NovelToon NovelToon
Ketika Cinta Ditentang Takdir

Ketika Cinta Ditentang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Persahabatan / Angst / Romansa / Roh Supernatural / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Bayu, seorang penyanyi kafe, menemukan cinta sejatinya pada Larasati. Namun, orang tua Laras menolaknya karena statusnya yang sederhana.

Saat berjuang membuktikan diri, Bayu tertabrak mobil di depan Laras dan koma. Jiwanya yang terlepas hanya bisa menyaksikan Laras yang setia menunggunya, sementara hidup terus berjalan tanpa dirinya.

Ketika Bayu sadar dari koma, dunia yang ia tinggalkan tak lagi sama. Yang pertama ia lihat bukanlah senyum bahagia Laras, melainkan pemandangan yang menghantam dadanya—Laras duduk di pelaminan, tetapi bukan dengannya.

Dan yang lebih menyakitkan, bukan hanya kenyataan bahwa Laras telah menikah dengan pria lain, tetapi juga karena pernikahan itu terpaksa demi melunasi hutang keluarga. Laras terjebak dalam ikatan tanpa cinta dan dikhianati suaminya.

Kini, Bayu harus memilih—merebut kembali cintanya atau menyerah pada takdir yang terus memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Beban yang Tak Terucap

Rumah Sakit, Malam Hari

Boni menatap lembaran tagihan di tangannya dengan rahang mengatup. Angka di sana seperti menertawakan keputusasaannya. Sisa uang dari penjualan cincin sudah benar-benar habis. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.

Di depannya, petugas administrasi rumah sakit masih menunggu. “Pak, ini pembayaran harus segera dilunasi.”

Boni menghela napas berat. “Beri saya waktu beberapa hari.”

Petugas itu hanya mengangguk singkat, dan Boni pun melangkah pergi, kepalanya terasa berat. Di mana lagi ia bisa mencari uang? Mau pinjam? Dari siapa? Utang di warung dekat rumah saja belum lunas.

Dengan langkah lelah, ia masuk ke ruang rawat Bayu. Pria itu masih terbaring dengan alat-alat medis terpasang di tubuhnya, tak bergerak sedikit pun. Hanya bunyi mesin yang memastikan bahwa sahabatnya masih hidup.

Boni menarik kursi ke samping ranjang dan duduk. Ia menatap wajah Bayu yang pucat, lalu meraih tangan pria itu dan menggenggamnya erat.

“Bay, lo udah tidur berapa lama, sih? Gue udah jual cincin lo, tau. Sekarang duitnya udah abis, tapi lo belum juga sadar.” Suara Boni terdengar serak, emosinya tertahan di dada.

Bayu mendengar semuanya. Suara sahabatnya, yang biasanya penuh semangat, kini terdengar lelah dan putus asa.

Jika saja ia bisa menghela napas, mungkin dadanya sudah sesak. Cincin itu... sesuatu yang berharga baginya, sesuatu yang tidak ingin ia lepaskan. Tapi kini, Boni sudah mengorbankannya. Dan ia? Ia masih terjebak dalam kegelapan, tak bisa melakukan apa pun.

Boni tertawa hambar. “Lo nyuruh gue sabar? Enak aja. Lo tidur nyenyak di sini, sementara gue pusing mikirin duit buat lo.” Ia menghela napas berat. “Lo mau gue jual apalagi, hah?”

Ada kegetiran dalam suaranya, kemarahan yang menyamar sebagai candaan.

Bayu ingin berteriak, ingin mengatakan bahwa ini bukan yang ia inginkan. Ia ingin bangun, ingin menghentikan semua ini. Ia ingin meyakinkan Boni bahwa ia akan baik-baik saja.

Tapi tidak ada suara yang keluar. Tidak ada gerakan.

Hanya ada keputusasaan yang semakin menumpuk dalam dirinya.

Lalu, ia merasakan sesuatu.

Hangat.

Genggaman tangan Boni di tangannya. Erat.

"Boni... lo masih di sini," batinnya lirih.

Mata Boni memerah. Suaranya bergetar. “Gue nggak punya siapa-siapa selain lo, Bay. Jadi, tolong… sadar, dong. Jangan nyusahin gue terus.”

Kata-kata itu menusuk sesuatu dalam diri Bayu.

"Lo nggak sendiri, Bon. Lo punya gue!"

Tapi tubuhnya tetap diam.

Namun di dalam kegelapan itu, tekadnya mulai terbentuk. Ia tidak bisa membiarkan sahabatnya bertarung sendirian.

Ia harus bangun. Ia harus sadar.

Di depan pintu ruang rawat Bayu, tangan Laras mengepal erat. Entah sejak kapan ia berdiri di sana, hanya saja suara Boni yang terdengar jelas dari dalam membuatnya terpaku.

Jual cincin? Cincin Bayu?

Dadanya mencengkeram rasa sakit yang tak terjelaskan. Pandangannya terarah pada Bayu yang masih terbaring tanpa pergerakan, lalu beralih pada Boni yang kini menunduk dalam, bahunya bergetar pelan.

Laras menutup mulutnya, menahan sesak yang merayap di tenggorokannya. Ia tak pernah tahu… bahwa semua ini seberat itu untuk Boni.

Kenapa dia nggak bilang apa-apa? Kenapa harus menanggung semua ini sendirian?

Boni adalah sahabat Bayu, tapi dia bukan satu-satunya orang yang peduli pada pria itu. "Aku juga peduli. Aku juga ingin melakukan sesuatu." Tapi sampai saat ini, ia belum melakukan apa pun.

Suara Boni kembali terdengar, menggema dalam diam yang mencekik.

"Gue nggak peduli kalau lo harus maki-maki gue nanti. Gue nggak peduli lo bakal marah karena gue jual cincin itu. Yang gue peduliin cuma satu, Bay… Lo sadar. Karena kalau lo tetap kayak gini, semua ini sia-sia."

Di alam bawah sadarnya, Bayu ingin berteriak, "Mana mungkin gue ngebiarin perjuangan lo sia-sia? Gue pengen sadar, Bon. Gue nggak mau lo sendirian."

Sia-sia. Kata itu menampar Laras lebih keras daripada yang ia duga.

Tangan Laras gemetar saat ia melangkah mundur. Ada dorongan untuk masuk, untuk mengatakan sesuatu pada Boni, untuk menenangkan pria itu yang terdengar begitu putus asa.

Tapi ia tahu, kata-kata tidak akan mengubah keadaan.

Yang mereka butuhkan sekarang bukan sekadar ucapan, tapi tindakan.

Dengan napas panjang, Laras membalikkan badan dan berjalan pergi. Langkahnya mantap meski hatinya masih berantakan.

"Aku harus melakukan sesuatu."

Entah itu mencari pinjaman, mencari pekerjaan tambahan, atau bahkan meminta bantuan seseorang… "Aku nggak bisa terus begini. Aku nggak bisa membiarkan semuanya hanya bertumpu pada Boni seorang."

Ia tidak tahu harus mulai dari mana.

Tapi satu hal yang pasti: Ia tidak akan tinggal diam.

***

Boni baru saja tiba di rumah sakit setelah seharian mengojek mengumpulkan rupiah. Begitu masuk ke ruang rawat, ia langsung menjatuhkan diri ke kursi di sebelah ranjang Bayu. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya saling bertaut, seolah mencoba menahan semua beban yang terus menghimpitnya.

Matanya terasa berat, tubuhnya dipenuhi kelelahan—bukan hanya fisik, tetapi juga mental. Napasnya terdengar berat, seakan setiap detik yang berlalu menambah beban di pundaknya. Semakin lama, semakin menekan.

Suara langkah kaki mendekat. Boni mengangkat kepalanya dan melihat Laras berdiri di depan pintu. Wajah gadis itu terlihat serius, tapi ada keteguhan dalam sorot matanya.

Tanpa banyak bicara, Laras merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop tebal. Ia meletakkannya di meja kecil di samping tempat tidur Bayu.

Boni mengernyit, menatap amplop itu seolah tak percaya. "Apa ini?"

Laras menarik napas dalam, berusaha menenangkan hatinya yang masih bergejolak. "Tabunganku," jawabnya pelan. "Mungkin nggak cukup buat bayar semua tagihannya, tapi setidaknya bisa menutupi setengahnya."

Boni menatapnya dengan ekspresi sulit diartikan. Ada keterkejutan, ada rasa terharu, tapi juga ada sesuatu yang lain—rasa bersalah.

"Lo nggak harus ngelakuin ini, Ras," kata Boni dengan suara berat. "Ini tanggung jawab gue. Gue yang—"

"Ini juga tanggung jawabku," potong Laras tegas. "Bayu bukan cuma sahabatmu, Boni. Dia juga orang yang aku peduliin."

Boni terdiam.

Sementara itu, di dunia tanpa bentuk dan warna, Bayu mendengar semuanya. Setiap kata yang diucapkan Laras terasa begitu jelas di telinganya. Ia ingin membuka mata, ingin mengatakan sesuatu, ingin menggenggam tangan Laras dan meminta gadis itu untuk tidak mengorbankan terlalu banyak.

Tapi tubuhnya tetap diam.

"Laras… kamu nggak harus ngelakuin ini. Aku nggak mau kamu kesulitan gara-gara aku."

Tapi Laras tak mendengar suara hatinya.

Gadis itu menatap Boni dengan mata yang bersinar oleh tekad. "Aku akan cari cara buat menutupi sisanya," lanjutnya. "Aku bisa ambil lemburan, cari kerja sampingan, atau apa pun yang bisa menghasilkan uang."

Boni mengembuskan napas panjang, menatap amplop itu dengan campuran perasaan yang sulit diungkapkan. "Laras…"

"Jangan menolak, Boni," potong Laras sebelum pria itu sempat berkata lebih jauh. "Aku nggak mau cuma diam dan melihat kamu menanggung semuanya sendiri."

Keheningan menyelimuti ruangan.

Boni akhirnya mengambil amplop itu, meski ada rasa berat di hatinya. "Gue bakal ganti, Ras," katanya pelan. "Begitu Bayu sadar, gue bakal balikin semuanya."

Laras menggeleng. "Yang penting sekarang, dia bisa terus dirawat."

Bayu ingin berteriak, ingin mengatakan kalau ia baik-baik saja, ingin menghentikan mereka sebelum mereka mengorbankan lebih banyak lagi untuk dirinya. Tapi kegelapan itu tetap menahannya, membuatnya hanya bisa mendengar tanpa bisa melakukan apa-apa.

Di luar kesadarannya, sesuatu terasa menghangat di dadanya.

Seseorang peduli.

Seseorang berjuang untuknya.

Dan itu membuatnya ingin kembali lebih dari sebelumnya.

...🔸🔸🔸...

...Saat di titik terendah, mereka yang tetap tinggal saat yang lain pergi adalah orang yang paling peduli....

...Mungkin tak banyak yang tetap di sisi saat kita terpuruk karena reality, tapi mereka yang memilih tetap di sisi adalah yang harus kita apresiasi....

...🍁💦🍁...

.

To be continued

1
abimasta
laras terpaksa bayu,bapaknya laras itu egois dan gila harta
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔😔/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
Dek Sri
sabar ya laras
Dek Sri
lanjut
abimasta
semoga edward melepaskan laras
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
apapun itu. selicik apapun rencana Sherin.. semoga itu bisa merubah niat Edward menikahi laras. bayu temukan laras secepatnya ya
abimasta
selamatka laras dar keegoisan ortunya bayyuu dan habisi edward yg sudah menabrakmu
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
selamatkan laras, Bayu
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
yes bayu kembali... 😭😭😭😭😭... selamatkan juga laras dari kejahatan Edward & Sherin, bayu...
syisya
ayo bay muncullah
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
apakah Edward memang se maha Kuasa itu? tak adakah hukum untuknya? bisa semena-mena begitu?
Ranasartika Lacony
lsg viralin aja Bon, si Edwin
Ranasartika Lacony
lsg viralin aja Bon, si Beni
abimasta
laras lagi yang jadi korban
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
apa yg laras khawatirkan pun terjadi. lekaslah sembuh bayuuu... boni & laras butuh hadirmuuuu
Dek Sri
lanjut
syisya
belum tau aja tu darma&wati kalau calon mantu yg selama ini kalian tidak restui itu adalah pewaris tunggal, bos besar..hidup laras nantinya akan bahagia tanpa dia tau perjuangan hubungan mereka selama ini tidak sia" bahwa bayu sebenarnya adalah anak orang kaya..sabar ya bon sebentar lagi semoga semua perbuatan baikmu akan dibalas oleh bayu karna dia tidak akan benar" meninggalkanmu yg sudah dianggap seperti saudara
Vincen Party
tenanglah....Bayu psti akan DTG genti membantumu
@💤ιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
bagus laras. ayo bayu, cari solusi. semangat!
Vincen Party
jujur.....maaf TPI q GK suka cerita Edwar terlalu byk Thor.....tlng fokus ke bayu dan boni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!