Menikah mungkin di inginkan bagi semua orang.
Tapi tidak dengan gadis ini, yang tiba-tiba di seret oleh seorang laki-laki tampan. di paksa menikah dengannya. karena perjanjian dari ibunya secara diam-diam menginginkan jika anaknya segera menikah, untuk menyambung hidup lebih baik.
di statusnya yang masih sekolah. dengan terpaksa ia menikah dengan tuan muda tampan dari pemilik perusahaan terkenal Morgan Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imas Gustina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telur
" Shittt.... gara-gara wanita itu Dea pergi. Padahal belum sama sekali ia merasakan hasrat yang memuncak " Devid beranjak masuk ke dalam Vila dengan bibir teru menggerutu gak jelas. Hasratnya yang belum tertuntaskan kini ia berlari mancari Salsa. Untuk meluapkan amarahnya padanya.
Ia masih terus berjalan lebih cepat menaiki anak tangga. Dengan terus berdecak kesal ia segera membuka pintu kamarnya. Seolah dirinya sudah tahu jika Salsa masih berada di sana. Meskipun itu hanya filing nya. Namun ternyata tepat juga sih dugaannya.
Salsa duduk sendiri di ranjang kamar tempat di mana Devid dan Dea melakukan sebuah olahraga tubuh. Ia terdiam tepikir dalam benaknya. Otaknya terus bertanya-tanya. Kenapa dia menikah dengan lelaki seperti itu. Bahkan jika bukan karena dia yang melunasi hutang ibuku. dia juga gak akan sudi menikah dengannya.
Brakkk... suara pintu terbuka sangat keras. Membuat Salsa terjingkat dari ranjangnya. Wajahnya mulai menegang, wanita itu tak bisa berkutik dengan wajah mulai memucat menatap Devid terlihat sangat marah. Tetapi bukan salsa jika dia tak bisa menghadapi semuanya. Ia mencoba untuk tetap tenang menenangkan pikiran dan napasnya sejenak. Untuk melawan lelaki dingin bahkan angkuh di depannya itu.
Tak memasang wajah takut salsa tersenyum sinis menatap Devid. Bagi dia jika dia mengalah terus maka semakin lama Devid akan tetus semena-mena padanya. Bahkan harga dirinya juga akan di injak-injak dengannya.
Salsa yang terdiam tiba-tiba tertawa sangat keras. Membuat Devid bingung, ia berpikir apa Dia sudah gila tertawa sendiri.
" Kenapa kamu tertawa?" Ucap Devid dengan tatapan menantang ke arah salsa.
" lihat Tuan seperti itu lucu aja, wajahnya yang terlihat sangat serius. Eh beranianya mau lawan wanita apa gak malu" Ucap salsa dengan tatapan mengejek, ia menarik bibirnya sedikit kini dengan tatapan sinisnya.
" Apa kamu bilang?" Wajah Devid semakin memerah. Ia kali Devid terlihat sangat marah.
" Kamu cuma istri pura-puraku berani menetangku. Dan ingat gak perlu lagi bersandiwara jika ada pacarku. Apa kamu tahu dia itu orang yang paling aku sayangi. Dan kamu bukan siapa-siapa bagiku. Jadi jangan pernah ikut campur dalam masalahku" Devid menegaskan pada Salsa dengan nada semakin meninggi.
Salsa hanya senyum semringai tak perdulikan ucapan Devid. Ia melangkahkan kakinya pergi melewati Devid mendorong pelan Bahunya dan beranjak pergi.
" Dasar wanita.." Tak melanjutkan ucapanya ia bergumam kesal mengepalkan tangannya. " Ahh... semua gagal total" Devid terus berdecak kesal tak hentinya. Mengaca-acak rambutnya yang memang dari tadi juga sudah berantakan.
Kali ini dia benar-benar marah pada Salsa. Terpikir di otaknya, akan membuat ia semakin tak betah tinggal di vila bersamanya. Apalagi ia harus tinggal satu bulan bersamanya. Mungkin jika selama perjanjian itu selesai maka cepat-cepat enyahlah dari hadapanku.
" tunggu" Teriak Devid berlari mengejar Salsa.
Ia tak mau kalah begitu saja dengan seorang wanita. yang merasa membuatnya semakin tertantang.
Langkah Salsa terhenti seketika, ia menoleh ke belakang melihat Devid sudah berdiri di belakangnya. Tak memasang wajah takut Salsa mengerutkan kening dengan senyum sinis semringai di wajahnya.
" Ada apa ya?" Ucap Salsa seolah tak terjadi sesuatu.
" Ada apa kamu bilang, apa kamu gak sadar dengan apa yang kamu lakukan tadi" Ucap Devid menarik tangan Salsa. Tarikan yang terlalu keras membuat tubuh salsa ke tarik dan jatuh ke lantai bersamaan dengan tubuh Devid, Ia berada di atas tubuh lelaki itu.
Mata mereka saling tertuju dalam diam, tanpa seuntai kata dari mulut mereka.
" aku bisa merasakan detak jantungmu sangat cepat. Apa kamu mulai suka denganku" Bisik Devid tepat di telinga kanan Salsa.
Sebuah pertanyaan yang membuat Salsa memutar matanya malas untuk menjawab. " benar-benar gak masuk akal aku suka denganmu, dengan tuan muda yang akuh dan tuan mesum seperti kamu" Ucap Salsa dengan santainya.
Salsa mencoba berdiri namun Devid mendekapnya sangat erat, hingga jemari tangan Wanita itu menempel pada tubuhnya yang dari tadi masih. telanjang dada. Keringat di tubuhnya seakan menempel pada tangan Salsa.
" Ihh.... keringat bekas permainanmu terlelu menjijikkan" Ucap Salsa mengibas ngibaskan tangannya dan mengusap tangannya ke baju miliknya berkali-kali. Ia gak mau kotoran butiran keringatnya menempel di tangan bersihnya.
" Jangan terlalu gerak, semakin kamu gerak maka entah apa yang akan aku perbuwat padamu jika aku tiba-tiba memulai hasrat yang belum tuntas tadi" Ucap Devid dengan tatapan menggoda kali ini.
"Eh tuan otak mesum, udah gak akan sudi tidur dengan tuan sudah cukup satu kali malam menjijikkan itu terjadi. Dan kali ini aku pastikan tak akan terjadi lagi selama perjanjian kita selesai" Ucap Salsa dengan percaya dirinya. Ia berusahan lagi berdiri, tetapi dekapan Devid semakin erat. Hingga ke dua tubuh menempel seperti perangko.
" Menurutlah" Bisik Devid membalikkan tubuh Salsa ke lantai, lelaki itu berusaha mengecup seluruh tubuh Salsa. Dengan sigap Wanita itu menendang telur milik Devid membuat ia melepaskan dekapannya salsa seketika dan meringis kesakitan.
" Telurku..." wajah Devid namoak seperti anak kecil dengan teriakan kesakitan. Devid tak sanggup berdiri, ia merasa sangat sakit bagai menjalar ke seluruh tubuhnya, karena tendangan Salsa begitu kuat.
Ia melotot seketika menatap Salsa. Dengan wajah sudah mulai memerah karena marah dan di campur dengan kesakitan yang semakin menjalar.
Salsa tersenyum kemenangan dalam hatinya. Berharap benar-benar pecah tu telur sekalian agar tak seenaknya berbuwat mesum dengan wanita, gumamnya. Tanpa rasa bersalah ia pergi mencari kamar untuk dia tidur membaringkan badannya yang sudah terasa sangat capek. Dan lebih baik kamar yang jauh dari kamar tuan mesum ini.
" Eh.. kamu wanita sialan mau kemana?" teriak Devid dengan wajah nampak masih meringis kesakitan.
" Udah nikmatin aja rasa sakitnya, aku mau tidur dengan tenang di ranjang empukku" Ucapnya tanpa membalikkan badan ke arah Devid. Wanita itu mengibaskan tangan kanannya ke atas seolah mengucapkan selamat tinggal padanya.
" Eh kamu harus tanggung ..." Belum sempat melanjutkan ucapannya. Rasa sakitnya semakin menjadi. Ia duduk di lantai dengan tangan masih memegangnya erat.
Devid menatap punggung Salsa yang sudah pergi menjauh. Dengan hati terus berkata bahkan sangat marah padanya. Rasa sakitnya, awas saja aku akan membalasmu gadis kecil. Beraninya kamu kurang ajar denganku.
****
Salsa menemukan kamar yang akan ia tempati. Ia menutup dengan keras kamarnya hingga terdengar ke telinga Devid. Bahkan ia menguncinya agar Devid kali ini tidak mengganggunya. Kakinya sudah terasa sangat cepek berjalan jauh. Kali ini ia ingin sebujurkan ke dua kakinya yang terasa cemut-cemut sakitnya menjalar dari ujung kaki ke paha.
" Kamar yang sangat indah" Gumam salsa dengan mata memutar memandang sekelilingnya. Ia berlari keluar menuju balkon kamarnya. Yang terlihat beberapa hutan tembakau dan tak lupa pemandangan pantai yang begitu indah. Udaranya sangat menyegarkan membuat pikirannya menjadi tenang seketika. untuk melupakan masalahnya sejenak.
" Lebih baik diam di sini menatap pemandangan yang indah dari pada memandang wajah Devid yang menyebalkan itu" Gumam Salsa. Ia mulai merentangkan ke dua tangannya merasakan desiran angin laut yang membuat anginnya seakan masuk dalam sum-sum tulangnya.