Jihan Aisha Ramadhani yang dijodohkan oleh ayahnya dengan Dokter muda tampan. awal mereka menikah saling bermusuhan, tetapi seiring berjalannya waktu cinta mulai bersemi diantara keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaynaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 | Ubah Panggilan
Eric segera membangunkan Jihan dengan cara mengelus-elus pipinya. Jihan pun mulai membuka matanya.
"Kenapa?" Tanya Jihan.
"Makan dulu yuk, kan lo belum makan," Ajak Eric.
"Tapi gue ngga laper." Ujar Jihan.
"Inget Han, ada bayi kecil di dalem perut lo. Kalo lo ngga makan, dia juga ngga makan dong?"Ucapan Eric membuat Jihan merubah posisinya menjadi duduk.
"Ayo makan! Tapi lo makannya steak kangguru ya!" Pinta Jihan.
"Serius harus gue yang makan Han?" Tanya Eric agak ragu.
"Iya, gue mau liat lo makan steak kangguru," Jawab Jihan dengan wajah memelas.
"Yaudah iya iya, gue makan steak kangguru biar lo puas," Ujar Eric pasrah.
"Nah gitu dong, calon papa!"
Jihan segera turun dari ranjangnya dan Eric mengambil steak kangguru yang ia taruh di meja. Mereka berdua segera turun ke bawah menemui Feri.
Jihan segera duduk di kursi makan sedangkan Eric menuju ke dapur untuk menghangatkan steaknya di microwave.
"Eric mau kemana?" Tanya Feri.
"Mau manasin steak dulu yah," Jawab Jihan.
"Kok malah beli steak? Kan bibi udah masak," Ujar Feri.
Jihan tidak menjawab dan hanya tersenyum.
Saat Eric sudah selesai memanaskan steaknya ia segera duduk di sebelah Jihan.
"Itu steak apa Ric?" Tanya Feri.
"Steak kangguru ayah," Jawaban Eric membuat Feri membulatkan matanya.
"Steak kangguru? Kenapa kamu beli itu, kan bibi udah masak," Ujar Feri.
"Ini permintaannya Jihan, ayah," Ucap Eric sembari melihat ke arah Jihan yang sedang menahan tawanya.
Feri langsung melihat ke arah Jihan dan menatap aneh kearahnya.
"Kenapa ayah ngeliatin Jihan kayak gitu?" Tanya Jihan.
"Kenapa kamu nyuruh Eric beli steak kangguru? Kamu lagi ngidam?" Ucapan feri membuat Jihan dan Eric saing menatap satu sama lain.
"Kok ayah tau kalo Jihan hamil?" Tanya Jihan.
"Berarti bener, kamu lagi ngidam? Ayah cuman nebak aja tadi," Ucap Feri santai sembari mengambil nasi dan lauk pauk yang ada di hadapan.
"Ayah ngga kaget?" Tanya Jihan.
"Kenapa harus kaget? Ayah udah tau kalo kamu hamil, soalnya gelagat kamu kayak bunda, waktu dulu hamil kamu," Jelas Feri.
"Oh iya? Jihan justru ngga ngerasa apa-apa tuh," Ucap Jihan yang melihat ke seluruh tubuhnya.
"Lo emang ngga nyadar Han, tapi orang disekitar lo yang bakal nyadar." Ujar Eric sembari memotong steak kangguru yang ada dihadapannya itu.
"Lo harus habisin ya, ngga boleh nyisa!" Ujar Jihan sembari tertawa jahat.
"Jahat banget," Ucap Eric.
Jihan pun segera mengambil nasi dan lauk pauk dan memakannya. Jihan menatap ke arah Eric yang sedang memakan steak kanggurunya. Ia merasa puas saat melihat Eric makan. Berasa seperti hasratnya terpenuhi oleh Eric.
Saat sudah selesai makan, Jihan merasa mengantuk. Ia akan pergi tidur sekarang juga. Saat Jihan ingin berdiri, Feri menahannya.
"Kenapa ayah? Jihan mau tidur, ngantuk," Ujar Jihan.
"Baru makan kok langsung tidur Han? Kamu harus jaga kesehatan mulai sekarang! Eric, kamu harus perhatikan istri kamu, jangan sampai dia melakukan hal bodoh yang dapat membahayakan kesehatannya!" Pesan Feri.
"Iya ayah, Eric akan lebih ketat menjaga Jihan dari biasanya," Ucap Eric.
"Emangnya Jihan anak kecil apa yah? Jihan kan udah besar, Jihan bisa kok jaga kesehatan Jihan sendiri," Bantah Jihan.
"Kamu emang bukan anak kecil Jihan, tapi kamu ibu hamil. Ibu hamil perlu pengawasan ekstra dari suaminya." Jelas Feri.
"Dan ayah juga mau bilang sama kalian. Sampai kapan kalian masih manggil satu sama lain dengan panggilan gue elo? Kalian kan sudah mau punya anak, gantilah panggilannya, jadi kata romantis." Lanjut Feri.
"Bener juga kata ayah, gue kan selama ini manggil Jihan dengan sebutan gue elo. Ngga enak juga sih didenger buat orang yang udah menikah," Batin Eric.
"Iya juga ya, gue sama sekali belum pernah manggil Eric dengan sebutan sayang, padahal kan kita udah nikah," Batin Jihan.
"Iya ayah," Ujar Eric dan Jihan serempak.
Mereka berdua segera masuk ke kamarnya dan meninggalkan Feri sendirian. Saat dikamar, mereka sama-sama diam. Tidak ada obrolan apapun yang terjadi saat itu, Jihan tengah duduk di depan komputer sembari melamun, sedangkan Eric sedang duduk di tepi ranjang sembari melamun juga.
Melihat suasana hening, Eric mulai membuka suara.
"Han," Ucap Eric. Jihan membalikkan tubuhnya dan menatap Eric.
"Apa?" Jawab Jihan.
"Omongan ayah ada benernya juga, kita ngga boleh manggil satu sama lain dengan sebutan gue elo lagi. Kita harus ganti sama aku kamu. Gimana, lo mau ngga?" Ujar Eric.
"Iya, gue juga mikir gitu. Mending dari sekarang aja kita ubah panggilan kita?" Ucap Jihan.
"Iya boleh, Lo duluan coba,"
Jihan berdehem sebelum berbicara.
"Ekhem, kamu mau ngapain?" Tanya Jihan sembari menahan tawa. Eric pun tak kuasa menahan tawanya.
"Ngakak dah, ngapain sih kita ketawa!" Ucap jihan.
"Ya lo duluan yang ketawa, gue juga ikut ketawa." Ujar Eric.
"Oke oke, serius sekarang!" Jihan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.
"Mas Eric, besok mau aku masakin apa?" Perkataan Jihan membuat jantung Eric berdegup kencang. Eric tidak bisa mengatakan apapun saat ini.
"Kenapa diem? Ngga pantes ya?" Tanya Jihan yang tidak percaya diri.
"Hah? Pantes kok pantes banget! Panggil gue seterusnya kayak gitu ya? Gue suka banget!" Ucap Eric sembari tersenyum.
"Serius, kamu suka mas?" Tanya Jihan dengan muka konyol.
"Suka sayang! Suka banget!" Ujar Eric sembari mendekati Jihan dan menggendongnya ala bridal.
Jantung Jihan mulai berdegup kencang seperti waktu itu, sebelum akan melakukannya bersama Eric.
"Mas, kayaknya ngga boleh deh. Kan aku lagi hamil," Ucap Jihan dengan hati-hati.
"Kata siapa? Kan aku Dokter, boleh-boleh aja kok!" Ujar Eric.
"Ta...tapi,"
Tanpa aba-aba Eric langsung merebahkan tubuh Jihan di ranjang dan Eric langsung mematikan lampu kamar.
"Selamat tidur sayang!" Ucap Eric sembari merebahkan dirinya di samping Jihan.
Eric memeluk erat tubuh Jihan sembari menciumi tengkuk lehernya. Jihan yang merasakan hal itu, langsung berbalik badan ke arah Eric. Dan sekarang, mereka berhadapan.
"I love you Dokter tampan!" Bisik Jihan tepat di telinga Eric.
"I love you too Mahasiswa cantik!" Balas Eric.
"Makasih udah kasih mas anak," Ujar Eric.
"Sama-sama mas,"
Mereka pun sama-sama terlelap dalam pelukan hangatnya masing-masing.
\*\*\*
Keesokan harinya, saat Eric membuka matanya, ia terkejut saat Jihan tidak ada di sampingnya. Ia melihat kesana kemari, tetapi Jihan tidak tampak.
"Jihan, kamu dimana?" Teriak Eric tetapi tidak ada jawaban apapun. Eric beranjak dari ranjangnya dan mencari Jihan ke seluruh ruangan yang ada di kamar. Tetapi, Jihan tetap tidak ada.
Ia mulai keluar dari kamar dan mencari Jihan. Saat Eric melihat ke arah dapur, terlihat Jihan sedang memasak dibantu oleh bibi. Eric yang melihat itu langsung lega dan tersenyum tipis.