NovelToon NovelToon
Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Penyesalan Suami
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.

Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.

Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Kalimat itu membuat Nadia spontan tertawa pelan. Bukan tawa bahagia. Melainkan tawa yang dipenuhi rasa tak percaya. "Nauzubillah." Reno mengernyit. "Nauzubillah min dzalik." Tatapan Nadia berubah tajam. "Jangan terlalu tinggi menilai dirimu sendiri." Wajah Reno langsung berubah. "Yang ada..." lanjut Nadia, "kamulah yang tidak kasihan sama Kian."

"Apa hubungannya?"

"Kamu memilih berselingkuh." Reno hendak menyela, tetapi Nadia tidak memberinya kesempatan. "Kamu menghancurkan keluargamu sendiri." Suara Nadia mulai bergetar. "Kamu mengkhianati amanah sebagai suami dan ayah." Ia menunjuk dada Reno. "Jangan membalikkan keadaan seolah-olah aku penyebab semua ini." Nadia menatapnya tanpa gentar. "Yang membuat Kian kehilangan rumah besarnya bukan aku. Yang membuat Kian harus melihat ayahnya memeluk perempuan lain juga bukan aku, dan yang paling menyakitkan," air mata Nadia mulai menggenang, "kamu melakukan semua itu dengan sadar."

"Kamu bicara kasihan pada Kian." Nadia menggeleng pelan. "Kalau memang kasihan, seharusnya sejak awal kamu menjaga keluargamu. Bukan memilih berselingkuh dan melakukan dosa besar, lalu sekarang datang menghakimiku karena berusaha menyelamatkan sisa harga diri kami. Lagipula Reno, kamu juga harus kasihan pada dirimu sendiri sebelum mengasihani aku," Nadia sengaja agak berbisik. "Zina itu dosa besar. Hukumnya nggak main-main, Reno. Sudah siap belum, menghadapi api neraka!" Nadia tersenyum mengejek.

Suasana mendadak sunyi. Beberapa tetangga mulai melirik dari balik jendela, memperhatikan keributan di depan rumah kontrakan itu.

Nadia membuka pagar. "Mulai sekarang, jangan datang ke rumahku tanpa izin." Ia menatap Reno untuk terakhir kalinya. "Kalau tujuanmu hanya untuk menyakiti kami, pintu rumah ini akan selalu tertutup untukmu." Tanpa menunggu jawaban, Nadia masuk ke dalam rumah dan menutup pagar perlahan.

Reno tetap berdiri di luar. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa perempuan yang dulu selalu menangis memohon kini sudah tidak lagi takut berdiri sendirian. Meski tinggal di rumah sederhana, harga diri Nadia jauh lebih kokoh daripada saat masih hidup dalam kemewahan bersamanya.

Nadia buru-buru mengunci pintu. Setelah tertutup, ia menyenderkan tubuhnya ke pintu. Lalu mengintip, memastikan Reno pergi dari kontrakannya. Setelah lelaki itu menghilang dari pandangan Nadia, perempuan itu langsung terduduk.

"Astaghfirullah, Astaghfirullah. Mulutku ini ya Allah ampuni hamba. Sungguh hamba nggak bermaksud mengejeknya dengan dosanya. Hamba hanya berusaha menjaga hati hamba agar tidak rapih." Nadia berulang kali mengucapkan istighfar.

***

Waktu terus berjalan. Nadia mulai terbiasa dengan rutinitas barunya. Pagi mengantar Kian ke sekolah, siang hingga malam duduk di depan mesin jahit menyelesaikan pesanan pelanggan. Penghasilannya memang belum besar, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan hidup sederhana. Hingga suatu pagi, ponselnya berdering. Nomor sekolah Kian.

"Assalamu'alaikum, Bu Nadia. Mohon maaf mengganggu. Apakah Ibu bisa datang ke sekolah hari ini? Ada sedikit hal yang ingin kami sampaikan."

"Tentu, Bu."

Nada bicara guru itu terdengar hati-hati, membuat perasaan Nadia mendadak tidak enak. Satu jam kemudian, Nadia sudah duduk di ruang administrasi sekolah. Petugas administrasi membuka sebuah map, lalu tersenyum canggung. "Maaf ya, Bu Nadia. Kami hanya ingin mengonfirmasi. Uang SPP Kian bulan ini belum masuk."

Nadia terdiam beberapa detik. "Belum masuk?"

"Iya, Bu."

Jantung Nadia berdegup lebih cepat. Selama ini urusan pembayaran sekolah memang selalu ditangani Reno. Bahkan sebelum mereka berpisah, Reno pernah berkata bahwa biaya pendidikan Kian akan tetap menjadi tanggung jawabnya.

"Baik, Bu. Saya akan cek dulu."

Nadia pamit meninggalkan ruang administrasi. Begitu sampai di halaman sekolah, ia langsung menghubungi Reno. Telepon baru berdering dua kali. "Halo. Reno, pihak sekolah bilang uang SPP Kian belum dibayar."

"Terus?"

Nadia mengernyit. "Kamu lupa transfer?"

"Bukan lupa." Reno tertawa kecil. "Aku memang sengaja nggak bayar."

Nadia terdiam. "Apa maksudmu?"

"Kan sudah kubilang." Suara Reno terdengar santai, seolah mereka sedang membicarakan hal sepele. "Aku nggak akan membayar apa pun." Jantung Nadia seperti diremas. "Aku juga nggak akan menafkahi sepeser pun."

"Reno..."

"Sampai kamu sadar."

"Sadar apa?"

"Sampai kamu kembali kepadaku."

Nadia memejamkan mata. "Jadi kamu tega menjadikan kebutuhan anakmu sebagai alat untuk memaksaku pulang?"

"Pilihan ada di tanganmu." Reno terdengar begitu yakin. "Kamu tinggal kembali. Semua akan kubayar lagi."

Nadia tidak menyangka seorang ayah bisa menggunakan hak anaknya untuk menghukum mantan istrinya. "Astaghfirullah..." Suara Nadia bergetar. "Zalim kamu, Reno."

"Jangan lebay."

"Ini bukan soal aku!" Nada suara Nadia meninggi untuk pertama kalinya. "Ini hak Kian. Kamu marah sama aku, silakan. Tapi jangan hukum anakmu."

"Dia tetap anakku."

"Kalau begitu, bertindaklah seperti seorang ayah!"

Reno terdiam sesaat, lalu menjawab dingin. "Aku sudah bilang syaratnya."

Sambungan telepon langsung terputus. Nadia menatap layar ponselnya yang kini gelap. Dadanya sesak. Tidak. Ia tidak akan membawa Kian kembali ke rumah yang dipenuhi pengkhianatan hanya demi uang sekolah.

Nadia menarik napas panjang, lalu kembali masuk ke ruang administrasi. "Bu," katanya sambil tersenyum tipis, meski matanya masih memerah. "Mohon beri saya waktu beberapa hari. Saya akan melunasi semua tunggakan Kian." Mungkin ia harus bekerja lebih keras. Mungkin ia harus menerima pesanan sampai larut malam. Tetapi satu hal yang pasti. Ia tidak akan pernah menggadaikan harga dirinya demi seseorang yang tega menjadikan anaknya sebagai alat tawar-menawar.

Sepulang dari sekolah, langkah Nadia terasa jauh lebih berat daripada biasanya. Rumah kontrakan yang selama ini memberinya ketenangan mendadak terasa begitu sunyi. Ia meletakkan tas di atas kursi, lalu terduduk lemas di depan mesin jahit yang menjadi saksi perjuangannya setiap hari. Tatapannya kosong.bUntuk pertama kalinya sejak meninggalkan Reno, Nadia benar-benar merasa buntu. Bukan karena ia merindukan suaminya. Melainkan karena ia tidak tahu harus mencari biaya dari mana. Kuyan sekolah di sekolah swasta terbaik di kota ini, biaya sekolahnya juga tidaklah murah.

Mahar yang selama ini disimpannya dengan baik telah habis digunakan. Sebagian untuk membayar kontrakan selama satu tahun agar ia dan Kian tidak perlu berpindah-pindah tempat. Sebagian lagi untuk membeli mesin jahit, kain, benang, dan perlengkapan usaha. Sisanya menjadi pegangan hidup mereka selama beberapa bulan terakhir.

Kini, uang di rekeningnya tinggal cukup untuk kebutuhan sehari-hari dalam waktu yang tidak lama. Belum lagi tagihan listrik, biaya makan, ongkos sekolah Kian, dan SPP yang harus segera dilunasi.

Nadia membuka aplikasi perbankan di ponselnya. Nominal yang tertera membuat dadanya semakin sesak. "Ya Allah..." Ia memijat pelipisnya pelan. "Harus bagaimana lagi?" Ia sempat berpikir menjual mesin jahitnya. Namun pikiran itu langsung ia tepis. Kalau mesin jahit dijual, dari mana ia akan mendapatkan penghasilan?

Ia juga tidak mungkin meminjam uang kepada Dila. Sahabatnya itu memang pasti akan membantu tanpa banyak bertanya, tetapi Nadia tidak ingin setiap kesulitannya menjadi beban bagi rumah tangga orang lain.

1
falea sezi
knp jd bertele tele thor😒 kayak ikan terbang🤣
falea sezi
kenapa Fachri jd goblokk🤣🤣 niat bantuin. g sih
Iffanaya 😽
kk aku ikutan mewek...pls Thor bikin kian balik ke ibunya trs bongkar kebusukan karin Thor gk tega liat kian tertekan 😭😭
Muji Lestari
lanjutt thorrr
falea sezi
lanjut
falea sezi
makanya jd istri jangan bego wkt jd istri nabung yg banyak kuras harta sembunyikan klo suami selingkuh qm cerai g susah 😒
Iffanaya 😽
ditunggu lanjutannya kk 🫶
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!