Panggil saja aku, Mheta. Ya, orang-orang lebih mengenalku dengan sebutan demikian. Walau sebenarnya, itu bukanlah nama pemberian dari kedua orang tuaku. Namun, entah mengapa aku lebih suka dipanggil dengan kata Mheta. Mungkin karena arti dari kata Mheta adalah sebuah keadilan dan keseimbangan. Jadi, aku ingin dikenal sebagai orang yang bisa berbuat adil kepada siapapun yang mengenalku. Walau sebenarnya, aku tak pernah berlaku adil terhadap diriku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Matahari tertutup mendung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEGA
Aku memutuskan untuk minta izin kepada kepala ruangan UGD jika besok aku tidak bisa masuk. Karena ada kerabat yang akan melakukan operasi. Entah karena ekspresiku yang benar-benar meyakinkan atau bagaimana,
Kepala ruangan memberiku izin.
Para perawat dan dokter jaga bertanya, kerabatku operasi apa. Akupun menjelaskan sekilas. Saat mereka bertanya, apa aku akan pulang ke Magelang untuk menjenguk kerabat yang tengah akan dioperasi. Aku diam tak
menjawab. Aku memang tak punya jawaban. Bahkan ada salah satu bidan yang bertanya, kerabatku akan operasi dimana, akupun menjawab ‘dirumah sakit’. Aku tidak bohong, bukan? Karena Pengelana memang akan di operasi di rumah sakit. Tapi entah dia akan operasi dirumah sakit mana.
Sepanjang sisa hari itu, aku hanya menggumamakan dzikir. Aku tidak berani menyapa Pengelana.
“Kamu masih sakit?” tanya Rini.
Aku menelan ludah, “ Enggak.”
“Kamu kusut sekali, Mhet. Lelah ya seharian kerja?”
“Nggak kok, Rin. Aku baik-baik saja. Bahkan ditempat kerja tadi aku tidak begitu sibuk. Hanya visit keruang-ruang pasien rawat inap.” Tukasku sambil tersenyum datar.
****
“Mheta, gosong!” teriak Rini yang menyaksikan bajuku mengepul berasap.
Aku membuka mata, spontan aku menyambar setrika yang masih mengepul diatas baju dinasku.
“Astagfirullah, bolong.” Mataku membulat.
“Ya iyalah bolong. Orang kamu tinggal merem, Mhet. Kamu sebenarnya kenapa? Aku lihat sudah tiga hari ini seperti sedang banyak pikiran! Apa yang sedang kamu pikirkan, Mhet?” tanya Rini sambil geleng-geleng, melihat baju dinasku membentuk gambar setrika dengan bagian sisinya hitam lekat.
“Aku....” aku bingung hendak menjawab pertanyaan Rini. Tak mungkin rasanya jika aku katakan kalau tengah memikirkan keadaan Pengelana.
“Aku apa? Pasti kamu kaya gini gara-gara kelana-kelana itu, kan? Sejak kamu kenal dengan pemilik botol mizone itu, kamu benar-benar terlihat aneh, Mhet!” tukas Rini agak kesal.
“Bukan begitu, Rini.” Akupun mengatur napas, untuk menceritakan kejadian sesungguhnya antara aku dan Pengelana.
“Bukan begitu apanya!”
“Pengelana sedang sakit, Rin. Dia akan menjalani operasi besok pagi pukul sembilan.” Aku mulai bercerita perihal kondisi Pengelana kepada Rini. “dia sakit parah.” Lanjutku.
“Terus? Kalau dia sakit parah, emang kamu bisa nyembuhin dia? Mheta? Buka mata kamu lebar-lebar. Kamu dan dia tidak pernah bertemu lagi sejak di ruang tunggu kereta itu, iya, kan? Bahkan kamu sendiri yang bilang
padaku, tidak tahu keberadaan si botol mizone itu sekarang dimana.” Rini terlihat begitu kesal.
“Tapi, Rin…” aku ingin sekali meyakinkan Rini, jika Pengelana memang dalam keadaan sakit parah, “apa salahnya kita ikut ber-empati kepada orang yang tengah sakit parah.”
“Bilang aja kalau kamu sebenarnya naksir sama si botol mizone, iya, kan?”
Aku tercekat, memikirkan kata-kata Rini barusan. Apa mungkin sebenarnya aku menyukai Pengelana? Apa mungkin perasaanku ini benar-benar nyata untuk Pengelana? Oh Tuhan, kenapa jadi serumit ini.
“Entahlah, Rin. Yang jelas saat ini aku kasihan dengan keadaan dia yang tengah sakit.”
“Mheta? Maaf ya. Apa kamu yakin, jika dia masih single? Atau jangan-jangan dia sudah berkeluarga.” Bak disambar petir disiang bolong, aku mendengar pernyataan Rini barusan. “Kamu sendiri kan yang bilang, kalau dia
sedang lari dari kenyataan? Siapa tahu, dia lari dari rumah istrinya? Bisa jadi, kan?”
“Kamu kok gitu sih, Rin?” kataku lirih.
“Ah sudahlah, terserah kamu. Aku malas ngasih wejangan ke kamu. Karena semenjak kamu kenal sama botol mizone, kamu benar-benar berubah.” Rini berucap sembari meninggalkanku sendiri dikamar.
Aku melirik sekali lagi, baju dinas yang sudah bolong akibat dari kecerobohanku. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan seorang Pengelana, bukan?
*****
Jam tiga dini hari, aku segera berjingkat dari atas kasurku. Menuju kekamar mandi untuks egera mengambil air wudhu. Aku ingat, aku harus berdoa untuk Pengelana. Akupun teringat, jika dia pernah bilang padaku kalau
sebenarnya dia sedang merantau. Tapi tak pernah kutanyakan lagi, dia tengah merantau kemana. Tapi bukan itu yang jadi masalah. Kira-kira siapa yang menunggui dia saat ini? apa keluarganya datang?
Aku ingat sekarang, di surat hasil lap yang dia tunjukan kemarin tertera nama salah satu nama perusahaan besar di Indonesia sebagai penanggungjawab biaya rumah sakit. Aku ikut lega. Jadi dia bekerja disana? Benarkah? Artinya bisa saja saata kami bertemu itu, bukan benar-benar hari pertama Pengelana melarikan diri. Entahlah. Aku tidak mempermasalahkakn itu. Yang penting besok operasinya lancar.
****
“Jadi karena si botol mizone sakit, kamu sampe nggak dinas?” Rini masuk kamar dan melotot ke arahku. Seolah Ibu yang siap mengomeli anaknya.
“Daripada aku nggak konsentrasi…”
Rini duduk didepanku. Meneliti wajahku. Aku sebenarnya tidak suka dilihat seperti itu.
“Jadi benar? Kamu menyukainya?”
“Kenapa bertanya begitu?”
“Kamu jatuh cinta padanya?”
Kamu pikir semudah itu apa jatuh cinta?”
“Caramu mengkhawatirkannya ini sudah berlebihan, Mhet. Dia itu siapa sih sampai-sampai kamu nggak dinas? Lagi pula kamu mau apa di kost? Mau kesana nungguin dia? Ingat kataku semalam Mhet. Belum tentu dia masih single? Dan apa kamu tahu dia sekarang di wilayah mana?”
Aku menelan ludah. Tenggorokanku sakit. “tolong jangan menghakimiku, Rin. Kamu nggak paham.”
“Aku hanya mengingatkanmu, kamu sudah berlebihan, Ayuandira Larasati.”
“Rini,” suaraku purau. “Dia itu temanku, sama seperti kamu. Kalau kamu yang sakit aku juga akan mengkhawatirkanmu.”
“Tapi aku nyata, Mhet?”
Mataku panas, “kamu pikir Pengelana nggak nyata?”
Aku menatap, Rini. “Nggak perlu jatuh cinta dulu pada seseorang, untuk khawatir dan berdooa untuknya, kan? Kamu tahu nggak, berkomunikasi dengannya itu membuat hal remeh-temeh pun menjadi berharga. Aku seperti
menemukan sisi diriku yang lain? Wajar kan kalau aku megkhawatirkannya?” Mataku berkaca-kaca. Aku merasa pandanganku kabur. Aku kecewa dengan sikap Rini.
“Maaf, Mheta..”suara Rini berubah lunak. “semoga lancar dan temanmu segera sembuh…” Rini menepuk pundakku.
Aku menutup pintu kamar setelah Rini keluar. Jam sembilan kurang dua puluh menit. Apakah Pengelana sudah bersiap?
Aku merasa gugup. Jadi akupun segera membaca sholawat dan istigfar sebanyak-banyaknya. Apa saja yang bisa ku ucapkan. Aku berjalan mondar-mandir tidak tenang. Akupun berjingkat kekamar mandi dan berwudhu, lalu
menggelar sajadah.
“Jam sepulu.”
Perutku terasa mulas saking khawatirnya. Aku berkali-kali minum air putih.
“Jam sebelas.”
Aku merasa mual, tanganku berkeringat. Kalau sesuai jadwal harusnya dia tengah dioperasi saat ini.
Azan dzuhur.
Aku segera menunaikan sholat. Saat itu aku berusaha pasrah. Allah pasti akan memberikan jalan yang terbaik. Akupun segera melipat mukena dengan perasaan lebih tenang. Aku rela tidak dikabari segera, asal dia kembali bangun dalam keadaan baik-baik saja dan sehat lagi.
Kuhirup udara panjang dan mengembuskan pelan-pelan. Kemudian aku meraih ponsel. Allahu Akbar!
Pengelana mengirimkan fotonya dalam balutan baju rumah sakit. Kepala dan wajahnya penuh selang.
“Makasih doanya.”
Rasanya seperti ada batu besar diangkat dari dadaku. “Terimakasih Ya Allah.” Belum pernah aku merasakan kelegaan seperti ini. aku ingin mengetik banyak kata-kata pada Pengelana, tapi aku tahu, dia harus istirahat.
“Alhamdulillah, semoga segera pulih.” Akhirnya aku mengetik kata itu dan segera mengirimkannya.
Sore hari, Pengelana mengirim pesan lagi.
“Hey, terimakasih atas doanya…”
“Sama-sama, semoga segera sembuh, ya?”
Paginya, aku masih mengkhawatirkan Pengelana. Karena aku tahu, dua puluh empat jam pertama pasca operasi adalah saat yang penting. Jadi, aku mengirim pesan padanya.
“Hei, gimana, terasa baikan? Ada keluhan?”
Apakaha pertanyaanku berlebihan? Aku rasa tidak, karena dalam dunia medis, itu adalah hal yang lumrah kita utarakan kepada para pasien. Tapi… Pengelanakan bukan pasienku? Bahkan dia tidak tahu akan profesiku sebenarnya.
Pengelana membalas pesanku satu jam kemudian. Hanya dengan emoticon tersenyum. Baiklah, dia butuh istirahat. Tapi balasan itu menandakan kalau setidaknya dia masih bisa mengetik.
****
Sore sewaktu aku pulang dari rumah sakit, Pengelana kembali mengirim pesan.
“Hai, M..”
“Gimana, udah baikan?”
“Udah mendingan… tinggal nunggu pemulihan.”
“Alhamdulillah… bisa makan?”
“Bisa, tapi makanan rumah sakit nggak enak, rasanya hambar. Aku pengen makan yang gurih-gurih.”
“Hei… mana bisa pasca operasi makan sesuka hatimu. Apalagi kamu habis operasi sinosal, ngarang-ngarang saja kamu.”
“Emang kamu tahu? bahanya penyakit itu?”
“Taulah, aku kan…”
“Aku kan apa? Dokter maksud kamu? Hahahaha… dokter novel iya?” katanya.
Aku tersenyum sembari membalas, “iya, aku kan seorang penulis.”
Perihal makanan rumah sakit yang dirasa kurang cocok dilidhnya, Pengelana masih membahasnya hingga sarapan pagi. Aku mengiriminya sebuah foto secangkir kopi plus dengan sebungkus kwaci. Dia membalas foto mangkuk kosong dengan kulit telur rebus dan disampingnya terlihat dua tangkup roti selai yang masih utuh.
“Enakan nasi padang.”
Aku tertawa, “kamu bisa aja.”
“Pagi nasi padang, siang gado-gado, malamnya Indomie.”
Aku tertawa lagi, hingga Rini yang melihatku geleng-geleng.
“Gimana udah baikan? Masih sakitkah rasanya?”
“Kamu sudah seperti dokter saja , M. disini sudah dibawelin dokter. Masa kamu juga mau bawilin saya.”
Aku tersipu. “anggap saja saya dokter.”
“Ah tidak mau, saya tidak suka dokter.”
Deg, hatiku berdegub. “kenapa? Profresi itu kan mulia? Bisa menolong banyak nyawa?”
“Kata siapa? Kebanyakan dokter sekarang hanya memandang pasien miskin sebelah mata. Bahkan tidak sedikit dari para pasien harus gigit jari akibata tidak punya biaya, saya tidak suka profesi itu. Semoga saya tidak bertemu dengan orang yang berprofesi itu.” Balasnya disertai emoticon tertawa,
“Hei, tidak semua dokter seperti itu, itu hanya sebagian oknum.”
“Oh, ya. Darimana kamu tahu? emang kamu dokter?”
Aku tercekat, dan memutuskan untuk tidak membalas perihal
profesi, “gimana kamu benar-benar sudah baiakan?”
“Udah, dan sekarang boleh pulang.”
“M. Saya boleh tanya sesuatu?”
“Tanya apa?”
“Jawab dengan jujur.”
...................................., hingga petikan-perikan lagu.
itu ☝️☝️ petikan-perikan
artinya apa ya Thor 🙏🙏