Ibarat air dan minyak yang tidak akan pernah bersatu begitu lah Elang dan Ayah nya. Om Wijaya ingin jika Elang menjadi dokter namun beda lagi dengan Elang yang memiliki hoby balapan liar.
Elang Samudra seorang cowok berandal yang hobi balapan liar. Baginya, kehidupan malam lebih indah di banding kehidupan nya yang berantakan.
Walaupun Elang terlahir dari keluarga kaya raya namun Elang selalu merasa kesepian. Sang ayah terlalu sibuk dengan kerjaan nya. kakak nya yang bernama Revan juga sibuk mengajar di kampus. Sedangkan ibu nya selalu terlihat murung kadang juga ibu nya sering melakukan percobaan bunuh diri.
Namun karena sebuah peristiwa, Elang terpaksa menikahi seorang gadis cantik yang baik hati. Apakah kehadiran gadis tersebut dapat merubah kehidupan kelam Elang? Yuk baca novel author 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SENJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elang
Di sisi lain terlihat Elang yang sedang menelusuri jalan menggunakan mobil Revan untuk mencari keberadaan Zein. Elang kembali menelusuri jalan tempat dia tauran kemarin.
Dan ternyata jalan itu sudah di penuhi garis polisi, Elang memilih untuk memutar balik karena jalan tersebut sudah di tutup untuk smentara, namun saat hendak putar balik seketika mobil nya di minta berhenti oleh pihak kepolisian.
Elang yang masih menggunakan jas lengkap itu pun di buat gugup saat salah satu polisi itu menghampiri nyanya. "Permisi, bisa tunjukkan kelengkapan surat anda"? tanya polisi tersebut saat Elang sudah menurunkan kaca mobil nya.
"Bisa pak, tunggu sebentar" Elang merogoh dompet nya lalu mengeluarkan STNK dan memperlihatkan STNK tersebut ke pada pihak kepolisian.
Polisi itu mengulurkan tangan nya meraih surat surat yang di berikan oleh Elang lalu membaca nya. "Anda bukan warga sini"? tanya polisi tersebut setelah membaca surat milik Elang.
"Bukan pak"
"Apa sanak saudara anda ada di daerah sini"? tanya polisi itu dengan penasaran.
"Mertua saya tinggal di sekitaran sini pak"
"Mertua? Anda sudah menikah"? tanya polisi itu yang sedikit tidak percaya dengan ucapan Elang.
"Iya Pak, saya nikah muda karena di jodohkan" jawab Elang berbohong. Polisi itu mengangguk paham karena tidak ingin bertanya lebih jauh urusan pribadi orang lain, walaupun meresa agak aneh namun pria di depan nya terlihat begitu tenang.
Begitu lah Elang, serumit apapun masalah nya dia akan terlihat tenang walaupun dalam hati kecil nya ada rasa takut tapi Elang berusaha untuk tidak memperlihatkan rasa takut tersebut pada orang lain.
"Kalau boleh tahu, apakah anda mengetahui tauran yang terjadi kemarin di daerah sini"? lanjut nya masih dengan posisi setengah menunduk.
Elang dengan cepat menggeleng kan kepala nya seraya tersenyum. "Saya tidak tahu pak, saya baru datang dari kota. Apakah sering terjadi tauran di daerah sini"? Elang kembali bertanya pada posisi tersebut agar polisi tersebut tidak curiga.
"Betul, jadi semalam saya mendapatkan laporan jika terjadi tauran di sekitar sini dan setelah sampai ada saksi mata yang mengatakan jika salah satu pria yang ikut tauran tadi malam ada yang meninggal dunia dan setelah di telusuri ternyata benar ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut" Jelas pak polisi tersebut.
Elang sedikit gugup namun Elang tetap berusaha tenang. "Oh begitu ya" ujar Elang dengan sedikit anggukan. "Oh iya Pak, apakah saya boleh melanjutkan perjalanan saya?" tanya Elang.
"Baiklah, silahkan lanjutkan perjalanan anda, mohon maaf sudah mengganggu perjalan anda" ujar polisi tersebut seraya berdiri dengan tegak.
Elang mengangguk kan kepala nya dengan sopan. "Iya tidak masalah pak" Polisi lalu menggeser tubuh nya sedikit memberi ruang pada Elang agar mobil nya bisa melaju.
Elang memutuskan untuk kembali ke rumah Elina karena tidak ingin jika polisi mencurigai nya jika Elang masih mencari keberadaan Zein di sekitar sini.
****
Di sisi lain nampak Revan yang sedari tadi mengotak atik ponsel nya, berusaha menghubungi Elang yang sudah pergi cukup lama. Setelah 10 menit berlalu, Elang pun sampai di rumah Elina lalu memarkirkan mobil nya di samping Elina dan berjalan masuk kedalam rumah Elina.
Saat berada di ambang pintu, Elang melihat Revan yang sedang mengerjakan sesuatu di tab nya dan dengan segera Elang menghampiri Revan. "Bang, nih kunci mobil nya, thanks" kata Elang menepuk pundak Revan seraya duduk di samping Revan.
Revan yang sedari tadi sibuk memeriksa pekerjaan nya di tab, di buat keget dengan kehadiran Elang. Lalu sedetik kemudian Revan menatap tajam ke arah Elang. "Puas kau keluar!! Karena kau, kakak jadi kena imbas dari kemarahan mertua kau!!" kata Revan kesal dengan ulah adik bungsu nya.
"Marah kenapa sih? Lagian Elang pergi cuma bentaran doang" kata Elang sembari bersandar di sofa lalu mengeluarkan ponsel nya di balik saku.
Revan menghembuskan nafas nya kasar, menahan kembali amarah yang sedari tadi dia tahan. "Istri mu sedang tidak sadar kan diri, lalu kau pergi tanpa pamit, apakah menurut mu itu bukan kesalahan?" tanya Revan "Lagian percuma punya ponsel kalau tidak di hubungi" decak Revan.
Elang hanya terkekeh kecil melihat raut wajah Revan yang sangat kesal. "Ponsel Elang lowbat, lupa bawa charger" ucap Elang yang cuek dengan keadaan Elina, baru saja Elang ingin memejamkan mata namun suara barito mengagetkan Elang.
"Masih ingat kembali kamu..?"
Degg..
revan juga salah kenapa gk ngasih tau ortunya itu sama aja malah membuat elang semakin buruk di mata ayah dan bunda kalian