Kak.. ih dipeluk kek adeknya!"
"Enggak!"
"Kakak nyebelin!"
"Bodo!"
Apa yang sering kali diharapkan seorang adik perempuan terhadap kakak laki-lakinya?
Rasa ingin dilindungi, disayang bahkan dimanja. Itu sangat wajar bagi seorang adik perempuan terhadap kakak laki-lakinya.
Sama halnya dengan Binar yang selalu ingin dekat dan dimanja oleh Surya. Layaknya seorang adik kakak pada umumnya.
Namun Surya justru terkesan cuek dan enggan berdekatan dengan Binar, sampai-sampai Surya memilih untuk tinggal di apartemen dengan alasan ingin belajar mandiri.
Ingin belajar mandiri atau justru ingin menjauh dari Binar?
Sampai hari dimana Binar mulai dekat dengan seorang laki-laki, Surya yang awalnya cuek justru berubah posesive.
Hingga sampai pada hari dimana Binar mengetahui sebuah rahasia besar, benang kusut pun perlahan mulai terurai.
Bahkan tanpa disadari oleh keduanya, ada sebuah rasa yang seharusnya tidak pernah ada.
Lantas bagaimana, apakah keduanya akan bersama? Atau justru sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom alfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Surya sampai di rumah tepat setelah adzan Isya. Bunda yang sedang menyiapkan makan malam pun memanggil Surya untuk ikut makan bersama, pria itu menurut. Menggulung lengan kemejanya sampai ke siku, mencuci tangan di wastafel lalu duduk di kursinya.
Bunda mengambil piring kosong dari hadapan Surya lalu mengisinya dengan nasi.
"Segini cukup Kak?" ucap Bunda sambil menunjukkan nasi di piring yang di pegangnya.
"Cukup Bun." jawab Surya.
"Kakak mau pakai apa makanya?" Bunda kembali bertanya sambil bersiap menyendokkan lauk.
"Sama sayur dan ayam bakar saja Bun."
Bunda mengambilkan lauk yang disebutkan oleh Surya lalu meletakkan piring di hadapanya. "Makan yang banyak ya Kak. Kamu semakin kurus aja kalo bunda lihat."
Surya tersenyum, "Trimakasih Bun."
Angin malam berhembus pelan menembus kulit Binar yang dibalut piama panjang bermotif buah stroberi, kepalanya tertutup jilbab bergo berwarna pink yang senada dengan motif buah stroberi di piamanya.
Gadis itu berjalan pelan menghampiri Surya yang sedang berdiri di balkon, satu tanganya membawa cangkir berisi kopi hitam favorit Surya.
"Diminum kak, kopinya." ucap Binar seraya meletakkan cangkir kopi di atas meja kecil. Surya menoleh lalu mengangguk samar.
Binar mendekat lalu berdiri di samping kakaknya, Binar sedikit mendongak menatap ribuan bintang yang bertebaran di langit, Bulan pun terlihat begitu terang seakan tidak ada awan yang berani menghalangi keindahanya.
"Perempuan tadi siapa Kak?" tanya Binar tanpa menoleh ke arah Surya.
Sepersekian detik Surya hanya diam, mungkin pria itu sedang mencoba mengingat wanita mana yang di maksud oleh Binar.
"Perempuan yang tadi sore sama Kakak." lagi Binar memperjelas pertanyaanya.
"Namanya Naura."
"Ooo.." Binar masih menatap bintang yang bergemerlapan di langit.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Dia cantik ya."
Surya tersenyum tipis mendengar ucapan Binar. "Pada dasarnya semua perempuan itu sama-sama cantik, hanya kabaikan hati yang mampu membedakan mereka."
Lama Binar terdiam, Surya beranjak duduk lalu mencicipi kopinya.
"Gimana hubungan kamu sama Dylan?"
Binar menoleh lalu ikut duduk di samping kakaknya.
"Hubungan apa? kita tidak ada hubungan apapun."
"Jangan terlalu memberi harapan kalau kamu tidak menyukainya." Lagi Binar hanya mampu terdiam.
"Kak."
"Apa?"
"Apa alasan kakak selama ini ngejauhin aku?"
Surya diam. Namun wajahnya tetap terlihat tenang.
"Apa karena kakak tau kalau kita bukan saudara kandung."
Surya kembali berdiri sambil membawa cangkir kopinya dan berjalan menuju pembatas balkon.
"Salah satunya." ucap Surya. Lagi Surya sama sekali tidak terkejut dengan pertanyaan Binar.
"Kalau salah duanya?"
Surya kembali diam dan tidak menjawab pertanyaan Binar.
"Kak, bukankah kita ini tumbuh bersama dan mendapat kasih sayang yang sama dari kedua orang tua kita? apakah selama itu pula aku tidak cukup untuk menjadi tempatmu berbagi suka duka? atau justru di matamu aku hanyalah orang asing? sampai-sampai aku tidak benar-benar bisa mengenalmu. Dan justru orang lainlah yang lebih tau semua tentang kamu Kak."
"Akan ada saat nya kamu tau semuanya Dek, tapi aku tidak menjamin saat waktu itu telah tiba, mungkin semuanya tidak akan lagi sama."
"Maksudnya Kak?"
Surya berbalik badan lalu tersenyum dan menatap mata Binar sesaat. "Tidurlah, ini sudah malam. Kamu baru sembuh, harus banyak-banyak istirahat." Surya mengusap pelan kepala Binar yang terhalang jilbab, dan berlalu pergi meninggalkanya sendirian dengan seluruh pikiran yang bekecemuk. Pertanyaan yang sama sekali tidak menemukan sebuah jawaban.
karya nya bgs bgt sukses trs buat KK ny buat hasil karya yg lebih menarik dan semangat buat KK ny, pasti semua nya gemar cerita nya 👍👍