NovelToon NovelToon
Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Status: sedang berlangsung
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Cemburu Pertama

Renata pulang ke Puri Teratai hampir pukul sembilan malam.

Lampu ruang makan masih menyala. Nathan duduk seorang diri dengan laptop terbuka, sementara makanan di depannya tidak tersentuh.

Bik Inah muncul dari dapur. “Nyonya sudah pulang. Tuan menunggu sejak tadi.”

“Aku nggak menunggu,” bantah Nathan cepat.

Renata meletakkan tas. “Kalau begitu saya ke kamar.”

“Klienmu laki-laki?”

Langkahnya berhenti.

Nathan tetap menatap layar, seolah pertanyaan itu keluar tanpa sengaja.

“Klien penting,” jawab Renata.

“Itu bukan jawaban.”

“Karena kamu nggak berhak mendapat jawaban.”

Bik Inah melihat keduanya bergantian, lalu buru-buru kembali ke dapur.

Nathan menutup laptop. “Aku perlu memastikan nggak ada konflik dengan Prima.”

“Sudah diperiksa. Tidak ada.”

“Oleh siapa?”

“Orang yang membayar saya.”

Renata berjalan ke tangga. Dari sudut matanya, ia melihat Nathan menekan sisi perut. Wajah lelaki itu sedikit pucat.

“Obat lambung ada di laci dapur,” katanya.

“Aku baik-baik saja.”

“Terserah.”

Nathan memperhatikan Renata naik tanpa menoleh lagi. Ia tidak tahu kenapa dua kata klien penting membuat perutnya terasa lebih sakit daripada kopi yang diminumnya seharian.

Bik Inah kembali membawa obat dan segelas air.

“Tuan belum makan sejak siang.”

“Nanti.”

“Nyonya masih ingat obat Tuan ada di mana.”

Nathan menatap tangga yang sudah kosong. “Dia cuma nggak mau aku sakit di rumah yang sama.”

“Kalau begitu, kenapa Tuan kelihatan senang?”

Nathan meminum obat tanpa menjawab. Ketika Bik Inah menghangatkan makan malam, ia membuka kembali laptop tetapi tidak membaca satu baris pun. Pikirannya dipenuhi pertanyaan bodoh tentang usia Xavier, status pernikahannya, dan alasan lelaki itu meminta Renata datang sendiri.

Ia menyebutnya pemeriksaan risiko. Perutnya menyebutnya sesuatu yang lain.

Keesokan paginya, Renata turun membawa map kontrak. Purnama telah menerima seluruh syaratnya dan menjadwalkan rapat awal proyek.

Nathan berdiri di dekat pintu dengan kunci mobil.

“Aku antar.”

“Saya sudah pesan mobil.”

“Aku lewat SCBD.”

“Kantormu juga di sana, bukan berarti kita harus berangkat bersama.”

Nathan membuka pintu depan. “Opa ingin kita terlihat seperti pasangan.”

Renata menatapnya beberapa detik. “Baik. Kalau ini bagian sandiwara, silakan.”

Jawaban itu seharusnya membuatnya menang. Entah kenapa Nathan justru merasa kalah.

Di dalam mobil, Renata memeriksa kontrak. Nama dan tanda tangannya tercantum sebagai konsultan utama. Biaya proyek, perjalanan, serta bonus keberhasilan masuk ke rekening profesionalnya sendiri. Ia tidak membutuhkan persetujuan suami untuk menerima pekerjaan itu.

Nathan melirik halaman yang terbuka. “Purnama International?”

“Ya.”

“Jadi klien pentingmu Xavier.”

“Perusahaannya.”

“Aku pernah bertemu dia. Dia terlalu banyak bicara.”

“Dia bicara sesuai pekerjaan.”

“Kamu baru mengenalnya satu hari.”

Renata menutup map. “Kenapa kamu sibuk menilai orang yang bekerja denganku?”

“Aku hanya memberi peringatan.”

“Kita cuma sandiwara, Kapten. Nggak perlu berperan sebagai suami cemburu.”

Nathan mencengkeram setir lebih erat. “Aku nggak cemburu.”

“Bagus.”

Satu kata itu mengakhiri pembicaraan.

Di depan gedung Purnama, Xavier sudah menunggu bersama dua staf keamanan. Ia mengenakan kemeja gelap dengan lengan digulung dan langsung mengambil satu kotak perangkat dari tangan Renata.

“Anda datang tepat waktu. Saya mulai percaya konsultan mahal ini benar-benar profesional.”

“Kembalikan kotaknya kalau mau terus percaya. Isinya sensitif.”

Xavier tertawa dan menyerahkannya kembali.

Dari balik kaca mobil, Nathan melihat keduanya berjalan masuk sambil berbicara. Xavier membukakan pintu. Renata mengatakan sesuatu yang membuat lelaki itu tertawa lagi.

Jari Nathan memutih di setir.

Ia seharusnya melanjutkan perjalanan ke Prima. Sebaliknya, mobilnya tetap terparkir sampai petugas keamanan mengetuk jendela dan meminta ia berpindah.

Tiga jam kemudian, rapat proyek selesai.

Di ruang rapat Purnama, Renata tidak tahu dirinya ditunggu. Ia menandatangani kontrak elektronik, menerima kartu akses proyek, lalu membagi tugas kepada tim internal.

“Mulai hari ini, tidak ada yang mengubah log tanpa salinan forensik,” katanya. “Akses saya berlaku tiga puluh hari dan otomatis tertutup setelah proyek selesai.”

Xavier menyodorkan daftar personel untuk lokasi Maladewa. “Saya sudah urus izin awal. Perjalanan belum saya masukkan sebelum Anda setuju.”

“Bagus. Saya perlu melihat hasil tahap Jakarta lebih dulu.”

“Anda selalu sesulit ini?”

“Hanya kepada klien yang suka mempercepat keputusan.”

Xavier tidak tersinggung. Ia justru meminta timnya mengikuti semua batas Renata tanpa pengecualian. Ketika seorang staf menyebut statusnya sebagai istri Nathan dapat memengaruhi kontrak, Xavier memotong datar.

“Kita membayar kemampuannya. Rumah tangganya bukan aset Purnama.”

Renata tidak mengucapkan terima kasih. Sikap profesional seharusnya memang tidak perlu dianggap hadiah.

Di seberang jalan, Nathan sudah dua kali memindahkan mobil. Ia menerima tiga telepon dari Prima, menjawab dua, lalu membatalkan rapat terakhir dengan alasan ada urusan keluarga.

Ia membeli kopi untuk Renata, membiarkannya mencair, lalu membeli gelas baru dua puluh menit sebelum pintu gedung akhirnya terbuka.

Renata keluar dari gedung dan berhenti ketika melihat mobil Nathan berada di seberang jalan. Lelaki itu bersandar di kap dengan dua gelas minuman.

“Kamu belum pergi?”

“Ada urusan di sekitar sini.”

“Tiga jam?”

Nathan membuka pintu penumpang. “Masuk. Jalan akan macet.”

Renata melihat logo kedai di gelas yang ia pegang. Es kopi susu dengan gula setengah, persis pesanannya sebelum jadwal pagi.

Nathan menyodorkannya. “Bik Inah bilang kamu belum sarapan.”

“Bik Inah juga bilang rasa kopi saya?”

“Aku tahu sendiri.”

Renata terdiam sesaat. Selama ini ia mengira Nathan tidak pernah memperhatikan apa pun tentang dirinya.

Namun satu gelas kopi tidak menghapus tiga tahun.

Ia menerima minuman itu dan masuk ke mobil. “Terima kasih.”

Nathan menyalakan mesin. “Lain kali kabari kalau pulang malam.”

“Untuk apa?”

“Supaya Bik Inah nggak menunggu.”

Renata menahan senyum hambar. “Tentu. Untuk Bik Inah.”

Mereka berkendara pulang dalam keheningan. Ketika mobil berhenti di lampu merah, ponsel Nathan menyala di tempat penyimpanan.

Nama Cheryl muncul bersama rangkaian pesan.

Nate, kamu benar-benar marah padaku?

Aku sudah menjelaskan soal lukisan.

Kamu sekarang bersama Rena?

Apa karena dia kamu nggak mau bicara denganku lagi?

Nathan membaca pratinjau itu, lalu mematikan layar tanpa membalas.

Renata melihat semuanya dari pantulan kaca depan.

Nathan mungkin tidak menjawab Cheryl. Namun keberadaan perempuan itu masih duduk di antara mereka, sama nyata seperti selama tiga tahun terakhir.

Rasa hangat kecil dari es kopi susu kembali mendingin.

Renata menyesapnya sekali lagi. Manisnya masih tepat, tetapi ia tidak lagi ingin mencari makna di balik perhatian kecil Nathan.

Jika lelaki itu benar-benar sedang berubah, perubahan tersebut harus bertahan lebih lama daripada satu perjalanan pulang.

Sampai saat itu tiba, semua sikap baik hanya bagian lain dari sandiwara rapuh mereka sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!