"Kau hanyalah sebatas istri pengganti!"
Clara Lyman terpaksa mengubur keinginannya karena paksaan dari orang tuanya untuk menggantikan sang kakak yang kabur dari pernikahan.
Calon kakak iparnya, Keenan Gibson, merasa ditipu dengan keluarga Clara!
Namun, karena pesta pernikahan sudah di depan mata dan tidak ingin mempermalukan keluarga, Clara dan Keenan akhirnya memutuskan menikah.
Setelah menikah, perlakuan Keenan dingin pada Clara. Namun, Clara tak gentar untuk membuat sang suami menerima dirinya. Masalah kian rumit ketika kakak Clara datang kembali dan ingin merebut Keenan. Di samping itu, benih-benih cinta sudah muncul di hati Clara pada Keenan.
Lalu, bagaimana dengan nasib pernikahan Clara? Akankah Clara memperjuangkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlackCat61, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Adik Keenan
Sebuah mobil sedang hitam berhenti tepat di depan rumah milik Keenan Gibson. Tak lama kemudian, sang pemilik rumah itu keluar dari mobilnya. Sesuai dengan perkataannya yang akan menjemput sang istri untuk pergi ke kediaman utama Gibson.
Keenan masuk ke dalam rumahnya itu dan bertemu dengan kepala pelayan rumahnya.
“Bibi Nani, di mana Clara?” tanya Keenan
“Oh, Nyonya Muda ada di kamarnya. Katanya akan pergi ke kediaman utama,” jawab Bibi Nani
“Iyah, kami akan pergi ke sana. Soalnya saudara saya sudah pulang,” balas Keenan
Terlihat Bibi Nani yang agak terkejut dengan perkataan Keenan. “Tuan Muda Ketiga sudah pulang dari Kanada?” tanya Bibi Nani
Keenan menganggukkan kepalanya. “Iyah. Dia sudah pulang. Makanya Mama menyuruhku untuk datang bersama Clara ke sana,” jawab Keenan
Bibi Nani langsung memandang sendu pada Keenan. Hal itu membuat Keenan mengerti arti tatapan itu. “Bi, kenapa menatapku seperti itu? Apa Bibi khawatir denganku kalau hal seperti waktu itu akan terjadi kembali?” tanya Keenan sambil menyentuh bahu Bibi Nani.
“Tentu saja Bibi khawatir. Tuan Muda pasti akan kesulitan di sana nanti,” timpal Bibi Nani
Keenan menggelengkan kepalanya pelan. “Bibi jangan khawatir. Tak akan lagi terjadi hal seperti itu. Karena aku sudah jimat keberuntunganku,” balas Keenan dengan senyum misterius. Hal itu membuat Bibi Nani jadi penasaran dengan ‘jimat keberuntungan’ yang dimaksudkan.
Tiba-tiba saja terdengar suara sepatu high heels yang menuruni tangga. Yang membuat Keenan maupun Bibi Nani menoleh ke arah sumber suara. Tatapan terkejut langsung Keenan berikan kala melihat sosok Clara yang sungguh cantik dengan gaun baby blue yang dikenakannya.
Hingga saat Clara telah berdiri di depannya, ia masih tetap tak bergeming untuk melepaskan pandangannya dari Clara. Hingga membuat Clara jadi menatapnya dengan bingung.
“Kak Keenan?” panggil Clara sambil melambaikan tangannya pada Keenan.
Keenan akhirnya sadar dari lamunannya. “Kau ini lama banget sih. Udahlah, ayo kita berangkat,” protes Keenan seraya berlalu dengan wajah yang menahan malu.
Sedangkan Clara menatapnya dengan bingung. “Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba marah gitu baru ketemu? PMS kali yah?” tanya Clara
“Tidak Clara. Tuan Muda itu malu dengan penampilanmu saat ini,” sahut Bibi Nani
Clara jadi semakin memasang wajah bingung. “Ha? Malu? Malu kenapa?” tanya Clara
“Itu....”
“Clara!! Cepatlah!!” teriak Keenan dari luar.
“Iya! Bibi, aku pergi dulu yah. Sampai jumpa,” ucap Clara seraya berlalu dari hadapan Bibi Nani.
Bibi Nani yang melihat itu langsung terkekeh pelan. Ia menggelengkan kepalanya karena sikap pasangan suami istri itu.
“Semoga hubungan kalian bisa lebih baik lagi. Sehingga antara satu sama lain tak ingin saling melepaskan,” gumam Bibi Nani
Sedangkan di dalam mobil tempat Keenan dan Clara berada, hanya ada keheningan. Keenan yang nampak ingin mengatakan sesuatu dan Clara yang nampak hanya biasa saja sambil menatap ke arah luar jendela.
“Ehm!”
Suara deheman dari Keenan membuat Clara langsung menatap ke arah pria itu. “Ada apa? Apa kau sakit tenggorokan? Aku ada permen pelega tenggorokan. Ini,” ujar Clara sambil memberikan permen pada Keenan.
“Apa kau tak liat kalau aku sedang menyetir saat ini? Bagaimana bisa aku memakannya sendiri?” protes Keenan
“Hm? Terus bagaimana dong? Enggak mau nih?” tanya Clara
Keenan menghela napas kasar. Bagaimana bisa wanita di sampingnya ini tak peka sama sekali?! Apa wanita ini tak pernah berpacaran?
“Kau suapin aku dong. Kayak gitu aja enggak tau,” keluh Keenan
“Oh suapin! Bilang dong dari tadi. Buka mulutmu,” timpal Clara
Clara mengarahkan permen itu ke mulut Keenan. Keenan pun langsung menerimanya. Malahan ia juga dengan sengaja mengisap jari Clara yang membuat wanita itu cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Keenan.
“Heiii, kenapa kau malah menghisap jariku?” keluh Clara
“Enggak sengaja,” jawab Keenan dengan wajah yang biasa saja.
Clara menggembungkan pipinya kesal. Ia kembali menatap ke arah luar jendela.
“Apa kau pernah berpacaran?” tanya Keenan tiba-tiba yang langsung membuat Clara langsung menatap bingung padanya.
“Hm? Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?” tanya Clara
“Emang salah yah kalau aku tanya hal itu? Apa itu pertanyaan yang sensitif untukmu?” tanya Keenan balik.
Clara terdiam sejenak. “I-Itu ... ah! Kita sudah sampai!” sahut Clara saat mereka sudah mendekati kediaman utama Gibson.
Keenan tahu jika Clara menyembunyikan sesuatu dengan sengaja mengalihkan pembicaraan. Keenan memilih untuk tak menanyainya lagi.
Mobil mereka tepat berhenti di depan kediaman utama Gibson. Baru saja Clara hendak turun dari mobil, ternyata sudah keduluan oleh Keenan yang membukakan pintu untuknya.
Clara agak tertegun kala Keenan mengulurkan tangan padanya. Sempat ia terdiam sejenak karena pikirannya yang tiba-tiba kosong.
“Clara, ayo turun. Kenapa kau diam saja?” tanya Keenan yang langsung menyadarkan Clara dari lamunannya.
“O-Oh, iya!” Clara segera meraih uluran tangan Keenan dan berjalan bersama-sama untuk masuk ke dalam rumah.
Keenan meraih tangan Clara untuk ia taruh di pergelangan tangannya. Clara cukup tertegun dengan hal itu. Tapi ia yakin jika Keenan melakukannya untuk akting saja agar orang tuanya percaya kalau mereka dalam hubungan yang baik-baik saja.
Saat mereka masuk ke dalam, mereka langsung disambut oleh Mama Amanda.
“Wah, akhirnya kalian datang juga. Mama sudah nunggu kalian tau,” sapa Mama Amanda dengan senyum lebar.
“Maaf yah, Ma. Aku....”
“Aku lama menjemput Clara. Makanya lama datang ke sini,” ucap Keenan yang langsung memotong ucapan Clara.
Clara cukup tertegun dengan apa yang dilakukan oleh Keenan. Keenan berusaha untuk menutupi apa yang terjadi.
“Hmm, udah Mama duga kalau gitu alasannya,” timpal Mama Amanda
“Mama, itu bukan....”
“Ke mana adikku itu? Katanya dia sudah ada di sini?” tanya Keenan yang kembali memotong perkataan Clara sambil memeluk pinggang Clara.
“Oh, dia ada di kamarnya saat ini. Kalian masuk aja dulu. Ayo,” ajak Mama Amanda
Keenan dan Clara mengikuti langkah Mama Amanda.
“Kenapa kau selalu memotong ucapanku tadi?” tanya Clara dengan nada berbisik.
Keenan mendekati telinga Clara. “Terserah aku,” jawab Keenan yang langsung membuat Clara memandang kesal padanya.
Karena kekesalannya itu, ia langsung mencubit pinggang Keenan.
“Auch! Kenapa kau mencubitku?” protes Keenan
“Rasakan itu!”
“Kalian sudah datang rupanya,” sapa sang Papa, Andy.
“Selamat malam, Papa!” sapa Clara
“Selamat malam juga Clara! Kamu harus sering main-main ke sini yah. Walaupun tanpa bersama Keenan,” ujar Andy
Clara hanya menganggukkan kepalanya dengan kaku. Ia sebenarnya masih agak canggung dengan keluarga dari suaminya itu. Meskipun semua orang di kediaman utama ini sangat baik padanya.
“Kakak!”
Semua orang langsung mengalihkan pandangan ke arah sumber suara dari tangga. Semua orang menatap dengan senyum tipis pada pria itu, kecuali satu orang.
Pria itu menuruni tangga dan berjalan ke arah keluarganya. Sampai akhirnya ia berhenti melangkah kala ia sudah dekat dengan keluarganya itu. Tatapan terkejut ia berikan ketika menatap ke arah wanita di samping kakaknya itu.
“Clara?!”
“Agler?!”
Semua yang ada di sana langsung terkejut kala Clara mengenal sosok adik dari Keenan.
“Clara, kamu mengenal Agler?” tanya Amanda
“Aku mengenalnya, Ma. Wanita yang aku ceritakan waktu itu pada Mama. Wanita yang menangis di tengah jalan dan menabrakku itu,” jelas Agler
Keenan cukup terkejut mendengar hal itu. Ia tak tahu jika Clara menangis. Tapi kapan itu?
Amanda langsung meraih tangan Clara. “Iyah, Agler waktu itu menceritakan pada Mama wanita yang ia temui. Wanita itu menangis. Kenapa sayang? Kenapa kamu menangis saat itu?” tanya Amanda dengan tatapan khawatir.
Clara jadi terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa saat ini. Tak mungkin ia memberitahukan yang sebenarnya pada mereka alasan ia menangis saat itu. Ia melirik ke arah Keenan yang juga seperti ingin tahu apa jawaban darinya.
“Ehm, Mama. Aku udah bilang kan waktu itu alasan Clara menangis. Dia terjatuh di jalan dan lututnya berdarah. Makanya dia menangis dan aku sudah mengobatinya saat itu,” sahut Agler
“Itukah alasanmu menangis, Clara?” tanya Andy
Clara melihat ke arah Agler dan pria itu langsung mengedipkan sebelah matanya.
Clara pun tahu jika Agler menyuruhnya untuk menyanggupi apa yang ia katakan.
“Iyah Mama. Aku menangis karena aku terjatuh saat itu. Aku tak kuat melihat banyak darah,” jawab Clara
Amanda mengelus bahu Clara. “Lain kali kamu hati-hati yah. Ajak salah satu pelayan di rumah untuk menemani kamu pergi,” ujar Amanda pada menantunya itu.
Clara menganggukkan kepalanya pelan.
“Ya udah. Sekarang kita mulai aja makan malamnya yah,” celetuk Andy
“Oh iyah. Benar juga, ayo kita ke meja makan,” ujar Amanda
Mereka semua akhirnya berjalan menuju ke arah meja makan. Semua jenis makanan tersaji di meja makan itu.
“Mama tak tahu apa yang kamu suka. Semoga makanan yang di atas meja ada yang kamu suka yah,” ujar Amanda
“Aku tak pilih-pilih makanan kok, Ma. Semuanya nampak enak,” jawab Clara
“Iyah, sangat terlihat jika kau suka makan,” celetuk Agler
Clara langsung memandang ke arah Agler. “Apa maksudmu aku ini gendut gitu?” protes Clara
“Aku tak mengatakan kau gendut yah. Aku hanya kau kelihatan suka makan,” sanggah Agler
“Tuan Agler, sepertinya kau perlu belajar bahasa kias yah. Ucapanmu itu menandakan jika aku ini gendut di matamu,” keluh Clara
“Tak apa-apa agak berisi tau. Lebih baik daripada wanita yang kurus. Seperti ada penyakit saja,” timpal Agler
“Benar apa yang dikatakan Agler, Clara. Lagian kamu ini enggak gendut tau,” tambah Amanda
“Oh ya, aku mau tanya sesuatu yang sedari awal ingin aku tanyakan,” pinta Clara menatap ke arah Agler.
“Hm? Apa itu?” tanya Agler
“Apa kau seorang dokter psikolog?” tanya Clara
Agler menganggukkan kepalanya pelan. “Iyah, aku bekerja sebagai dokter psikolog,” jawab Agler
Clara mengangguk paham.
“Kenapa kamu bisa langsung tau jika Agler ini dokter psikolog, Clara?” tanya Amanda yang agak bingung ketika Clara tiba-tiba menanyakan hal itu pada anaknya.
“Karena....”
“Karena aku pernah menguji kepribadian Clara. Makanya dia menanyakan hal ini,” potong Agler
Amanda dan suaminya mengangguk paham.
Clara melihat ke arah Agler dan menggumamkan kata ‘terima kasih’ tanpa suara dan dibalas Agler dengan senyum tipis.
Semua hal itu tak luput dari penglihatan Keenan yang sedari tadi menangkap interaksi antara adik dan istrinya itu. Entah kenapa ia sangat kesal saat Clara mengenal Agler dengan baik begitu pula sebaliknya. Keduanya terlihat sudah sangar akrab satu sama lain.
Ia bisa merasakan hatinya yang memanas karena kedekatan keduanya. Tatapan dingin ia berikan karena rasa kesal di hatinya itu. Sedangkan Clara masih nampak bercengkrama dengan baik pada Agler yang juga terlihat senang dengan Clara.
Jujur saja, ia tak pernah melihat adiknya seperti itu. Karena adiknya itu jarang berinteraksi dengan orang yang pertama kali ia temui.
Apa mungkin Agler menyukai Clara? ~ batin Keenan