SYAH OFFICIAL
Karena perjodohan, seorang gadis mengelabui pemuda untuk menjadi suaminya untuk sementara.
Dipaksa menikah dengan gadis cantik? Tentu saja pemuda itu tidak menolaknya.
Hanya saja, dengan identitasnya saat ini dia diremehkan oleh Istrinya karena dia menjadi seorang menantu yang ikut ke pihak istri.
Mereka belum mengetahui identitas asli dari pemuda yang mereka remehkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OFFICIAL SYAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Satu mobil sedang berada di depan sebuah warung nasi, mereka melihat sebuah nota tagihan di dalam sebuah buku.
"Ini warung yang akan kita sita, Bos!"
Terdapat tiga sosok pria yang keluar dari mobil tersebut, mereka berjalan mendekati warung tempat dimana Syah sedang makan disana.
"Hei! Cepat bayar hutangmu dan bunganya!" tegas salah seorang pria tadi saat memasuki warung itu.
"Tuan! Kumohon! Aku baru saja mendapatkan hadiah, nanti aku akan membayarnya, ya?" pinta gadis pelayan itu memohon untuk menunda pembayarannya.
"Tidak ada waktu! Jika seperti itu, mungkin kamu harus membayarnya dengan tubuhmu itu kepada Bos kami!" seru pria tadi mengatakan ada cara pembayaran lainnya.
Syah yang baru saja selesai menghabiskan makannya, dia berdiri menuju gadis pelayan itu.
"Berapa semuanya?" tanya Syah dia harus membayar makannya berapa.
"Tidak perlu membayar lagi, Tu—" belum selesai gadis itu berbicara, kata-katanya terhenti karena terkejut melihat Syah yang ditarik oleh seorang pria penagih hutang tadi.
"Tuan? Apakah ada masalah Kamu menarik-narikku?" tanya Syah dengan dingin.
"Kau beraninya masih bertanya?" teriak pria itu dan langsung menampar wajah Syah.
Plakkk
Syah mengusap pipinya yang baru saja ditampar dan pria yang tadi menamparnya langsung kesakitan karena Syah dengan kejamnya menendang pusat dari kekuatan seorang pria, kita sebut saja nama anggota tubuhnya yaitu Diego.
Setelah si Diego itu ditendang oleh Syah, pria tadi langsung terjatuh kesakitan dirinya seperti merasakan sakaratul maut, rasa sakit yang sangat sakit.
Matanya memerah setelah menyadari telur milik si Diego telah pecah padahal dia belum puas memberikan hadiah kepada si Diego.
"Kau telah membuat Diegoku pecah! Hajar dia!" teriaknya menyuruh teman-temannya menghajar Syah.
Bukan tanpa alasan Syah menendang si Diego milik pria barusan, karena kata-katanya yang berkata membayar dengan tubuh, Syah mengerti bahwa pria tadi memang sudah terbiasa melakukan banyak kelakuan tidak terpuji itu berulang kali.
Dua orang lainnya langsung melemparkan tinjunya kepada Syah, namun apa yang mereka bayangkan tidak seperti kenyataannya, bukan mereka yang meninju Syah bahkan sebaliknya.
Syah langsung menghindari serangan kedua orang tadi dengan sangat gesit, menarik kerah baju keduanya dan menyatukannya sehingga kepala keduanya saling berbenturan.
Belum sampai disitu, Syah langsung menendang keduanya dengan sangat tidak sopan.
Sebuah mobil Rolls Royce berhenti di depan warung saat melihat seorang pemuda yang berdiri disana.
Mobil hitam tadi yang melihat adegan bahwa anak buahnya yang babak belur dibuat Syah, dia keluar dan juga memegang sebuah senjata api di tangannya.
"Hei! Kau cari mati! Berani-beraninya Kau membuat kedua anak buahku babak belur! Segera bayar ganti rugi dan serahkan wanita itu untuk pembayaran hutangnya!" ancam dari pria yang mengaku Bos dari ketiga pria yang sudah babak belur dibuat Syah.
Dia menodongkan senjatanya ke arah Syah, "Cepat aku aku tem—" kata-kata dari Bos dari ketiga pria itu terhenti setelah ada seorang pria yang berjalan santai melewatinya meskipun sudah melihat sebuah pistol di tangan pria itu.
Dia kebingungan, "Apakah orang zaman ini tidak takut dengan pistol?" bingungnya di dalam benaknya.
"Tuan Muda!" hormat pria yang turun dari mobil Rolls Royce tadi.
"Kenapa Kamu bisa berada di kota ini, Zeno?" tanya Syah tidak suka.
"Tuan Muda! Aku sebenarnya sudah berada di kota ini sangat lama! Sebelum aku bekerja di kediaman utama, aku memang berada di kota ini!" jawabnya dengan perlahan menjelaskan.
"Hei! Kalian bisa serius sedikit tidak? Disini aku sedang mengancam nyawa kalian!" seru pria tadi mengancam Syah dan Zeno, pria yang keluar dari mobil Rolls Royce barusan.
"DIAM!" seru Syah dan Zeno secara bersama tanpa disadari.
"Hei? Bukankah seharusnya Aku disini yang memerintah?" tanya pria tadi yang masih menodongkan senjatanya, dia menyapu pandangannya melihat ke belakang.
Mencari tahu dari mana datangnya pria itu, setelah melihat ada sebuah mobil Rolls Royce yang berhenti tepat di belakang mobil miliknya, keringat dingin langsung membasahi punggungnya.
"Siapa dia? Siapa orang yang memiliki mobil Rolls Royce di kota ini? Orang besar mana dia?" pikirnya yang langsung gemetar tubuhnya.
Tubuhnya gemetar, pistol yang berada dalam genggamannya terjatuh seketika.
Syah dan Zeno mengalihkan pandangannya melihat sosok pria yang sedang mengancam mereka.
"Tu—Tuan! A—Aku adalah orang dari Geng Winter Dust! Ji—Jika Tuan memberikan belas kasih terhadapku, Geng Winter Dust akan melupakan kejadian i—ini—" kata pria itu terjatuh dan memohon ampun kepada pria di depannya, meskipun dia masih saja mengancam dengan posisi tingginya dari Winter Dust.
"Kamu memohon atau mengancam?" tanya Zeno kesal, dia menendang pria itu dengan kejam.
"A—Aku—" belum selesai pria itu berbicara, pipinya sudah mendapatkan sebuah tamparan cinta dari Zeno.
Tamparan itu langsung membuat pria tadi menjadi seperti badut dengan rona merah yang tebal.
"Hei! Apakah Kalian tidak takut? A—Aku adalah salah seorang dari tujuh pedang di Winter Dust! Jika aku diperlakukan seperti ini, ini akan membuat kalian tidak akan bisa mendapatkannya pengampunan dari Geng Kami!" teriaknya marah dan tetap mengancam.
"Kamu masih berani mengancam?" tanya Zeno tetap dengan dingin.
"Hukuman karena tidak sopan mengancam di depan Tuan Mudaku!" satu tamparan mendarat lagi di sisi lain wajah pria tadi.
"Dan ini karena telah menyinggung Tuan Mudaku!" satu tendangan di kepala pria itu.
Hanya dari dua tamparan dan satu tendangan, pria tadi langsung tidak berani lagi mengancam Zeno dan tuan mudanya, Syah.
"Bagus! Tidak perlu Kamu banyak berbicara!" kata Zeno, dia langsung mengeluarkan ponselnya dan menekan salah satu kontak dan menghubunginya.
Saat air mataku mengalir, aku membutuhkan sebuah tisu 🎶
Sebuah ringtone berbunyi di ponsel seseorang di kejauhan, melihat nama yang terpampang jelas di layar ponselnya, dia segera mengangkat panggilan telpon itu.
"Tuan Zeno? Ada perlu apa mencari ku?" tanya sopan sekaligus senang karena dia mendapatkan sebuah panggilan telepon dari sosok nomor satu di kota B.
"Anak buahmu yang tidak kompeten ini telah mengganggu kedamaian Tuan Mudaku! Datanglah ke hotel Aquila untuk menjemput anak buahmu!" perintah langsung dari Zeno yang membuat pria yang tadi mengancam itu terkejut.
Zeno langsung mematikan panggilan itu.
Rupanya, Bosnya yang adalah ketua dari Geng Winter Dust, kekuatan bawah tanah nomor satu di kota B pun bisa ditundukkan oleh pria di depannya, terlebih lagi siapa pemuda yang dipanggil dengan sebutan Tuan Muda itu?
"Kenapa bisa menyinggung orang besar? Astaga! Dan ternyata seseorang seperti Tuan Zeno bahkan masih memiliki seorang Tuan Muda? Sebenarnya siapa Tuan Muda yang Tuan Zeno katakan itu?" batin pria yang baru saja melakukan panggilan telepon bersama Zeno tadi merasa dirinya terancam.