Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.
***
Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.
Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.
Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
“Aku adalah mantan asisten dokter. Pemeriksaan seperti ini sudah sering kulakukan. Kau hanya perlu bersabar,” ucap Forty dengan suara datar, seolah yang ada di hadapannya bukan manusia, melainkan objek.
“Brengsek! Jangan sentuh aku!” jerit Chimmy histeris, tubuhnya meronta dengan putus asa.
Beberapa anggota menahan tubuhnya dengan kuat. Chimmy menjerit dan menangis ketakutan ketika perlakuan kasar itu membuatnya kehilangan sisa harga diri.
Tangisannya pecah, menggema di halaman mansion yang sunyi, membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengar berdiri.
“Lepaskan dia!” Jacky akhirnya bangkit, suaranya meninggi penuh amarah.
“Bibi, bagaimanapun dia seorang wanita! Dipermalukan di depan banyak orang—bukankah itu sama saja menghancurkannya?”
Colly menoleh tajam, sorot matanya dingin dan penuh kebencian.
“Jacky Yin, wanita selingkuhan seperti dia memang pantas dipermalukan. Apakah keluarga kami harus memberi penghormatan pada perempuan yang merusak rumah tangga orang lain?”
“Colly, kau juga seorang gadis,” ujar Jacky menahan emosi.
“Kalian hampir sebaya. Seharusnya kau bisa berpikir lebih jernih.”
Colly tertawa sinis.
“Aku berbeda dengan perempuan murahan ini. Jangan samakan aku dengannya. Aku tidak akan sebegitu tidak tahu malu sampai tidur dengan suami orang. Kalau kau merasa iba, menikah saja dengannya.”
Xiao Han bangkit dari kursinya. Langkahnya mendekat perlahan, auranya menekan.
“Jacky Yin, kau hanya orang luar, tapi terlalu sibuk ikut campur,” katanya dingin.
“Apakah dia pacarmu? Istrimu? Atau seseorang yang ingin kau lindungi?”
“Aku tidak mengenalnya,” jawab Jacky cepat, namun suaranya tertahan.
“Hanya berpura-pura suci di depan kami,” potong Xiao Han tajam.
Jacky menatapnya dengan rahang mengeras.
“Tuan Shen, kenapa Anda menuduhku seperti itu? Apakah kita saling kenal?”
Suasana semakin tegang ketika Janetta akhirnya angkat bicara, suaranya dingin dan tanpa emosi.
“Forty, lanjutkan. Siapa pun yang menghalangi—singkirkan.”
Forty memasukan tangannya ke dalam kewanitaan Chimmy.
Tangisan Chimmy semakin keras. Tubuhnya bergetar hebat, rasa sakit dan ketakutan membuatnya hampir kehilangan kesadaran. Jeritannya memecah malam, membuat kedua orang tua angkatnya menangis ketakutan di tempat mereka ditahan.
Jacky tak tahan lagi dan melangkah maju.
Namun dalam sekejap, Xiao Han sudah berdiri di depannya, senjata terarah tepat ke kepala Jacky.
“Maju selangkah lagi,” ucap Xiao Han dengan nada rendah namun mematikan,
“kepalamu akan hancur.”
Jacky terdiam. Tangannya mengepal, tubuhnya gemetar menahan amarah dan keputusasaan.
“Aaaah!” jeritan Chimmy kembali terdengar, parau dan penuh penderitaan.
"Kakak, tolong aku!"
Di saat itulah suara Holdes terdengar, tenang namun menusuk seperti pisau.
“Jacky Yin,” katanya sambil menatap pria itu dalam-dalam,
“menyaksikan adik kandungmu disiksa dan dipermalukan… bagaimana rasanya?”
Kalimat itu jatuh seperti bom.
Wajah Jacky seketika pucat, matanya membelalak, napasnya tercekat.
Seluruh halaman mendadak sunyi—
seolah dunia berhenti berputar pada detik rahasia itu terungkap.
“Aku tidak mengerti maksudmu,” jawab Jacky, suaranya terdengar datar. Tatapannya berusaha tetap tenang, meski sorot matanya tak bisa menyembunyikan kegelisahan yang mulai merayap.
Colly melangkah maju satu langkah.
“Jacky Yin, kau benar-benar bodoh,” ucapnya dingin.
“Sejak awal kau mendekatiku hanya untuk menghancurkan keluargaku. Kau menyuap orang untuk menyerangku, mengatur semuanya dari balik layar. Apa kau pikir semua rencanamu tidak kami ketahui?”
Jacky menatap Colly, bibirnya terkatup rapat. Tidak ada jawaban.
“Asal kau tahu,” lanjut Xiao Han dengan suara rendah namun menusuk,
“malam ini memang sengaja kami siapkan… untukmu.”
“Bawa masuk orangnya,” perintah Holdes singkat.
Beberapa detik kemudian, Bowie muncul dari balik bayangan, menyeret seorang pria paruh baya ke tengah halaman. Wajah pria itu penuh lebam, darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Tubuhnya gemetar, langkahnya tertatih.
Begitu Jacky melihat pria itu, wajahnya langsung berubah drastis. Matanya membelalak, napasnya tercekat.
“Apakah kau mengenalnya?” tanya Holdes tenang, namun tatapannya menusuk tepat ke arah Jacky.
Pria paruh baya itu meronta, matanya merah dan penuh amarah saat melihat Chimmy tergeletak tak berdaya.
“Kalian kejam!” teriaknya serak. “Lepaskan dia! Lepaskan putriku!”
Janetta tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tak mengandung kehangatan.
“Kalian sekeluarga akhirnya berkumpul,” katanya pelan.
“Semua ini berkat jasa kami. Jacky, aktingmu memang bagus—tapi kau terlalu ceroboh dan terlalu percaya diri.”
Jacky mengepalkan tangannya di bawah meja. Tubuhnya kaku, seolah seluruh tenaga tersedot keluar.
“Kau lupa siapa kami?” lanjut Janetta.
“Kau bergabung ke Jin Yang hanya untuk satu tujuan—Colly,” ucap Xiao Han dingin.
“Kau mendekatinya berulang kali, pura-pura tulus, pura-pura melindungi.”
Xiao Han tersenyum sinis.
“Tapi ada satu hal yang kau lewatkan. Adikku sangat berhati-hati. Semakin kau mendekatinya, semakin dia sadar ada yang salah. Naluri waspadanya jauh lebih tajam dari yang kau kira.”
Jacky menelan ludah. Matanya bergerak gelisah.
“Sejak kemunculanmu,” lanjut Xiao Han,
“kami mulai menyelidikimu. Karena wajahmu mengingatkanku pada seseorang—Long An.”
Pria paruh baya itu terdiam seketika.
“Aku mendapat informasi bahwa putra Long An kembali ke Tiongkok,” sambung Xiao Han.
“Karena itu aku memeriksa data dari berbagai universitas. Dan pada akhirnya, kau menjadi satu-satunya yang paling mencurigakan.”
Xiao Han menatap Jacky lurus-lurus.
“Nama aslimu bukan Jacky Yin.”
Suasana hening mencekam.
“Namamu adalah Long Shan,” ucap Xiao Han tegas.
“Dan wanita itu—” pandangannya beralih pada Chimmy yang menangis ketakutan,
“—adalah Long Yi."
Wajah Jacky runtuh seketika.
Pria paruh baya itu akhirnya tak mampu lagi menahan amarahnya.
“Lepaskan putriku!” bentaknya dengan suara parau sambil meronta.
“Holdes! Kau telah menidurinya selama ini! Kau masih tega memperlakukannya seperti ini? Apakah kau masih menyebut dirimu pria?!”
Holdes bangkit dari kursinya dengan gerakan tenang namun penuh tekanan. Langkahnya mantap saat ia menghampiri Long An.
“Kenapa?” ulang Holdes dengan nada mengejek, bibirnya melengkung tipis.
“Berapa nilai putrimu yang harus aku bayar, apakah dia layak dinilai dengan harga tinggi."
“Kau mengirim putramu mendekati putriku dan merencanakan pembunuhan terhadap istriku,” lanjut Holdes perlahan, setiap kata diucapkan dengan jelas.
“Lalu kau kirim putrimu mendekatiku. Semua bidak sudah kau gerakkan.”
Holdes terkekeh pelan, tawa tanpa emosi.
“Sayangnya, semua rencana kalian sudah kami ketahui sejak awal.”
Ia menoleh sekilas ke arah Janetta dan kedua anaknya, lalu kembali menatap Long An.
“Kami sekeluarga hanya menemani kalian bermain. Dari awal sampai akhir.”
Wajah Long An berubah drastis. Amarah bercampur kepanikan tergambar jelas di wajahnya.
“Itu tidak mungkin!” bentaknya.
“Kalau begitu, bagaimana dengan putriku? Apa kau hanya ingin mempermainkannya tanpa tanggung jawab?”
Holdes menatapnya dengan ekspresi datar, seolah pertanyaan itu bahkan tidak layak dijawab dengan emosi.
“Aku dan putrimu memang sering keluar-masuk hotel,” jawab Holdes tenang, nadanya hampir santai.
“Cukup menyenangkan mempermainkan kalian semua.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih rendah namun jauh lebih menusuk.
“Termasuk putrimu. Dia begitu menikmati permainan di atas ranjang."