NovelToon NovelToon
Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Percintaan Konglomerat / Kaya Raya / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Jeruji Tanpa Suara

Sinar matahari pagi yang menembus kaca besar Penthouse Suite tidak lagi terasa menghangatkan bagi Viona. Baginya, fajar hanya menandakan dimulainya hari baru di dalam penjara yang sama. Ketika dia membuka mata, sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong, menyisakan seprai abu-abu yang kusut dan aroma parfum maskulin Arkan yang masih tertinggal pekat. Pria itu selalu pergi sebelum subuh menjelang, kembali ke dunianya sebagai penguasa Mahendra Group, sementara Viona ditinggalkan di sini, terputus dari seluruh dunia.

Viona bangkit dengan perlahan, merasakan ngilu yang samar di sekujur tubuhnya akibat intensitas dominasi Arkan malam tadi. Dia melangkah menuju ruang tengah dengan gaun satin tidur sewarna kulit yang longgar. Matanya tertuju pada sudut meja tempat telepon kabel penthouse biasanya berada. Kosong. Arkan benar-benar menepati ucapannya; tidak ada lagi kabel yang terhubung, tidak ada ponsel, bahkan televisi di ruang tengah kini terkunci oleh sistem kode sandi yang hanya diketahui oleh pria itu dan Baskara.

Dia berjalan mendekati pintu utama penthouse dan mencoba menekan tombol pembuka dari dalam. Seperti dugaan, sistem smart lock telah dinonaktifkan untuk akses keluar. Viona terkurung total.

Tepat pukul sembilan pagi, terdengar bunyi klik dari pintu lift privat. Jantung Viona otomatis berdegup kencang, sebuah refleks ketakutan yang kini tertanam di kepalanya. Namun, bukan Arkan yang muncul, melainkan Baskara bersama dua orang pelayan wanita berseragam rapi yang membawa nampan berisi makanan dan pakaian baru.

"Selamat pagi, Nona Viona," sapa Baskara dengan anggukan kepala yang sopan namun formal, wajahnya tidak mengekspresikan emosi apa pun. "Saya datang untuk mengantarkan keperluan Anda hari ini."

Viona mengabaikan nampan makanan mewah itu dan langsung melangkah mendekati Baskara. "Baskara, kumohon... bagaimana dengan ibuku? Apakah dia benar-benar aman di Bogor? Tolong jangan bohong padaku," bisik Viona dengan mata yang berkaca-kaca, mencengkeram lengan kemeja kerja Baskara dengan putus asa.

Baskara menatap tangan Viona sejenak, lalu mundur satu langkah dengan sopan untuk menjaga jarak. "Nona Viona, Tuan Arkan tidak pernah membohongi Anda mengenai hal itu. Ibu Anda berada di bawah perawatan medis terbaik di rumah sakit privat Bogor. Tim keamanan Mahendra Group menjaga ketat seluruh area paviliunnya. Selama Anda mematuhi perintah Tuan Arkan di sini, ibu Anda akan tetap aman dari siapa pun, termasuk Nyonya Besar Sofia."

Mendengar penegasan itu, bahu Viona seketika merosot. Sebuah helaan napas pasrah lolos dari bibirnya. Perlindungan ibunya adalah satu-satunya alasan mengapa dia masih bertahan hidup dan membiarkan dirinya dihancurkan oleh Arkan setiap malam.

"Apakah ada pesan yang ingin Anda sampaikan untuk Tuan Arkan, Nona?" tanya Baskara sebelum berpamitan.

Viona memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca besar, menatap hamparan gedung pencakar langit Jakarta yang tampak seperti miniatur dari ketinggian lantai tiga puluh enam. "Katakan padanya... aku berharap dia cepat bosan denganku, agar aku bisa segera pergi dari neraka ini."

Baskara tidak menanggapi kalimat retoris tersebut. Dia hanya membungkuk hormat, lalu memberi isyarat kepada para pelayan untuk meletakkan semua keperluan dan segera meninggalkan penthouse melalui lift privat.

Hari-hari berikutnya berlalu laksana lingkaran setan yang tidak berujung bagi Viona. Tanpa kegiatan, tanpa komunikasi, dan tanpa kebebasan, waktu terasa berjalan sangat lambat. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya dengan duduk di tepi jendela raksasa, mengamati perubahan langit dari pagi hingga malam, menghitung detik demi detik kepulangannya sang pemilik sangkar.

Setiap malam, sekitar pukul sepuluh atau sebelas, pintu lift privat akan berdenting. Arkan selalu kembali dengan aura lelah setelah pertempuran bisnisnya di luar, namun kelelahan itu seolah menguap begitu mata elangnya menemukan figur Viona. Pria tiran itu akan mendekatinya tanpa banyak bicara, mencengkeram pinggang rampingnya dengan posesif, dan langsung menenggelamkan mereka berdua dalam pusaran gairah yang menuntut dan penuh dominasi mutlak.

Viona belajar untuk tidak lagi meronta. Perlawanan hanya akan membuat Arkan menjadi lebih kasar dan memperlama siksaan fisik yang diterimanya. Dia memilih untuk menjadi patung yang dingin, menerima setiap kecupan, gigitan posesif, dan sentuhan intim pria itu dengan kepasrahan yang hampa. Namun, sikap bisu dan dingin Viona ini justru sering kali memicu kemarahan Arkan yang tidak suka melihat wanitanya tidak memberikan respons.

"Tatap mataku, Viona!" perintah Arkan suatu malam, menjepit rahang Viona dengan jemarinya yang kuat di tengah pergulatan mereka di atas ranjang king size. "Jangan berlagak seperti mayat di bawahku! Aku membayar mahal untuk hidupmu, bukan untuk boneka mati!"

Viona membuka matanya perlahan, menatap langsung ke dalam manik mata hitam Arkan yang berkilat oleh gairah dan amarah yang bercampur aduk. "Anda bisa memiliki tubuh saya, Tuan Arkan. Anda bisa mengurung saya di sini selamanya. Tapi Anda tidak akan pernah bisa memaksa jiwa saya untuk hidup bersama Anda."

Desisan dingin Viona membuat rahang Arkan mengatup begitu rapat hingga urat di pelipisnya menegang. Pria posesif itu tersenyum sinis, sebuah senyuman yang sarat akan kekejaman yang egois. "Aku tidak peduli pada jiwamu, Viona. Selama ragamu ada di dalam dekapanku, selama tidak ada pria lain yang bisa menyentuhmu, itu sudah lebih dari cukup bagiku."

Dan malam itu, Arkan kembali menandai tubuh Viona dengan jauh lebih intens, mengunci kebebasan gadis itu semakin dalam di bawah kungkungan fisiknya yang dominan.

Dua minggu berlalu dalam isolasi total, hingga suatu siang, sebuah kejutan kecil terjadi. Pintu lift privat kembali berdenting di luar jam biasanya. Viona yang sedang duduk melamun di sofa ruang tengah langsung menoleh dengan waspada.

Pintu terbuka, menampilkan sosok Arkan yang mengenakan setelan jas abu-abu tanpa dasi, tampak sangat tampan namun guratan kelelahan di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Di belakangnya, Baskara menyusul sambil membawa sebuah kotak beludru hitam berukuran sedang.

Arkan berjalan mendekati sofa, lalu mendudukkan diri di samping Viona. Tanpa izin, dia langsung menarik tubuh ramping Viona ke dalam rengkuhan lengannya, mengecup puncak kepala gadis itu dengan gerakan yang terasa familier dan posesif.

"Baskara, berikan kotaknya," perintah Arkan datar.

Baskara meletakkan kotak beludru hitam itu di atas meja marmer di depan mereka, lalu melangkah mundur untuk memberikan privasi bagi sang bos.

Arkan meraih kotak tersebut dan membukanya di hadapan Viona. Di dalamnya, terbaring sebuah kalung emas putih yang sangat indah dengan liontin berlian berbentuk tetesan air mata yang berkilau mewah di bawah pendar lampu penthouse.

"Ini untukmu," ucap Arkan rendah, suaranya terdengar bariton lembut namun tetap sarat akan kepemilikan mutlak. Pria itu mengambil kalung tersebut, meminta Viona untuk berbalik, lalu memasangkannya di leher jenjang gadis itu. Jemari kasarnya sengaja mengusap kulit leher Viona, membuat gadis itu merinding tipis akibat reaksi naluriah tubuhnya.

Viona menyentuh liontin berlian yang terasa dingin di dadanya. Dia tidak merasa senang dengan perhiasan bernilai ratusan juta ini. Baginya, kalung ini tidak berbeda dengan kalung rantai yang biasa dipasangkan pada hewan peliharaan agar tidak melarikan diri dari tuannya.

"Kenapa Anda memberikan ini? Saya tidak membutuhkannya, Tuan Arkan," lirih Viona tanpa ekspresi.

Arkan membalikkan tubuh Viona agar kembali menghadapnya, menatap lurus ke arah berlian yang berkilau di dada wanita itu dengan kepuasan yang pekat. "Ini adalah simbol bahwa kau adalah milikku, Viona. Berlian ini memiliki pelacak GPS mikro yang terhubung langsung dengan sistem keamanan pribadiku dan Baskara. Ke mana pun kau melangkah di dalam gedung ini, bahkan jika kau mencoba menyelinap keluar lagi seperti di kafe waktu itu, aku akan langsung mengetahuinya dalam hitungan detik."

Napas Viona tercekat di tenggorokan. Dia menatap Arkan dengan tatapan ngeri yang amat sangat. Pria ini benar-benar telah kehilangan kewarasannya akibat obsesi posesifnya yang ekstrem. Kalung ini bukan hadiah; ini adalah borgol elektronik kelas atas yang dipasang untuk memastikan dia tidak akan pernah bisa melangkah keluar dari lingkaran kekuasaan Mahendra.

"Anda... Anda benar-benar gila, Arkan," bisik Viona dengan bibir yang gemetar menahan tangis.

Arkan tidak membantah sebutan itu. Dia justru mendekatkan wajahnya, mengunci bibir Viona dalam sebuah ciuman yang dalam, intim, dan sarat akan dominasi yang mutlak, mengabaikan remasan tangan kecil Viona di dadanya yang mencoba menjauhkan tubuh tegap sang tiran. Di dalam penthouse mewah yang sunyi itu, Viona menyadari dengan kepedihan yang teramat sangat, bahwa benang merah yang mengikatnya dengan Arkan telah berubah menjadi rantai besi tebal yang tidak akan pernah bisa dia putuskan seumur hidupnya.

1
Aysah Meta
Ya tuhan Buu..bisanya kau nolak anak mu,Viona!!Banyak hal sdh dia lalui..Krn km,dia melakukan ini semua.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.
Aysah Meta
Akhirnyaa up juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!