Dahulu kala, seorang Kaisar Kuno yang agung berhasil menyatukan empat kekaisaran dan menaklukkan dewa penguasa demi melindungi keseimbangan dunia. Namun, di puncak kejayaannya, ia dikhianati dan ditikam dari belakang oleh murid kesayangannya sendiri yang bekerja sama dengan sekte iblis, hingga raganya jatuh ke dalam lembah kegelapan. Sepuluh ribu tahun berlalu, sang Kaisar bereinkarnasi menjadi Shang Zhi, seorang bocah miskin yang hidup menderita di jalanan. Tragedi kembali menghampirinya saat ibunya tewas, memicu takdir baru ketika ia diselamatkan oleh seorang master misterius.
Perjalanan Shang Zhi menuju Perguruan Tian Long membawanya bertemu dengan Yun Xi, seorang gadis periang yang perlahan menumbuhkan benih romansa di tengah kerasnya pengembaraan. Namun, bahaya selalu mengintai saat kelompok perompak menyerang dan memaksa segel misterius dalam tubuh Shang Zhi bangkit, mengubahnya menjadi sosok buas yang tak kenal ampun demi melindungi orang yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia perpustakaan tua
Shang Zhi dan Yuan Han pun bergegas kembali ke kamar mereka untuk ber istirahat,Malam itu berita tentang murid baru dari Paviliun Kayu Layu yang mempermalukan Duan Feng menyebar ke seluruh wilayah luar sekte. Nama Shang Zhi bukan lagi sekadar nama pengemis, melainkan sebuah misteri yang mulai ditakuti.
Kemenangan Shang Zhi atas Duan Feng di Hutan Bambu tidak membuatnya jemawa. Sebaliknya, ia menyadari bahwa tubuh fananya saat ini adalah wadah yang rapuh. Jika ia terus dipaksa menggunakan energi dari Mutiara Kehidupan tanpa fondasi kultivasi yang selaras dengan hukum dunia saat ini, pembuluh darahnya bisa pecah.
"Aku butuh teknik penguatan dasar yang tidak memicu kecurigaan para Tetua," gumam Shang Zhi.
pagi harinya, "Zhi!, aku dapat merasakan ada sebuah peperangan di dalam perut ku" Yuan Han mengeluh sambil memegangi perutnya yang bulat,
"kurasa kita harus bertanya pada seseorang, yang menghabiskan poin kontribusi kita kemarin untuk makanan lezat",kata Shang Zhi Dengan nada menyindir,
"ukh..baiklah iya aku mengakui nya seharusnya aku menghemat pengeluaran kita" Yuan Han berkata dengan wajah memelas.
"Baiklah, sepertinya kita harus mengumpulkan beberapa koin kontribusi untuk menjaga mu agar tetap hidup" ,perlahan Shang Zhi beranjak dari tempat tidur nya dan langsung menuju keluar,
"haha!.. zhi- eh tidak, kakak..,kau yang terbaik!" Yuan Han bergegas mengikuti Shang Zhi dari belakang.
Sesampainya di hutan bambu kemarin Shang Zhi dapat merasakan perasaan yang aneh ia merasakan bahwa hari ini terasa lebih sunyi dari biasanya,hanya ada beberapa anggota sekte yang sedang mengumpulkan rebung, lalu Shang Zhi bertanya kepada seseorang yang sedari tadi belagat aneh seperti menghindari Shang Zhi,
"hei apa yang kau lakukan, mengapa kau sepertinya menghindari ku dan mengapa hari ini sangat sedikit orang yang berkerja".
murid itu tak berani menatap Shang Zhi karna ketakutan, Yuan Han yang melihat itu pun malah menakuti nya,
"hei! jawab pertanyaan nya! atau kau akan-"
geduk!
belum selesai Yuan Han berbicara tinju Shang Zhi sudah mendarat di kepala nya, "diam lah,dasar tukang usil" ,
"t-tapi kan aku hanya ingin membantu" kata Yuan Han sambil memegangi kepala nya yang kesakitan.
Shang Zhi dengan lembut berkata, "baiklah tak ada yang akan menyakiti mu di sini jawab lah pertanyaan ku tadi" ,
karna merasa Shang Zhi tak akan menyakiti nya, murid itu berkata gugup, " m-mereka semua takut bekerja, karna mereka di ancam oleh kelompok Duan feng agar tak bekerja hari ini ",
"lalu mengapa kau bekerja,kau tak takut" , Yuan Han memotong perkataannya,
"aku takut, tapi jika aku tak bekerja,aku dan adik ku akan mati kelaparan di sini.", seketika Yuan Han memeluk erat tubuh murid itu sambil menangis,
"heee..hiks..aku mengerti perasaan mu teman!, jika tidak ada makanan, maka dunia pun akan runtuh" , setelah beberapa saat berbincang Shang Zhi meyakinkan murid itu agar tidak takut pada ancaman itu karna sekarang tak akan ada lagi yang menggangu mereka.
Singkat cerita setelah melakukan tugas mereka hari itu menukarkan rebung energi dengan poin kontribusi, Shang Zhi melangkah menuju Paviliun Kitab Suci. Bangunan megah berlantai lima itu adalah jantung pengetahuan Sekte Tian Long. Murid luar hanya diizinkan mengakses lantai pertama, tempat teknik-teknik dasar dan catatan sejarah disimpan.
Di pintu masuk, seorang penjaga tua dengan mata terpejam duduk di balik meja kayu hitam. Shang Zhi merasakan tekanan spiritual yang tenang namun sedalam samudra dari pria tua itu.
"Murid luar Shang Zhi, ingin mencari teknik dasar," ucap Shang Zhi sambil membungkuk hormat.
Penjaga itu membuka satu matanya, menatap Shang Zhi sejenak sebelum mendengus. "Poin kontribusimu cukup untuk satu jam. Masuklah. Jangan menyentuh rak di sudut kiri belakang, itu hanya tumpukan sampah sejarah yang tidak berguna."
Shang Zhi mengangguk dan masuk. Sementara murid-murid lain berkerumun di rak teknik menyerang seperti Telapak Api atau Pedang Angin, Shang Zhi justru berjalan menuju sudut kiri belakang yang dilarang bukan karena ingin melanggar, tapi karena ia merasakan tarikan energi yang sangat akrab dari sana.
Di rak yang berdebu dan hampir runtuh itu, ia menemukan sebuah gulungan bambu yang talinya sudah lapuk. Judulnya hampir pudar: "Napas Alam Semesta: Meditasi Sembilan Aliran".
Bagi murid lain, teknik ini dianggap "sampah" karena tidak mengajarkan cara menyerang. Teknik ini hanya fokus pada pernapasan dan penyelarasan Qi dengan alam. Bahkan, banyak murid yang mencoba teknik ini berakhir dengan kemacetan kultivasi.
Namun, mata Shang Zhi berkilat. Ini bukan teknik sampah. Ini adalah fragmen dari 'Sutra Penyatuan Langit' yang kuhancurkan sepuluh ribu tahun lalu agar tidak jatuh ke tangan para Dewa Penguasa. Siapa sangka pecahannya berakhir di sekte kecil ini?
Shang Zhi segera duduk di sudut yang gelap dan mulai membaca. Setiap baris kalimat yang bagi orang lain terasa samar, bagi Shang Zhi adalah instruksi yang sangat jelas. Ia mulai mengatur napasnya.
Satu tarikan untuk menyerap, satu embusan untuk memurnikan.
Perlahan, udara di sekitar Shang Zhi mulai berputar pelan. Debu-debu di lantai terangkat, berputar mengikuti irama pernapasannya. Ia merasakan energi spiritual di perpustakaan itu yang biasanya sulit diserap oleh murid luar mulai mengalir masuk ke dalam pori-porinya dengan lembut, menyiram tulang-tulangnya yang kering seperti hujan di padang pasir.
"Zhi! Kau di sini rupanya!" suara Yuan Han yang keras tiba-tiba memecah keheningan.
Shang Zhi segera menutup gulungan itu. Aliran energi di sekitarnya menghilang dalam sekejap.
"Ada apa, han?"
"Gawat! Yun Xi... dia sedang dalam masalah di Lapangan Utama!" Yuan Han terengah-engah. "Lu Feng mengumpulkan banyak orang. Dia bilang ingin memberi pelajaran pada siapapun yang berani merusak tatanan murid luar!"
Shang Zhi bangkit, wajahnya kembali dingin. Ia meletakkan kembali gulungan bambu itu, namun isinya sudah terpatri abadi di ingatannya. Saat ia melewati meja penjaga tua, pria itu membuka kedua matanya sepenuhnya.
"Bocah," panggil si penjaga.
Shang Zhi berhenti. "Ya, Senior?"
"Teknik yang kau baca tadi... butuh kesabaran. Jangan terburu-buru, atau kau akan terbakar."
Shang Zhi tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh arti. "Terima kasih atas sarannya, Senior. Tapi terkadang, api harus dilawan dengan api."
Penjaga tua itu tertegun menatap punggung Shang Zhi yang menjauh. "Tatapan itu... dia tidak melihat teknik itu sebagai beban, tapi sebagai teman lama. Menarik"
Langkah Shang Zhi terasa ringan namun mantap saat ia mengikuti Yuan Han menuju Lapangan Utama. Di sepanjang jalan, ia bisa merasakan sisa-sisa energi dari "Napas Alam Semesta" yang baru saja ia pelajari meresap ke dalam sumsum tulangnya. Meskipun hanya berlatih selama beberapa menit, fondasi tubuhnya yang sebelumnya rapuh kini terasa lebih padat, seolah-olah setiap sel di tubuhnya telah bangun dari tidur panjang.
...Bersambung.......