Apakah waktu adalah dapat mengubah semuanya? Termasuk setiap kehidupan. Mungkin iya. Dan itulah yang dirasakan oleh gadis biasa yang terlempar ke dunia lain, dalam seketika dia mengubah semuanya dengan kedua tangannya sendiri.
Sebuah Negara yang amat besar harus terpecah belah menjadi dua sehingga memiliki latarbelakang yang sangat buruk.
Kehadiran gadis itu mungkin bukan main-main. Sehingga siapa saja dapat mengira bahwa gadis itu adalah 'Sebuah Ancaman'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mauraa_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelatihan
Setiap Force Meginal itu berbeda-beda bentuknya. Ada yang mengatakan bahwa Force Meginal ada yang sama, tetapi itu langka, tidak semuanya akan mendapatkan hal seperti itu.
Kemarin malam Erthan juga membagi ilmu pengetahuannya pada Hiragi agar memudahkannya dalam berlatih.
Tinggal tiga belas hari lagi menjelang pelatihan, hari ini adalah hari kedua pelatihannya bersama Harui. Walaupun yang dia latih adalah perempuan tetapi Harui tetap sadis, tidak membedakan wanita ataupun pria.
Pagi ini kepala Hiragi dipenuhi kebingungan. Dia akan bersiap menuju tempat latihan. Lagipula tempat latihan itu cukup menarik dan dapat meningkatkan sedikit semangat dalam dirinya.
"Lama sekali." Gerutu Harui yang melihat Hiragi yang baru saja keluar dari Mansion.
"Hah? Aku ini membersihkan badan sebersih-bersihnya, tidak sepertimu! Dasar bau!" Ucap Hiragi.
"Hidungmu itu tersumbat apa? Tidak bisa membedakan harum dan bau!" Balas Harui tak mau kalah.
"Bedanya harum dan bau apa?! Itu sama saja!"
Mereka terus berdebat sampai gerbang utama Mansion, sampai tidak menyadari bahwa Erthan berlawanan arah dengan mereka, namun tidak menyapa.
"Mereka berdua itu." Batin Erthan dengan geram.
...☄☄☄☄...
Saat ini masih sama dengan yang kemarin. Hiragi yang selalu menutupi dirinya menggunakan jubah besar saat ini terlepas, karena terlalu risih.
Sekarang gadis itu masih berusaha mengangkat pedang besarnya itu menuju garis akhir, dengan angin yang berhembus kencang membuat rambut panjangnya yang diikat terlepas dan menutupi matanya.
Karena tak menjaga keseimbangan pedangnya pun menjatuhi kakinya.
"AAAAAAAAAAAA!"
Harui menghampiri gadis itu, yang sedang berjongkok memegang kakinya, Harui sedikit tersentuh oleh sesuatu, melihat gadis unik itu terduduk dengan menahan sakit.
"Apa yang terjadi?!" Tanya Harui setiba di tempat Hiragi.
"Dasar sepatu sialan! Inilah sebab aku resah menggunakan sepatu berhak, dan rambut ini ingin kupangkas habis!"
Harui terbelak sejenak. Yang menjatuhinya adalah pedang tetapi kenapa memarahi sepatu yang dia kenakan serta rambutnya. Hiragi adalah gadis yang unik, seunik-uniknya sampai membuat orang menggelengkan kepala.
Harui menyuruhnya istirahat, namun Hiragi tidak. Dia melepas kedua sepatunya dan melanjutkan berlatih.
"Tenang saja karena ini adalah tempatmu, aku yakin ini aman!" Hiragi mencoba meyakinkan Harui.
...☄☄☄☄...
"Hah-Hah-Hah!!"
Hiragi saat ini telah bisa menguasai pedangnya. Membutuhkan satu hari lebih agar sempurna membawa pedang ini, itupun di luar pemikiran Harui. Menurutnya ini adalah perkembangan diluar nalar.
"HIIIIYAAAA!"
Hiragi mencoba memelayangkan pedangnya sesuai dengan arahan Harui, dan itu berhasil.
Walaupun nafas sudah tak terkendali, saat ini Hiragi sangat senang dapat menggunakan pedang miliknya.
Tiga jam lebih mereka menghabiskan waktu dan saatnya untuk pulang.
Saat perjalanan pulang Hiragi tetap melepaskan sepatunya, dengan alasan malas memakainya kembali, dengan kondisi kaki seperti itu rasanya nyaman bagi Hiragi, dan Harui menganggap bahwa Hiragi seperti anak hilang.
Saat melalui toko tempat Hiragi bekerja di sana dia mendapati Biara yang sedang membersihkan kaca.
"Biara!" Teriak Hiragi dan berlari ke arah Biara. Memang saat ini hanya Biara lah menjadi satu-satunya teman Hiragi. "Aku minta maaf, tidak bisa membantumu dalam dua minggu, tapi jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa mengunjungiku, aku selalu siap membantumu." Ucap Hiragi dengan senyuman manisnya.
"Uuu Kau manis sekali saat tersenyum karena itulah-" Biara memutuskan perkataannya setelah menyadari ada hawa hawa membunuh.
"Ha?"
"Ti-Tidak kau pulanglah dulu, aku akan mengingat pesanmu." Ucap Biara dengan terbata-bata.
Hiragi mengangguk lalu pergi dari sana menuju rumah.
Yang terbaik adalah seseorang yang selalu datang dengan senyuman, yang terburuk adalah seseorang yang selalu datang dengan senyuman namun dilatar belakangi dengan pengkhianatan. Dan cobalah membuat orang yang setia itu selalu ada.
...☄☄☄☄...
Hiragi duduk di balkon besar di lantai tiga. Dia menatapi pemandangan langit itu dengan seksama. Dia sesungguhnya membutuhkan teman sesama jenis. Agar lebih bisa berinteraksi.
Erthan terlalu tua namun kekanakkan. Padahal saat awal bertemu Hiragi mengira bahwa Erthan adalah pria muda, Hiragi pun kadang tidak ingin selalu ada di dekatnya. Kalau Yuri, dia selalu sibuk dengan pekerjaaannya
Harui...
"Pria keras kepala sepertinya mana mungkin bisa dijadikan teman bicara!" Teriak Hiragi di kamar sendirian dan tengah malam.
Saat ini hanya satu yang dia tahu. Pertama, mengapa dia ada disini? Kedua, bagaimana dengan dunianya sendiri? Apakah selamanya akan seperti ini? Begitu banyak pertanyaan yang terlintas di pikirannya.
Tapi sejujurnya Hiragi merasakan hal yang sangat berbeda di sini. Di sini dia terlihat lebih dewasa dan lebih berpikir jernih serta lebih keras kepala dari yang sebelumnya.
"Entah kenapa aku merasa seperti menindas diriku sendiri." Batin Hiragi dengan hembusan nafas panjang.
Mungkin saat ini adalah di mana hal-hal besar terjadi. Di mana dunia ini bertolak belakang dengan dunianya yang asli.
...☄☄☄☄...
Hari ini adalah pelatihan hari ketiga. Hiragi merasa hal ini terus berlangsung dengan bosan. Jadi dia memutuskan berjalan pagi di kota Obelia sambil menghirup udara pagi. Harui masih tertidur bukan dia saja, namun Erthan juga. Kalau Yuri dia selalu bangun pagi.
"Pagi Nak Hiragi!"
"Pagi Kak!"
"Hiragi~"
Begitu banyak yang menegurnya, tentu saja membuat Hiragi senang. Dan kalian tahu saat ini Hiragi belum membersihkan tubuhnya dan langsung keluar dari Mansion.
Disaat yang bersamaan Hiragi tak sengaja menabrak gerobak yang sedang melintas karena asik dengan dunia sendiri yang menatapi sekelilingnya.
Rasanya seperti Deja Vu.
"Paman!" Teriak Hiragi dan langsung membantunya membereskan barang-barang yang berserakan.
"Te-Tenang aku baik-baik saja." Ucap Paman itu dengan suara serak. Mungkin saat ini dia dalam proses usia tua.
Hiragi sambil tersenyum dan tetap membantu Paman itu. Bahkan Hiragi juga menarik gerobak berat itu sedangkan Paman itu duduk di belakang gerobak, banyak yang memerhatikan dan mengkritiknya.
Hiragi merasa tidak rugi, karena yang melakukannya adalah dia bukan orang lain, lagipula Hiragi tidak memperhatikan hal sekitarnya.
《Di sisi lain Mansion Harui.》
BRAK!
Erthan dengan gila membuka pintu kamar Harui dengan paksa, pria yang masih merebahkan dirinya di atas ranjang itu hampir terjatuh.
"Harui!" Erthan memanggil Harui dengan suara kuat. "Apa kau melihat Hiragi?!" Teriak Pamannya dengan mengguncang tubuh Harui dengan kuat padahal nyawa Harui belum terkumpul sepenuhnya.
Harui terkejut mendengar dari Yuri bahwa Hiragi tidak ada di kamarnya. Erthan memutuskan Hanson dan Grid untuk mencari Hiragi.
《Di kota.》
"Hati-hati Paman!" Hiragi melambaikan tangannya seusai membantu Paman itu menuju kedainya dengan membawa gerobak.
Tiba-tiba dia kepikiran dengan Biara. Dengan cepat Hiragi berlari mengunjungi toko Biara.
Sesampainya di sana.
"Bia-"
Seseorang membungkam mulut Hiragi, gadis itu dapat melihat dua orang pria dengan tubuh yang besar, ingin melawan tetapi Hiragi merasa bahwa ada sedikit racun untuk menidurkannya.
"Sia-siapa mere-ka! Penja-hat!?" Batinnya.
Hiragi mencoba melawan namun Hanson dan Grid mengingat pesan dari Harui.
"Gadis gila itu pasti akan melawan karena belum pernah melihat kalian berdua jadi buat saja dia pingsan, lalu bawa pulang kemari!"
Tugh!
Pandangan Hiragi memburam dan segalanya
menjadi gelap.
...☄☄☄☄...
"PENJAHAT ITU!" Teriak Hiragi sambil melihat sekeliling.
Yuri mencoba menenangkannya dan menjelaskan apa yang terjadi. Hiragi melotot kearah Erthan dan Harui. Mereka saling memalingkan wajah seperti tidak terjadi apa-apa.
"Harui setelah latihan aku akan mampir sebentar di toko Biara. Setidaknya biarkan aku membantunya sedikit."
"Apa kau tidak lelah?" Tanya balik Harui dengan penampilan seperti biasa.
Hiragi menggelengkan kepala. Harui juga tidak bisa memaksakan kehendak gadis ini, karena gadis sesusia dia memang harus mendapat teman gadis seumurannya.
"Baiklah tapi kau harus pulang setelah makan malam."
"Baiklah!"
Dunia memang tak seindah yang kau bayangkan, tetapi percayalah dunia selalu berjanji akan terus menyediakan siang dan malam.
Moga komen ma like nya tersampaikan okey, yaa walau cuma 'Abc' ma 'Xyz'😆😆
Knp sad ending????