"Kau harus menikah denganku.!"
"Apa?!! Kenapa tuan? Kenapa saya harus menikah dengan tuan?."
"Karena, dengan cara inilah Kamu bisa melunasi segala kerugian yang Ayahmu perbuat."
"T-tapi kenapa harus menikah tuan? Saya bisa menjadi pelayan dirumah ini saja. Tidak usah digaji, saya akan bekerja keras."
"Cih, kau fikir aku kekurangan pelayan disini ha? Berani sekali kau menolak ucapanku."
"M-maaf tuan, saya tidak menolak ucapan tuan. Baiklah, jika itu yang tuan inginkan."
"Baik, besok kita akan menikah. Dan, Ayahmu juga akan datang."
"Apa? Tapi, kenapa begitu cepat tuan?."
"Diam! Dan jangan banyak tanya. Sekarang, pergilah ke kamarmu.!"
Haduh, penasaran g sih sama ceritanya?
Jangan lupa tinggalin jejak :')
Selamat Membaca, semoga Readers syuka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adisa yunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau sangat susah ditebak
Pukul lima lewat tiga menit, Gladis terbangun karena dering ponselnya yang berada diatas nakas. Saat, membuka mata wajah pria kejam ini lah yang dia lihat. Ia, tersenyum tipis. Pria, ini sangat tampan jika posisi tenang seperti ini.
Ia, meraih ponselnya. Dilihatnya nama yang tertera disana. Seulas, senyum mengembang dibibirnya.
Papa is calling...
"Hallo pah." jawab Gladis, ia menyandarkan kepalanya dikepala kasur.
"Hallo nak, bagaimana keadaanmu? Apa, kau baik - baik saja? Apa, suamimu menyakitimu." tanya Papa, dengan nada khawatir.
"Tidak pah, aku sangat baik - baik saja. Suamiku memperlakukan ku dengan baik. Papa, tidak perlu khawatir. Bagaimana keadaan Papa? Apa Papa baik - baik saja kan? Jangan, terlalu memikirkan Gladis. Papa, Jaga kesehatan Papa saja." celoteh Gladis, ia sangat cerewet jika mengenai masalah kesehatan Ayahnya. Karena apa? Karena, Ayahnya lah satu - satu hartanya. Ayahnya adalah sumber kehidupan, dan cahaya penerang hidupnya.
"Syukurlah, jika Kamu baik - baik saja sayang. Papa, baik - baik saja kok. Baiklah, Kamu jaga kesehatan ya. Papa, sangat merindukanmu." sahut Papa.
"Gladis, juga sangat merindukanmu Papa. Jika, Gladis diijinkan bertemu dengan Papa. Gladis, akan kesana secepatnya pah." ucap Gladis, ia menahan tangisnya agar tidak pecah.
"Iya nak, turuti ucapan suamimu. Jika, dia mengijinkan pergilah. Tetapi, jika tidak jangan Kamu pergi ya nak. Papa, tutup dulu." kata Papa, ia memutuskan sambungannya.
"Aku, menyayangimu pah." gumam Gladis, sambil mengusap air matanya yang sempat keluar. Ia, kembali meletakkan ponselnya diatasa nakas. Lalu, berjalan masuk kedalam kamar mandi.
Kenny, terbangun karena mendengar suara dering ponsel. Ia, mengerjap - erjapkan matanya. Dilihatnya, ponsel Gladis berbunyi yang berada diatas nakas. Digapainya, lalu melihat siapa si penelpon.
Rayn is calling...
"Pasti dia kekasih Glad, aku akan memberinya pelajaran." gumam Kenny, ia mengangkat telepon tersebut.
"Hallo sayang, apa kita bisa bertemu nanti malam? Aku, sangat merindukanmu." kata Rayn, ia langsung berbicara. Tanpa, mendengar suara dari balik telepon.
Hati Kenny, kembali panas. Ia, langsung memutuskan sambungan itu. Dan, membanting ponsel Gladis diatas kasur.
"Dasar sialan, dia masih berani memghubungi istriku." kata Kenny, emosinya sudah meledak - ledak. Ia beranjak dari kasur, dan menerobos masuk kedalam kamar mandi.
Gladis, tersentak kaget. Saat, melihat Kenny dengan sorot mata tajam.
"T-tuan, kenapa kau kemari? Jika, kau ingin mandi. Tunggu lah sampai aku selesai dulu." kata Gladis.
"Kenapa? suka - suka ku, rumah - rumahku. Apa, kau tidak suka aku melihat tubuhmu? Apa, kau hanya ingin memperlihatkan tubuhmu untuk kekasihmu itu saja?." tanya Kenny, ia melepas seluruh pakaiannya. Dan, ikut masuk kedalam bath up.
"Apa maksudmu tuan? Aku tidak mengerti. Tuan, kau mau apa?." tanya Gladis, saat Kenny merapatkan tubuhnya ke tubuh Gladis.
"Aku, ingin kau segera mengandung bayiku. Agar, kau lebih cepat pergi dari kehidupanku. Dan, kembali bersama kekasih tercintamu itu." ujar Kenny, ia memulai aksinya.
"Tuan apa maksudmu? Aku, sama sekali tidak mengerti." kata Gladis, sambil meringis kesakitan. Karena, kali ini Kenny bermain sangat kasar.
"Kau tidak mengerti, apa hanya berpura - pura bodoh saja ha? Sudahku katakan kepadamu. Jangan, pernah berhubungan dengan kekasihmu itu. Sebelum kau melahirkan bayiku, tetapi apa? Kau, masih saja berhubungan dengan nya." tutur Kenny, ia begitu marah. Entah, kenapa. Kenny, begitu marah karena Rayn menelpon Gladis.
Wajar saja bukan? Rayn, menelpon Gladis. Gladis kan kekasihnya. Tetapi, Kenny tidak mau tau. Mau, dia kekasihnya, pamannya, kakeknya, buyutnya. Jika, sudah diperintah jangan ya jangan.
"Tuan sakit, pelan - pelan saja. Ku mohon.. " pinta Gladis, sambil menahan sakit didaerah bawahnya.
"Jika kau masih berhubungan dengannya. Maka, aku tidak akan segan - segan untuk menghabisi kekasih tercintamu itu. Kau, mengerti?!!" kata Kenny, ia berlalu keluar dari kamar mandi.
"Hiks.. Hiks.. Tuan, aku tidak mengerti dengan dirimu. Terkadang kau sangat lembut, tetapi kadang kau sangat kasar. Kenapa kau begitu marah. Dengan, hubunganku bersama Rayn. Kau, memang sangat susah ditebak." gumam Gladis, ia menyudahi mandinya. Ia, kembali berjalan ngangkang.
.
.
.
Bersambung...
nunggu gladis lahiran