NovelToon NovelToon
Penguasa Agung

Penguasa Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Blueria

Qin Mu, putra Patriark Keluarga Qin, dianggap sebagai sampah karena gagal membuka meridian meski telah berlatih selama satu tahun. Di tengah hinaan, tekanan keluarga, dan ancaman diusir pada Upacara Uji Spiritual, ia tetap bertahan dengan tekad kuat.
Namun, di balik kegagalannya, tersembunyi misteri besar dalam tubuhnya. Hingga suatu malam, ia akhirnya melihat energi spiritual untuk pertama kalinya, tanda awal kebangkitan yang akan mengubah nasibnya.
Dari kehinaan menuju kekuatan tertinggi, Qin Mu menantang takdir untuk menjadi Penguasa Agung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch 4 — Pil Pengumpul Spiritual

Lima hari telah berlalu sejak malam yang mengubah takdir Qin Mu.

Di mata anggota Keluarga Qin, Qin Mu masihlah si sampah yang menghabiskan waktu dengan memukuli samsak pasir hingga tangannya berdarah. Ia sengaja tetap berlatih di sudut lapangan yang sepi, menjaga hawa energinya tetap tenang dan tersembunyi. Sesuai pesan ayahnya sebelum memberikan Manual Kultivasi Menembus Batasan khusus Ranah Pembentukan Fondasi, kejutan terbesar hanya boleh diledakkan saat Upacara Uji Spiritual tiba.

"Mu'er. Sebelum ayah memberikan gulungan ini kepadamu, kau harus melatih teknik Hawa Tak Kasat Mata."

Awalnya Qin Mu penasaran dengan teknik Hawa Tak Kasat Mata namun ketika ayahnya menjelaskan panjang lebar tentang situasi Keluarga Qin saat ini, ia menjadi semakin yakin betapa buruknya orang-orang di keluarga ini.

Siang itu, kelopak bunga Ginkgo yang mulai menguning jatuh perlahan, menghiasi lapangan latihan yang mulai sepi karena para murid lain sedang beristirahat untuk makan siang.

"Mu'ge, kau masih di sini?"

Suara merdu itu kembali hadir. Qin Lian berjalan mendekat dengan langkah anggun. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak kayu kecil berukir motif awan. Sejak pertemuan mereka tempo hari, Qin Lian hampir setiap hari menyempatkan diri datang, membawa kabar atau sekadar memastikan Qin Mu tidak pingsan karena kelelahan.

"Lian'er, bukankah kau harus bersiap untuk ujian latihan dalam besok?" tanya Qin Mu sambil menyeka keringatnya.

"Ujian itu tidak sepenting kesehatanmu," jawab Qin Lian ketus, namun matanya memancarkan kekhawatiran. Ia membuka kotak kayu itu.

Aroma obat yang harum dan menyegarkan seketika menyeruak, membuat saraf-saraf Qin Mu yang tegang menjadi rileks.

Di dalamnya, tergeletak sebuah pil bulat berwarna hijau zamrud dengan garis-garis putih halus. Pil Pengumpul Spiritual.

"Mu'ge, ambillah. Ini adalah pil terakhir dari jatah mingguanku. Aku sudah berada di Pembentukan Dantian pertengahan, satu pil ini tidak akan memberiku lonjakan besar, tapi bagimu... ini bisa membantu setidaknya melunakkan satu meridianmu."

Qin Mu terkejut mendengar pencapaian Qin Lian telah mencapai Pembentukan Dantian pertengahan, namun pandangannya kembali menatap pil itu, lalu menatap mata Qin Lian yang tulus.

Rasa bersalah sempat melintas di hatinya karena menyembunyikan fakta bahwa sembilan meridiannya telah terbuka sempurna. Namun, ia teringat peringatan ayahnya:

Jangan beri tahu siapapun. Jika berita ini bocor, faksi yang membenci ayahnya mungkin akan melakukan sabotase sebelum upacara uji spiritual dimulai.

Tidak diketahui dunia luar. Di dalam Keluarga Qin saat ini terjadi sebuah perselisihan internal, Dewan Tetua yang terbagi menjadi dua pihak, antara mendukung Patriark saat ini dan Tetua Keempat yang hanya diketahui segelintir orang dalam keluarga bahwa ia telah mendapat pencerahan dan mencapai tingkatan kultivasi yang lebih tinggi daripada Qin Feiyan. Dengan berita itu. Beberapa tetua yang menyembunyikan kebencian mereka mulai menampakkan taringnya, mereka berdiri di samping Tetua Keempat demi mengkudeta Patriark Qin Feiyan.

"Lian'er, aku tidak bisa. Ini terlalu berharga. Dewan Tetua sudah memotong seluruh jatah setiap murid, hanya para jenius yang diperbolehkan menerima sumber daya tingkat tinggi. Jika mereka tahu kau memberikannya padaku, kau akan ikut kesulitan."

"Aku tidak peduli pada Dewan Tetua!" potong Qin Lian, suaranya sedikit meninggi.

"Mereka hanya peduli pada hasil, tapi aku peduli padamu. Jika kau tidak menerimanya, aku akan membuang pil ini ke kolam ikan sekarang juga!"

"Kau tidak bisa melakukannya, ikan-ikan di dalamnya bisa mabuk pil."

"Itu lebih baik daripada Mu'ge tidak mau menerimanya."

Melihat keras kepalanya gadis itu, Qin Mu akhirnya menghela napas panjang. Ia luluh. Ia mengambil pil itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Baiklah, aku terima. Tapi berjanjilah, jangan memaksakan diri lagi untukku."

Qin Lian tersenyum lebar, senyuman yang sanggup meruntuhkan pertahanan mental pria mana pun.

"Begitu lebih baik. Sekarang, duduklah. Kau perlu istirahat sejenak."

Keduanya duduk di bawah pohon Ginkgo yang rindang. Mereka mengobrol santai tentang masa kecil mereka, tentang bagaimana mereka sering mencuri buah di kebun belakang kediaman Patriark. Untuk sejenak, Qin Mu melupakan beban kultivasinya. Tawa Qin Lian menjadi melodi yang menenangkan jiwanya yang selama setahun ini dilanda badai cemoohan dan di jauhi dari mereka yang ia anggap keluarga namun ternyata bersembunyi layaknya serigala berbulu domba.

"Mu'ge," bisik Qin Lian pelan sambil menatap langit.

"Apapun yang terjadi di Upacara Uji Bakat nanti... berjanjilah padaku untuk tidak menyerah. Dunia ini luas, kultivasi bukan satu-satunya jalan, tapi bagiku, kau selalu menjadi yang paling istimewa." ucap Qin Lian dengan wajah sedikit merona kemerahan.

Qin Mu menatap lesung pipi gadis itu. "Aku janji, Lian'er. Aku tidak akan mengecewakanmu."

Di balik pilar batu besar di gedung aula latihan yang menghadap langsung ke arah pohon Ginkgo, sepasang mata menatap pemandangan itu dengan kebencian yang mendalam.

Qin Feng mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. Giginya bergemeletuk saat melihat Qin Lian, gadis yang ia puja sekaligus ia takuti bakatnya, memberikan pil berharga itu kepada si sampah Qin Mu.

"Sialan... Beraninya dia menyentuh barang pemberian Lian'er dengan tangan kotornya itu," desis Qin Feng.

Seorang pengikutnya berbisik dari belakang, "Tuan Muda Feng, jika si sampah itu memakan Pil Pengumpul Spiritual, mungkinkah dia benar-benar bisa membuka satu meridian sebelum upacara uji spiritual?"

Qin Feng mendengus dingin, senyum licik mengembang di wajahnya. "Satu meridian? Meskipun dia memakan sepuluh pil, sampah tetaplah sampah. Tapi... aku tidak akan membiarkan dia merasa tenang. Jika dia ingin mencoba merangkak naik, aku akan memastikan kakinya patah sebelum dia sempat berdiri."

Ia memutar badannya, jubahnya berkibar tertiup angin. "Ayo pergi. Kita laporkan ini pada ayahku, Tetua Kedua. Memberikan sumber daya keluarga kepada anggota keluarga yang sudah diputus jatahnya adalah pelanggaran peraturan. Kita lihat, apakah Qin Lian masih bisa melindunginya setelah ini."

Qin Feng berjalan pergi dengan rencana busuk yang mulai tersusun di kepalanya.

Malam merayap sunyi di kediaman Keluarga Qin. Di dalam kamarnya yang remang, Qin Mu duduk bersila di atas karpet. Di hadapannya, botol giok berisi Pil Pengumpul Spiritual pemberian Qin Lian tampak berkilau tertimpa cahaya lilin yang bergoyang.

Bagi orang lain, pil ini adalah sarana untuk menyerap energi spiritual secara instan. Bagi seorang di Tahap Penempaan Tubuh, ini adalah alat pelunak sumbatan meridian. Namun bagi Qin Mu, yang sudah memiliki sembilan meridian utama terbuka lebar dan menguasai Manual Kultivasi Menembus Batasan, pil ini adalah sumber daya yang siap membantunya dalam menyulut jalan kultivasinya.

"Mari kita lihat sejauh mana manual pemberian Ayah bisa membawa energi ini," gumamnya pelan.

Qin Mu mulai mengatur napasnya sesuai ritme yang tidak biasa. Ia memejamkan mata, dan seketika bintik-bintik cahaya spiritual di udara tampak lebih terang dari sebelumnya, seolah-olah mereka berebut ingin masuk ke dalam tubuhnya. Dengan sembilan meridian yang sudah bersih, ia menarik energi alam itu dengan rakus.

Sesuai instruksi manual ayahnya, Qin Mu tidak membiarkan energi itu sekadar lewat. Ia menciptakan pusaran-pusaran kecil di setiap persimpangan meridian. Tekanan di dalam tubuhnya mulai meningkat, membuat kulitnya memerah dan pori-porinya mengeluarkan uap tipis.

Pada titik puncak kejenuhan energi, Qin Mu membuka mulutnya dan menelan Pil Pengumpul Spiritual.

Glek!

Begitu pil itu hancur di kerongkongannya, sebuah ledakan energi murni yang sejuk namun masif meledak ke seluruh penjuru tubuhnya. Jika energi spiritual yang ia serap sebelumnya adalah aliran sungai, maka energi dari pil ini adalah air bah yang menghantam bendungan.

Zzzzzzt!

Sensasi kesemutan yang hebat menjalar hingga ke sumsum tulang. Qin Mu menggertakkan gigi, menahan gejolak energi yang mencoba merobek jalurnya. Namun, di sinilah keajaiban Manual Menembus Batasan bekerja. Pusaran-pusaran energi yang ia buat sebelumnya justru menangkap energi liar dari pil tersebut, memaksanya berputar mengikuti ritme napas Qin Mu.

Perlahan, rasa sakit itu berubah menjadi kenyamanan yang luar biasa. Ia merasa setiap inci daging, tulang, dan jalurnya disiram oleh embun kehidupan. Energi itu kini menetap, tidak lagi menguap keluar, melainkan berputar stabil di dalam tubuhnya.

"Ini dia..." batin Qin Mu takjub.

Ia bisa merasakannya. Energi itu kini bisa ia panggil dan ia gunakan untuk memperkuat fisiknya kapan saja. Dengan ini ia telah secara resmi menginjakkan kaki di Tahap Ketiga Pembentukan Fondasi: Pengumpulan Spiritual.

Qin Mu membuka matanya yang kini memancarkan kilatan tajam. Ia melompat turun dari ranjang dan merasakan tubuhnya seringan kapas namun sangat padat. Ia benar-benar hampir gila karena kegembiraan ini! Tidak percaya bantuan Qin Lian mampu membantunya menerobos.

Hanya dalam hitungan hari sejak kebangkitannya, ia telah melompati dua tahap Pembentukan Fondasi yang biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan bagi orang biasa.

"Manual Kultivasi milik Ayah yang terlalu hebat... ataukah tubuhku ini memang sebuah keanehan?" tanyanya pada kegelapan malam.

Pikirannya melayang pada misteri kilatan biru waktu itu dan bagaimana semua ramuan selama setahun ini seolah-olah disimpan oleh tubuhnya. Namun, rasa kantuk yang luar biasa tiba-tiba menyerang, efek samping dari sinkronisasi energi yang baru saja terjadi.

Qin Mu merebahkan tubuhnya, tidak peduli lagi pada teori-teori rumit itu. Dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya, ia tertidur pulas. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam setahun, Qin Mu tidak 'bermimpi buruk tentang kegagalan.'

1
Putu Gunastra
seharus nya di cantumkan urutan Kultivasi nya Thor ..di bab2 awal..ato mungkin di bab setelah ini yaa..
Blueria: Terimakasih sudah memberikan saran, sudah author tambahkan tingkatan kultivasi di Chapter 1.😄💪
total 2 replies
T28J
sama sama👍
Blueria: sama-sama👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
yg bnyk tor up ya
Blueria: Siap💪 Gaskan. Vote dan Like ataupun gift agar author tambah semangat 👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
update
Blueria: Besok pagi ya updatenya, author lagi ada kerjaan. Terimakasih udah hadir Kak Roy👋😄
total 1 replies
Glastor Roy
up
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Blueria: Siap, semoga terhibur. 👋😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!