NovelToon NovelToon
Malam Pertama Dengan CEO

Malam Pertama Dengan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikah Kontrak
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Lina meronta-ronta ketika para petugas keamanan menyeretnya keluar dari lounge eksekutif. Tatapannya masih tajam mengarah kepada Kayla, penuh kebencian dan amarah yang belum mereda.

“Dasar wanita jalang!” teriak Lina dengan suara penuh emosi. “Ingat, ini belum selesai!”

“Cepat bawa dia keluar,” perintah Adrian dengan suara dingin.

Mendengar perintah itu, para petugas keamanan segera mempercepat langkah mereka dan membawa Lina meninggalkan ruangan. Suara teriakannya perlahan menghilang hingga akhirnya tidak terdengar lagi.

Setelah Lina pergi, suasana lounge eksekutif kembali tenang seperti semula. Alunan musik instrumental hotel terdengar lembut, menciptakan suasana yang nyaman dan elegan. Beberapa petugas kebersihan segera datang untuk membereskan kekacauan yang terjadi. Mereka membersihkan uang yang berserakan, sisa kue di lantai, serta noda anggur merah yang mengotori beberapa bagian ruangan.

Kayla berdiri diam beberapa saat, masih mencoba mencerna semua kejadian yang baru saja terjadi. Tatapannya perlahan beralih kepada Adrian.

“Terima kasih, Pak Adrian, sudah melindungi saya,” ucap Kayla dengan suara pelan dan sopan.

Adrian menatap Kayla dengan penuh perhatian. Senyum tipis muncul di wajahnya, membuat ekspresi dinginnya yang biasa terlihat menjadi lebih lembut.

“Kamu milikku. Tentu saja aku harus melindungi kamu,” ucap Adrian tanpa ragu.

Ucapan itu membuat Kayla terdiam. Wajahnya perlahan memerah, dan ia buru-buru menundukkan kepala karena merasa malu.

Kemudian Adrian mengalihkan pandangannya kepada Lisa yang sejak tadi berdiri memperhatikan interaksi mereka.

“Nama kamu siapa?” tanya Adrian.

Lisa terlihat sedikit gugup karena tiba-tiba mendapat perhatian dari Adrian.

“Nama saya Lisa, Pak,” jawabnya dengan suara gemetar.

Adrian mengangguk pelan. “Melindungi teman kerja dan melindungi wanita yang sedang hamil adalah tindakan yang bagus. Mulai hari ini jabatanmu naik. Gaji dan tunjanganmu juga dinaikkan dua kali lipat.”

Lisa membelalak kaget. Ia tidak menyangka keputusan itu keluar begitu cepat.

“Te… terima kasih, Pak Adrian,” ucap Lisa dengan suara bergetar. Ia masih sulit percaya bahwa hidupnya berubah hanya karena keberaniannya membela Kayla.

“Lakukan semuanya, Aldo,” kata Adrian.

“Siap, Pak,” jawab Aldo segera.

Setelah itu, Adrian kembali menatap Kayla.

“Aku pergi dulu,” ucapnya lembut. “Kamu hati-hati dalam bekerja, ya.”

Nada perhatian Adrian membuat hati Kayla kembali bergetar. Ia hanya mampu mengangguk kecil.

Kemudian Adrian bersama Aldo berjalan meninggalkan lounge eksekutif.

Kayla menarik napas panjang. Ia menahannya beberapa detik, lalu menghembuskannya perlahan, seolah semua beban berat yang selama ini menekan hidupnya mulai sedikit terangkat.

“Kayla,” panggil Lisa sambil mendekat.

Kayla menoleh.

“Tadi Pak Adrian bilang kamu adalah miliknya…” Lisa menyenggol lengan Kayla dengan rasa penasaran. “Sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dan Pak Adrian?”

Kayla langsung tersentak.

Pertanyaan itu membuat pikirannya kacau. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa dirinya adalah istri Adrian. Ia belum siap membuka rahasia besar itu kepada siapa pun.

“Kita ini karyawan Pak Adrian,” jawab Kayla mencoba tenang. “Tentu saja kita semua adalah miliknya sebagai perusahaan. Bukan hanya aku, kamu juga bekerja di bawah kepemilikan beliau.”

“Masa sih?” Lisa masih terlihat tidak percaya.

Ia menyipitkan mata, lalu tiba-tiba bertanya, “Jangan-jangan kamu mengandung anaknya Pak Adrian, ya?”

Kayla kembali terkejut. Jantungnya berdegup lebih cepat.

Ia belum siap mengatakan bahwa bayi yang ada dalam kandungannya adalah anak Adrian.

“Sudah, sudah… kita harus ganti baju dulu,” ucap Kayla cepat sambil mengalihkan pembicaraan.

Lisa masih menatapnya penuh rasa penasaran, tetapi akhirnya mengikuti Kayla.

Mereka pun meninggalkan lounge eksekutif itu, membawa rasa penasaran dan kebahagian lina yang naik jabatan dan naik gaji.

Sementara itu, Lina yang baru saja tiba di rumah langsung mencari Adam Permana dan Lisa Permana. Wajahnya masih dipenuhi amarah dan rasa malu akibat kejadian di hotel.

Begitu bertemu dengan kedua orang tua angkatnya, Lina langsung mengadu.

“Ayah, Adrian itu keterlaluan sekali! Dia lebih memilih karyawan rendahan daripada aku. Bagaimanapun aku dan dia pernah memiliki perjanjian pertunangan. Seharusnya dia tidak memperlakukanku seperti itu,” ucap Lina dengan emosi yang meluap.

Ia menggenggam tangannya erat, masih merasa sakit hati karena penghinaan Adrian di depan banyak orang.

“Ayah harus bertindak. Cabut saja saham sepuluh persen dari Hotel Perdana milik Adrian itu. Biar dia tahu akibatnya sudah mempermalukan aku!”

Adam Permana menatap anak angkatnya itu dengan rasa iba. Ia mengulurkan tangan dan menepuk bahu Lina dengan lembut.

“Tenang saja, Ayah akan membela kamu,” ucap Adam menenangkan. “Tapi untuk masalah saham, Ayah tidak bisa melakukannya.”

Lina menatap ayah angkatnya dengan kecewa.

“Kenapa tidak bisa, Yah?”

“Kerja sama dengan perusahaan Adrian adalah kerja sama yang paling menguntungkan selama ini. Saham sepuluh persen itu memberikan keuntungan besar untuk keluarga kita. Tidak mungkin Ayah mengambil keputusan hanya karena masalah pribadi,” jelas Adam.

Lina mengepalkan tangannya. Ia masih belum menerima perlakuan Adrian.

“Kalau begitu Ayah harus menekan komisaris agar mengeluarkan karyawan rendahan itu. Dia sudah mempermalukan aku, Yah. Dia bahkan mengatakan keluarga Permana tidak ada apa-apanya,” ucap Lina dengan penuh dendam.

Sebelum Adam menjawab, Lisa Permana yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.

“Kamu jangan ikut campur dalam masalah perusahaan Ayah,” ucap Lisa dengan nada tegas.

Lina menoleh kepada ibunya.

“Saham sepuluh persen di perusahaan Adrian itu kita dapatkan dengan harga murah. Kalau kita mencabut saham itu, tidak akan berpengaruh apa pun pada Adrian,” lanjut Lisa.

Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan.

“Keluarga Wijaya adalah keluarga kaya raya. Kekuatan mereka jauh di atas keluarga kita. Jangan bertindak gegabah hanya karena emosi.”

Wajah Lina langsung berubah masam. Ia merasa tidak mendapatkan dukungan penuh dari kedua orang tuanya.

Melihat ekspresi putri angkatnya, Adam segera merasa khawatir.

“Kamu jangan sedih. Kalau kita tidak bisa membuat perhitungan dengan Adrian, kita masih bisa memberi pelajaran kepada karyawan rendahan itu,” ucap Adam mencoba menenangkan.

“Lina,” panggil Lisa dengan suara tegas. “Ayah dan Ibu mau bicara dulu. Kamu masuk ke kamar.”

“Baik, Bu,” jawab Lina patuh.

Ia berdiri, lalu meninggalkan ruangan. Setelah memastikan Lina tidak lagi mendengar percakapan mereka, Lisa menatap suaminya dengan serius.

“Kamu jangan terlalu memanjakan dia,” ucap Linda pelan. “Dia memang anak angkat kita, tapi lihat bagaimana sikapnya. Dia menjadi sangat sombong dan merasa berkuasa.”

Adam terdiam sejenak.

“Iya, aku tahu. Aku bukan membela dia karena dia benar. Aku hanya membela keluarga Permana,” jawab Adam.

“Iya, iya…” sahut Linda pelan. “Aku hanya khawatir kalau Lena suatu hari ditemukan, Lina akan bersikap arogan kepada anak kandung kita sendiri.”

Mendengar nama Lena, suasana ruangan langsung berubah hening.

Adam perlahan mengambil sebuah foto tua dari dalam jasnya. Ia menatap foto itu dengan penuh kerinduan.

“Sudah dua puluh tahun kamu menghilang, Nak,” gumam Adam lirih. “Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu mendapatkan kehidupan yang layak?”

Linda ikut menatap foto usang itu dengan mata berkaca-kaca.

Selama dua puluh tahun, anak kandung mereka, Lena Permana, menghilang tanpa jejak. Berbagai cara sudah mereka lakukan untuk menemukannya, tetapi sampai hari ini mereka belum mendapatkan kabar apa pun.

Tiba-tiba seorang pria bertubuh tegap masuk ke ruangan.

“Tuan, Nyonya, kami menemukan jejak organisasi perdagangan anak yang dulu terkait dengan hilangnya Nona Lena. Jejaknya berada di Kota Rawa,” lapornya.

Linda langsung berdiri. Matanya membesar penuh harapan.

“Apakah Lena sudah ditemukan?” tanyanya dengan suara bergetar

1
Ariany Sudjana
Linda juga sama, apa ga ada niat untuk mencari kebenaran dulu? malah mau saja percaya dengan omongan pelacur murahan
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Lina, dan mau saja dibodohi sama perempuan sampah seperti Rina... katanya orang kaya, tapi bodohnya kebangetan
Ariany Sudjana
berarti Kayla anak kandungnya Linda yang hilang itu ya? semoga Adrian bisa menemukan siapa orang tua kandungnya Kayla, dan membungkam mulut si pelacur murahan Rina, juga Lina itu
Ariany Sudjana
kenapa bab 28 dan 29 isinya sama?
Adi Sudiro
wanita 2 menjijik kan apak mereka anak kandung..?
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan yang ga tahu diri kalian itu, Rina, Mila, sama saja, sama-sama pelacur dan kalian harusnya dibunuh saja, karena sudah mengusir istri bos. mampus kalian🤣🤣😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!