Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.
Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏
#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 : Surat Lontar yang Tertinggal dan Tamu dari Kota
Satu bulan telah berlalu sejak perang tabiat Bu Tejo melawan Si Mbah sang kera hutan menjadi buah bibir warga desa. Kehidupan di Desa Karang Tumpuk makin tenang. Warung soto milik Sari kini selalu ramai setiap siang. Orang-orang tidak lagi datang karena rasa penasaran akan rumah bekas dukun, melainkan karena kuah soto buatan Sari memang gurih segar dan keramahan Si Mbah—yang kini sudah naik jabatan menjadi penyerah pisang rebus gratis untuk pelanggan yang sopan.
Namun, ketenangan itu mendadak terusik pada suatu pagi yang dingin.
Saat Sari sedang menggeser lemari pakaian tua milik bibinya di kamar utama untuk dicat ulang, sebuah celah rahasia di balik dinding kayu terpapar. Dari celah sempit itu, jatuh sebuah gulungan daun lontar kecil yang terikat tali benang emas.
Sari menahan napas. "Masih ada yang tersisa?"
Dengan hati berdebar, Sari memungut lontar tersebut. Lontar ini berbeda dari gulungan-gulungan di dalam kotak jati yang sudah ia bakar. Tidak ada aroma minyak petunduk yang menyengat, juga tidak ada ukiran nama korban. Di atas daun kering itu, terukir tulisan tangan yang agak rapi—ditulis oleh Nyai Seruni muda, jauh sebelum hatinya digerogoti dengki.
Sari membaca kalimat demi kalimat yang tertera di sana:
'Jika lontar ini kau temukan, artinya aku sudah menjadi tanah. Sari, ketahuilah... aku tidak lahir sebagai seorang pendengki. Dahulu, aku hanya seorang perempuan biasa yang hatinya patah karena dikhianati. Ketika seluruh desa menutup pintu bagiku saat aku kelaparan, kegelapan datang menawarkan perlindungan. Jangan ulangi kesalahanku. Jangan pernah membiarkan rasa sakit hatimu berubah menjadi racun untuk orang lain. Dan jika seseorang dari keluarga Ranusastro datang mencari rumah ini... berikan ia kotak jati kosong di bawah ranjang.'
Sari tertegun. Keluarga Ranusastro? Siapa mereka?
Belum sempat Sari mencerna isi lontar tersebut, suara derum mesin mobil mewah yang asing memecah kesunyian jalan tanah desa. Sebuah mobil sedan hitam mengkilap berhenti tepat di depan warung Sari—sebuah pemandangan yang sangat tidak biasa untuk desa terpencil seperti Karang Tumpuk.
Pintu mobil terbuka. Seorang pemuda berjas rapi turun bersama seorang lelaki tua berkacamata tebal yang memegang tongkat berkepala perak. Garis wajah lelaki tua itu tegas, namun matanya memancarkan keangkuhan yang sangat familiar bagi Sari—sama seperti tatapan Nyai Seruni di masa kejayaannya.
Pemuda itu melangkah mendekati Sari yang berdiri di teras warung. "Permisi. Apa benar ini rumah almarhumah Nyai Seruni?"
"Benar, saya keponakannya. Ada perlu apa ya?" jawab Sari waspada.
Lelaki tua berkacamata itu melangkah maju, memandang rumah panggung tua itu dengan tatapan menilai yang dingin. "Saya Broto Ranusastro. Dulu, bibimu berhutang sesuatu pada keluarga kami. Sebuah benda peninggalan yang seharusnya menjadi milik kami."
Jantung Sari berdesir hebat. Nama Ranusastro yang baru saja ia baca di lontar kini berdiri nyata di hadapannya!
"Hutang apa ya, Pak? Semua barang-barang peninggalan bibi saya yang berbahaya sudah dibakar habis," tegas Sari.
Lelaki tua itu, Pak Broto, tertawa terkekeh—sebuah tawa yang terdengar sangat dingin dan meremehkan. "Dibakar? Jangan bohong, Gadis Kecil. Kotak kayu jati berukir ular itu tidak bisa dihancurkan dengan api biasa. Bibimu mendapat ilmu petunduk pertama kali dari ayahku! Kotak itu berisi perjanjian darah keluarga Ranusastro. Serahkan kotak itu, atau warung kecilmu ini bisa hancur dalam semalam!"
Ancaman itu diucapkan dengan sangat santai, seolah-olah menghancurkan hidup orang lain adalah hal biasa bagi keluarga kaya tersebut.
Mendengar nada bicara Pak Broto yang tinggi dan penuh ancaman, Si Mbah yang sedang tertidur di atas dahan pohon nangka mendadak terbangun. Kera hitam itu mengucek matanya, melirik lelaki tua berjas mahal di bawah, lalu mendengkus gusar.
Pak Broto yang tidak menyadari keberadaan Si Mbah terus melangkah maju mendekati Sari dengan raut wajah menakut-nakuti. "Jangan coba-coba membohongiku! Mana kotaknya?!"
Sari tetap berdiri tegak. "Saya tidak bohong. Kotak itu sudah jadi abu. Dan bibi saya sudah bertobat sebelum meninggal!"
"Bertobat?" Pak Broto tertawa makin keras. "Dukun tidak pernah bertobat! Mereka hanya—"
CUP!
Sebuah pisang matang yang sangat lembek mendarat telak tepat di tengah-tengah kacamata tebal Pak Broto. Biji dan daging pisang yang melumer menutup seluruh pandangannya.
"APA-APAAN INI?!" jerit Pak Broto kaget setengah mati sambil melepaskan kacamatanya yang kini penuh lendir pisang.
Dari atas pohon, Si Mbah melompat turun dengan anggun, berdiri di atas meja warung sambil menolak pinggang. Tangannya yang lain memegang sekeranjang penuh buah talok (kersen) yang siap ditembakkan.
Pemuda yang mengawal Pak Broto panik dan mencoba mengusir Si Mbah. "Hush! Pergi, Kera liar!"
Namun Si Mbah lebih cepat. Dengan akurasi layaknya penembak jitu, Si Mbah melemparkan buah-buah talok kecil berair itu satu per satu tepat ke arah wajah dan jas mahal Pak Broto serta pengawalnya.
Plak! Plak! Plak!
"Aduh! Mataku! Jas mahal saya!" jerit Pak Broto sambil berputar-putar mencoba berlindung di balik pengawalnya. Jas mewahnya kini dipenuhi noda merah kehitaman dari buah talok yang pecah.
Warga desa yang mendengar keributan mulai berdatangan sambil membawa kayu dan sapu. Marno sang pande besi melangkah paling depan dengan wajah garang. "Ada apa ini? Siapa yang berani mengancam Sari di tempat kami?!"
Melihat warga desa berkumpul dengan raut wajah siap membela Sari, ditambah teror lemparan buah dari Si Mbah yang tak kunjung berhenti, nyali Pak Broto yang tadinya sekeras besi mendadak menciut.
"Kalian... orang-orang desa tidak beradab! Ayo kita pergi!" seru Pak Broto panik sambil mengusap muka berlepotan buah talok. Ia dan pengawalnya berlari terbirit-birit masuk kembali ke dalam mobil sedan mereka.
Brumm!
Mobil mewah itu tancap gas meninggalkan debu membumbung tinggi, disambut sorak-sorai gembira warga desa dan tawa “Uuk! Uuk!” dari Si Mbah yang menari-nari di atas meja warung.
Setelah keadaan kembali tenang dan warga dibubarkan, Sari duduk bersama Marno di teras rumah. Sari menunjukkan lontar tua yang baru saja ditemukannya.
Marno membaca lontar itu dengan mata matang, lalu menghela napas panjang. "Ranusastro... mereka adalah guru dari bibimu puluhan tahun lalu. Keluarga kaya raya dari kota yang mengumpulkan kekayaan dari ilmu hitam dan persekutuan ghaib."
"Jadi... bibi saya dulu juga korban mereka?" tanya Sari lirih.
"Mungkin awal mulanya begitu," kata Marno pelan. "Bibimu tergiur oleh janji manis kekuatan saat hatinya sedang hancur. Tapi ingat, Sari... menjadi korban di masa lalu bukan alasan untuk menjadi penjahat di masa depan. Seruni memilih untuk terus berada di jalan gelap itu selama puluhan tahun sampai raganya membusuk."
Sari memandangi lontar tua di tangannya. Ia berjalan ke belakang halaman, lalu melemparkan lontar rahasia itu ke dalam sisa tungku api dapur. Daun kering itu terbakar dengan cepat, menyisakan asap tipis yang terbang terbawa angin sore.
Sari kini paham secara utuh. Benih dendam dan ilmu hitam adalah rantai iblis yang tidak akan pernah putus jika tidak ada seseorang yang berani menghentikannya. Bibinya telah membayar mahal dosa-dosanya, dan tugas Sari adalah memastikan rantai kegelapan itu berhenti sepenuhnya di rumah panggung ini.
Matahari terbenam di balik bukit Karang Tumpuk dengan warna jingga yang menenangkan. Rumah tua itu kini benar-benar telah menjadi tempat yang hangat. Sari tersenyum menatap Si Mbah yang sedang tertidur lelap setelah capai "bertempur" melawan tamu kota. Rantai kegelapan telah terputus, dan kehidupan yang penuh keberkahan baru saja dimulai.