NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: tamat
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / Action / Tamat
Popularitas:217.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Lamaran Seorang Staf Biasa

Waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam saat mobil yang dikemudikan Marco berhenti di depan rumah Rahardja.

Mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah mereka, Rahardja langsung beranjak dari duduknya.

"Ayo, kita sambut tamu kita," ujarnya kepada istri dan kedua putrinya.

Ia merangkul pundak Chantika, sementara Saras dan Ranti berjalan di belakang mereka.

Saras mendekat ke arah ibunya lalu berbisik, "Ma, buat apa sih sampai disambut ke depan pintu segala? Cuma staf biasa doang juga."

Ranti langsung mengangkat jari telunjuk ke bibirnya, memberi isyarat agar putrinya diam.

Saras mengerucutkan bibir.

Chantika yang sempat melirik ke belakang ikut bersuara. "Pa, gak perlu sampai disambut ke depan juga. Cuma lamaran biasa, kok."

"Mana bisa begitu?" sahut Rahardja.

Ia menoleh kepada putrinya. "Papa gak mau suatu hari nanti kamu diperlakukan tidak baik hanya karena Papa memperlakukan calon menantu Papa dengan buruk."

Rahardja lalu melanjutkan dengan nada tenang. "Lagipula, kita tidak boleh menilai, memandang, atau memperlakukan seseorang dengan tidak hormat hanya karena dia bukan orang besar."

Ia tersenyum tipis. "Kalau kita tidak menghormati orang lain, bagaimana kita bisa berharap orang lain menghormati kita?"

"Enzo bukan orang yang gila hormat, Pa," kata Chantika lembut.

"Tetap saja." Rahardja menggeleng pelan. "Kita harus memperlakukannya dengan baik karena nantinya dia akan menjadi bagian dari keluarga kita."

Chantika tersenyum hangat pada ayahnya.

"Selalu saja ceramah," gerutu Saras lirih yang hanya bisa didengar Ranti.

Ranti langsung menyiku pelan lengan putrinya.

Saat Rahardja dan keluarganya tiba di ambang pintu, mereka melihat Marco sedang sibuk menurunkan hantaran dari bagasi.

Sementara itu, Enzo berdiri di samping mobil sambil memeluk buket bunga dan menatap layar ponselnya.

Begitu melihat Rahardja dan Chantika keluar, ia segera mengantongi ponselnya lalu melangkah menghampiri mereka.

"Tuan—"

"Kamu sudah datang melamar, masih panggil aku Tuan?" potong Rahardja.

Enzo berhenti sejenak.

"Panggil Papa dan Mama saja."

Enzo mengangguk pelan. "Baik, Pa."

Ada rasa hangat yang mengalir di dadanya. Meski Rahardja mengira dirinya hanyalah seorang staf biasa, pria itu tetap memperlakukannya dengan ramah, penuh hormat dan ketulusan. Sikap seperti itu jarang sekali ia temukan.

"Bos, sudah selesai."

Suara Marco terdengar setelah ia menurunkan kotak terakhir.

Rahardja menoleh. Entah kenapa wajah pria itu terasa sedikit familiar. Namun ia tidak dapat mengingat pernah bertemu di mana.

Pakaiannya memang sama sederhananya dengan Enzo. Namun, entah mengapa Rahardja merasa pria itu tidak memiliki pembawaan seperti staf biasa. Cara berdiri, sorot mata, hingga sikapnya lebih menyerupai seorang asisten pribadi atau sekretaris utama yang telah lama mendampingi seorang petinggi perusahaan.

Namun ketika pandangannya beralih kepada Enzo, kesan itu seketika memudar. Di balik pakaian sederhananya, pria muda itu memancarkan wibawa yang jauh lebih kuat.

Tatapannya tenang, sikapnya terkendali, dan tanpa berusaha menunjukkan apa pun, kehadirannya membuat orang lain secara naluriah menghormatinya.

Bahkan Rahardja, yang puluhan tahun memimpin perusahaan besar, sempat merasa seolah sedang berhadapan dengan seseorang yang terbiasa berada di puncak kekuasaan.

Marco yang tadi merasa sempat diperhatikan mengangkat wajahnya.

"Tuan Rahardja, ini hantaran yang Bos saya bawakan untuk calon Nyonya Bos."

Marco berdiri di samping hantaran sambil mengembangkan telapak tangannya.

"Izinkan saya memperkenalkan hantaran yang Bos saya siapkan."

Satu per satu ia menunjuk setiap kotak.

"Buah-buahan premium. Kue tradisional dan kue modern. Teh dan kopi premium. Kain sutra."

Kemudian ia mengangkat sebuah kotak beludru hitam dengan kedua tangan.

"Dan yang terakhir, cincin lamaran."

"Yakin ini semua premium?" Gumaman Saras memang pelan, tetapi cukup jelas untuk didengar semua orang.

"Saras."

Nada suara Rahardja langsung berubah tegas.

Saras refleks menundukkan kepala.

Rahardja menatap putrinya beberapa saat sebelum berkata, "Hormati usaha dan niat baik seseorang. Nilai sebuah pemberian dari ketulusannya, bukan dari prasangka kita terhadap orang yang memberikannya."

Saras kembali mengerucutkan bibir.

Ranti diam-diam menyenggol lengannya agar tidak membantah.

Di sisi lain, Marco menyipitkan mata. "Wah... kalau Bos tersinggung karena calon iparnya meremehkan hantaran ini, bisa-bisa beliau langsung buka akta saham dihadapannya."

Untungnya Enzo tampak tidak terganggu sedikit pun. Tatapannya justru tertuju pada Chantika.

Dan seperti biasa, perempuan itu terlihat lebih sibuk menahan malu daripada memerhatikan isi hantaran.

Rahardja lalu melangkah mendekati kotak-kotak tersebut. Ia memerhatikannya sekilas sebelum mengangguk puas.

"Terima kasih. Kami menerima hantaran ini dengan senang hati."

Kemudian ia menoleh kepada Enzo dan Marco. "Jangan berdiri di luar. Ayo masuk."

Rahardja membuka pintu lebih lebar. "Malam ini kalian datang sebagai tamu keluarga kami."

Marco tersenyum.

"Terima kasih, Tuan Rahar—"

Tatapan Rahardja langsung membuatnya berhenti.

Marco berdeham. "Maaf. Maksud saya... terima kasih, Pak."

Rahardja terkekeh pelan. "Kalau Enzo sudah saya izinkan memanggil Papa, berarti kamu juga tidak perlu terlalu kaku."

Marco langsung melirik Enzo. "Waduh... kalau calon mertua tahu siapa Bos sebenarnya, jangan-jangan beliau yang malah panggil Bos 'Tuan'."

Enzo memberikan buket bunga yang dibawanya pada Chantika.

"Terima kasih," ucap Chantika tulus. Bibirnya melengkung tipis saat menghirup aroma wangi bunga di tangannya.

Enzo hanya tersenyum samar. Sorot matanya melembut.

Akhirnya mereka masuki ke dalam rumah.

Dengan berbagai pikiran yang berputar di kepalanya, Marco pun mengikuti Enzo memasuki rumah Rahardja.

Sementara itu beberapa pelayan langsung membawa masuk semua kotak-kotak itu kecuali kotak cincin yang dibawa Marco.

Mereka akhirnya duduk di ruang tamu.

Enzo duduk berdampingan dengan Marco. Di seberang mereka, Rahardja duduk di samping Chantika, sementara Ranti dan Saras duduk di sofa sebelah.

Suasana sempat hening beberapa saat hingga Enzo menjadi orang pertama yang membuka pembicaraan.

"Pa," ucapnya tenang. "Karena lamaran saya sudah diterima, sebagai bentuk keseriusan saya untuk menjaga dan menafkahi Chantika, izinkan saya menyerahkan beberapa hal atas nama calon istri saya."

Marco segera menyerahkan map hitam yang sejak tadi dibawanya.

Enzo menerimanya, lalu menyodorkannya kepada Rahardja dengan kedua tangan.

"Silakan, Pa."

Rahardja menerima map itu.

Saras dan Ranti saling melirik, sama-sama penasaran dengan isi dokumen tersebut.

Perlahan Rahardja membuka map itu. Halaman pertama membuat alisnya sedikit terangkat. Akta hibah sebuah hotel bintang lima.

Tangannya berhenti sesaat sebelum membalik ke halaman berikutnya. Tatapannya berubah semakin serius. Akta hibah sebuah vila di tepi pantai.

Rahardja menarik napas pelan, lalu membuka halaman terakhir. Beberapa detik kemudian, matanya membelalak.

Dokumen pengalihan tiga puluh persen saham Arkana Global Logistics atas nama Chantika Putri Rahardja.

"..."

Untuk pertama kalinya sejak Enzo datang, ekspresi Rahardja benar-benar berubah. Ia mengangkat wajahnya perlahan menatap Enzo.

"Ini..."

Di sampingnya, Chantika yang ikut melihat isi map itu langsung membulatkan mata.

"Enzo... ini terlalu banyak."

Nada suaranya nyaris berbisik. Ia sama sekali tidak menyangka pria itu akan membawa dokumen sebesar ini.

Enzo tetap tenang. "Menurutku, belum."

Belum?

 

...🔸🔸🔸...

..."Status dapat disembunyikan dengan pakaian sederhana, tetapi wibawa tidak pernah bisa disamarkan."...

..."Nilai seseorang tidak selalu terlihat dari apa yang dikenakannya, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan orang lain dan memegang tanggung jawabnya."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Sarah memang benar bodohkan... masih saja menyalahkan Chantika. Heran dengan anak satu ini.

Sampai Papanya mengatakan sulit memaafkan anak yang terus berbohong, bahkan setelah semua kebenaran terbuka.

Ternyata Rahardja memilih menikahkan Saras dengan Bryan.

Salahmu sendiri Saras. Sudah tahu Bryan tua, playboy, dan kamu tidak cinta sama Bryan. Tapi kamu tetap menerjang badai demi menjadi manajer.
Anonim
Bryan ini etikanya dalam menghadapi orang yang lebih tua NOL BESAR.

Beda jauh sama Enzo.

Bryan siap bertanggung jawab menikahi Saras. Saras kan mudah dibodohi.

Namun sepertinya Rahardja tidak menginginkan Bryan menikahi putrinya. Saras.
Anonim
Saras si bodoh alasannya ingin Papanya percaya kalau dia juga bisa. Ingin Papanya berhenti membandingkan dirinya sama Chantika.

Raih prestasi dengan baik Saras, bukan sensasi. Laaah, jalanmu yang ditempuh menjijikan kok ingin Papanya percaya. Ingin Papanya tidak membandingkan sama Chantika.

Mamamu menguatkanmu. Jalani saja hidupmu yang sudah hancur itu. Tata kembali hidupmu yang banyak tidak benarnya.
Anonim
Rahardja tergolong sabar sekali menghadapi putrinya yang satu ini.

Saras bicara dari awal sudah tidak jujur. Sampai Rahardja mau menemui Bryan dilarang.

Benar-benar sama saja tega melempar kotoran di muka Papanya ini Saras.

Coba Saras tidak hamil, masih getol ngejar Enzo. Rasain sekarang menuai taburannya sendiri.
Anonim
Waduuuuuh Saras masih saja mengelak, bukan Bryan yang memperkosa.

Sebenarnya juga tidak diperkosa sih. Itu konsekuensi Saras yang telah menjebak Chantika, tapi berakhir Saras sendiri yang terjebak.

Papa Rahardja ini orang tua yang sangat bijaksana. Tidak pakai marah-marah. Kecewa pasti. Dan dia hanya ingin mencari orang yang harus bertanggung jawab.

Saras bilang tidak sanggup kalau semua orang tahu. Jelas malu sekali kalau tahu penyebabnya apa. Mencari investasi dengan cara yang sangat tidak bisa dibenarkan.

Saras si bodoh benar-benar bodoh karena ambisinya ingin menjadi manajer.
Anonim
Saras masih saja bicara bohong dengan menjawab tidak tahu siapa ayah bayi dalam kandungannya. Bilang diperkosa pula.

Rahardja membaca hasil pemeriksaan medis, usia kehamilan menurut hitungannya jadi teringat saat Chantika hampir dilecehkan Bryan di saat malam bertemu dengan dalih membahas investasi.

Ingat pula tentang Saras yang baru pulang esok paginya dengan kondisinya saat itu.

Dikuatkan oleh Chantika memperlihatkan rekaman CCTV hotel terlihat Saras masuk kamar Bryan malam hari dan baru keluar di pagi hari.

Rahardja kini jelas sudah tahu sesungguhnya apa yang terjadi pada Saras. Rahardja sudah tahu Bryan itu terkenal sebagai playboy.
Anonim
Rahardja mengajak pulang Saras untuk bicara di rumah.

Pikiran Saras jadi kebayang Papanya yang bakal kasih tahu Mamanya. Betapa sangat kecewa mamanya mendengar itu.

Kakaknya juga pasti akan mengetahui semuanya.

Kalau Enzo mengetahui Saras hamil, ia pasti bakal jijik sama dirinya. Itu kemungkinan yang dirasakan Saras.
Anonim
Saking bingung dengan apa yang akan dilakukan, Saras tidak tahu kalau Papanya sudah ada di depannya.

Papanya sedang mengambil kertas yang paling atas.

Rupanya Saras hafal sepatu Papanya. Betapa terkejutnya Saras. Papanya sudah memegang kertas hasil pemeriksaan.

Rahasia Saras, bagaimanapun jalannya, saat inilah tersingkap.

Rahardja ke rumah sakit untuk menjenguk sahabat lamanya, melihat berkas berserakan di lantai hanya berniat membantu memungut. Matanya tanpa sengaja membaca tulisan diatas lembar itu.

Rahardja walau terlihat tenang, tentunya merasa terpukul mengetahui kenyataan yang ada pada Saras.
Anonim
Saras ingin menggugurkan kandungan dengan alasan janin yang dikandung korban perkosaan.

Dokter tetap tidak bisa membantu sesuai keinginan Saras.

Saras keluar dari ruang pemeriksaan, pikirannya kacau.

Ia berjalan tersenggol seorang wanita yang sedang buru-buru. Perempuan yang tidak bertanggung jawab bantuin Saras untuk memunguti lembar kertas-kertas hasil pemeriksaan yang berserakan.
Anonim
Laaaa...Saras si bodoh tambah bodoh janin sudah usia tiga bulan mau digugurkan.

Tidak takut berbuat dosa nih Saras.
Anonim
Saras sudah minum obat. Obatnya berhasil menjadikan hamil ya Saras. Rasakan akibatnya.

Enzo mau jujur bicara tentang Saras yang beberapa kali berusaha mendekatinya.

Mendengar semua itu betapa sedihnya hati Chantika.
Anonim
Nah lo Saras hamil anaknya Bryan. Mau bertanggung jawab gak tuh Byan.

Rahardja setuju ngga tuh bermenantukan Bryan.

Rasakan akibatnya dari menjebak kakaknya, akhirnya terjebak sendiri oleh permainannya.
Anonim
Saras ini kayak anak yang bengal tidak bisa dinasehati, semau gue, tak
punya rasa malu. Seperti itu kok mau jadi manajer. Harusnya malu tadi malam kelakuannya sudah ditelanjangi Papanya.

Di saat sarapan masih di buka lagi.
Malunya Saras dah gak ketulungan. Tapi mana tahu dia apa itu malu. Tahunya pingin mendapatkan Enzo bagaimanapun caranya. Sudah punya sekutu sih dia. Yang dipikirnya bakal berhasil.

Enzo laki-laki baik. Dia bicaranya baik, sangat menjaga perasaan Papa mertuanya.

Ranti ini Ibu yang gagal mendidik putrinya. Bukan Rahardja. Malah dipikirannya menuduh Rahardja lebih sayang sama Chantika. Saras saja yang banyak tidak tahu diri. Masih berkobar keinginannya.
Anonim
Ranti ini gak mengenal kata malu ya. Malu-maluin benar tanya sama suaminya dijawab Rahardja seperti itu.

Ranti mesti dicariin lobang untuk ngumpetin mukanya. Anak dan Ibu sama saja.

Rahardja tahu Saras mulai mendeka0ti suami kakaknya sendiri setelah tahu Enzo bukan karyawan biasa.

Rahardja bicara semua yang dia tahu tentang Saras dalam mencari perhatian dari pria yang sudah menjadi suami kakaknya.

Ranti ini serasa buta dan tuli masih belain anaknya yang gak bener kelakuannya.

Saras juga, bukannya malu sudah serasa ditelanjangi Papanya, semua kelakuannya sudah diketahui. Masih tidak tahu diri.

Masih punya pikiran kalau Enzo dan Chantika pindah rumah tidak akan memiliki kesempatan untuk mendekati Enzo. Niat banget nih mau jadi pelakor.

Setan Saras bersekutu dengan setan Bryan uuupppsss
Anonim
Bikin trik murahan lagi nih Saras. Gak bakal berhasil. Enzo cerdas, Saras tolol.

Kran wastafel di kamar mandinya dibikin bocor.

Minta tolong Enzo dengan sengaja memakai baju basah tanpa bra. Enzo sempat melirik sekilas.

Saras sudah senang bakal berhasil. Enzo mau menolong.

Senyumnya memudar ketika tahu yang datang ke kamarnya bukan hanya Enzo.

CEO disuruh betulin kran.

Pak Joko yang betulin.
Anonim
Ranti mau minta penjelasan pada Rahardja kenapa identitas Enzo dirahasiakan. Baginya itu keterlaluan.

Lagi Saras mencari celah untuk mendekati Enzo.

Sayangnya Enzo tahu trik murahan Saras untuk mencari perhatiannya.

Pura-pura terpeleset ketika menuruni tangga.

Kenapa Saras tidak dibiarkan jatuh saja. Biar tahu rasa.
Anonim
Chantika baru pulang dari dinas. Sudah mandi. Rambut sudah dibantu Enzo mengeringkan.

Keduanya sudah berbaring di atas ranjang. Chantika memeluk Enzo, lengan Enzo dijadikan sebagai bantal.

Rasa capeknya langsung hilang begitu sampai rumah, dan tidur memeluk Enzo.

Enzo sangat pengertian sama Chantika. Menghargai keputusan Chantika mau tidaknya tinggal di apartemennya

Harapan Enzo memutuskan pindah ke apartemen dapat melindungi keluarganya.

Semoga saja Chantika segera setuju dengan usulnya Enzo itu.
Anonim
Makan malam Saras duduk di kursi yang biasa di duduki Chantika, dekat Enzo.

Posisi duduknya Saras langsung menarik perhatian Rahardja.

Enzo sadar kalau Saras mulai mendekat.

Posisi duduknya dikomentari Papa dan Mamanya, Saras tak punya rasa malu. Ada saja alasannya. Sudah terkontaminasi omongan Bryan.

Rahardja tahu ada sesuatu yang sedang Saras rencanakan.

Mulai berlagak menjadi perhatian mengambilkan nasi, ikan bakar, tapi ditolak Enzo dengan ramah, dan juga menjaga jarak.
Anonim
Enzo tahu Saras belum menyerah mencari tahu siapa dirinya.

Kemarin mendatangi Arkana. Gagal. Sekarang minta nomer telepon. Gagal.

Kalau yang ingin diketahui hanya jabatan Enzo sebagai CEO Arkana, tidak masalah bagi Enzo.

Yang mengkhawatirkan Enzo rasa penassran Ssras berubah menjadi keinginsn untuk mendekat.

Enzo ingat permintaan Chantika untuk menyembunyikan identitasnya dari Saras. Maka dia tidak bakal kasih Saras satu celah pun untuk mengganggu rumah tangganya.

Enzo sudah siap menghadapi apapun yang akan dilakukan Saras.
Anonim
Saras merasa selama ini telah dipermainkan. Ia mengingat kembali peristiwa demi peristiwa yang telah berlalu.

Identitas Enzo disembunyikan. Hanya Saras dan Ranti yang tidak diberi tahu.

Semua yang sebelumnya terasa janggal, kini perlahan mulai terasa masuk akal.

Dia sadar apa sebabnya Chantika sengaja merahasiakan semuanya.

Saras mulai memainkan permainannya. Berawal dari minta nomer telepon Enzo. Gagal.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!