NovelToon NovelToon
Perjaka Kesayanganku

Perjaka Kesayanganku

Status: tamat
Genre:Janda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Berondong / Tamat
Popularitas:695.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: skavivi selfish

Season 1 ~ Perjaka Kesayanganku

Demi balas dendam kepada mantan suaminya, Bella Ellis rela menjerat Abimanyu. Mahasiswa baru yang bekerja sebagai penyanyi freelance di kelab malam.
Keduanya menjalin hubungan gelap dengan risiko-risiko yang dipertaruhkan. Alih-alih merasa puas, Bella Ellis justru pergi dari kehidupan Abimanyu.
Dua tahun berselang, apakah perasaan itu masih sama?

Season 2 ~ Setelah Kita Menikah

Karir, Cinta, Hasrat dan Rahasia. Manakah hal paling menjanjikan untuk dinikmati?”

Dengan nasib rumah tangga yang kembang kempis dan skandal yang membelenggu. Ada istri yang memberikan kenakalan penuh gairah. Ada anak-anak penuh cinta dan ada ketertarikan dari lawan main. Hidupku penuh risiko, perjanjian dan kebohongan. Namun ketika aku menyerah, manakah yang akhirnya aku nikmati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sialan kamu, Bella

"Bella, saya pergi!" teriak papi Narendra di depan pintu kamar mandi.

Aku hanya diam memandang kosong langit-langit kamar mandi sambil menyandarkan kepalanya di sandaran bathtub. Seolah-olah tidak ada lagi cara lain untuk mengungkapkan perpisahan ini, pedih hati yang aku rasakan akibat kenangan yang masih jelas di ingatan ku tentang kita.

Kamar mandi yang sering dia jadikan tempat bersiul dan bernyanyi, lalu memuja rasa nikmat yang menguat dalam inti tubuhnya.

Aku merasa berantakan, dan menemuinya hanya mengenakan jubah mandi adalah kekacauan. Tidak bisa, mata papi Narendra pasti akan menekuri tubuhku. Sekarang aku mau jujur, kisah kita memang di penuhi hasrat yang menggelora. Makanya daripada terjadi hal yang tidak-tidak dalam jiwa-jiwa rapuh kami, aku memilih membiarkan papi Narendra terus mengetuk pintu kamar mandi.

"Apa kamu tidak ingin cek lagi barang-barang kamu sebelum aku pergi?"

Aku dengar bibi Marni menyahut, "Ibu butuh waktu bapak. Biarkan saja, lagian bapak sudah nyakitiin ibu. Daritadi malam nangis dia."

"Diam kamu, Bi. Jangan ikut campur." sahut Narendra, ia masih mengetuk pintu kamar mandi. "Kulitmu bisa keriput, Bella. Keluar aku mau bicara dulu sebentar!"

Buset dah, malah bahas-bahas keriput. Aku jadi mengangkat tanganku dari dalam air, melihat telapak tanganku. Keriput, kelamaan berendam. Tapi kenapa papi bahas-bahas keriput segala, ah, nyebelin. Jadi ingat yang udah-udah.

"Bella, dengar aku tidak! Apa harus aku dobrak pintunya?"

Dari hanya suara ketukan tanpa emosi kini suaranya menjadi gebrakan. Nada suara papi Narendra pun menjadi tinggi.

Aku menarik diri dari kubangan air berbusa, membilas tubuhku di bawah pancuran air dan memakai jubah mandi, dua. Ku tarik pintu kamar mandi sialan ini yang tak memiliki kekuatan seperti baja.

Papi Narendra menatapku bahkan pikiran tentang kenakalan yang biasa kami lakukan berdua lenyap di benakku setelah melihatnya mengeraskan rahang.

"Ada apa lagi, mas?" kataku dengan suara dingin. "Sudah selesai beres-beres?"

Koper-koper miliknya masih di kamar meski lemari sudah tertutup kembali.

"Berapa pin brangkas kita? Apa kamu sengaja menggantinya sebelum aku memeriksanya?" Papi Narendra menyambar tanganku dan mencengkramnya dengan sangat erat sambil membimbingku ke ruang kerjanya.

"Buka, kemarin aku masih meninggalkan uang lima ratus juta. Jika sudah kurang, kamu kemanakan uangku?"

Aku mengibaskan tangannya dengan kesal dan menatapnya tajam. Bisa-bisanya dia menuduhku sebelum melihat sendiri uang lima ratus jutanya itu di dalam brankas. Dia pikir hanya dia saja yang maha mempunyai banyak uang. Emang sih, dia yang banyak uang, cuma mulutnya jahat banget.

"Camkan baik-baik, dan dengar mas." kataku lirih, "aku emang ganti pin-nya karena aku kira kamu gak datang lagi ke sini untuk ambil barang-barangmu. Habis kemarin kamu pergi gitu aja."

Ku sentuh dadanya dengan jari telunjuk sambil ku buat huruf S meliuk-liuk di sana. Sementara papi tetap menegakkan tubuhnya.

"Tapi uangmu masih utuh kok papi, tenang ajahhh..." kataku sedikit mendesah, ku rapatkan jubah mandi ku seraya berjongkok.

Aku memutar nomer kenop pada brankas, brankas besi setinggi lutut aku kontan terbuka.

"Silahkan di ambil uangnya mas, atau perlu aku yang hitung?"

Narendra menarik sedikit celana kainnya ke atas lalu berjongkok, membuatku menyingkirkan dari depan brankas.

Aku menatapnya mengambil sepuluh gepok uang, masing-masing sejumlah lima puluh juta. Selebihnya ia mengeluarkan surat-surat berharga yang sepele sebenarnya. Surat mobil, motor, perhiasan. Sementara surat-surat tanah tidak disini, dia punya rumah besar yang menjaga benda berharga itu dengan pengawasan ketat.

Narendra memastikan surat-surat itu benar sebelum tatapannya mengarah padaku.

"Kenapa?"

Narendra seakan tak mampu menemukan kata-kata, dia hanya diam sambil meraup uang-uangnya. Meninggalkan semua surat-surat penting itu di lantai.

"Udah gitu aja?" kataku saat ia berdiri.

"Apalagi Bella? Apa kamu mengharapku untuk menyentuhmu?" Narendra tersenyum mesum melihat kakiku terbuka sampai di atas lutut.

Tapi aku tidak tersinggung. Aku berdiri.

Ku ambil lima puluh juta yang tertahan di dadanya.

"Terima kasih papi Narendra Wicaksono. Pulanglah ke rumah mama dan papa dengan bahagia, aku suka, karena aku juga tak mampu melawan takdir yang mengikat dalam darahku. Selamat berpisah." Aku mengibaskan uang itu di depan mukanya.

"Terima kasih untuk kerja kerasmu selama ini, papi. Kamu laki-laki hebat dan pekerja keras, sekeras sesuatu di pangkal pahamu." Aku cekakakan sambil meninggalkannya dengan gaya kenes.

"Sialan kamu, Bella. Mata duitan!" teriaknya menggelar.

Alih-alih merasa senang, aku tak peduli. Bedabah egois itu harus tahu, kita sama-sama terluka. Kita sama-sama belajar menerima diri. Tapi dia memiliki keluarga, kekuasaan, uang milyaran di saldo banknya, sementara aku, harus pada siapa kepala ini bersandar.

•••

Aku menyingkirkan gorden hitam dari jendela kamarku, menyaksikan sebuah truk sedang datang. Narendra nampak mengkordinir orang-orang suruhan untuk mengangkut barang-barangnya.

Di dekat tiang bendera depan rumah, berdiri bibi Marni yang sejak tadi mengawasi gerak-gerik Narendra. Papi Narendra memang tidak berani marah-marah sama perempuan sepuh itu, orang lima tahun masak di siapin, pakaian di bersihin, kopi di buatin.

Aku jadi sadar, selama perjalanan rumah tangga kami aku hanya melayani dia untuk kepuasan batin, tapi tidak dengan raga. Kami sama-sama pekerja keras. Sekarang aku menyadari mungkin itu jadi kurang ku.

Aku menghela napas sewaktu ragu menghampiriku. Aku sendiri mungkin ada andil atas perceraian ini pula. Ku ambil uang lima puluh juta tadi di atas meja riasku.

Sebelum aku ke depan rumah, aku terpana melihat foto pernikahan kami di ruang tamu sudah hilang dan setelah aku di depan rumah, mendekati papi Narendra. Pigura besar itu sudah ada di atas truk. Saat ini berat rasanya berspekulasi sendiri apa maksudnya.

"Aku kembalikan!" Narendra menatap uang yang aku ulurkan, wajahnya terlihat enggan untuk menyentuhnya.

"Aku tidak mata duitan, kamu tau itu."

Narendra mengendikkan bahu. "Aku tidak terima, anggap itu uang bulanan untukmu selama tiga bulan. Dan berikan sedikit untuk bibi, dariku!"

Setelah semua barang sudah beralih ke dalam bak truk. Narendra menatapku cukup lama, aku bertanya-tanya dalam hati apakah dia baik-baik saja setelah keluar dari rumah ini dan hidup di rumah besar. Apakah dia akan segera melanjutkan hidupnya tanpa merindukan aku?

Dia mungkin bukan laki-laki sempurna, ada bagian dalam dirinya yang rapuh. Sering kali kami mengadu keresahan bersama atau mengunjungi ahli kejiwaannya untuk sebuah ketenangan. Aku yakin, parasnya yang menawan dan kejayaannya sebagai pejabat negara dan pengusaha, akan banyak wanita yang merebutkan nya hingga dia mudah melupakan aku.

"Aku tinggal, Bella. Jaga kesehatanmu baik-baik." Dia menyentuh kepalaku, hingga aku tumbang lagi menyaksikannya sungguh-sungguh pergi.

•••

Bersambung.

1
Ena Ariani
Kwrennn abiesss thorr
Ena Ariani
keren nehhh
As Ngadah
kita besty Bella
As Ngadah
kerennnn thoorrrrrr
As Ngadah
abimanyu I love you 😃
Titik Handayani
ak sdh deg degan kirain putri... ternyata
🍃EllyA🍃
Luar biasa
oki A
Kecewa
oki A: perasaan kemarin aq kasih bintang 5 kok jadi 2.apa gk sekalian kasih ulasan ya?
total 2 replies
oki A
Buruk
Sri Lestari
awal masalah baru
rin
Luar biasa
Bunda
baru nyimak Thor 😊
alifa zhafira
ayo Bella semangat
Sulaiman Efendy
KNP GK DIHANCURKN TU SI NARENDRA....
Sulaiman Efendy
NAHHH BENARKN, TU PUTRI PELIHARAANNYA SI NARENDRA...
Sulaiman Efendy
YAKIN, DALANGNYA SI NARENDRA...
Sulaiman Efendy
TALENTNYA SI NARENDRA TUH..
Sulaiman Efendy
TERNYATA BININYA YG JDI EXECUTIVE MANAGER...
Sulaiman Efendy
KASIAN SI ABI, GARA2 KONSEKUENSI KERJA, ANAK MREKA TAUNYA JOE PAPA MREKA, DN ABI OM IAN MREKA..
Sulaiman Efendy
SAMA LO DGN AKU BI, KTIKA AKU MNYUKAI WANITA YG USIANYA DIATAS AKU, AKU GK ADA MINAT DGN WANITA2 ABG, ATAU YG SDKIT DIBAWAHKU, ATAU YG SEUMURAN.. WALAU OM2 SUKA YG MUDA2, HINGGA BNYK JDIKN TU WANITA SUGAR BABY, AKU JUSTRU LBH KE WANITA2 DEWASA, DN ITU DIMULAI SEJAK AKU SMP, MNYUKAI KK KELASKU YG SMA.. DN SAAT SMA,, SMPT MNYUKAI GURUKU, DN MNIKAH PERTAMA JUGA DGN KK KELASKU YG LBH TUA 3 TH, CERAI, NIKAH LAGI SAMA WANITA YG TUA 5 TH DRIKU..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!