Rezza pria tampan dan mempunyai kehidupan cukup mapan sejak lahir dengan terpaksa harus menerima perjodohan dari ibunya dengan seorang wanita yang bernama Artiya sepupu dari kekasihnya sendiri,yang menurut Rezza wanita itu sama sekali tidak menarik dilihat dari segi manapun juga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon triy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM YANG BERSEJARAH
Aji telah kembali keBandung setelah berziarah kemakam ayahnya dan urusan pekerjaan dengan Rezzapun selesai.
Tak terasa pernikaha Tiya dan Rezza sudah memasuki bulan ketiga,namun mereka belum sekalipun menyempurnakan ibadah mereka dalam pernikahan.
Mereka kini memang sudah tidur satu ranjang dan hal yang paling intim mereka lakukan hanya berpelukan.
Hampir setiap malam Rezza masih mencuri curi cium Tiya, hal tersebut sudah menjadi candu bagi Rezza,dan sampai detik ini Tiya belum pernah mengetahui kelakuan suaminya,Rezza tak akan bisa tidur jika tak melakukannya,hal tersebut Rezza lakukan untuk pengalihan kebutuhan batinnya yang selama hampir tiga bulan ini harus sabar berpuasa.
Selama Tiya dan Rezza pulang kerumah besar,Bu Sanusi masih betah diBelanda,Tiya dan Rezza sering menerima vcall dari bu Sanusi dan Ana sekeluarga begitupun sebaliknya,mereka saling bertukar kabar.
Pagi ini sambil menikmati sarapannya Rezza berkata,
"Tiya nanti aku pulang terlambat sebab kantor ada tamu dari Jepang",
"mereka ingin melihat proses produksi teh kita".
Tiya :"iya mas..semoga sukses ya..".
Rezza :"ya..do'akan saja semoga mereka berminat bekerjasama dengan perusahaan kita".
Tiya :"aamiin..mas".
"aku berangkat dulu ya.."pamit Rezza sambil melontarkan tangannya pada Tiya,lalu disambut Tiya dengan senyuman.
Setelah pertemuan dikantor,Rezza bersama manager serta beberapa staff khususnya, mengantar para tamu dari Jepang berkeliling pabrik tehnya, setelah para tamu puas Rezz juga menunjukkan perkebunan tehnya yang membentang luas kebeberapa wilayah kecamatan.
Para tamu merasa puas dengan pemandangan diperkebunan teh Rezza dan mengakui kualitas produksi pabrik teh Rezza.
Rezzapun membawa para tamunya yang terdiri dari dua orang dan salah seorang manager pemasaran Rezza untuk lanjut makan malam sambil membicarakan kerjasama yang akan mereka jalani kedepan.
Setelah makan malam mereka lanjut untuk memesan red wine berkualitas tinggi untuk menghormati para tamunya dan untuk merayakan kesepakatan kerja sama mereka.
Malam sudah larut dan urusan mereka telah selesai Rezzapun pamit undur diri pada tamu tamunya,Rezza sedikit mabuk dan meminta managernya untuk mengantarkannya pulang menggunakan mobil Rezza sebab Rezza tak bisa konsen waktu menyetir.
Jam duabelas lebih sedikit Rezza baru sampai dirumah dibantu oleh managernya sampai pintu masuk,setelah pintu rumah dibuka oleh mbok Sugi,manager Rezzapun kemudian pamit untuk pulang menggunakan mobil Rezza.
Rezzapun berjalan gontai karena efek alkohol, lalu duduk diruang tengah sebab merasa kepalanya pusing dan terasa berat lalu Rezza bertanya
"Tiya udah tidur mbok?",
"sudah mas..,tadi nungguin mas Rezza sampai hampir jam sebelasan trus mbok suruh istirahat aja"
" wong sudah malam"jelas mbok Sugi.
Melihat keadaan Rezza mbok Sugipun berkata "oalah...mas...lha kok mabuk lho..yo....",
"pulang kerja sudah larut gini..jaga kesehatan to..cah bagus...",
"iya mbok,tadi cuman minum dikit, nemenin tamu dari Jepang",
"nggak enak kalo ditawari nggak mau minum" jawab Rezza dengan suara berat.
Kemudian mbok sugi membuatkan kopi pahit untuk Rezza agar mengurangi rasa mabuknya
"ini diminum pelan pelan ya mas...".
Rezzapun meneguk kopinya hingga habis dan memberikan cangkir kosongnya pada mbok sugi
"makasih ya mbok.."
sambil berdiri lalu mengecup pucuk kepala mbok Sugi "(hal itu sering dilakukan Rezza sebab mbok Sugi sudah dianggap Rezza seperti ibunya sendiri),
" mbok Sugi tidur lagi ya..udah malem" ucap Rezza lembut.
Kemudian Rezza naik menuju kamarnya.Melihat Tiya tertidur pulas Rezza mendekatinya,Rezza memandangi wajah Tiya cukup lama diperhatikannya mata Tiya yang terpejam rapat lelap dalam tidurnya,dipandangi wajah istrinya disetiap incinya yang pernah ia tolak diawal pernikahahnya dulu,dan Rezzapun menghela nafas berat lalu berjalan menuju kamar mandi.
Rezza kemudian mengguyur tubuhnya yang masih berpakaian lengkap dengan air dingin untuk menetralisir hawa panas dalam dirinya,lama Rezza berdiri dibawah guyuran air dingin, kedua tangannya bertumpu pada dinding kamar mandi hingga Rezza merasa hawa panas dalam dirinya telah berkurang.
Satujam lebih Rezza dikamar mandi, lalu dia keluar kamar mandi sudah dalam keadaan bersih namun kepalanya masih terasa sanga pusing.
Dengan memakai handuk sepinggang berjalan menuju almari untuk memakai baju,setelah mengenakan kaus oblong dan memakai boxer Rezzapun bersiap untuk tidur.
Rezza mendekatkan dirinya pada Tiya yang masih berada dialam mimpi indahnya kemudian Rezza memeluknya,diciuminya istrinya berkali kali,Tiya yang tadinya tidur nyenyak merasa terganggu dengan kelakuan suaminya,kemudian diapun terbangun,Tiya merasa bergidik geli ada yang memeluk dan menciumi tengkuknya
"mas....geli ah... kamu baru pulang..?".
Rezza :"mmeemm..",
Tiya :"kenapa belum tidur,kan udah malam?" Tiya mengambil hp lalu melihat jam berapa sekarang,ternyata waktu sudah menunjukkan hampir jam dua dini hari.
Rezza :"aku nggak bisa tidur Tiya"(masih memeluk Tiya),
Tiya :"kenapa mas..mas capek ya..apa lapar mas?"tanya Tiya penasaran,
Rezza menghela nafas sebelum menjawabnya,
"ya..aku lapar Tiya", "aku ini laki laki normal Tiya..",
Tiya :"mau aku masaki apa mas...aku kebawah dulu?" tanya Tiya polos tak memahami maksud suaminya dan membulatkan matanya,
Rezza mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya pelan sebab Tiya tak memahami juga maksudnya :"yang lapar bukan perutku Tiya, Tapi batinku,aku butuh pelepasan Tiyyyaaa" jelas Rezza agak kesal.
Tiyapun baru memahami maksud suaminya dan dia terdiam tak berkata.Sesaat kemudian Rezza berkata :"Tiya...bolehkah...aku....meminta hakku padamu malam ini...?" Rezza mengungkapkan keinginannya sebab hasratnya sudah berada diujung ubun ubun.
Rezzapun mengungkapkan keinginannya itu dengan ragu ragu.
Mendengar keinginan suaminya jantung Tiya berdegup lebih kencang serasa ingin keluar dan tak beraturan, Tiyapun masih terdiam tak menjawab.
Melihat sikap Tiya yang langsung terdiam mematung saat Rezza menyampaikan keinginannya,Rezza merasa kecewa diapun menarik tangannya yang sedari tadi nangkring diperut Tiya,lalu menjauh kan diri dengan membalikkan badan sambil berucap
"sudahlah...lupakan",
"anggap aja aku nggak ngomong apa apa,udah malam tidurlah.."
Rezzapun menutup matanya dengan paksa.Tiya merasa bersalah pada suaminya, dia tak bermaksud mengacuhkan keinginan suaminya,Tiya hanya tak menyangka suaminya ternyata menginginkannya.
Kemudian Tiya mendekati suaminya dan memeluknya dari belakang,Rezzapun menikmati pelukan Tiya dengan menghirup nafas panjang lalu menghembuskannya pelan dan masih memejamkan mata.
Tiya :"maaf ya mas..,bukanya aku nggak mau...tapi aku nggak nyangka aja mas pengin..."
Tiyapun menggantung kalimatnya,dia malu untuk meneruskan kata katanya sendiri.
Mendengar kebersediaan istrinya Rezza merasa sumringah bagai mendapat durian runtuh kemudian cepat cepat ia membalikkan badanya
"sungguh.. kamu nggak keberatan Tiya..?"dengan muka berbinar binar Rezza meyakinkan.
Tiya menjawab dengan anggukan sambil tersenyun.Rezzapun langsung memeluk Tiya erat dan menciumi pipi istrinya itu dengan npenuh kebahagiaan.
Tiyapun berkata :"mas...", Rezza :"mmemm",
Tiya :"sebelum kita lanjutkan,baiknya kita sholat sunah berjama'ah dulu ya.."ucap Tiya lembut pada suaminya.
Rezzapun menghentikan aktifitasnya dan merasa malu dengan Tiya sebab Tiya selalu mengingatkan kewajibanya pada sang Pencipta,namun Rezza tak pernah mendengarkan ajakan Istrinya itu,sudah lama juga Rezza tidak menjalankan kewajibannya yang satu itu.
Salesai menunaikan sholat sunah berjama'ah,Tiya mencium tangan suaminya dan dibalas dengan ciuman Rezza yang mendarat dikening Tiya.
Waktu dinihari itu menjadi malam bersejarah bagi Rezza dan Tiya dalam menyempurnakan ibadah mereka. Rezza mengulang peristiwa itu berkali kali hingga dia merasa puas dan mereka berduapun tertidur sambil berpelukan dalam kebahagiaan yang tiada terkira.
Untuk Tiya dia merasa bahagia sebab Rezza sudah menerima seutuhnya dirinya ,Tiya sudah menjadi istri yang sebenarnya bagi Rezza, dan untuk Rezza dia merasa puas sebab hasratnya yang tertunda selama hampir tiga bulan yang dia pendam tersalurkan dengan kepuasan yang sempurna.
Azan subuh berkumandang,Tiya bangun dari tidur lelahnya dia mengalihkan tangan suaminya yang posesif memeluknya,Tiya badannya sungguh terasa remuk redam,bagian pusatnya tersasa nyeri dan kakinya lemas namun karena kewajibannya kepada sang pencipta Tiyapun memaksakan dirinya berjalan,sambil tertatih Tiya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu segera menghadap sang Pencipta.
Selesai sohlat subuh,Tiya berusaha membangunkan suaminya namun suaminya tak bangun juga, lalu Tiyapun merebahkan tubuhnya lagi karena merasa badanya terasa lemas.
Hp Rezza berdering berkali kali,namun sang empunya tak mengubrisnya, kemudian Tiya terbangun karena merasa terganggu dan mengangkatnya,ternyata sekertaris Rezza yang menghubungi dan menyampaikan jika jadwal Rezza hari ini ada miting sekitar satu jam lagi dari sekarang.
Baru kali ini Tiya bangun kesiangan hingga jam sembilan baru bangun.Tiyapun mengoyang goyangkan bahu suaminya
"mas...mas...bangun udah jam sembilan ni..",
"tadi mbak Ema ngingetin satujam lagi mas ada miting lho..".
Rezza terpaksa bangun sebenarnya dia masih ingin berlama lama bersama Tiya ditempat tidurnya tapi apalah daya tangung jawab sudah menantinya.
Tiya menuruni tangga menuju dapur untuk membuatkan kopi suaminya,sedangkan Rezza baru membersihkan dirinya.
Dimeja makan mbok Sugi baru menyiapkan sarapan untuk Rezza dan Tiya,
"maaf ya..mbok,saya kesiangan bangunnya",
"jadi nggak bantu bantu mbok Sugi masak" ucap Tiya tak enak hati.
mbok Sugi :"ndak pa pa mbak..,mbak Tiya istirahat aja,udah jadi tugas saya juga mbak,lagian saya masih kuat lho.. ngerjain semua,buat olahraga juga mbak"ucap mbok sugi renyah bersemangat.
Tiya terseyum mendengar ucapan mbok Sugi yang bersemangat,lalu bertanya "pagi ini buat sarapan apa mbok?".
Mbok Sugi "nasi liwet mbak","wah mantap itu mbok" jawab Tiya sumringah.
"Selamat pagi istriku" sapa Rzza tiba tiba lalu mencium pipi Tiya yang sedang mengaduk kopi untuknya,
Rezzapun menyapa mbok Sugi "pagi mbok.." , "pagi juga mas.." ,jawab Tiya sama mbok Sugi.
"ya..sudah saya tak kebelakang dulu ngelanjutin kerjaan saya ya..mas..mbak"pamit mbok Sugi pada sepasang suami istri itu,
Rezza :" jangan capek capek lho..mbok..kalau capek istirahat dulu.."Rezza mengingatkan.
"iya...cah bagus"jawab mbok Sugi tersenyum sambil berlalu.
Rezza dan Tiya duduk kemudian Tiya melayani suaminya dimeja makan
"lho..mas katanya mau miting,kok belum siap?" tanya Tiya penasaran,
"hari ini kerjanya dirumah aja,mitingnya lewat zoom miting aja,pengin istirahat.." jawab Rezza sambil memandang istrinya intens,
"owhh..tapi liatnya jangan kayak gitu juga kali mas..malu tau.."ucap Tiya dengan pipi bersemu merah jambu,
Rezza : "tapi...aku suka...,liatin kamu terus tu..gimana dong",
Tiyapun memegang dagu suaminya lalu mengalihkan lurus kedepan "apaan..sih mas..gombal aja terus...".
Rezzapun terkekeh mendengar sewot istrinya,
"setelah mas miting..kita lanjutin lagi ya..sayang.."bisik Rezza pada Tiya,
"ngelanjutin apa mas..?"tanya Tiya polos,
" yang tadi malem.."bikin adonan baby"lanjut Rezza berbisik,
mendengar kata kata Rezza barusan Tiyapun tersedak,
Rezza panik lalu menepuk nepuk punggung istrinya pelan"hati..hati..sayang..".