Valentina Mahendra Arini terbiasa mengendalikan segalanya. Di menara kendali, suaranya menentukan hidup ratusan penumpang. Di luar sana, hidupnya justru nyaris runtuh: mantan kekasih yang merendahkannya, saudari tiri yang memanipulasi, dan ayah yang memakai ibunya yang koma serta neneknya sebagai alat ancaman.
Malam ketika ia ingin melupakan semuanya, Val bertemu kembali dengan Sebastian Bara, rival masa SMA yang dulu paling ia benci. Satu malam yang seharusnya menjadi kesalahan berubah menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit ketika Val mengetahui Sebastian adalah kapten di maskapai yang setiap hari ia pandu dari menara.
Sebastian tidak menawarkan janji manis. Ia hanya muncul, diam-diam menjaga, dan menolak membiarkan Val mengubah luka-lukanya menjadi hal yang bisa dibeli atau disangkal. Di antara frekuensi radio, jadwal penerbangan, rahasia keluarga, dan bahaya yang makin dekat, Val harus memutuskan apakah kendali berarti bertahan sendirian, atau berani membiarkan seseorang berdiri di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VivianMansano, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22: Pintu yang Setengah Terbuka
...Val....
Gagasan itu datang pukul tiga pagi.
Aku berbaring tengkurap karena punggungku masih perih, wajah tenggelam di bantal, ponsel menyala di tanganku. Sudah dua jam aku tidak bisa tidur, memikirkan Nenek di klinik yang tidak kukenal, saham Santa Lucia, tongkat ayahku, senyum Lukian, semua hal yang sedang menindihku.
Lalu, dalam gelap kamarku, aku berpikir:
Kalau aku menikah dengan Sebastian, Papa tidak bisa memaksaku menikah dengan Lukian.
Gagasan itu seperti kilat. Terang, tiba-tiba, sempurna. Kalau aku sudah menikah, Pak Firman kehilangan kartu terkuatnya. Pertunangan dengan keluarga Reyhan batal. Lukian tidak bisa mengklaimku. Dan Sebastian... Sebastian sudah menginginkanku. Aku tahu. Dia sendiri mengatakannya tanpa mengatakan langsung, lewat angka-angkanya, lewat "kamu tidak sendirian lagi", lewat "kurang satu".
Aku duduk di tempat tidur. Jantung berdetak cepat. Kuraih ponsel dan membuka mesin pencari.
Ketikku: "syarat pernikahan sipil".
Kubaca hasilnya. Dewasa. Identitas resmi. Akta kelahiran. Saksi. Sebuah prosedur. Sederhana. Cepat.
Ketikku lagi: "konsekuensi hukum pernikahan pura-pura".
Kubaca lebih banyak. Pembatalan jika terbukti simulasi. Sanksi. Masalah imigrasi jika melibatkan orang asing. Penipuan.
Aku menatap layar.
Apa yang sedang kulakukan?
Kututup pencarian. Kuhapus riwayat. Kuletakkan ponsel di meja samping tempat tidur dan kembali berbaring tengkurap.
Aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak bisa memakai Sebastian sebagai tameng. Aku tidak bisa menjadikannya alat untuk lari dari ayahku, sebesar apa pun godaan gagasan itu. Karena Sebastian bukan alat. Dia manusia. Satu-satunya manusia yang memperlakukanku sebagai manusia. Kalau aku memakainya seperti itu, aku akan berubah menjadi persis seperti Lukian dulu terhadapku.
Tapi gagasan itu tidak pergi. Ia tetap melayang di sudut kepalaku, seperti pintu yang sudah kulihat tetapi kuputuskan untuk tidak kubuka. Belum.
Pukul delapan pagi aku sudah berada di ruang rapat bandara dengan mata bengkak dan kopi yang tidak terasa apa-apa.
Rapat persiapan rekaman program "Langit Terbuka" dimulai tepat waktu. Insinyur Galih membagikan map berisi jadwal.
"Kamis: segmen di landasan dan ruang VIP. Jumat: menara kendali dan operasi internal. Ketiga tamu akan didampingi tim produksi sepanjang waktu." Dia menatap sekeliling meja. "Saya butuh relawan untuk menjadi penghubung."
Tidak ada yang mengangkat tangan.
"Saya tidak mau," kata Pati.
"Saya juga," kata Joko, pengatur lalu lintas lain. "Kerjaan kita sudah cukup banyak tanpa harus menjaga selebritas."
"Mereka tidak benar-benar selebritas," kata Galih. "Mereka... figur media sosial."
"Lebih buruk," kata Joko.
Galih menghela napas.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, ini bukan pilihan. Maskapai utama sudah bekerja sama dan direksi menyetujui rekaman. Kita akan melakukannya dengan benar dan tanpa insiden." Dia menatapku. "Mahendra, kamu akan jadi penghubung menara kendali hari Jumat."
"Saya? Kenapa?"
"Karena kamu pengatur lalu lintas dengan rekam jejak terbaik dan kita butuh seseorang yang profesional di depan kamera."
"Insinyur, salah satu tamunya adik tiri saya."
"Saya tahu. Karena itu saya membutuhkan kamu. Kalau ada yang bisa menjaga ketenangan dan objektivitas, itu kamu."
Itu bukan pujian. Itu jebakan. Galih menempatkanku di sana karena kalau ada masalah dengan Kamila, aku yang akan bertanggung jawab. Dan kalau semuanya lancar, dia yang mendapat kredit.
"Baik," kataku, karena aku tidak punya pilihan.
Rapat selesai. Aku keluar ke lorong. Pati menungguku, bersandar di dinding.
"Kamu baik-baik saja?"
"Ya."
"Val, wajahmu seperti belum tidur tiga hari."
"Dua. Cuma dua."
"Itu tidak lebih baik."
Dia menyentuh lenganku. Aku mengangguk, lalu berjalan ke stasiunku. Di jalan, kuambil ponsel.
Ada tiga pesan.
Dari Sebastian: "Selamat pagi. Bangun dalam keadaan bagaimana?"
Dari Kamila: "Dua hari lagi kita ketemu, adik manis! Aku sudah punya outfit sempurna. Menurutmu pilotmu bakal ada di sana? 😏"
Dari nomor tak dikenal: "Mbak Mahendra, saya perawat Gutierrez dari Klinik Lembah. Nenek Ratna menanyakan Anda setiap hari. Mohon datang kalau bisa. Kamar 412."
Kubaca ketiganya. Aku hanya membalas perawat: "Saya datang Sabtu ini. Terima kasih sudah memberi tahu."
Aku tidak membalas Sebastian karena tidak tahu bagaimana menatap wajahnya setelah membohonginya. Aku tidak membalas Kamila karena membayangkannya berada di menara kendaliku dengan kamera saja membuatku mual.
Kupasang headset. Menyalakan monitor. Selama delapan jam berikutnya, aku melakukan satu-satunya hal yang kulakukan dengan baik: memindahkan pesawat dari satu titik ke titik lain tanpa membuat mereka saling membunuh.
Di akhir shift, aku mengeluarkan ponsel dan melihat Sebastian hanya mengirim satu pesan lagi:
"Aku tidak akan bertanya lagi soal lebam itu. Tapi aku akan ada di sini saat kamu ingin cerita."
Kutekan ponsel ke dada. Memejamkan mata.
Dan di salah satu sudut kepalaku, pintu pernikahan palsu itu masih setengah terbuka.
Kututup.
Untuk sekarang.