NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:160
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7

Dari sebelum ujian tengah semester hingga sekarang, Valeska melupakan yang namanya tidur di bawah jam10 malam. Dia terperangkap dalam tumpukan tugas sekolah yang tidak ada habisnya. Valeska terus mengerjakan tugas sekolah dengan baik, tanpa memberikan celah sedikitpun untuk beristirahat.

Padahal, tubuh dan pikirannya sudah meminta haknya, tapi selalu Valeska hiraukan. Belajar tanpa jeda, seakan menjadi rutinitasnya. Hari ini, di sekolah. Gadis berambut panjang terurai, tampak lesu, hanya diam sembari menidurkan kepalanya di atas meja. Begitu istrahat, dia kehilangan kesadaran lagi hingga membuat orang terdekatnya khawatir.

Sepanjang diperjalanan, Valeska menyenderkan kepalanya di punggung Kaivandra. Tanpa bertanya terlebih dahulu, Kaivandra mengarahkan motornya ke arah rumah sakit yang tidak jauh dari tempat Valeska bersekolah.

"Abang, kita mau ke mana?" tanya Valeska, pelan.

Kaivandra mengurangi kecepatan motornya, lalu menjawab, "Kita ke rumah sakit dulu, dek."

"Nggak perlu, bang. Lagian adek, cuma kelelahan," ucapnya, sembari mengangkat kepalanya saat motor Kaivandra terhenti di lobi rumah sakit.

"Kata dokter, ini bukan sekedar kelelahan aja. Abang khawatir, kita periksa dulu,"

"Adek bilang, nggak kenapa-napa. Kenapa musti khawatir?" tanya Valeska, sedikit kesal.

Kaivandra menghela napas berat, "Adek nggak akan paham. Intinya, abang takut adek kenapa-napa."

Keduanya turun dari motor setelah mendapatkan tempat parkir. Valeska menatap abangnya tanpa henti.

"Kali ini, adek menolak. Ayok putar balik, adek pengen istirahat di kamar."

Kaivandra memeluk tubuh Valeska, dan mengelus rambutnya penuh dengan kelembutan. "Dan kali ini, Abang nggak akan menuruti permintaan cantiknya abang."

Valeska berjalan mengikuti abangnya, dia terus menghentakkan kaki dengan wajah cemberut. "Kalau adek udah ke sini, pasti selalu di opname. Adek nggak mau, adek masih ada tiga hari buat ujian. Adek nggak suka rumah sakit, pokoknya adek nggak mau diperiksa, abang!"

"Abang, ayok pulang! Adek nggak suka rumah sakit!" seru Valeska, sambil memukul-mukul badan Kaivandra.

Kaivandra mencoba menenangkan sang adik, dengan perkataan yang lembut. "Apa yang perlu ditakuti? Abang hanya ingin memastikan kalau kondisi cantiknya abang ini nggak kenapa-napa."

Valeska masih merengek. "Ya ampun abang, ayok kita pulang. Adek janji, habis ini adek bakal istirahat, nggak akan bandel."

Kaivandra terus mengabaikan ocehan sang adik, dia mendekati resepsionis rumah sakit tanpa peduli dengan rengekan Valeska.

"Selamat sore, Kak. Saya ingin pemeriksaan kesehatan buat adik saya, apakah bisa?"

Resepsionis mengangguk, sambil memberikan satu lembar formulir untuk diisi, "baik, isi formulir dulu ya."

Tanpa banyak mikir, Kaivandra mengisi formulir dengan penuh ketelitian. Sementara Valeska, dia hanya bisa diam lantaran merasa tubuhnya semakin lemah.

"Abang, adek mau pulang. Jangan dilanjutin isi formulirnya," Kaivandra tidak merespons, seakan tidak ada yang berbicara. Alhasil, Valeska hanya bisa pasrah.

Setelah menunggu sekitar 20 menit, akhirnya nama Valeska dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan. Tentunya, dia ditemani oleh Kaivandra. Valeska merebahkan badannya di atas kasur pesakitan, dengan wajah masam.

"Kenapa? Kok cemberut?" tanya dokter bernama, Rijal.

"Tahu nih, Dok. Kesel banget sama abang. Padahal aku udah bilang kalau aku ini baik-baik aja, tapi masih dipaksa buat ke sini." Valeska menjawab dengan nada ketus.

"Adek, jangan kayak gitu. Itu namanya nggak sopan, bicara yang baik." Tegurnya.

Dokter Rijal yang merasa gemas dengan mereka, berusaha bersikap profesional, "Apa boleh saya, melakukan pemeriksaan sekarang?"

"Silakan, Dok."

Dengan penuh keseriusan, dokter terus memeriksa kondisi Valeska, memberikan arahan pada asisten untuk mencatat semua gejala yang dirasakan oleh pasien, hingga akhirnya dokter tersebut menghela napas panjang.

Setelah pemeriksaan, dokter mengangkat kepalanya dan menoleh pada Kaivandra, kemudian menyampaikan informasi yang mungkin saja sangat sulit untuk diterima oleh keduanya.

"Dari hasil pemeriksaan hari ini, saya menemukan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk disampaikan sekarang. Saya sarankan untuk rawat inap dulu di rumah sakit ini, agar besok bisa melanjutkan pemeriksaan secara menyeluruh agar tidak terjadi salah diagnosa," jelas dokter, Rijal.

Kaivandra menatap dokter di depannya dengan tatapan terkejut, kemudian menatap sang adik dengan tatapan iba, "Apa yang terjadi dengan adik saya, Dok? Kenapa musti diperiksa lebih lanjut?"

Dokter Rijal, berusaha tetap tenang. "Tidak apa, semoga ini hanya firasat saya saja. Besok dokter bedah saraf akan ke sini, untuk melakukan pemeriksaan fisik, terutama pemeriksaan sistem saraf."

"Asisten saya, akan segera menyiapkan ruangan untuk rawat inap." Lanjutnya pelan.

Meski awalnya terasa berat, Kaivandra pun berakhir menyetujui apa yang dikatakan oleh dokter Rijal. Begitupun dengan Valeska, gadis itu diam tanpa berontak karena merasa tubuhnya semakin melemah.

***

Pukul 17:30 sore menjelang malam, Valeska sudah dipindahkan ke ruang rawat. Kaivandra duduk di samping tempat tidur rumah sakit, sembari menatap tabung kecil yang tersambung ke selang infus, menetes secara perlahan dan mengalir pelan pada tubuh kecil yang terlihat tidak berdaya.

Ruang rawat begitu sunyi, membuat pikiran Kaivandra semakin kalut. Perawat baru saja masuk dengan penuh kehati-hatian, memastikan semuanya berjalan dengan baik tanpa ada penyumbatan.

"Bang, adek ngantuk."

"Ya udah, tidur aja. Abang di sini jagain, adek," jawabnya lembut.

Meskipun sedang tidur, namun Valeska masih bisa merasakan cairan yang masuk ke dalam tubuhnya melalui selang infusan, memberikan rasa tidak nyaman. Kaivandra yang paham, bergegas mengusap-usap bagian tangan kiri sang adik, agar mengurangi ketidaknyamanan itu.

"Adek juga manusia, sama seperti abang, kenapa musti berusaha banget? Kita nggak bisa memaksakan biar tubuh kita kuat, kalau tubuh meminta haknya, berikan. Jangan egois ya kalau jadi orang, kalau sudah begini gimana? Abang juga yang ikut merasakan sakitnya. Dasar bocah nakal!" Kaivandra berkata seraya menatapwajah Valeska.

Malam sekitar pukul 18:00, ketiga sahabat Kaivandra menerima kabar tentang adiknya yang lagi dan lagi masuk rumah sakit. Tanpa berpikir panjang, mereka segera beranjak pergi dan bergegas ke rumah sakit.

Hitungan menit, Satya sudah berada di garasi rumah dan meminta pak satpam di rumahnya untuk segera membuka gerbang. Langkah satpam itu terlihat buru-buru saat suara motor Satya sudah mendekat.

"Pak, kalau Bunda nanya, jawab aja Satya lagi ke luar dulu. Soalnya adik Kaivandra sakit." Ucapnya dengan nada yang lumayan tinggi.

"Baik, Den. Hati-hati."

Sementara di tempat lain, tepatnya di dalam mall, Arjuna terlihat kebingungan saat mengetahui bahwa Valeska di opname. Pacar Arjuna yang melihat ekspresi kebingungan itu, langsung bertanya.

"Ada apa sayang? Kenapa kamu tiba-tiba gelisah kayak gini?"

"Sayangnya Arjuna, cantiknya Juna, sekarang adik Kaivandra sedang di opname. Aku khawatir, boleh nggak kita jenguk dulu ke rumah sakit? Kalau kamu nggak mau, gapapa kok, aku nggak maksa.

"Pacarnya itu nampak terdiam sejenak, setelah mengingat betapa baiknya Valeska, jadi tidak ada alasan untuk melarang Arjuna menjenguk. Dan akhirnya, dia menyetujui permintaan Arjuna.

"Aku ikut, sebelum ke sana, baiknya kita beli makanan dulu buat Kaivandra dan adiknya.

Arjuna mengangguk, dan langsung berjalan menuju toko roti yang berada di dalam mall.

"Valeska, sukanya roti rasa apa?"

"Dia suka coklat, tapi jangan dibeliin deh, kan lagi sakit. Mending beliin yang tawar aja,"

"Kalau Kaivandra?"

"Dia roti rasa abon sama keju, sekalian ambil buat kamu juga sayang, nanti biar aku yang bayar,"

"Oke." Jawabnya antusias. Setelah dirasa cukup, keduanya bergegas melakukan transaksi.

Langit yang gelap dengan dihiasi beberapa bintang di angkasa, menjadi teman bagi perjalanan mereka menuju rumah sakit. Dan di tempat lain, Vikara yang baru saja selesai makan malam dan sedang bersantai di ruang televisi bersama keluarganya, langsung bangkit berdiri tidak peduli reaksi orang tuanya seperti apa.

Dia berlari menuju lantai dua, sambil berteriak. "Ayah, tolong kasih tahu mang Fendi keluarin motor ya, sekarang."

"Memangnya kamu mau ke mana?"

"Mau ke rumah sakit, mau jenguk adiknya Kaivandra." Jawabnya.

Setelah mengambil jaket dan kunci motor di lantai dua, Vikara langsung berpamitan kepada kedua orang tuanya. Dengan langkah cepat, dia berjalan menuju motor yang sudah terparkir di depan.

"Den, mau nongkrong?" tanya mang Fendi, yang tidak sengaja berpapasan dengan Vikara.

"Bukan Mang, Vikara pamit dulu ya soalnya lagi buru-buru mau ke rumah sakit, adik Kaivndra sakit. Jangan lupa tutupin gerbangnya, bye mang Fendi."

"Oalah, Non Valeska sakit lagi." Lanjutnya pelan, kebetulan mang Fendi sangat kenal dengan adiknya Kaivandra.

Setelah menerima pesan dari grup bernama, skip deadline, mereka yang awalnya memiliki aktivitas masing-masing, langsung bergegas ke rumah sakit tanpa memperdulikan hal lain.

***

Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor rumah sakit.

"Malam Kak, pasien atas nama Valeska di ruangan mana?" tanya Satya pada resepsionis.

"Sebentar ya," jawabnya dan langsung melihat data pasien. Resepsionis pun memberikan informasinya,

"Pasien atas nama Valeska, berada di dalam ruangan 210, lebih tepatnya lantai tiga. Nanti, bisa lewat lift yang berada di ujung sana."

Satya mengangguk sembari tersenyum simpul, "Baik, terima kasih, Kak." Dia meninggalkan tempat tersebut dan masuk ke dalam lift, sesuai dengan arahan.

Dengan langkah yang tergesa-gesa, dia berhasil menemukan ruangan tempat Valeska dirawat. Dengan pelan, dia membuka pintu dan langsung melihat sosok Kaivandra yang sedang terduduk di sofa.

"Adik lo, kenapa lagi?" tanya Satya, to the point.

Kaivandra menoleh dan menatap sahabatnya, "Duduk dulu, nanti gue jelasin."

Satya menutup kembali pintu ruangan, dan duduk di sebelah Kaivandra. "Wajah adik lo, pucet banget, Kai."

"Namanya orang sakit, ya pucet ege!" jawab Kaivandra, pelan.

"Kesekian kalinya?"

Kaivandra memijat keningnya, lalu bersandar pada sandaran sofa. "Gue juga bingung, padahal sebelum masuk SMA dia nggak kayak gini, sekarang rumah sakit udah kayak rumah keduanya."

Dia berkata seraya menatap sang adik yang masih terlelap dalam tidurnya, terlihat begitu nyaman, meskipun dalam kondisi kurang mengenakan. Lima menit telah berlalu, Satya menoleh ke arah pintu.

"Lah, bukannya lagi pacaran ya? Kok ke sini?"

"Gue nggak bisa berduaan dalam kondisi adik gue sakit, ya meskipun dia bukan adik kandung. Nggak apa-apakan, Kai?" tanya Arjuna, serius.

"Makasih karena udah menganggap Valeska, adik kalian. Sorry banget, momen pacaran kalian jadi terganggu," jawab Kaivandra.

"Lo, nggak salah. Kebetulan pacar gue juga paham kok, jadi dia mau diajak ke sini. Vikara mana?"

"Hai ahli neraka."

"Bodoh! Ucap salam, bukannya kayak gitu! Dasar anak kuyang!" Timpal Arjuna, kemudian mencubit lengan Vikara.

"Kai?"

Dengan langkah cepat, dia langsung mendekati ke arah Kaivandra. "Kai, Valeska kenapa? Dokter bilang apa tadi sore?"

"Belum dikasih tahu, besok ada pemeriksaan lanjutan sama dokter bedah saraf," jawab Kaivandra, lesu.

Sejujurnya, dia sedang tidak enak hati, jika yang menangani dokter bedah saraf, berarti ada hal serius yang menimpa sang adik. "Astaga. Padahal kita sebagai abang, sering banget ngasih tahu buat istirahat yang cukup, makan yang sehat,jangan sampai memaksakan diri,"

"Makan apalagi, dia susah banget," sahut Satya, tak kalah lesu.

Baru juga sekitar 10 menit, Vikara masuk ke dalam ruangan. Sudah ada 3 orang lagi yang tiba-tiba membuka pintu ruangan. Atensi mereka pun teralihkan dan menoleh kearahnya.

"Kalian?" mereka semua menatap ketiga teman dekat Valeska. Mau ngapain mereka ke sini? Dan siap yangsudah memberitahu soal Valeska, di rawat?

"Kalian ke sini sama siapa? Kok bisa tahu kalau Valeska ada di ruangan ini? Padahal sejak tadi sore, Valeska nggak megang handphone," tanya Kaivandra.

"Beberapa jam yang lalu, aku nggak sengaja melihat bang Kaivandra mengobrol di depan ruangan ini dengan seorang dokter. Dan dokter itu, adalah ayah aku. Maaf ya, aku lancang bertanya terkait ini pada ayah aku.Tolong jangan marahi aku, bang," jawab Prisha, dengan raut wajah yang terlihat ketakutan.

"Seenggaknya, kalau mau ke sini kasih tahu dong. Tahu gitu, nanti dijemput sama mereka," ucap Kaivandra.

"Betul, kalian 'kan anak perempuan, nggak seharusnya keluar malem-malem gini, nanti kalau ada yang nyulik gimana?" tanya Satya.

"Kebetulan aku sama Laksha ke sini nya dianterin sama pak sopir. Kalau Prisha, dia bareng sama ayahnya tadi sore. Jadi aman," jelas Anaya diakhiri dengan senyuman ramah.

"Mau lihat Valeska dulu, nggak?"

Ketiganya kompak mengangguk lalu berkata, "Mau, bang."

Kaivandra melangkah lebih dulu, diikuti Anaya, Prisha, dan Laksha. Di belakang mereka, Satya, Vikara, dan Arjuna berjalan tenang, dengan Arjuna setia menggenggam tangan kekasihnya. Prisha, Anaya, dan Laksha mendadak diliputi rasa bersalah. Mereka sering meminta bantuan pada Valeskasoal pelajaran, tapi saat ujian tengah semester, Valeska justru ditegur oleh guru Biologi lantaran gagal menjawab soal dengan baik.

Materi yang mereka pelajari bersama seakan lenyap diingatan Valeska, dan dibawah pengawasan ketat, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Tanpa disangka, air mata mengalir deras, sebuah penyesalan yang tumbuh perlahan dalam hati mereka.

Valeska terganggu dan perlahan membuka mata. Kaivandra memberi isyarat pada ketiga teman adiknya, agar menghapus air mata yang membasahi pipinya, seperti sungai kecil yang mengalir.

"Bang ..." panggil Valeska lirih.

Ia menoleh, matanya menangkap wajah-wajah familiar. "Kok ramai? Kalian ... kenapa bisa di sini?"

Ketiga temannya hanya tersenyum tipis, mencoba menenangkan."Bang, jangan kasih tahu Mama Papa, ya." Kaivandra mengernyit lembut.

"Lho, kenapa? Biasanya, kan, adek selalu minta mereka datang." Valeska menggeleng pelan.

"Adek nggak mau ngerepotin. Biar mereka fokus kerja. Dulu pas adek minta dijenguk, mereka nggak datang, kan?"

Mendengar penjelasan Valeska, mereka semua yang berada di ruangan mendadak hening. Ada rasa sedih yang tidak bisa diutarakan, tapi juga, ada rasa bangga dengan cara berpikir Valeska.

"Kan ada kita, nggak boleh sedih. Kita semua sayang kamu, dek." Sahut Arjuna.

Mereka semua pun kompa ktersenyum dan berusaha menghilangkan kesedihan itu. Masih di ruangan yang sama, Prisha berbisik pada Anaya dan Laksha.

"Valeska beruntung, punya abang yang baik, dan ketiga sahabat abangnya pun menyayangi dia seperti adik kandung."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!