Kaelus Danurwenda terkejut ketika mendapati dirinya di pagi hari tanpa mengenakan pakaian. Dia mengumpat marah ketika mengingat kejadian tadi malam.
Kaelus mencari jejak si wanita namun nihil. Pencarian Kael berlangsung selama 4 tahun lamanya, tapi tak menghasilkan apapun.
Ketika harapannya pupus, dan hendak menerima perjodohan yang diatur orang tuanya, tiba-tiba seorang bocah dengan mata coklat kekuningan menabrak tubuhnya.
"Maap Om, Al nda senaja."
Debaran aneh memenuhi hati Kaelus Wajah bocah itu sangat tidak asing di matanya.
"Kamu ... ."
"Maaf Tuan, anak saya berlari tanpa arah. Permisi."
Melihat ibu dari anak itu, Kaelus samar-samar mengingat tentang wanita di malam yang salah itu.
Apa yang akan dilakukan Kaelus? Apa dia akan melanjutkan perjodohan yang diatur, atau malah mencari ibu dan anak tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ATSP 07
"Ibu, apa hali ini Al halus cekolah ladi? Telus, Ibu bekelja, beditu?"
Pagi hari yang dingin, sangat cocok untuk terus meringkuk di bawah selimut. Namun di sebuah rumah yang kecil, ibu dan anak itu sudah berkutat dengan kegiatan paginya. Sang ibu menyiapkan sarapan dan sang anak tengah duduk tenang di kursinya menunggu sang ibu sambil memainkan mainan dino kesukaannya.
"Iya, hari ini Al sekolah seperti kemarin. Dan yup benar sekali Ibu akan bekerja. Nanti kalau Al sudah pulang sekolah, Ibu jemput Al dan ikut Ibu ke tempat kerjanya Ibu. Kenapa? Apa Al nggak suka sekolah?"
Bocah tiga tahun itu langsung menggelengkan kepalanya cepat. Sejujurnya dia sangat suka sekolah karena bisa bermain dengan teman-teman seusianya. Dibandingkan dengan dulu dimana dirinya hanya bermain sendirian.
Hanya saja Alarik Rakyan merasa bahwa sekarang ini ibunya menjadi begtu sibuk dan jarang sekali bermain dengannya. Awalnya Al-begitulah basa dia dipanggil- merasa tidak senang. Tapi ketika tahu bahwa sekarang setiap malam sang ibu bisa tidur nyenyak, Al pun tidak jadi melakukan protesnya.
"Nda apa Ibu, Al cuma tanya kok. Kalau Ibu cenang, Al juga senang," jawab bocah itu sambil tersenyum.
Tok tok tok
"Ros, apa kalian udah bangun?"
"Oh iya Rend, masuk aja. Nggak dikunci pintunya."
Cekleek
Pria bertubuh tinggi itu masuk ke rumah sambil tersenyum lebar. Dia tidak menutup pintunya, karena itu pengaturan yang diberikan oleh Rosa.
Jika Rendi datang, maka ia tidak boleh menutup pintu, dan bahkan harus membuka pintunya lebar-lebar. Jika tidak, maka Rendi hanya boleh berada di ambang pintu saja.
Meski Rendi adalah orang yang menolongnya, tapi Rosa tidak ingin kedekatan mereka menjadi fitnah. Rendi sebenarnya adalah teman masa sekolah menengah pertama Rosa. Dulu mereka tinggal di wilayah yang sama. Meski Rosa adalah yatim piatu dan besar di panti asuhan, tapi Rendi tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Saat SMA, mereka terpisah. Rendi di bawa oleh orang tuanya ke kota lain. Mereka bertemu lagi beberapa waktu yang lain.
Sebenarnya Rendi terkejut melihat Rosa sudah memiliki anak. Tapi dia tak mau bertanya tentang kehidupan pribadi Rosa tersebut. Melihat Rosa yang kesulitan dalam menjalani hidup, Rendi berspekulasi bahwa ayah dari Al pasti orang yang tidak bertanggung jawab.
Bantuan pun Rendi tawarkan. Dia yang saat ini mengelola bisnis keluarga berupa restoran dan kafe di wilayah wisata, menawarkan pekerjaan untuk Rosa. Rendi juga memberikan sebuah rumah kecil agar Rosa dan anaknya bisa tinggal dengan nyaman.
Tapi Rosa tidak mau menerima rumah itu secara cuma-cuma. Dia bersikukuh akan menyewanya. Rendi pun pasrah, dia setuju dengan apa yang jadi keinginan Rosa.
"Lagi mau sarapan ya?" tanya Rendi sambil menempatkan dirinya di sebelah Al.
"Iya Om, tundu Ibu buat calapan. Om juda mau calapan di cini? Tapi makanan yan dibuat Ibu cuma dikit, nda cukup kalau di makan beltida."
Hahaha
Rendi tertawa keras. Dia selalu merasa amazing dengan setiap ucapan bocah berusia 3 tahun itu. Rendi merasa bahwa Alarik adalah anak yang cerdas.
"Nggak kok, Om nggak akan ikut sarapan. Tadi Om udah sarapan di rumah. Om cuma mau ngelihat Al udah siap belum buat berangkat ke sekolah."
"Oh ditu, tundu Om bental ladi. Ini abis calapan bica belangkat."
Rendi mengusap kepala Al dengan lembut. Dia bahkan juga membantu Al untuk memakan sarapannya. Tapi oleh Rosa di larang.
Bukan karena Rendi tak boleh membantu, Rosa hanya ingin anaknya belajar untuk mandiri.
"Tapi Al masih kecil, Ros,"ucap Rendi.
"Karena masih kecil itu harus diajarin Rend. Biar dia berusaha sendiri dulu, baru setelah itu dibantu. Aku siap-siap dulu ya," jawab Rosa.
Rendi pun mengangkat ke dua tangannya. Dia menyerah dengan perkataan tegas dari Rosa dan hanya bisa melihat wanita tu melenggang masuk ke kamarnya.
Meski tak ingin ikut campur, tapi sebenarnya Rendi sangat penasaran. Dia penasaran dengan masa lalu Rosa. Dia penasaran dengan laki-laki yang merupakan ayah kandung Alarik.
Tapi Rendi dengan sangat kuat menahan mulutnya itu untuk tidak bertanya. Ia ingat betul saat pertama kali bertemu dengan Rosa. Waktu itu Rendi bertanya tentang kapan Rosa menikah, tapi wanita itu diam seribu bahasa bahkan wajahnya seolah ketakutan.
Rendi sempat berpikir buruk tentang temannya itu. Apa mungkin Al lahir dari hubungan terlarang, atau Al lahir dari sebuah kenakalan masa muda? Ya tidak munafik Rendi sempat berburuk sangka dengan Rosa.
Tapi pria tersebut langsung mengusir pikirannya tersebut. Apalagi dia tahu betul bahwa Rosa bukanlah gadis yang seperti itu. Dan apapun yang terjadi pada masa lalu Rosa, bukan hak Rendi untuk mengoreknya.
"Lho udah selesai makannya?"
"Udah dong Om. Cekalang Al mau ambil tas dulu. Tundu di sini ya. Eh Iya Om Lendi, ehmmm apa Ibu keljanya belat? Apa Ibu kalau kelja nda istilahat?"
Al yang hendak masuk ke kamarnya ternyata urung dan malah bertanya hal seperti itu kepada Rendi.
Rendi sontak mengerutkan alisnya. Dia jadi penasaran mengapa anak kecil itu tiba-tiba bertanya demikian.
"Kenapa AL tanya begitu?"
"Nda apa-apa cih, cuman Ibu kalau pulan kelja kayak capek banet. Tapi ya badus, jadi Ibu bica langcung tidul. Nda kayak dulu ... ."
Rendi semakin tidak mengeri. Dia ingin sekali bertanya lebih lanjut tentang maksud ucapan anak lelaki Rosa itu. Tapi Rendi tak bisa melakukannya karena Rosa sudah keluar dari kamarnya sambil membawa tas milik Al.
"Udah selesai sayang makannya?" tanya Rosa kepada sang putra.
"Udang dong Ibu. Cekalang kita bica belangkat," jawab Al dengan riang. Wajahnya benar-benar menunjukkan semangat yang membara.
"Aku anter ya," sahut Rendi. Pria itu beranjak dari duduknya dan berjalan lebih dulu ke luar rumah.
"Nggak perlu Rend, aku bisa nganterin Al sendiri. Aku juga bisa pergi ke resto sendiri. Kamu nggak perlu nganterin aku. Udah cukup banyak bantuan yang kamu berikan kepada kami, dan aku nggak mau semakin berhutang budi ke kamu."
Wajah Rendi seketika menjadi lesu. Datangnya dia ke rumah ini pagi-pagi karena ingin mengantarkan Al berangkat sekolah. Tapi ternyata ditolak langsung oleh Rosa.
"Aku cuma mau nganterin aja, Ros,"ucapnya dengan wajah memelas.
"Nggak usah Rend, aku bisa sendiri. Lagian aku juga nggak mau kamu jadi sasaran fitnah dan omongan orang-orang. Kamu adalah teman yang baik Rend, dan aku nggak mau menyeret kamu dalam gunjingan yang sudah terbiasa aku dengar."
Rendi terpaku melihat Rosa dan Al melenggang pergi. Ada rasa yang tidak nyaman dalam hatinya. Ingin rasanya mengejar mereka namun Rendi tak ingin Rosa malah menjauh darinya.
"Baiklah kalau itu yang kamu mau, Ros. Hanya saja aku tetap berharap kamu akan datang kepadaku setiap membutuhkan bantuan."
TBC
n faham
semangat n sehat sehat author🩷🩷
teman nya si kael gk d kasih pelajaran,,karna dia mereka jd sengsara