata tersenyum sambil memeluk boneka tanpa kepala. Di bagian bawah foto tertulis dengan huruf merah seperti darah:

"Sampai jumpa di perjalanan berikutnya..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!