NovelToon NovelToon
Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Penyelamat
Popularitas:800
Nilai: 5
Nama Author: Roditya

Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.

Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.

Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.

Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?

Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 — Pengetahuan yang Aneh

Pagi hari di pemukiman Suku Serigala disambut oleh tumpukan kayu bakar yang makin menipis dan timbunan bahan makanan yang harus segera diolah sebelum membeku.

Di area belakang lapangan, kaum perempuan suku berkumpul memilah serat tanaman dan menguliti hasil buruan kecil.

Ayla tidak tinggal diam di kamar kediaman Tetua Gordon. Dengan mantel kulit serigala yang sudah pas di tubuhnya, ia menghampiri Bibi Nora dan ibu-ibu lain yang sedang bersusah payah merangkai tali dari serat pohon.

"Bibi, tangan kalian bisa terluka kalau terus memilin serat kasar ini secara manual," sapa Ayla ramah, memasang senyuman hangat.

Bibi Nora mendongak, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. "Memang begini cara kami sejak dulu, Ayla. Kalau tidak dipilin kencang, talinya gampang putus saat dipakai mengikat beban atau menahan dinding gua."

"Boleh aku pinjam pisau kecil dan sepotong kayu pendek?" minta Ayla sopan.

Seorang wanita suku segera menyerahkan belati yang terbuat dari batu padanya. Dengan gerakan lincah dan luwes, Ayla memotong dua bilah kayu, membuat takikan presisi di bagian tengah, lalu menyatukannya dengan paku kayu sederhana. Dalam hitungan menit, terbentuk sebuah katrol pemilin tali putar sederhana.

"Coba masukkan seratnya ke celah ini, lalu putar gagang paku di ujungnya," tunjuk Ayla pada alat itu seraya mempraktikkannya di depan mereka.

Bibi Nora mencoba memutar gagangnya.

Dalam sekali putaran cepat, tiga utas serat terikat sempurna dan terpilin rapi jauh lebih kencang daripada buatan tangan.

Pekerjaan yang biasanya memakan waktu setengah hari itu, kini selesai hanya dalam hitungan menit.

"Dewa Binatang! Lihat ini!" seru Bibi Nora dengan mata berbinar kaget. "Cepat sekali! Tangan kita juga tidak sakit lagi!"

Para perempuan lain langsung mengerumuni Ayla dengan raut wajah takjub.

Ayla tidak berhenti di situ.

Ia menunjukkan cara membuat saringan air dari susunan kerikil, pasir, dan arang perapian untuk membersihkan air sungai yang keruh akibat lelehan es.

"Air yang disaring begini tidak akan membuat perut anak-anak sakit lagi saat diminum," tutur Ayla dengan nada lembut namun penuh keyakinan.

Kekaguman dan kasak-kusuk pujian menyebar cepat di antara kaum perempuan.

Bagi mereka yang terbiasa hidup dengan cara bertahan hidup yang keras dan serba manual, alat-alat buatan Ayla terasa seperti keringanan yang sangat luar biasa.

Dari tepi celah bukit dekat penyimpanan kayu, Yana berdiri mengamati dari jauh. Tangannya bersedekap di dada di balik mantel hitamnya.

Yana mengenali semua alat itu.

Katrol pemilin,

saringan arang bertingkat,

dan prinsip kerja mekanik dasar.

Semua itu adalah pengetahuan dasar dari dunia modern tempat Ayla berasal.

Dia mulai memamerkan kegunaannya, batin Yana.

Yana tahu betul pola ini.

Ayla tidak langsung memaksakan doktrin spiritual, melainkan memenangkan hati warga lewat hasil nyata yang memudahkan hidup mereka. Dan di posisi Yana saat ini, ia tidak bisa melarang atau menuduh Ayla. Bagaimanapun juga, alat-alat buatan Ayla memang memberikan manfaat nyata untuk pekerjaan warga sukunya.

Jika Yana maju dan berteriak bahwa Ayla membawa bahaya dari masa depan, warga hanya akan menganggap Yana aneh, iri, atau kekanak-kanakan. Jadi dia menahan diri untuk tetap diam dan rasional.

"Yana?"

Suara berat Aron mengejutkannya dari belakang.

Kepala Suku sekaligus ayahnya itu melangkah mendekati putrinya, membawa busur berburu di bahunya.

Matanya tertuju pada kerumunan warga yang sedang tertawa gembira mengelilingi Ayla.

"Ayah," sapa Yana singkat.

Aron memperhatikan Bibi Nora yang memamerkan hasil pemilinan tali pada pemburu lain dengan wajah penuh gairah. Pria tegap itu mengangguk-angguk kecil, memamerkan rasa terkesan yang jujur dari matanya.

"Anak itu... cukup pintar." gumam Ayahnya pelan.

Ia lalu menepuk bahu Yana sebelum berjalan menuju balai suku, meninggalkan Yana yang masih berdiri sendirian di tepi lapangan.

Dari jarak sepuluh langkah, Ayla yang baru selesai mengajari warga mendadak menoleh ke arah Yana.

Gadis transmigrator itu melemparkan senyuman manis, lalu merogoh sesuatu dari dalam saku bajunya—sebuah benda kecil aneh yang ia tatap dengan raut wajah yang sulit diartikan.

Mata Yana menyipit tajam saat menyadari benda apa yang sedang dipegang Ayla.

Itu adalah benda dari kehidupan modern yang seharusnya tidak pernah menginjakkan kaki di dunia ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!