Dalton Higs, terlahir cacat. Satu tangannya tidak berfungsi. Saat bermain petak umpet dengan kedua orang tuanya. Seseorang datang, menembaki keduanya tanpa ampun.
Dirinya yang saat itu bersembunyi di balik lemari pakaian, menyaksikan pembunuhan tragis malam itu.
Ketika uang berbicara, nyawa bisa melayang. Hanya uang, semua urusan selesai. Dan Hanya uang yang dapat membungkam mulut manusia kecuali binatang. Pembunuh itu tidak tahu, jika masih ada saksi mata yang melihatnya dan tidak bisa disuap.
Menjadi cacat, dan miskin tidak membuatnya terpuruk, justru berambisi untuk menjadi kaya dengan kecerdasannya.
Tumbuh dewasa lalu membalaskan dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Afraid
Apa yang sedang terjadi di luar, Megan kembali mendengarkan dengan seksama. Takut jika seseorang datang untuk mencuri atau merampok rumahnya. Pikirannya langsung terbayang akan kemungkinan orang asing yang mencoba masuk ke rumahnya atau bahkan pencuri yang bersembunyi di sekitar. Imajinasinya berjalan liar, dan kekhawatiran akan bahaya semakin memenuhi pikirannya.
Tiba-tiba, bunyi kembali terdengar. Kali ini bukan klontang seperti bunyi botol jatuh melainkan bunyi kresek yang dihasilkan dari benda yang terbuat dari plastik.
Megan mendengar bunyi kresek yang tajam di samping rumahnya. Hatinya semakin berdebar-debar, dan rasa takut yang tiba-tiba menyelimuti dirinya.
Ia lalu memutuskan untuk memeriksa sumber suara tersebut. Hatinya berdegup kencang saat ia mengambil ponselnya untuk penerangan dan berjalan perlahan ke jendela yang menghadap ke samping rumah. Melalui celah tirai, ia mencoba melihat apa yang sedang terjadi di luar. Malam yang gelap membuatnya sulit melihat dengan jelas, meski sudah dibantu dengan penerangan dari ponselnya. Ditambah embun yang sedikit mengotori jendelanya karena baru saja hujan berhenti
Ketakutan Megan semakin meningkat ketika bunyi kresek tersebut terdengar lagi, kali ini terdengar lebih dekat.
Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Namun, setiap suara kecil yang terdengar di sekitar membuatnya semakin takut. Setiap cahaya yang berkedip atau bayangan yang melintas di luar jendela membuatnya merasa terus-menerus diawasi. Pikiran gelap tentang ancaman nyata atau bahaya yang mungkin mengintai terus menghantuinya.
Saat ketakutan semakin menguasai Megan, ia memutuskan untuk membangunkan Ibunya untuk meminta bantuan. Dia merasa bahwa kehadiran seseorang dapat memberikan kekuatan dan rasa aman.
Megan keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Ibunya, namun wanita itu sudah berada di alam mimpi. Megan tak sampai hati membangunkannya. Ia lantas menghubungi tetangganya, namun tidak mendapatkan respon
Sambil menunggu bantuan tiba berharap tetangganya membalas, Megan mengunci pintu-pintu dan jendela-jendela dengan hati-hati, berusaha menjaga dirinya sendiri dari bahaya yang mungkin ada di luar.
Megan tidak tenang, ia beranjak dan mengintip lagi ke jendela.
Sepi, tidak ada siapapun, batin Megan
Megan pun memilih keluar untuk mengecek keadaan. Berjalan mengendap-endap hingga ke depan pintu yang ada berada di samping rumah .
Ia mengambil sapu dan memegang gagangnya bersiap memukul. Di bukanya pintu samping rumah, dan memberanikan diri melangkah maju dengan tangan yang siap memukul
Sretttch
Diayunkan gagang sapu ke depan, tetapi tak ada siapapun. Yang Megan temukan adalah bahwa bunyi kresek tersebut berasal dari ranting pohon yang digerakkan oleh angin kencang. Rasa lega meliputi Megan saat ia menyadari bahwa tidak ada ancaman nyata. Ketakutan yang melanda dirinya perlahan-lahan mereda.
Di edarkannya pandangan ke arah kiri dan kanan, memastikan sekali lagi, tetapi tak ada siapapun. Megan pun bernapas lega.
Kemudian saat ia melangkah masuk ke dalam rumah, seseorang membekap mulutnya dari belakang.
Megan memberontak, dengan menggerakkan tubuhnya, menghentakkan kakinya.
Orang yang membekap mulutnya berpawakan tinggi besar dan bertenaga kuat. Megan di tarik keluar dari rumah dan memojokkannya ke dinding.
.
.
.
Dalton yang telah sampai di rumah, langsung mengambil air minum dalam gelas dan menenggaknya habis. Lalu membuka ia membuka kemejanya yang basah terkena gerimis hujan.
Praaang
Gelas terjatuh dari meja dapur, tersenggol sikut Dalton saat membuka kemejanya.
Lalu dia berjalan ke sisi dapur menghidupkan robot pembersih yang dapat menyapu dan membersihkan lantai. (Horang Kaya)
Dengan malas Dalton merebahkan dirinya ke sofa. Tetapi perasaannya terus gelisah. Sambil menatap separuh tangannya yang terbuat dari besi.
Seharusnya aku tidak menanam benda bodoh ini. Sebentar lagi aku akan masuk ke kehidupan orang yang telah membunuh kalian, akan ku buat mereka menderita hingga seluruh keluarganya. batin Dalton
Robot pembersih sudah berhasil membersihkan lantainya dan otomatis berhenti sendiri. Dalton pun mengantuk karena sunyi kembali datang
Saat Dalton ingin tertidur, ada sesuatu berbunyi dari arah luar teras rumahnya. Ia menoleh ke arah Jendela dan mendengarkan dengan seksama.
Terdengar bunyi langkah sepatu.
Dalton beranjak dari sofanya dan mematikan lampu, mengambil pistol yang ia simpan di laci buffet. Kemudian bersembunyi dibalik tirai dan memepetkan punggungnya ke dinding.
Ia menutup mata, mendengarkan dengan seksama langkah demi langkah suara sepatu both. Suara yang sama dengan suara sepatu yang terus menghantui hidupnya sedari kecil.
Lalu ia membuka matanya kembali. Napasnya mulai tidak teratur. Semakin memburu dan yakin jika pembunuh kala itu datang menghampiri dirinya.
Kretek Kreetek
Suara itu terdengar lagi. Lebih berisik seperti suara kunci di buka
Dalton membuka kunci pistol, membuka sedikit tirai dan mengintip dari celah jendela.
Ada seseorang yang melangkah mendekati salah satu jendela. Berusaha membuka jendela itu dengan kawat besi.
Pria itu memakai mantel panjang yang ber hoodie. Jenis mantel yang berbeda dengan pelaku pembunuhan kedua orang tuanya saat itu. Wajahnya memakai penutup kepala dan hanya menyisakan matanya.
Pria itu berhasil masuk ke rumah Dalton. Sementara Dalton masih mengawasi dengan tenang.
Seharusnya Dalton menambahkan teralis pada jendela besarnya, agar tidak ada penyusup yang masuk.
Pria misterius yang baru saja masuk itu terlihat mengamati suasana rumah Dalton. Mata Dalton memicing, melihat sesuatu yang dibawa pria itu, sebuah pistol dengan peredam suara.
Dalton menarik pelatuknya dan mengarahkan ke arah Pria misterius saat pria itu ingin menaiki tangga
Dor
Bidikannya tepat mengenai lengan pria itu.
"Arghh sial," gumam pria itu dan turun kembali mencari keberadaan Dalton
Diarahkan pistol itu ke segala arah sambil terus mencari keberadaan Dalton. Mata pria misterius tertuju pada tirai yang bergerak. Ia langsung menarik pelatuk dan menembakinya berkali-kali. Lalu ia segera membuka tirai tersebut.
Kosong
Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah tetapi matanya menuju pada Jendela yang baru saja terbuka.
Rupanya dia telah pergi, batin Pria misterius itu dan pergi meninggalkan rumah Dalton
Sementara, Dalton bersembunyi di tempat persembunyiannya. Ruang bawah tanah yang tidak diketahui siapapun.
Ahh sial seharusnya aku mengisi penuh peluru itu. batin Dalton yang geram
Pembunuh itu sudah berada di depan matanya, namun terasa sia-sia.
.
.
.
Megan membelalakkan matanya, napasnya memburu dan ingin berteriak. Namun tangan besar pria itu menutupi mulutnya dan menekan tubuhnya rapat ke dinding.
Wajahnya tertutup, hanya terlihat sepasang mata, yang sorot matanya sangat ia kenali. Megan menatap lengan pria itu, yang di ikat dengan kain berwarna putih terang namun telah berubah warna menjadi merah.
"Megan, ini aku," ucap Pria itu