Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan
"Jadi, apa rencana kamu sekarang, Arini?" tanya Ryan.
Arini berpikir sejenak, ia sedikit kebingungan. "Sebenarnya, aku tidak punya rencana. Bahkan aku juga tidak tahu mengapa tiba-tiba sekarang aku bisa disini,"
"Aku tiba-tiba saja rindu melihat suasana di kota ini,"
Ryan tertawa kecil. Ia menatap wanita itu sambil menggodanya, "Kamu ngga kangen sama aku juga?"
Arini mendengus sambil memutar matanya kesal, "Ah, sama saja kamu kayak Gio! Udah, ayo makan,"
Mereka bersenda gurau sambil membincangkan berbagai topik lain, entah itu kisah lama keduanya saat dulu mereka masih dibangku sekolah, hal-hal konyol yang mereka lakukan saat masih kecil, bahkan hingga perubahan cuaca yang tidak menentu di Amsterdam.
Jauh ribuan kilometer dari tempat mereka berada, tepatnya di Jakarta.
Deru mesin mobil Porsche Panamera hitam milik Adrian membelah keheningan lobi utama gedung perkantoran pagi itu. Ban mobilnya berhenti di pintu gerbang dengan suara khas. Satpam yang bertugas segera sigap membukakan pintu, menyapa dengan hormat yang hanya dibalas Adrian dengan anggukan singkat.
Langkahnya tegap namun terasa berat. Setiap pantulan sepatunya di atas lantai marmer seolah menggema, menciptakan irama yang tidak selaras dengan kekacauan di pikirannya. Adrian masuk ke dalam lift khusus eksekutif, menekan tombol lantai 25. Di dalam pantulan cermin lift, ia merapikan jasnya, namun matanya tidak bisa berbohong. Ada gurat kelelahan yang sangat dalam di sana.
Begitu pintu lift terbuka, Elang sudah berdiri di depan meja sekretaris dengan wajah yang sulit diartikan.
"Pagi, Pak. Saya sudah meletakkan laporan mingguan dan ada satu map tambahan di atas meja Bapak," ucap Elang pelan.
Adrian hanya bergumam tanpa menoleh, langsung melangkah masuk ke ruangannya yang luas. Ruangan itu terasa dingin, lebih dingin dari biasanya. Di tengah meja kerja kayu ek yang bersih, sebuah map cokelat polos tampak begitu mencolok, seolah-olah memang sengaja diletakkan di sana untuk menarik seluruh perhatiannya.
Adrian duduk, menghela napas panjang sebelum tangannya meraih map tersebut. Ia sempat ragu sesaat. Perlahan, ia membuka kancing map itu dan mengeluarkan isinya. Matanya langsung tertuju pada baris paling atas.
SURAT GUGATAN CERAI.
Dunia seolah berhenti berputar selama beberapa detik. Adrian terpaku, membaca nama Arini yang tertera di sana sebagai penggugat. Jemarinya yang biasanya kokoh saat menandatangani kontrak bernilai miliaran, kini sedikit bergetar saat menyentuh lembaran kertas itu.
Rasa hancur itu datang tiba-tiba, menghantam dadanya seperti beban yang tak terlihat. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan langit Jakarta yang abu-abu.
Kebingungan mulai merayapinya. Dulu, ia yakin bahwa ia tidak benar-benar mencintai Arini. Ia merasa hubungan mereka hanyalah rutinitas, itulah sebabnya ia sempat mencari pelarian pada wanita lain. Namun sekarang, saat kertas ini ada di tangannya, ada rasa kehilangan yang begitu menyesakkan. Ia bimbang. Mengapa ego dan hatinya tidak bisa bekerja sama kali ini?
Ia menatap ponselnya yang bisu. Arini tidak bisa dihubungi. Wanita itu seolah hilang ditelan bumi, meninggalkan Adrian sendirian di tengah sisa-sisa reruntuhan pernikahan yang ia hancurkan sendiri.
"Sial, seharusnya saya senang. Kenapa tiba-tiba jadi begini?!"
Adrian memijit pelipisnya pelan, namun manik matanya tak bisa beralih dari selembar kertas yang masih tergeletak di atas meja itu.
Ia lalu menarik telepon kantor yang ada dihadapannya dan menghubungi Elang yang ada di bantai bawah.
"Elang, segera ke ruangan saya," perintah Adrian tegas.
Tak sampai satu menit, laki-laki itu tiba di ruangan Adrian. Ia kini sudah berdiri di ambang pintu, menatap bosnya itu seolah menunggu apa yang akan dilontarkan dari mulutnya.
"Ada apa pak?" tanya Elang.
Adrian menoleh cepat sambil melempar selembar kertas yang masih diatas meja itu ke lantai dengan kasar.
"Jelaskan, apa maksud ini?!" ucap Adrian.
Elang menggelap napas, lalu berbicara. "Surat itu dikirim oleh Pak Yono tadi pagi, Pak. Itu surat resmi dari pengadilan,"
"Ibu Arini sudah menggugat perceraian kepada anda sehari sebelum dia pergi,"
Ya, surat perceraian itu sudah jadi bukti kesekian kalinya bahwa Arini kini benar-benar sudah membenci dirinya sekarang. Dan salah satu pernyataan di dalam surat itu adalah mediasi, satu kata membuat kepala pria itu langsung mendidih seketika.
Menurut aturan yang berlaku, jika Adrian tidak hadir dalam 3 pertemuan kedepannya maka Arini bisa saja resmi bercerai dengan Adrian tanpa kehadiran pria itu.
Namun masalahnya Arini tidak ada disini. Adrian harus mencari keberadaan wanita itu dan mencoba membicarakan hubungan mereka dengan kepala dingin. Jika dia tak bisa menemukan Arini sampai kegiatan mediasi dilakukan, dia tak punya kesempatan untuk membujuk wanita itu.
Adrian terhenyak. Ia berjalan menuju jendela besar di sudut ruangannya, memandangi deretan gedung-gedung pencakar langit yang ada dihadapannya. Ia mencoba berpikir sejenak.
Tiba-tiba satu kata muncul dikepalanya. Amsterdam. Ya kota Amsterdam, kota dimana Arini tinggal dan dibesarkan. Mungkin saja wanita itu pulang kembali ke sana.
"Cek jadwal penerbangan semua rute internasional dalam 48 jam terakhir," perintah Adrian tanpa menoleh.
"Namun, cek dulu maskapai penerbangan dari Jakarta menuju Amsterdam. Jika tidak ada nama dia, maka cari di maskapai penerbangan yang lain,"
Elang mengangguk, "Baik, pak!"
Laki-laki itu pun menutup pintu ruangan Adrian dan meningkatkan pria itu disana. Adrian masih menatap pemandangan di luar sana dari jendela ruangan.
Ia menghela napas, ia mengenggam sebuah gantungan kunci pada tangannya. Ya itu adalah gantungan kunci dari Arini yang ia temukan di kamar mereka.
Ia terkejut saat menemukan gantungan tersebut setelah wanita itu pergi meninggalkan kediaman. Seingatnya benda ini sudah Adrian berikan kepada Erina sebagai hadiah ulang tahunnya.
Mungkin saja Arini sempat bertemu dengan Erina, itulah spekulasi dari Adrian. Ia yakin Arini mungkin sudah tahu jauh sebelum dia sadar, bahkan wanita itu tahu saat Adrian membawa Erina ke rumahnya.
Dia benar-benar sudah merencanakannya sejak awal, dan yap semuanya berjalan dengan mulus seperti rencananya.
Semuanya kacau, benar-benar kacau. Dan sekarang yang didapatnya hanyalah penyesalan. Benar kata orang, penyesalan selalu datang di akhir.
Diumumkan kepada khalayak bahwa akan ada seorang yg akan merasa menyesal dikemudian hari karena kesalahanya sendiri.
Demikian... ttd😁