~Dennis Hardata~
Sampai mati tidak akan ada satu wanita pun yang akan menggantikan tempat mu Anne. Andaikan bukan karna putra putri kita, sudah lama ku hentikan nafas ini.
~Anne Mary~
“Aku sangat mencintai nya. Bahkan aku berpikir, aku tidak akan bisa hidup tanpa nya. Tapi dengan kondisi ku sekarang, aku sungguh tidak bisa kembali ke pelukan nya. Maaf kan aku Dennis, kan ku coba bahagia hanya dengan membayangkan mu.
~Nathalie~
Bagaikan belum puas memberikan hukuman untuk kesalahan yang tidak pernah aku ketahui apa, kini setelah penyakit kelainan jantung yang ada pasa ku sejak lahir, hati ku pun harus turut merasakan sakit karena cinta yang langit kait kan pada seorang duda dengan kisah cinta paripurna nya yang tak akan pernah usai untuk mendiang istri nya.
Harus kah ku biarkan hati juga merasakan sakit seperti yang di rasakan oleh jantung ku selama ini?
Atau harus kah ku tutup saja mata ku, lalu melangkah melewati nya mesti seluruh diri ku sangat menginginkan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak UPe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
“Anne!”
“Annnnnnnnneee!! Come on honey! Jangan sembunyi lagi! Aku tidak suka prank-prank seperti ini sayang! Cepat keluar Anne!!" Teriak Dennis sambil berlari ke ruangan- ruangan di lantai bawah.
Dennis yakin Anne pasti ngumpet di suatu tempat.
"Anne! ayooo lah! Aku ini rindu pada mu dan juga anak kembar kita. Cepat lah keluar Anne!!"
Dennis terus memanggil Anne ke sana kemari.
Setiap ruangan di rumah itu pun dia periksa.
Bahkan ruangan para pelayan yang beda bangunan dengan rumah nya pun tidak luput dari pencarian nya.
“Sayang! Ini sudah tidak lucu Anne! Come one!! keluar saayang! Annee… Anne!!” Teriak Dennis yang mulai terdengar putus asa.
“Bu.. jangan bercanda lagi! Tolong minta Anne untuk segera keluar bu!! Nanti kaki nya akan pegal jika terlalu lama berdiri!” Seru Dennis dengan nafas ngos-ngosan.
“Atau kau saja Lea! cepat katakan pada ku Anne bersembunyi dimana! Anne pasti ada cerita pada mu kan kalau kaki nya sudah mulai membengkak. Jadi cepat suruh Anne keluar. Apa kau tidak kasihan dengan Anne, Lea?" Dennis sampai menggoyang-goyang bahu Lea.
“Dennis, kau harus tenang. Kita duduk dan bicara ini baik-baik."
Ansel yang tidak tega melihat keadaan Dennis pun angkat bicara.
"Kak! Kau juga ikut- ikutan mem- prank ku di hari pertama ku keluar dari rumah sakit? Ayo lah kak Ansel! Ini tidak lucu! it's not funny brother!!!! " Seru Dennis mulai kesal.
"Maka nya kau tenang dulu Dennis." Ansel kembali memegang ke dua bahu Dennis.
Tapi Dennis menepis tangan Ansel karena saking kesal nya. Dan membalikan badan membelakangi Ansel.
"Dennis!! Dengar kan aku, kami semua akan menjelaskan semua nya pada mu. Tapi kau harus tenang dulu." Ujar Ansel, kali ini menarik paksa tubuh Dennis untuk menoleh pada nya yang berdiri di belakang Dennis.
Dada Dennis terasa sesak.
Mungkin kalau Zee yang mengatakan seperti itu pada nya maka Dennis masih akan berpikir ini semua adalah prank.
Tapi kalau Ansel yang berkata seperti itu padanya, tidak ada hal lain yang perlu di ragukan.
Karena Ansel tidak pernah berbohong pada nya.
“Aku tahu, ini pasti akan berat untuk mu Dens. Tapi ini juga berat untuk kami semua, untuk Lea, untuk Raya, untuk ibu dan untuk si kembar dan untuk kita semua. Ini berat Dennis. Kepergian Anne adalah duka bagi seluruh keluarga kita." Ujar Ansel bagaikan suara gledek di telinga Dennis yang menyambar hingga ke dalam hati nya.
"Jadi ku mohon pada mu Dennis, ku mohon, tenanglah dan dan..hhhhhhh…"
Ansel bahkan tidak dapat menyelesaikan kata-kata nya karena dada nya pun terasa di genangi oleh lautan air mata saat melihat sang adik kesayangan mulai kehilangan kendali dan mulai mengeluarkan air mata sambil memukul-mukul dada nya berkali-kali.
“Kak..kak.. Anne ku kak.. kak!” semua jadi gelap dalam penglihatan Dennis.
“Deeeeeeeeennnissss!!” Teriak semua nya histeris saat Dennis tumpang begitu saja.
Untungnya Ansel sempat untuk menahan tubuh Dennis yang merosot ke bawah.
Sehingga tubuh Dennis tidak terjatuh ke lantai.
“Deenniis!” Teriak Stella sambil menepuk pelan kedua pipi Dennis.
“Cepat bawa dia ke kamar.” Seru Stella, dengan perasaan cemas bercampur panik.
“Raya, Lea, bawa anak-anak ke atas.” Perintahnya pada para menantu nya.
“David, tolong koper ku yang biasa aku bawa. Dan tolong antar ke kamar Dennis sayang.” Pinta nya pada suami nya.
“Ansel.. Zee, ayoo….” ajak nya pada Ansel dan Zee agar segera membopong Dennis ke atas.
Bersambung**
novel kak Upe ini tayang satu bab setiap hari nya dan setiap jam 10 pagi ya..